Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Bukan calon suami ku


__ADS_3

" Ya ampun mama! jangan tanya kayak gitu. " Karin memperingati mamanya agar tidak membicarakan hal yang sangat sensitif.


" Ini penting Rin, " Wina tak peduli, dia harus memastikan jika kesehatan Junet baik-baik saja. " Bisa gawat nenti. Kasian si Mikha! " seru Wina.


" Oh.. iya juga sih... nanti malah si Mikha di anggurin kayak Karin dulu.. hehe.. " Karin membenarkan ucapan Wina. Dia pernah mengalami pengalaman pahit dengan mantan suami pertamanya. Tampan, kaya, baik hati tapi... sangat di sayangkan mantan suaminya itu penyuka sesama jenis. " Kamu gak impotten kan? " Karin malah ikut menanyakan ketangguhan Junet.


" Gue gak nyangka! keluarga Arsen lemes semua mulutnya... " batin Junet.


" Kok malah bengong! di tanya bukan nya di jawab! " seru Wina tak sabaran. " Sayang kalo cakep-cakep tapi letoyy.. "


Junet bingung merangkai kata menjadi kalimat yang sopan di dengar. Tidak mungkin dia menjawab miliknya masih bisa berfungsi dan tegak menjulang tinggi. Sangat malu mengatakannya. Jika di depan temannya, mungkin Junet dengan berbangga diri akan memuja ketangguhan barang keramatnya yang sudah lama tidak ia gunakan. " Emmm... masih kok tan, oma.. " jawab Junet.


" Kok kamu ragu? kamu lagi gak bohong kan? " Karin.


Junet menggeleng dengan cepat. " Gak bohong kok tan. "


" Terus kenapa kamu di selingkuhin mantan istri, dulu? " tanya Wina. Di sini Wina yang selalu bersemangat jika mengenai kandidat anggota baru keluarga besar Haidar. Terutama menantu laki-laki. Calon menantu di keluarga nya harus lulus sesuai kriteria nya. Wina senang sekali melihat kegugupan pria yang akan meminang anak perempuan keturunan Haidar.


Hanya Bastian lah yang begitu mudah menghadapi Wina. Pria tanpa ekspresi itu menjawab dengan mudah pertanyaan Wina. Meski pertanyaan begitu memalukan di ucapkan ataupun di dengar. Bastian pun begitu, menjawab pertanyaan Wina tanpa malu sedikit pun. Membuat Wina geram sendiri, merasa tidak asik menginterogasi Bastian si muka datar.


" Itu.. karena dia memilih pria yang lebih kaya dari saya. " jawab Junet.


Wina terkejut. " Berarti kamu gak kaya? jangan bilang kamu salah satu rakyat kismin? " anti sekali Wina dengan kata ' Miskin '. Seganteng apapun jika pria itu tidak kaya, Wina akan mencoret namanya dari daftar calon menantu.


" Busett udah tajir mlintir masih aja matre! " gerutu Junet dalam hati.


" Mama.. dia punya pabrik textile di daerah Bogor, di tanggerang juga ada. " Karin yang menjawabnya. " Karin udah survei kok mah.."


" Survei? " Junet makin gugup saja. Belum juga resmi menyandang status calon menantu, tapi keluarga Mikha sudah bertanya sedetail itu.


" Oh.. bagus lah.. si Mikha gak bakal sengsara kalo nikah ama si Duda sipit ini. " celetuk Wina.


Hati Junet semakin berbunga-bunga mendengar Wina yang menganggapnya sebagai calon menantu. Semakin percaya diri saja si Duda itu. Membusungkan dada, bahunya yang tadi merasa lemas kini tegak kembali.


" Tapi jangan lupa ya, kasih oma batu bening? " pinta Wina.


" Heh? batu bening? " gumam Junet yang tidak mengerti permintaan Wina.

__ADS_1


" Jangan kalah ama Bastian, dia kasih oma batu bening yang lumayan gede! " ujar Wina.


" Iya.. oma. " jawab Junet tanpa mengerti apa keinginan Wina. Iyakan saja pikir Junet agar dirinya aman.


" Ish.. mama ini! " Karin tidak habis pikir, mamanya sudah tua masih saja begitu.


" Rin, mending kamu panggil si Mikha gih.. " Wina menyuruh Karin agar memanggil Mikha untuk segera turun menemui Junet.


" Iya mah. " Karin beranjak, meninggalkan Junet berdua dengan Wina.


Mendengar nama Mikha, Junet gugup kembali. Takut jika gadis pujaannya menolak kehadiran nya. Pasalnya Junet belum bisa meluluhkan hati Mikha. Meski dia sudah merasa dua langkah lebih maju di bandingkan kekasih Mikha, Rudi.


" Duda sipit! oma ke dalam dulu ya. " pamit Wina. Wanita berkulit keriput itu sudah lumayan membaik kesehatannya, Wina sudah bisa kembali berjalan tanpa menggunakan bantuan kursi roda.


