Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Let's Get started


__ADS_3

Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...


...🌈🌈Instagram Author : Srt_tika92🌈🌈...


Selamat membaca......


🍁🍁🍁


Hari ini Lisa kembali berkunjung ke rumah Clara. Tidak lupa Lisa mengajak King, menjemput putranya pulang sekolah dahulu. Serta ingin membawa Langit. Lisa menjemput Langit di rumah Bela setelah menjemput King di sekolahnya.


" Bel, makasih ya udah jagain Langit beberapa hari ini. " Lisa berterimakasih pada Bela yang dengan senang hati menjaga Langit.


" Ya Lis, kayak ama siapa aja. Gak usah sungkan. " Bela.


" Beneran nih elu gak mau ikutan ke rumah Clara? " tanya Lisa. Sebelumnya Lisa sudah memberitahu Bela dan mengajaknya pergi bersama mengunjungi rumah Clara.


" Gue si pengin banget. Tapi hari ini mertua gue mau ke rumah. Gue ikutin lain kali aja ya. " Bela.


" Yaudah deh.. " Lisa.


" Salam buat Clara ya Lis, "


" Ya Bel. "


Lisa membawa Langit, di dalam mobil sudah ada King dan Arsen yang menunggunya. Ini kali pertamanya King bertemu dengan Langit. Penampilan Langit tidak lagi lusuh dan kucel seperti pertama kali Lisa menemukan Langit. Kini Langit jauh terlihat terawat. Kulitnya yang kuning langsat terlihat bersih.


" Hai.. " sapa King. Pria kecil itu sangat senang menemukan teman baru. " My Name is King. " begitulah cara King memperkenalkan dirinya pada orang baru.


Langit hanya tersenyum tipis. " Langit. " berjabat tangan dengan King.


Lisa tersenyum memperhatikan putranya yang tidak berhenti bertanya pada Langit. Mereka berdua asik berceloteh, King yang lebih banyak bertanya, sedangkan Langit hanya bersuara ketika menjawab pertanyaan dari King.


" Mas, kamu beneran gak sibuk? kan aku bisa ke rumah Clara di anter ama supir. " ujar Lisa.


" Gak sibuk kok. " ujar Arsen. " Ada si Doni sama Mikha yang ngurus semua. Hari ini gak ada meeting penting. tapi jam 3 aku mau ke HP ( Haidar Productions) "


" Oh.. " Lisa.


Mereka tiba di kediaman keluarga Alexander. Arsen memarkirkan mobilnya di pelataran rumah itu. King nampak antusias bertemu dengan Kenzo, bermain dengannya sangat menyenangkan. Berbeda jauh dengan Benzema yang sangat membosankan! King yang cerewet dan banyak tingkah cocok bermain dengan Kenzo yang sama-sama memiliki sifat ceria dan menyenangkan.


" Ini Langit? " tanya Clara pada Lisa.


" Iya Ra. " jawab Lisa. Sebelumnya Lisa sudah menceritakan siapa itu Langit.


" Hai Langit.. " sapa Clara.


Langit hanya mengangguk menanggapi sapaan Clara. Tidak lupa meraih tangan, lalu mencium punggung tangan Clara.

__ADS_1


Clara mengusap lembut kepala Langit. " Kamu anak yang tampan. " Clara memuji ketampanan Langit. Wajah Langit mempunyai ciri khas sendiri. Wanita cantik itu memperhatikan Langit yang terlihat murung. Tidak ceria seperti kebanyakan anak di usianya. " Kasihan sekali dia.. " Clara.


" Kita ngobrol yuk.. " ajak Lisa.


" Ayuk.. " Clara juga tak sabar untuk bergosip ria dengan temannya. " Kenzo.. " panggil Clara pada putra keduanya. " Ajak Langit bermain bersama. " serunya.


" Iya mami! " jawab Kenzo.


