
Penolakan Mikha membuat keluarganya terkejut. Terutama Karin dan Wina yang sudah mengira Mikha dan Junet memiliki hubungan spesial. Makan malam berlangsung sangat canggung. Junet kembali berkecil hati atas penolakan Mikha. Wina melihat keseriusan di mata Junet. Pancaran cinta yang tulus terlihat di sana. Tapi Wina tidak bisa berbuat lebih, tidak akan memaksakan kehendaknya. Mikha berhak memilih pasangan hidupnya sendiri, walaupun harus melalui persetujuan nya.
" Udahlah lupain Mikha. Nanti gue kenalin ama si Cindy, kalo gak Sela juga lumayan cakep tuh.. " ujar Arsen menawarkan pengganti Mikha. Arsen merangkul bahu Junet ketika mereka akan keluar dari rumah Mikha. " Nyante aja bro.. belum setaun kan? gue aja ampe enem taun kuat kok. "
" Ck! " Junet berdecak kesal. Menyingkirkan lengan Arsen dari bahunya. " Gue maunya tetep Mikha! gak mau yang lain! titik! " seru Junet.
Arsen menatap punggung Junet yang semakin menjauh. " Lu beneran cinta ama Mikha? " tanya Arsen yang melihat kegigihan Junet mendapatkan sepupunya itu. Arsen pikir, selama ini Junet hanya bermain-main dengan Mikha. Penasaran dengan Mikha yang masih muda. Selama ini Junet hanya tertarik pada wanita yang lebih tua darinya, seperti mantan istri Junet yang lebih tua lima tahun darinya.
" Serius lah! " jawab Junet tanpa menoleh ke belakang. " Lu pikir gue main-main sama Mikha! gue serius ama dia! " lanjutnya.
" Meski di tolak Mikha? " tanya Arsen yang mulai melangkah kembali di belakang Junet.
Junet berhenti, lalu berbalik. " Gue pasti dapetin Mikha! gue gak bakal nyerah. " Junet mengatakan dengan sungguh-sungguh.
Arsen terdiam mendengar semangat Junet untuk mendapatkan sepupunya. " Apa dia beneran secinta itu sama Mikha? " Arsen membiarkan Junet berlalu pergi.
" Ayo.. kita pulang. " Arsen tersadar dari lamunannya ketika Adrian menepuk bahunya.
" Iya pah. "
Sedangkan di dalam rumah, Mikha duduk di hadapan kedua orang tuanya dan Wina yang siap menanyakan kebenarannya.
" Sayang, apa bener? kamu gak punya hubungan dengan Jonathan? " tanya Umar sang ayah.
" Beneran pi, Mikha gak ada hubungan sama dia. " jawab Mikha. " Dia nya aja yang ngaku-ngaku. " Mikha kesal sekali mendengar Karin dan Wina menyangka Junet adalah kekasihnya.
Umar menghela nafasnya, lalu beralih menatap istrinya. " Sayang, kok bisa kamu berfikir kalo Mikha dan Jonathan punya hubungan? " Umar bertanya pada sang istri yang telah salah mengira, sampai mengundang Junet makan malam di rumahnya.
" Abisnya dia satu-satunya cowok yang dateng ke rumah nyariin Mikha. Aku pikir dia pacarnya si Mikha. " jawabnya jujur.
" Yaudah kalo bukan dia, kamu bisa kenalin kan, pacar kamu yang beneran? " Wina ikut berbicara. Dia pun penasaran dengan kekasih Mikha. " Kamu punya pacar kan? "
Mikha tertunduk, berpikir keras, apa sudah waktunya dia membawa Junet dan memperkenalkan nya pada keluarga besar?
" Emm.. tapi dia orang biasa.. gak kayak. " jawabnya lirih.
Wina melotot, mendengar kata 'tidak kaya' membuat kepalanya terasa pusing. Belum juga sempat Wina bersuara, Umar lebih dulu berucap.
__ADS_1
" Gak masalah.. asalkan dia baik dan tanggung jawab. " masih teringat jelas, dulu dirinya berjuang dari nol agar menjadi seorang yang sukses di mata Wina untuk mendapatkan Karin. " Kalau dia tulus mencintaimu, pasti dia akan berjuang buat kamu. "
" Kaya kamu ya ayang beb. " Karin langsung merangkul lengan Umar dengan mesra, tidak lupa mengecup pipi Umar.
Wina dan Mikha memutar bola matanya malas melihat kebucinan Karin pada Umar.
" Mending pikirin dulu deh.. si Duda sipit juga lumayan baik kok.. " tentu saja Wina lebih memilih Junet walaupun statusnya duda, tapi sudah jelas bisa menghidupi Mikha dengan layak. Apalagi kejantan*annya tidak bermasalah. Wina trauma karena dulu menikahkan Karin dengan seorang pria yang mempunyai seksual yang menyimpang. Jika Junet normal, Wina akan mendukung Junet daripada kekasih Mikha yang katanya tidak kaya, alias miskin!
