
Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...
...ππInstagram Author : Srt_tika92ππ...
Selamat membaca......
πππ
" Uuhhhh... " dessah seorang pria yang sedang asik berpacu di belakang sana. Ingin segera mencapai pelepasannya sesegera mungkin. Karena waktu yang mereka punya hanya beberapa menit saja. Sepasang suami-istri yang sangat merindukan kegiatan panas itu mencuri-curi kesempatan ketika putranya pergi untuk membeli sepotong icecream.
Setiap malam saat mereka ingin melakukan kegiatan mengenakkan itu, putranya selalu saja mengganggu, terbangun dari tidurnya. Hal itu membuat Arsen dan Lisa kesulitan untuk menyalurkan hasrrat yang menggebu-gebu.
" Cepetan mas.. " Lisa takut, jika putranya itu datang sebelum kegiatan mereka selesai.
Arsen semakin mempercepat gerakannya. Kedua tangannya bertumpu di pinggang istrinya, sesekali meremmas bok*ng sintal milik Lisa. " Benar lagi! "
Dug.. dug.. dug..
" Mommy.. daddy... buka pintunya. " seru King sembari menggedor pintu kamar mereka.
Benar saja, King datang lebih cepat dari perkiraan. " Ahh... sial! " kesal Arsen yang belum juga tuntas. Mana bisa Arsen bercinta dalam durasi dua puluh menit saja.
" Mas.. " tegur Lisa yang ingin menyudahinya. King terus menerus berteriak meminta di bukakan pintu.
" Bentar! tanggung! " Arsen semakin cepat berpacu hingga bunyi pertempuran itu terdengar sangat berisik. Lisa membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara desaahan, meski sangat sulit. Hentakan Arsen di belakang sana sungguh membuat Lisa merasakan kenikmatan luar biasa.
" Aaggghhhhh... " lenguhan panjang menandakan jika si pria sudah mencapai pada puncaknya.
Tubuh Arsen ambruk meninndih istrinya. " Terimakasih istri ku.. " sembari mengecupi punggung mulus istrinya.
" Aku mau ke kamar mandi. " ujar Lisa. Arsen bergegas memakai piyama untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu berjalan membuka pintu yang sedari tadi di gedor oleh King.
" Daddy! kenapa lama sekali buka pintunya? " tanya King dengan wajah kesalnya. " Dimana mommy? " King masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Lisa.
" Mommy lagi mandi. " jawab Arsen sembari mengatur nafasnya yang masih memburu.
King menoleh, melihat wajah daddy nya. " Daddy... apa daddy lelah? "
Arsen menjawab dengan gelengan kepala.
" Tapi kenapa daddy berkeringat? lalu kenapa tempat tidurnya seperti kapal pecah? " tanya King.
Arsen menggaruk tengkuknya yang tak gatal. " Itu... " Arsen bingung menjawab apa.
" Daddy dan mommy sedang bermain gundu.. " jawabnya asal. Kenikmatan yang baru saja ia dapatkan masih saja melekat, membuat pria itu tidak berkonsentrasi. Arsen hanya ingin segera merebahkan diri. Lutut dan pah*nya terasa pegal.
" Gundu? "sepertinya King tidak tau apa yang di maksud daddynya.
" King.. mana icecream nya? bukannya tadi mau membeli icecream? " tanya Arsen untuk mengalihkan pembicaraan.
" Sudah habis daddy.. "
" Daddy gak di kasih? hem? " Arsen memangku King. Mengusap bibirnya yang belepotan bekas makan icecream.
" No.. daddy sudah besar. Icecream bukan makanan untuk orang dewasa. Hanya anak kecil yang boleh memakannya. " ujar King.
" Oo.. begitu? " Arsen mengiyakan saja apa yang di katakan putranya.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya. King lebih banyak bercerita mengenai kegiatan nya di sekolah. Arsen hanya menjadi pendengar yang baik. Sesekali menimpali celotehan putranya.
__ADS_1
" Mas.. gak mandi? " tanya Lisa ketika keluar dari kamar mandi.
Arsen menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Lalu meletakkan King di atas ranjang. " Daddy mandi dulu. " ucapnya pada King.
" Oke. "
Arsenal mengelus kepala King dan memberikan kecupan di pipi putranya, sebelum melangkah menuju kamar mandi.
" Aku belum puas. Nanti malam kita main lagi. " bisik Arsen ketika berpapasan dengan Lisa. Arsen tak lupa mengerlingkan sebelah matanya. Mana mungkin Arsen puas hanya bermain dalam hitungan menit saja.
" Ish.. " desis Lisa.
***
Keadaan Sofie belum juga membaik, wanita itu masih berbaring lemah setelah melakukan operasi, belum sadarkah diri. Sedangkan Langit di titipkan pada Doni, sesuai permintaan Arsen. Lisa belum mendapatkan ijin untuk mengambil alih Langit sebagai putra asuhnya.
