Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Kibasan rambut


__ADS_3

Arsen menyelesaikan meeting dengan baik. Pria itu tidak lagi di ragukan untuk memimpin perusahaan milik orang tuanya. Terbukti, perusahaan itu berkembang pesat saat di pimpin oleh Arsen. Bahkan merambah di bidang real estate.


" Bos, bentar lagi ada pertemuan sama pak Gunawan. Arsitek yang menangani pembangunan di Surabaya. " Doni memberikan jadw selanjutnya setelah meeting pagi ini. Mereka berjalan menuju ruangan Arsen, dengan Doni mengekori Arsen sembari memberitahu beberapa info yang harus di sampaikan.


" Undur pertemuan. Gue mau keluar bentar. Setelah jam makan siang aja. "


" Baik bos. " Doni.


" Oh iya.. siapkan mobil, suruh pak Tarno aja. "


" Oke. " Doni dengan cekatan memberitahu pak Taro agar menyiapkan mobil. " Emang bos mau kemana? " tanya Doni penasaran setelah menutup panggilannya dengan pak Tarno.


" Kepo! "


" Ck! " decak Doni. " Kencan ya bos. " terka Doni. Tidak biasanya Arsen akan pergi keluar tanpa memberitahu dirinya.


Selama ini Arsen akan selalu mengikuti kegiatan sesuai jadwal yang Doni berikan. Tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal sepele. Nongkrong tak jelas misalnya. Arsen hanya akan mengurung diri di apartemen di temani beberapa botol minuman, untuk sekedar menghilangkan rasa penat dan sesak karena terlalu rindu pada wanita yang ia cintai. Itu pun dalam pantauan Doni.


Arsen menoleh lalu melotot ke arah Doni. " Gila lu! "


" Ya siapa tau, Bos udah gak tahan lagi. Pensiun dini sangat menyiksa loh bos! " mulut Doni tidak bisa di kondisikan. Senang sekali mengolok atasannya itu, tanpa memikirkan akibat ucapannya.


Pletak.. Arsen menjitak kepala asisten nya itu. " Mau gue robek tuh mulut! "


Doni menggeleng dengan cepat.


" Gaji lu gue potong jadi seperempat! " tegas Arsen.


" Loh.. kok di potong lagi sih.. Setengah aja gue kurang. Apalagi seperempat? bisa - bisa tiap hari gue makan indo mie. " Doni tak terima dengan hukuman yang di berikan oleh Arsen.

__ADS_1


Namun Arsen tak mendengarkan keluhan Doni. Hukuman tetap berjalan. Doni hanya menyesali dengan mulutnya yang tidak bisa di kontrol.


***


Sesuai janji nya pada King. Arsen akan menjemput King pulang sekolah. Sebelum pukul sepuluh, Arsen sudah lebih dulu berangkat menuju sekolahan baru putranya agar sampai di sana tidak telat, membuat King menunggu.


Ternyata perkiraan untuk sampai tepat waktu sedikit terhambat. Arsen mendadak terjebak macet. Di depan mobilnya ada kendaraan yang terlihat bersenggolan, hingga adu mulut antar pengemudi pun terjadi. Padahal jarak menuju sekolahan King tinggal sebentar lagi. Hanya lurus lalu berbelok, sudah sampai.


" Ck! " Arsen berdecak kesal. 10 menit lagi King menyelesaikan belajarnya. Dia tidak mau terlambat. Karena setelah menjemput King, dia akan kembali bekerja. Meeting yang sudah ia tunda tidak boleh ia abaikan kembali.


Sementara itu, King yang baru ke luar kelas menuju ke halaman sekolah. Mencari siapa yang telah menjemput nya.


" King.. sudah ada yang menjemput? " tanya salah satu guru di sekolah itu.


" Belum tahu Miss, King akan menunggu nya di luar. " jawab King.


" Baik Miss. " jawab King.


Di halaman sekolah sudah terlihat Lisa tengah menunggunya. King langsung berlari menghampiri Lisa. " Mommy.. "


" King.. " Lisa tersenyum lebar, lalu membalas pelukan King. " Gimana sekolah nya? udah dapet teman baru kan? "


King mengangguk. " King mempunyai teman baru. Bisma, Nando.. dan Jelita. " jawab King.