" Mah.. biarin Mikha memilih pasangan hidupnya sendiri." Umar.
" Iya kalo dia kayak kamu yang pejuang keras si gak papa! " seru Wina. " Kalo dia gitu gitu aja kan kasian Mikha, cucu ku. "
" Kita lihat dulu.. " Umar meredakan ibu mertuanya yang masih saja mementingkan materi. " Bawa teman kamu ke rumah, kenalin dia ke papi. "
" Iya pi. " jawab Mikha.
" Mudah-mudahan dia kayak kamu ya ayang beb, " bisik Karin pada Umar.
" Iya. " Umar tersenyum lalu mengelus kepala istri tercintanya.
" Ck! " Wina berdecak sebal. Bagaimanapun juga Wina menginginkan anak ataupun cucu perempuan nya menikah dengan pria yang mapan, agar bisa memenuhi kebutuhan hidup yang lebih dari layak. Wina tidak mempermasalahkan jika menantu perempuan yang dari kalangan bawah masuk ke keluarga nya. Seperti Elsa dan Lisa, Wina menerimanya dengan tangan terbuka. Asalkan wanita itu baik. Karena tugas mereka hanya memberikan cinta pada suami dan anak-anak nya." Oma liat dulu deh.. sreg apa gak nya. "
Dua hari Rudi menghilang dan susah di hubungi. Mikha mendengar dari supervisor jika Rudi mengajukan cuti. Mikha menjadi gelisah, tidak fokus dalam bekerja.
" Dimana dia? " Mikha membolak balikan ponselnya menunggu kabar dari Rudi.
Sepuluh menit kemudian ponselnya berdering. Mikha tersenyum lebar ketika melihat jika nama Rudi yang tertera di layar ponselnya.
" Halo.. " jawab Mikha cepat.
" ... "
" Baiklah.. " Rudi berbicara begitu cepat. Tidak membiarkan Mikha bertanya tentang keadaan atau keberadaan Rudi saat ini.
Panggilan pun berakhir. Mikha begitu kecewa Rudi mengakhiri panggilannya tanpa basa basi menanyakan kabarnya lebih dulu. Padahal sudah lama mereka tidak mengobrol dan bertemu.
" Ngapain Rudi minta ketemuan di Vila Bogor? apa dia ada kerjaan di sana ya? " gumam Mikha yang merasa heran Rudi memintanya menyusul di Bogor sore ini.
__ADS_1
" Mikha! " Arsen masuk ke ruangan Mikha tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Iya kak. "
" Bisa temenin Lisa dulu gak di ruangan kakak. " pinta Arsen pada Mikha untuk menemani istrinya yang tiba-tiba datang ke kantor, menyusulnya. " Kakak ada meeting di luar bentar. "
" Siap kak. " Mikha langsung ke ruangan Arsen menemui Lisa.
" Kak Lea.. " panggil Mikha.
Lisa tersenyum melihat kedatangan Mikha. " Arsen udah pergi? " tanya Lisa.
" Udah kayaknya. " Mikha duduk di samping Lisa. " Gimana debay nya? nakal gak kayak King? " Mikha lebih tahu keadaan Lisa sewaktu mengandung King dulu, yang sering mual di pagi hari.
" Gak parah kayak dulu. Mualnya agak mendingan. " jawab Lisa.
" Karena ada daddy nya kali. "
" Mungkin. "
" Kak Lea udah makan siang? " Lisa menggeleng. " Kita makan siang bareng yuk? " ajak Mikha.
" Ayok.. tapi aku pengin makan ketoprak di simpangan depan. "
" Ngidam nih ceritanya.. ayok aku temenin kak. "
Mikha mengantarkan Lisa untuk membeli makanan di pinggir jalan. Lisa datang ke kantor untuk mengantarkan dokumen yang tertinggal, lalu mengajak suaminya pergi bersama makan ketoprak di tempat langganannya. Tapi Arsen berkilah dan meminta Lisa agar membeli makanan apapun asal bukan yang di pinggir jalan. Jadi lebih baik Lisa membelinya sendiri, untung saja Mikha mau mengantarnya.
Jalanan cukup lenggang, mempercepat mereka berdua sampai di tujuan. " Parkir dimana ya? " Mikha mencari tempat parkir yang pas agar tidak jauh dari tempat mereka makan.
Deg..
Pandangan Mikha menemukan seseorang yang selama ini susah di hubungi. Berjalan bersama seorang wanita dengan perut yang membuncit. " Bukannya dia di Bogor? " gumamnya.
" Apa? " tanya Lisa yang mendengar gumaman Mikha, meski samar.
" E-enggak papa kok kak. "
__ADS_1
" Siapa yang bersamanya? apa saudara nya? " hati Mikha menjadi gelisah. Bertanya tanya dengan siapa kekasihnya itu?
- TBC -