Junet mengangguk. " Ya ampun mulut oma ini minim akhlak! " gerutu Junet karena Wina memanggil dirinya bukan nama, melainkan penggilan yang cukup menggelikan ' Duda sipit ' memang benar, bentuk matanya sipit.


Junet duduk sendirian di ruang tamu. Menatap sekeliling ruangan. Ada beberapa bingkai foto tertata rapih di sana. Foto Mikha sewaktu kecil pun ada di sana. Terlihat sangat menggemaskan, dengan gaun seperti princess yang mengembang.


" Woi! ngapain lu disni! " Arsen terkejut ketika ia masuk ke dalam rumah Aunty nya. Dan mendapati teman sepermainan nya tengah duduk sendiri di ruang tamu. Bukan hanya Arsen yang terkejut, Junet pun tak kalah terkejut mendengar suara Arsen yang tiba-tiba saja mengganggu pendengarannya.


" Ngapain si kamprett ke sini juga! " Junet belum siap beradu argumen dengan Arsen, yang jelas-jelas masih belum merestui nya untuk mendapatkan Mikha.


" Ck, nyantai aja bro! " Junet.


" Kalian ini apa-apaan sih! udah dewasa kayak anak kecil aja, pada berantem. " Adrian melerai Arsen dan Junet. " Papa masuk dulu, kalian jangan berantem lagi. " Adrian memilih untuk masuk ke dalam mencari Umar.


" Gue udah bilang, jangan deketin si Mikha! "


" Yaelah.. oma lu aja setuju. Tante Karin juga setuju tuh.. gue jadi menantu mereka. " seru Junet percaya diri.


" Cih! " Arsen mendudukkan diri di sofa.


" Waduh.. waduh... cucu ganteng oma udah dateng. " Wina tempak senang melihat cucu tampan kesayangannya sudah datang. " Mana istri kamu? gak di ajak? " Wina ikut duduk di samping Arsen.


" Apa kabar oma? " Arsen menanyakan kabar omanya, tidak lupa memeluk dan mencium punggung tangan Wina. " Lisa lagi lagi gak enak badan. Jadi gak ikut. " jawab Arsen.


" Kalo putra tampan oma? " Wina menanyakan Adrian.

__ADS_1


" Ikut. Tadi udah ke dalem, sama uncle Umar kali. " jawab Arsen.


" Oh.. iya deh.. ntar juga ketemu. " Wina menatap Arsen lalu beralih menatap Junet. " Kalian masih kenal kan? " tanya Wina.


" Arsen, kamu kenal Junet kan? teman bisnis kamu kalo gak salah. " Wina.


" Kenal banget! " jawab Arsen. " Bukan sekedar temen bisnis oma, tapi Junet teman SE-PER-MAI-NAN Arsen! " ucap Arsen dengan penuh penekan pada kata 'sepermainan' seringai muncul di wajah Arsen. Pria itu yakin, jika omanya hanya tahu Junet adalah teman bisnisnya, bukan teman sepermainan yang sesama mempunyai hobi pecinta wanita sexy.


Wina terkejut. Teman sepermainan? itu artinya, Junet seorang player? cucunya akan menikah dengan seorang player?


" Beneran? " tanya Wina dengan tatapan tajam.


" I-iya oma. " jawab Junet.


" Gimana oma? oma masih mau punya mantu kayak dia? " Arsen mencoba menghasut Wina agar menolak Junet sebagai menantunya.


" Oma rela? Mikha polos begitu dapetin Junet yang kayak Arsen? " Arsen benar-benar menabur cipratan minyak.


" Sialan nih si kamprett! " umpat Junet dalam hati ketika melihat raut wajah Wina berubah.


" Oma jangan dengerin Arsen. Aku gak kayak dia kok meski kita teman sepermainan. Aku orangnya setia. " Junet meyakinkan Wina agar tak terpengaruh oleh Arsen.


" Cih.. bohong oma! " ingin sekali Arsen tertawa terbahak bahal melihat wajah Junet yang sudah pucat pasi. " Rasain lu! emang enak! "


" Setia? bukan setiap tikungan ada kan? " sarkas Wina.


" Gak lah oma.. Aku setia beneran sama pasangan. Gak bakal kemana-mana. " Junet. Arsen mencibirkan bibirnya ketika Junet mencoba merayu Wina. " Aku pasti setia kalo udah jadi suami Mikha. " kata Junet.


" Siapa yang mau nikah sama kamu! " belum juga Wina menanggapi Junet. Mikha datang terlebih dahulu menyela pembicaraan mereka. Junet bergetar ketakutan mendengar penolakan dari Mikha.


" Kamu bukan calon suami aku! "


- TBC -


...Nah loh... Mikha udah nongol tuh.....


...Gimana dengan mas Junet????? batal jadi calon mantu gak nih???...

__ADS_1


...Yang udah baca Adrian Haidar pasti udah taulah ya sifat mama Wina.. ...


__ADS_2