Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Sulit untuk di gapai


__ADS_3

" Kakak, bangun! ini udah sore. " Sora membangunkan King, mengguncang bahu kakaknya itu. " Di bawah ada kak Kenzo dan kak Langit! " seru Sora.


Mendengar nama Kenzo dan Langit, kedua mata King mulai terbuka.


" Ayo buruan! mereka udah lama nungguin kakak bangun. " Sora.


" Hem. " gumam King.


" Cepetan bangun! aku gak mau lagi bangunin kakak! " ucap Sora meninggalkan King yang sudah beranjak dari tidurnya.


Sora menuruni anak tangga, berjalan menunju ruang keluarga. Di sana sudah ada Kenzo dan Langit yang sedang bermain PlayStation. " Kak Key udah bangun tuh. " ucap Sora sembari mendudukkan diri sofa, bersantai memainkan ponselnya.


Kedua laki-laki itu tidak menyauti ucapan Sora, mereka berdua asik bermain game. Sudah terbiasa bagi mereka menghabiskan waktu di rumah itu, agar bisa bebas bermain game sepuasnya, sekalipun tidak ada King di rumah. Terutama Kenzo yang senang menikmati waktu di rumah uncle-nya, karena papinya akan melarang jika ia terus menerus bermain game.


King ikut bergabung dengan wajah kusutnya. " Kalian udah lama? " tanya King.


" Lumayan. " saut Kenzo tanpa menoleh.


Sora menghubungi Arletta, memberitahu jika Langit sedang ada di rumahnya. " Dia pasti senang. " lirih Sora.


" Siapa? " saut King.


" Arlet. Aku menyuruhnya datang ke sini. " ucap Sora sembari melirik ke Langit yang tiba-tiba menghentikan jemarinya yang sedang asik bermain, ketika mendengar nama Arletta.


King tersenyum. " Kalian ini masih bocil! jangan genit! " King menyentil kening adiknya. Mengerti jika Arletta mengagumi Langit. " Apa di sekolah kamu juga begitu, Sora? siapa pria yang paling keren si sekolahan mu? " tanya King.


" Kak Arnold! " mengucapkan nama pria pujaannya, wajah Sora berbinar.


" Kelas berapa? " King bertanya kembali.


" Sembilan. " jawab Sora.


" Oke! besok kakak pindahkan bocah tengik itu! " seru King.


" Kakak! apa apaan sih.. " Sora.


King mengedikkan bahunya. Pria itu hanya tinggal mengadukannya pada daddynya yang cukup berpengaruh. " Masih kecil gak usah kecentilan! "


" Ishh.. " Sora mendengus kesal.


Menerima kabar dari Sora, Arletta bergegas membersihkan diri, bersiap untuk pergi ke rumah uncle-nya. Dia bisa terbebas dari kakaknya yang overprotective, Benzema. Kakaknya itu sedang bersama papinya di kantor. Bastian sudah sejak dini memperkenalkan cara kerja perusahaan yang akan di wariskan nya kelak pada putra sulungnya itu. Benzema sangat bisa di andalkan. Otak cerdasnya menuruninya. Benzema pun seringkali mengikuti program kelas akselerasi karena kepintarannya.


" Mami.. " teriak Arletta memanggil ibunya.

__ADS_1


" Ada apa sayang? " Clara berada di dapur ketika Arletta menghampiri nya.


" Arlet mau main ke rumah uncle, Sora menunggu mam. " ujar Arletta.


Clara tersenyum tipis seraya mengejek. " Mau ketemu Sora apa yang lain nih... " godanya. Clara tau betul jika putrinya itu selalu saja mengagumi seorang Langit. " Ada kak Langit ya? "


Arletta bersemu merah. " Ikh.. mami apaan sih! " Arletta sangat malu.


" Gak usah malu gitu, " Clara mencubit gemas kedua pipi putri cantiknya. " Tunggu sebentar ya, mami ikut deh.. "


" Yahh.. pasti lama kalo nungguin mami! "


" Gak lama kok, tunggu bentar. " Clara berlalu ke kamarnya untuk berganti pakaian. Kebetulan dia sedang ada perlu dengan Lisa.


" Yaudah.. cepetan ya mi. "


" Oke! "


***


Setibanya di rumah Sora, Arletta ikut bergabung dengan yang lainnya. Sedangkan Clara menemui Lisa untuk bertemu kangen.


" Kak Langit.. " panggil Arletta dengan malu-malu.


" Cih! sok imut! " gerutu Sora yang melihat tingkah laku Arletta.


" Emm.. bisa temani aku ke minimarket depan? " itu hanya alasan Arletta saja supaya bisa pergi bersama Langit " Sora juga ikut! "


" Kok aku. " Sora.