" Jelita sangat cantik mom, dia berambut hitam seperti mommy. Lebih cantik Jelita dari pada Camelia. Tapi Jelita sangat galak, tidak seperti Camelia yang selalu tersenyum pada King. " King berceloteh sembari berjalan menuju mobil. Lisa mendengarnya hanya bisa menggelangkan kepalanya.


" Mommy sama Uncle As? " King baru menyadari jika Lisa datang bersama Aksa.


" Iya.. tadi mommy ijin keluar sebentar untuk menjemput mu. Ternyata uncle mau pergi juga. Jadi sekalian. "

__ADS_1


" Alasan! "


" Mom, King ingin beli itu. " tunjuk King pada pedagang yang menjual gulali di depan sekolahan.


" Boleh.. tapi untuk hari ini aja ya, besok gak boleh lagi. " King dan Lisa berjalan menghampiri pedagang yang ada di tepi jalan.


Arsen telah sampai di depan sekolahan King. Dia tidak bisa masuk karena banyaknya mobil yang keluar. Mungkin mobil jemputan anak-anak yang bersekolah di situ. Bahkan Arsen harus turun dari mobil dan berjalan kaki.


" King.. " lirih Arsen yang melihat King berdiri di tepi jalan. Ikut mengerumungi pedagang gulali. Arsen mendekat, lalu langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya membulat sempurna melihat wanita yang tengah menggandeng tangan King.


" Lisa... istri ku.. " suaranya bergetar. Wanita yang selama ini ada di depannya. Bersama putranya. " Apa.. apa... King.. " Arsen tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena dia bisa menebaknya sendiri. King adalah putranya bersama Lisa. Bodoh sekali dia tidak bisa menyadari hal itu lebih awal.


Lisa terlihat begitu cantik. Bahkan bertambah cantik. Arsen memperhatikan setiap pergerakan Lisa. Tidak menyangka dia akan menemukan wanitnya. Arsen ingin sekali menghamburkan pelukannya, memberikan kecupan pada wajah istrinya. Namun kedua kakinya tidak bisa di gerakan, terasa lemas seperti jelly. " *S*hittt! "


Tatapan Arsen begitu dalam dan tajam mengawasi pergerakan Lisa. Menyusuri dari atas sampai kebawah meyakinkan kembali, bahwa yang dilihat nya itu benar nyata, bukan mimpi. Jarak mereka tidak terlalu jauh hingga Arsen bisa melihat dengan jelas. Lisa berubah menjadi wanita yang bertubuh sexy. Itu semakin membuat kedua mata pria yang sudah lama pensiun dini kembali berbinar. Seperti mempunyai harapan bahwa akan memulai petualangannya kembali.


Cuaca begitu terik membuat Lisa berkeringat. Rambutnya yang tergerai membuatnya semakin gerah.


" Cantik sekali. " gumam Arsen yang terus saja memperhatikan Lisa. Kakinya masih saja lemas seperti Jelly tidak bisa di gerakan.


" Oh Shittt! " umpat Arsen. Beo nya kembali on fire hanya karena melihat Lisa mengibaskan rambutnya. Memperlihatkan leher putih mulusnya dengan peluh yang mengalir di sana. Gerakan Lisa telihat slow motion di mata Arsen. Sangat menggairahkan, menggiurkan. Ingin sekali menarik Lisa, membawanya ke atas ranjang, berbagi peluh kenikmatan. Mengurungnya berhari-hari, bermain yang mengenakkan. Oh.. sungguh pikiran Arsen sangat liar.


" Shittt! " Arsen kembali mengumpat saat menyadari jika Lisa dan King telah pergi, menaiki mobil. Dengan cepat Arsen kembali masuk ke dalam mobilnya. Berniat akan mengikutinya.


Matanya dengan awas memperhatikan kemana mobil yang membawa anak dan istrinya pergi. Tidak mau kehilangan jejak.


Mobil yang di tumpangi Lisa berhenti di depan rumah minimalis. Mobil Arsen pun tak jauh dari sana. Masih setia mengawasi.


" Sialan! si tukang batu! " kesal Arsen setelah melihat siapa yang mengantar istri dan putranya.

__ADS_1


__ADS_2