Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Bertemu masalalu


__ADS_3

Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...


...🌈🌈Instagram Author : Srt_tika92🌈🌈...


Selamat membaca......


🍁🍁🍁


Cuti pernikahan sudah usai, Arsen kembali lagi bekerja seperti biasanya. Bedanya kali ini Arsen ada yang membantu nya untuk bersiap di pagi hari. Dari mulai membangunkannya, menyiapkan pakaian, serta lainnya. Lisa memperhatikan kebutuhan Arsen sekecil apapun. Menjarah istri dan ibu yang baik, serta menghormati suami menjadi tanggung jawabnya saat ini.


" Sudah selesai? " tanya Lisa ketika masuk kembali ke kamar. Lisa menyiapkan King yang akan berangkat sekolah ketika Arsen membersihkan diri. " Sini aku bantu. " Lisa mendekat. Lalu meraih dasi yang telah menggantung di leher suaminya. Memasangkan dasi pada suaminya.


" Morning kiss. " Arsen mencuri kecupan singkat di bibir Lisa ketika istrinya sibuk memasang dasi.


" Ishh.. " desis Lisa.


Arsen terkekeh. " Senengnya.. sekarang ada istri yang membantu ku. " Arsen jelas melihat perbedaan ketika dirinya masih sendiri. Dulu awal pernikahan mereka, Lisa jarang sekali melakukan hal ini. Lisa hanya memenuhi kebutuhan ranjang pria itu.


" Selesai. " ucap Lisa sembari menepuk bahu seraya mengelusnya. " Suami ku udah ganteng banget. " puji Lisa.


" Udah ganteng dari dulu kali! " Arsen selalu percaya diri dengan parasnya yang rupawan. " Makanya kamu kepincut ama aku kan? " ucap Arsen seraya menggoda istrinya dengan mengecupi kedua pipi Lisa.


" Ishh.. pede banget! " elak Lisa.


" Gak usah ngelak deh.. kamu terkesima kan pas pertama kali liat aku? " Lisa tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Suaminya itu memiliki tingkat kenarsisan level paling tinggi.


" Terserah kamu deh mau ngomong apa. " ujar Lisa yang tak mau meladeni Arsen.


Sekali lagi Arsen mengecup bibir Lisa. " Mungkin aku pulang malem. Kerjaan banyak banget. Gak papa kan? "


Lisa mengangguk. " Gak papa asal kerja beneran. Bukan ngerjain yang lain. " Lisa.


Arsen terkekeh, mengerti maksud istrinya itu. " Tenang istri ku.. " Arsen mencubit kedua pipi Lisa. " Aku udah tobat! si Beo udah alim kok. Maunya cuma sama kamu.. hehe.. "


" Semoga. " harap Lisa.


" Tapi udah kangen berat si Beo mau cicicuit lagi. " bisik Arsen.


" Baru kek kemaren! "


" Itu dua hari yang lalu. Kurang! aku penginnya tiap hari. " hanya berkata seperti itu, si Beo di bawah sana sudah mulai beraksi.


Lisa mendelik. " Ish mesum! " kemudian menjauh agar tidak merasakan sesuatu yang keras menempel di tubuhnya. " Udah sana kerja.. ntar telat loh. "

__ADS_1


Arsen tergelak. " Ntar siang dateng ya ke kantor pas jam istirahat. " seringai Arsen.


" Liat ntar deh.. aku mau ke butik. Mau fitting gaun pengantin.. " ujar Lisa.


" Sempetin lah.. biar aku tambah semangat mencari nafkah buat kamu. Nafkah lahir sama batin harus seimbang. Iya gak? " godanya kembali.


" Iya, aku usahain. " jawab Lisa.


" Gitu dong.. " ucap Arsen. " Aduh gemes banget sih.. kalo gak mepet aku makan juga nih kamu, Mumpung gak ada King. " seloroh Arsen.


" Mulai deh... "


***


Pukul sepuluh Lisa sudah bersiap untuk pergi ke butik. Tidak lupa meminta tolong pada supir untuk menjemput King sepulang sekolah. Tidak akan sempat mengingat setelah ke butik dia harus datang menemui Arsen di kantor nya.


Sesampainya di butik, Lisa di sambut oleh pemilik butik yang turun langsung merancang gaun pengantin nya. Gaun yang akan di pakai untuk acara perayaan pernikahannya dengan Arsen.


kurang lebih tiga puluh menit Lisa berada di butik itu. Ketika ia keluar dari butik, kedua matanya menangkap pemandangan yang memilukan. Ada seorang anak kecil yang sedang menangis di emperan ruko kosong. Banyak orang berlalu lalang di sekitarnya, tapi tidak ada yang perduli dengan anak itu.


Tak tega melihatnya, Lisa menghampiri anak kecil itu. " Dek.. kenapa menangis? mana orang tua kamu? " miris sekali melihat penampilan bocah laki-laki yang mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan King.


Anak itu semakin menangis, bukannya menjawab pertanyaan nya. Lisa memperhatikan anak itu yang memandang lurus ke depan. Saat Lisa menoleh ke arah pandangan bocah itu, Lisa mengerti. " Kamu laper dek? belum makan? " tanya Lisa.


" Nama kamu siapa? " tanya Lisa.


" Langit. " jawabnya.


" Nama yang bagus. " Lisa mengusap pucuk kepala langit.