" Udah ketemu sama ayah kandung Langit? " tanya Clara mengenai Langit. Kedua wanita itu sudah duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari anak-anak mereka bermain. Sedangkan Arsen memilih berada di luar rumah untuk menikmati cerutunya.


" Udah.. tapi kayaknya istri pak Ardi gak suka dengan kehadiran Langit. " jawab Lisa.


" Kasihan sekali dia. "


" Iya. Gue juga kasihan. Gak tega kalo Langit di asuh sama ibu tirinya. Bisa-bisa di siksa! " Lisa sebenarnya tak tega membiarkan Langit hidup bersama ayah kandungnya yang mempunyai istri jahat seperti Julia. Tapi mau bagaimana lagi, Arsen tidak setuju niat baik Lisa yang ingin mengasuh Langit.


" Semoga ada jalan keluarnya. " ucap Clara.


Kenzo dan King membujuk Langit untuk bermain bersama. Namun Langit menolaknya, Langit hanya memperhatikan King dan Kenzo bermain-main. Perhatian Langit teralihkan pada box bayi yang ada di sana, di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang sedang menggantikan popok pada baby Arletta. Langit menghampiri baby Arletta ketika babysitter nya beranjak pergi. Langit menatap lekat-lekat baby Arletta, mengelus pipi mungil itu. Terbit sebuah senyuman yang jarang sekali terlihat di wajah bocah laki-laki itu.


Hari sudah semakin siang. Mereka semua makan siang bersama di rumah Clara. Bastian pulang ketika makan siang telah usai.


" Mas, tumben udah pulang? " Clara menghampiri suaminya, tidak lupa mengecup sekilas bibir Bastian. Kebiasaan lama yang sering Clara lakukan untuk menyambut Bastian.


" Jadwal di rumah sakit udah selesai. " jawab Bastian. " Dimana Arletta? " Bastian menanyakan putri kecilnya.


Anak-anak kembali asik bermain. Kali ini mereka bermain PS. Dan lagi-lagi Langit hanya memperhatikan Kenzo dan King bermain.


" Ehem.. " Arsen berdehem. " Kamar itu kayaknya kosong deh.. " Arsen menunjuk salah satu ruang tamu.


" Lah terus? " Lisa.


" Kita main di situ yuk? mumpung anak-anak lagi pada anteng. Ada babysitter juga yang jagain mereka. " sepertinya Arsen tak tahu tempat!


" Ikh ngaco! di rumah siapa ini? jangan gila deh! " protes Lisa yang tidak mau menuruti perintah suaminya.


" Itu kamar tuh kosong.. gak ada yang nempatin. Om Davon dan tante Giska kan lagi gak ada. Jadi aman deh.. " Arsen pernah menginap satu kali di rumah ini. Dan menempati kamar yang barusan ia tunjuk.


" Gak mau ah! malu ama Bastian! " ujar Lisa.


" Tapi aku pengin banget nih.. gak tahan! semalem kan gagal! " ujar Arsen yang sudah berhassrat. Di tambah teman laknutnya yang mengirim video panas beberapa saat lalu. Makin bergairrahlah si pria mesum itu.


Tanpa menunggu jawaban Lisa, Arsen sudah menarik lengan Lisa memasuki kamar itu. Tidak lupa mengunci pintu dengan rapat.


" Ck! gak cuma mami papi aja! ternyata uncle Arsen juga begitu! " Benzema tidak sengaja melihat pergerakan Arsen dan Lisa. Anak kecil itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku orang dewasa yang suka sekali bermain petak umpet dengan anak-anak mereka.


Di dalam kamar.

__ADS_1


Arsen menyambar bibir Lisa, melummatnya begitu rakus. Lisa tidak ragu untuk membalasnya. Sepasang suami-istri itu sibuk memberikan sentuhan yang memabukkan, membuat hasrrat mereka bergelora.


" Aku di atas! " seru Lisa ketika mereka berdua sudah polos seperti bayi. Lisa ingin memimpin permainan. Arsen dengan senang hati membiarkan Lisa menari-nari di atas tubuhnya.