" Ayolah Sora temani aku. " bisik Arletta. Tidak mungkin dia pergi hanya berdua dengan Langit. Sora hanya memutar bola matanya malas.


" Mau beli apa? biar kakak yang belikan. Kamu tunggu di sini aja. " Langit.


" Tapi Arlet ingin ikut. "


" Lebih baik kamu tunggu di sini aja, biar kakak yang belikan. " ujar Langit seraya mengelus kepala Arletta dengan lembut. Hal itu selalu saja membuat hati Arletta menghangat atas perlakuan Langit. " Mau beli ciki kesukaan mu kan? sama coklat? " tebak Langit.


Arletta mengangguk dan tersenyum. Langit selalu tahu apapun kesukaan Arletta. " Terimakasih ya kak. "


" Aku juga mau kak, belikan aku icecream sama yougurt. " seru Sora.


" Baik. " Langit.

__ADS_1


" Kenapa kamu ikut-ikutan! " gerutu Arletta.


" Biarin.. wleeekkkk.. " Sora.


Kenzo masih asik bermain dengan gamenya meski Langit telah menghentikan permainannya. Sedangkan King terus menatap pada layar ponsel yang ada di tangannya.


" Sialan! " pekik King ketika mendapati foto teman kecilnya bernama Camelia sedang tertawa bersama Lucas. King beranjak dari duduknya.


" Mommy! " teriak King mencari keberadaan Lisa. " Aku mau ke Jerman! " teriaknya lagi. King harus merayu mommy nya, agar mau membujuk daddynya, mengijinkan nya pergi ke Jerman.


***


Menjelang malam, Bastian dan Benzema datang ke rumah Arsen untuk menjemput Clara dan kedua anaknya.


" Jangan pulang dulu, kita makan malam bersama. Mumpung lagi ngumpul semua. " Lisa menahan keluarga Bastian supaya tidak pulang sebelum makan malam bersama.


" Baiklah. " jawab Clara. Tentu saja Bastian akan menuruti keinginan istrinya, meski sebenarnya ingin cepat pulang. " Kita makan malem bersama dulu ya mas. " tanya Clara pada Bastian.


" Arsen mana Lis? " Clara.


" Bentar lagi nyampe kok. Tadi bilang lagi di jalan mau pulang. " jawab Lisa. " Aku ke belakang dulu ya.. ngasih tau bibik biar di siapin. " pamit Lisa ke dapur, memberitahu kepada pelayan di rumahnya untuk mempersiapkan makan malam.


" Mas. " Clara sudah bergelayut manja di lengan suaminya. Mereka duduk hanya berdua. Benzema sudah pamitan ke kamar Clara yang dulu untuk membersihkan diri.


" Apa sayang.. " Bastian mengelus lembut pipi istrinya.


" Emm.. kayaknya Arletta suka tuh sama Langit. " ujar Clara.


" Ngaco kamu! Arletta masih kecil! " Bastian.


" Ishh.. dia itu putri ku! aku tahu semuanya.. " sungut Clara.


" Iya.. iya.. kamu tahu apapun tentang anak kita. " Bastian mengalah, tidak mau melawan apapun ucapan istrinya. Clara selalu benar di mata Bastian.


" Kalo udah gede, kita jodohin aja apa? kamu bilang ama pak Ardi. " ujar Clara yang berniat untuk menjodohkan Arletta dan Langit.


" Ck! aku ingin yang terbaik untuk Arletta! " Bastian.


" Loh, emang Langit gak baik mas! aku yakin dia itu baik, sopan, dan kayaknya Langit juga ada rasa tuh sama Arletta. " seru Clara.


Bastian menghela nafasnya dalam. " Langit memang anak yang baik. Tapi kelakuan ibunya sungguh sangat... " Bastian tetaplah Bastian, pria yang sangat tidak suka wanita berperilaku buruk seperti mendiang ibunya Langit.


Tanpa Bastian dan Clara sadari, Langit mendengar perbincangan mereka. Wajah Langit berubah menjadi sendu. " Dia memang sulit untuk aku gapai. " lirih Langit sembari berlalu. Tadinya Langit ingin mengambil minuman di dapur, karena Arletta kepedasan setelah memakan snack kesukaannya.

__ADS_1


" Kamu gak boleh gitu mas! manusia itu gak ada yang sempurna. Kelakuan almarhum ibunya Langit, gak ada sangkut pautnya dengan Langit. Aku gak suka ya kamu kayak gitu. " sembur Clara.


Bastian menghela, " Iya.. iya.. maaf.. " pria itu mengalah lagi.


__ADS_2