
" Mas, nanti siang aku mau jalan sama Mikha ya.. " Lisa meminta ijin pada sang suami. Saat ini Lisa tengah membantu memasangkan dasi pada suaminya, rutinitas lagi hari ketika Arsen bersiap untuk bekerja.
" Kemana? " tanya Arsen.
" Paling jalan ke mall. " Lisa.
Arsen melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Satu tangannya beralih mengelus perut buncit itu. " Apa gak papa? nanti kecapean gimana? " Arsen mengkhawatirkan kesehatan Lisa dan calon buah hatinya, takut kelelahan.
Lisa tersenyum, mengelus lembut kedua pipi Arsen. " Gak bakal lama kok. " kemudian mengecup sekilas bibir suaminya. " Kamu bisa nyusul pas makan siang. Mall nya deket kok sama kantor. "
" Kalo gak sibuk aku sempetin nyusul. " ujar Arsen, pertanda menyetujui keinginan Lisa. " O iya, kapan kita cek up ke dokter kandungan lagi? "
" Minggu depan. Kemarin kan baru aja periksa. "
Arsen mengangguk. " Nanti bilang ya, takut aku lupa. "
" Iya mas. "
Seusai bersiap dan rapih. Arsen dan Lisa keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama dengan keluarga besar.
" Pagi oma.. " sapa Arsen pada Wina yang sudah duduk di kursi meja makan. Tidak lupa memberikan kecupan di pipi Wina.
" Pagi cucu tampan ku. " Wina menyambut Arsen. " Pagi Lisa.. bagaimana kandungan mu? " Wina yang baru saja kembali ke rumah itu menanyakan keadaan Lisa dan bayinya.
" Alhamdulillah baik oma. " jawab Lisa. " Oma sendiri bagaimana kabarnya? kaki oma masih sakit? "
Wina terkekeh. " Penyakit tua gak akan sembuh. Kadang sembuh terus tiba-tiba sakitnya muncul lagu. "
" Oma harus terus menjaga kesehatan, Arsen baru mau punya anak dua. Masih tiga lagi.. oma harus bermain dengan anak-anak Arsen nanti. " ujar Arsen yang sudah duduk di sebrang oma. Sedangkan Lisa duduk di samping Wina. Membantu wanita tua itu mengambilkan makanan.
Wina tergelak. " Kamu mau punya anak Lima? " ucapnya terkejut dengan keinginan Arsen. " Emang sanggup? "
" Ck! " Arsen berdecak. " Jangan remehkan Arsen oma. Arsen masih sanggup menabur benih setiap malem. "
" Dasar cucu sableng! maksud oma, kamu sanggup ngurusin anak sebanyak itu? "
" Sanggup! " seru Arsen.
__ADS_1
" Yakin sanggup berbagi kasih sayang dan waktu dengan kelima anak mu! " Wina bertanya kembali, seakan tidak yakin. " Istri mu akan memilih sibuk menemani anak-anak mu ketimbang meladeni mu setiap malem! " Wina tersenyum mengejek. " Dua aja pasti kamu kalang kabut! "
" Hehe.. " cengir Arsen yang sudah mengerti maksud dari omongan Wina. Benar juga, jika dia memiliki lima anak bahkan lebih. Tentu saja Lisa akan banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak nya. Dan dirinya akan di abaikan setiap malam. " Gak jadi deh oma.. " Arsen.
" Dasar anak, bapak sama-sama sableng! " gerutu Wina yang sudah tau jelas tabiat putra dan cucu tampannya. " Moga saja cicit tampan ku gak kayak kalian berdua. " do'a Wina agar cucu laki-laki nya tidak seperti Adrian dan Arsen.
Lisa hanya menggelengkan kepalanya, mendengarkan obrolan antara nenek dan cucunya. Menyiapkan makanan ke dalam piring oma Wina dan suaminya.
" Sepertinya yang kalem cuma si Bastian itu! gak pecicilan kaya kalian! " komentar Wina.
" Udah oma, sarapan dulu. " ucap Lisa menyela pembicaraan mereka.
" Iya, terimakasih nak. " Wina.
Mereka hanya sarapan bertiga. King sudah lebih dulu di antar oleh Elsa dan Adrian.
" Anak mu itu kecil-kecil udah tau aja ya perempuan cantik. " ucap Wina di sela sarapan nya. " Kemarin sore saat Wina tiba di rumah di antar oleh Karin. Wina sempat mengobrol dengan King.
" King? " tanya Arsen.
" Iyalah sapa lagi anak mu! " Wina.