" Faster! " seru Arsen. Lisa menurutinya. Wanita itu bergerak lebih cepat, naik turun, maju mundur cantik... tapi Arsen belum puas dengan permainan Lisa.


" Gantian! " Arsen ingin mengambil alih permainan.


" Gak mau! bentar lagi. " Lisa belum mau turun. Masih menikmati milik Arsen yang terbenam penuh di dalam sana.


Arsen pun membiarkan Lisa. " Uhhh... enak.. lagi.. lebih cepat.. yah kayak gitu.. bukan! yah begitu... " rancau Arsen memandu Lisa yang belum mahir memimpin permainan.


Keringat sudah membanjiri tubuh mereka. Arsen menangkup kedua bulatan milik Lisa yang menari kesana kemari seiring dengan pergerakan Lisa. Meremass, menyessapnya. Uhhh.. Arsen nampak puas dengan ukuran benda itu.


" Aww.. " jerit Lisa ketika Arsen mengigit put*ing nya.


Lenguhan panjang dari Lisa menandakan wanita itu sudah mencapai pelepasannya. Arsen dengan cepat membalikkan posisi. Kali ini dia akan memimpin permainannya.


" Let's get started. " Arsen berpacu layaknya seorang koboi yang menunggangi kudanya. " Uuhhh... aahhhhh... uuhhhh... " Arsen sangat menikmati permainannya. Menguntungkan juga mengunjungi rumah kakaknya dan mendapatkan waktu untuk bercinta tanpa terganggu oleh teriakan King yang mencari keberadaan Lisa.


" Ishh.. jangan berisik! " seru Lisa memperingati Arsen agar tidak berlebihan mengeluarkan suara. Takut di luar sana ada orang yang mendengarnya.


" Lisa.... Arsen... " teriak Clara di balik pintu kamar.


Dug.. dug... suara gedoran pintu.


" Ganggu aja! " Arsen semakin mempercepat permainannya. Ternyata masih saja ada yang mengganggu kegiatan mengenakkan itu. Kedua insan yang tengah berlayar di lautan cinta tidak mengindahkan panggilan Clara. Mereka masih asik untuk mencapai nirwana.


" Dasar adik gak ada akhlak! " gerutu Clara.


" Ada apa sayang? " tanya Bastian yang melihat istrinya menggerutu.


" Gak papa. " Clara berusaha menutupi kalakuan adiknya. Bisa-bisa Kutilang milik Bastian on fire jika mendengar kegiatan panas yang sedang adiknya lakukan. Bisa gawat! " Oh.. iya.. apa kamu ngijinin mas, sama permintaan aku yang tadi? "


" Yang mana? " Bastian.


" Ish.. " desis Clara sebal, belum lama mengatakan, Bastian sudah melupakannya. " Itu loh.. mas.. masalah Langit. Boleh ya.. Langit tinggal di sini? jadi makin rame deh... "


Clara tidak tega melihat Langit yang sepertinya tertekan. Anak seperti Langit butuh kasih sayang dan perlindungan. Clara dengan inisiatif ingin menampung Langit di rumahnya. Clara yakin jika kedua mertuanya tidak akan keberatan dengan keberadaan Langit. Mengingat Giska sangat baik dan suka sekali dengan anak kecil.


" Bukannya ada ayah kandungnya? " Bastian.


" Ada sih.. tapi sebelum tinggal sama ayahnya.. boleh kan? Langit tinggal di sini dulu? " Clara.


" Gak masalah! asal jatah ku gak berkurang sedikit pun! " Bastian mengijinkannya. Apapun keinginan istrinya, sebisa mungkin Bastian akan penuhi. Cintanya begitu besar pada istri cantiknya itu.


" Gak akan! bahkan aku kasih extra plus plus deh.. hihi.. " Clara selalu bisa membuat hati Bastian meluluh.

__ADS_1


- TBC -


__ADS_2