Lisa memesankan beberapa menu makanan. Langit memakannya dengan sangat lahap, terlihat jelas bocah itu sangat kelaparan. Lisa menatap Langit dengan sendu. Melihat Langit, dia teringat dengan putranya. Untung saja keberuntungan menyertai dirinya dan putranya, sehingga tidak merasakan kesulitan waktu itu. Masih ada orang yang baik hati mau memberikan kehidupan yang layak.


" Dimana orang tua mu? " tanya Lisa ketika melihat makanan Langit sudah habis tak tersisa.


" Mama sakit. " jawabnya. Langit tertunduk kembali, kesedihan terlihat lagi di wajah bocah polos itu.


Lisa mengusap pipi Langit dengan lembut. " Papa mu? "


Langit menggelengkan kepalanya. Lisa menghela nafasnya panjang. Entah kenapa hatinya tergerak untuk menolong bocah itu. " Boleh tante ke rumah mu? "


Langit mengangguk setuju. Seusai membayar semua tagihannya, Lisa dan Langit menuju ke rumah Langit dengan berjalan kaki. Rumah langit tidak jauh dari lokasi itu. Mereka menyelusuri jalan yang terlihat sangat kumuh. Lisa tidak merasa jijik, karena dulu ia pernah mengalami nasib yang tidak beruntung seperti Langit. Tinggal di pinggiran kita dengan lokasi yang jauh dari kata bersih.


" Ini rumah kamu? " tanya Lisa. Langit mengangguk. Rumah yang terletak paling ujung, terbuat dari bilik kayu yang tidak lagi berfungsi dengan semestinya.

__ADS_1


" Mama.. " teriak Langit ketika membuka pintu. " Mama.. langit bawa makanan buat mama.. " ucapnya seraya memberikan kantong kresek berisi makanan yang tadi sempat Lisa beli di restoran yang sama, tempat Langit makan.


Lisa masuk perlahan. " Permisi.. " ucapnya.


" Masuk tante.. " ucap Langit.


Lisa masuk ke dalam rumah yang terasa pengap itu. Kedua matanya melihat seorang perempuan berbaring di atas kasur yang sudah usang.


" Terimakasih tante.. " ucap Langit pada Lisa yang sudah memberikan makan siang untuk mereka.


Lisa tersenyum sembari mengelus pipi Langit. Penasaran dengan ibu Langit, Lisa lebih mendekat.


" Permisi ibu.. saya tadi bertemu dengan Langit di ruko depan. Jadi saya mampir sekalian mengantar Langit pulang. " ujar Lisa.


" Terimakasih.. " ucap Ibu Langit dengan suara bergetar.


Deg.. Lisa familiar dengan suara itu. Untuk memastikan kembali, Lisa memperhatikan wajah ibu dari Langit. Wanita itu terus menangis tanpa Lisa tau sebabnya. Batin Lisa bertanya-tanya, kenapa ibu Langit menangis?


Lisa menyipitkan kedua matanya, tidak lama kemudian kedua mata itu terbelalak sempurna, nyaris keluar dari tempatnya. " Sofie??? " Wanita itu semakin menangis tersedu-sedu.


" Kamu Sofie? " Lisa kembali memperhatikan wajah wanita itu. Wajah yang dulu terlihat sangat cantik, namun kini terlihat sangat tak terurus, bahkan nyaris menggelap karena flek hitam.


" Ya Allah Sofie? ada terjadi? " ucap Lisa yang sudah yakin jika wanita yang ada di hadapannya adalah benar-benar Sofie, mantan atasannya dulu.


Setelah kejadian buruk di masalalu, Sofie tidak laku lagi di dunia entertainment. Sofie terpuruk dengan keadaan perekonomian yang merosot, bahkan kedua orang tua Sofie telah meninggal dunia karena serangan jantung. Kerabatnya tidak ada yang mau menampung Sofie kala itu yang sedang berbadan dua. Bahkan, ayah dari anaknya tidak mau mengakuinya.


Kehidupan Sofie hancur seketika. Ia harus tinggal di sebuah rumah yang tidak layak huni ini. Uang sisa tabungannya terpaksa habis untuk biaya rumah sakit. Karena Sofie di fonis menderita kanker serviks. Langit, putranya harus menanggung penderitaan akibat kelakuan buruknya.


Lisa yang mendengar jika Sofie menderita kanker serviks tidak ragu membawa wanita itu ke rumah sakit. Kondisi Sofie benar-benar memprihatinkan, hanya bisa berdiam diri di atas kasur. Lisa membantu Sofie dengan tulus, tanpa mengingat perlakuan buruk wanita itu terhadap dirinya dulu.


" Hallo.. " Lisa menerima panggilan dari Arsen.


" Kamu dimana? " tanya Arsen di sebrang sana. Lama menunggu kedatangan Lisa membuatnya cemas.


" Maaf aku lupa ngabarin kamu. Aku lagi di rumah sakit. " jawab Lisa.


" Rumah sakit? rumah sakit mana? aku susul sekarang juga! "


" Rumah sakit Alexander. " jawab Lisa.


Panggilan telfon terputus. Lisa menyimpan ponselnya kedalam tasnya. Lisa merengkuh tubuh Langit ke dalam pelukannya. " Tenang nak, semua akan baik baik aja. Ada tante di sini. " Tidak bisa di bayangkan hidup Langit selama ini. Hidup luntang lantung tanpa ada yang mengurusnya. Lisa harus berbuat sesuatu agar Langit mendapatkan kehidupan yang layak.


- TBC -

__ADS_1


__ADS_2