" Cicit ku itu cerita mulu temennya yang namanya Jelita sama siapa itu.. satu lagi. Mila.. mila.. oma lupa. " ujar Wina. Di keluarga Haidar tidak pernah melarang melakukan obrolan di meja makan. Karena hanya di waktu makan bersama mereka bisa berkumpul dengan semua anggota keluarga.
" Oh.. Jelita dan Camelia. " ujar Lisa yang tahu jika putranya itu sering bercerita tentang kedua temennya itu.
" Iya itu dia! " Wina. " Tanda-tanda itu calon penerus kelakuan minim akhlak si Adrian sama bocah sableng ini. " tunjuk Wina pada Arsen. " Masukin pesantren aja pas lulus SD, biar alim sejak dini. " saran Wina dengan mulut tak berfilternya. Bisa bisanya Wina mengumbar kalakuan buruk masalalu Adrian di depan menantunya.
" Oma.. " Arsen memohon agar oma bisa menjaga lisannya.
Tapi Wina tak peduli, terus saja berceloteh. " Pesantren di Jogja kayaknya bagus tuh, oma kenal pemiliknya. Kalo perlu, cicit laki-laki oma semua masukin ke pesantren. Biar gak ada penerus Haidar yang suka belok ke jalan yang sesat. " astaga oma Wina membuat kepala Arsen ingin meledak.
" Nanti oma bilang ke Bastian deh.. dia mah pasti nurut, kelem sih.. gak kaya kamu! "
" Iya oma, kita pikiran nanti ya.. sekarang makannya di selesaikan dulu. " Lisa mecoba menjadi penengah. " Mau Lisa bantu oma? "
" Oma udah kenyang, antar oma aja ke kamar. " ujar Wina.
__ADS_1
" Baik oma. " Lis pun beranjak dari duduknya. Membantu Wina berjalan menuju kamarnya.
" Sen! jangan lupa ya.. bulan ini kamu belum transfer oma. Wajib itu! " ucap Wina sebelum pergi dari ruang makan.
Arsen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. " Oke. "
***
Setelah Elsa pulang, Lisa berpamitan pergi untuk bertemu Mikha. Kedua wanita itu bertemu janji di sebuah pusat perbelanjaan mewah di ibukota.
" Udah lama nunggu nya? " tanya Lisa menghampiri Mikha yang sudah menunggunya di sebuah cafe. " Tadi nungguin mama pulang dulu, kasian oma sendirian. " ujar Lisa.
" Iya kak. Gak papa, aku baru nunggu bentaran kok. " Mikha.
Lisa duduk kursi dan memanggil pelayan untuk memesan minuman. " Gimana nih rasanya jadi pengantin baru? " tanya Lisa.
Blush.. pipi Mikha merah merona.
" Cie... cie.. gak usah malu gitu. " ledek Lisa.
" Kak Lea! " Mikha merengek. Mikha masih memanggil Lisa dengan panggilan lamanya. Ketika mereka hidup bersama di Jerman.
" Sakit pinggang gak? " tanya Lisa kembali seraya menggoda. " Berapa ronde semalam? "
Mikha tertunduk malu. Hampir setiap malam suaminya itu selalu saja mengajaknya bercinta, seakan tidak ada hari esok. Seminggu menikah dengan Junet membuat Mikha selalu terbangun di saat matahari sudah beranjak tinggi.
Mikha tidak menjawab, sangat malu mendengar pertanyaan dari Lisa, apalagi menjawabnya, Mikha tidak cukup berani berbicara vulgar, mungkin karena belum terbiasa. Jangan kan dengan Lisa, bersama suaminya saja Mikha masih malu-malu.
" Nanti kita ke apotik beli vitamin buat kamu. Kakak yakin, kamu tiap hari begadang. " ujar Lisa. Tanpa Mikha menjawab pun, Lisa mengerti dengan sendirinya. Memiliki suami seperti Arsen membuat Lisa berpengalaman mengantisipasi daya tahan tubuh dan kebugaran jasmani. Sepertinya Junet tidak jauh beda dengan Arsen, pikir Lisa.
Mikha hanya mengangguk. Lalu terdengar bunyi ponselnya, terdapat pesan baru.
" Lima belas menit aku nyampe rumah.. kamu siap-siap ya.. aku kangen. " isi pesan dari Junet.
Mikha menghela nafasnya panjang. Hari ini, hari dimana Junet kembali bekerja di perusahaannya. Tapi masih sempat-sempatnya pulang untuk mengajaknya bercinta.
" Aku lagi di mall ketemuan sama kak Lea. " balas Mikha.
__ADS_1
Padahal dari kemarin Mikha meminta ijin untuk bertemu dengan Lisa. " Apa dia lupa? " batin Mikha.
- TBC -