Arsen akan mengurus semuanya. Memberikan Langit pada ayah kandungnya. Bagaimana pun juga, Langit membutuhkan kasih sayang dan pengakuan dari seorang ayah. Usianya masih belia, membutuhkan lingkungan keluarga yang baik dan layak.
Hari ini Arsen dan Doni berencana mengantarkan Langit ke rumah ayah kandungnya. Dulu Sofie sempat mengatakan siapa ayah dari bayi yang ada di dalam kandungannya, ketika Sofie meminta maaf atas semua kejahatan nya.
Ardiansyah Malhotra. Pria keturunan India yang sukses menjadi Produser di negri ini. Dia adalah ayah kandung dari Langit.
Arsen, Doni dan juga Langit sudah duduk di kursi ruang tamu. Menunggu kedatangan tuan rumah.
Julia, istri dari Ardiansyah Malhotra datang menemui mereka. " Siang.. apa anda mencari saya? " tanya Julia sembari mendudukkan diri di sebuah sofa single. Berhadapan tepat dengan Arsen. Julia melirik ke arah anak laki-laki yang tengah bersembunyi di balik punggung Doni. Sekilas Julia melihat wajah anak laki-laki itu yang sangat familiar.
" Siang nyonya Julia. " sapa Doni. Arsen hanya diam, pria itu menyerahkan pada Doni untuk mengatakan maksud dan tujuannya.
Julia terseyum pada Doni, lalu beralih kepada Arsen yang hanya memperlihatkan wajah datarnya. Sama sekali tidak tertarik ikut campur dengan masalah yang ada dihadapannya. Jika bukan karena Lisa, Arsen tidak peduli dengan apapun yang berurusan dengan Sofie, wanita masalalunya.
" Nyonya Julia, apa tuan Malhotra ada? kami ingin membicarakan hal penting dengan beliau. " ujar Doni begitu sopan. Langit masih saja terus bersembunyi di balik punggung Doni. Melihat wajah Julia membuat bocah kecil itu merasa takut. Wajahnya sangat tidak bersahabat.
" Langsung aja Don! jangan bertele-tele! " seru Arsen yang ingin segera mengakhiri masalah ini. Memberikan Langit pada orang yang wajib bertanggung jawab.
Doni menghela nafasnya panjang, atasannya selalu saja terburu-buru. " Langit.. " Doni memanggil Langit, meminta agar anak itu menunjukkan wajahnya.
Julia memperhatikan lekat-lekat wajah Langit yang perlahan mulai terlihat dengan jelas. Julia tertegun ketika menyadari wajahnya terlihat sangat mirip dengan suaminya.
Arsen tersenyum miring mendapati keterkejutan Julia. Arsen yakin, jika Julia sudah mengerti sendiri maksud dan tujuannya kesini, tanpa harus mengatakannya.
" Perkenalkan.. dia Langit, putra dari Sofie dan -- " belum sempat selesai, Julia lebih dulu menyangga ucapan Doni.
" Tidak! tidak mungkin! " seru Julia. Wanita itu tidak segan meninggikan suaranya.
" Kalau nyonya tidak percaya, kita bisa melakukan tes DNA. " usul Doni.
Julia menggelengkan kepalanya. " Keluar kalian dari rumah saya! saya tidak mau mendengar omong kosong kalian! " Julia segera mengusir mereka bertiga.
Di usir? tentu saja seorang Arsenino tidak terima di perlakuan seperti itu!
" Ck! " decaknya sembari menggelengkan kepalanya. Duduk tenang, tidak mengindahkan ucapan Julia. " Tidak tau diri! " seru Arsen. Sikap Arogan nya mulai muncul.
" Apa maksud mu! " Julia.
" Suamimu menginginkan keturunan! yang tidak bisa Anda berikan? anda hanya tinggal mengasuh anak ini, menjadikan nya putra kalian. Mengurusnya dengan benar. " ucap Arsen.
Julia melebarkan kedua matanya mendengar ucapan Arsen. " Kenapa dia tau dengan masalah kesuburan ku? " batinnya.
" Saya tidak sudi mengasuhnya! " sarkas Julia.
__ADS_1
" Terserah anda! Dan bersiaplah di depak dari rumah ini. " ujar Arsen. Pria itu membenahi posisi duduknya, menumpukan kaki kanan di atas kaki kirinya. " Saya yakin jika suamimu akan senang mendengar dia memiliki seorang putra. Dan apa jadinya kalau suamimu tahu. Anda telah mengusirnya dari rumah ini, menolak kehadiran nya. " seringai di wajah Arsen membuat bulu kuduk Julia merinding.
Benar apa yang dikatakan Arsen, dia akan mendapat masalah besar jika suaminya tau, dirinya telah mengusir kedatangan putra kandung suaminya dari wanita lain. Putra yang selama ini sangat di inginkan oleh Ardiansyah Malhotra untuk meneruskan keturunan.
Julia yang tidak bisa memberikan keturunan karena suatu penyakit yang di deritanya. Telah tega membohongi suaminya, mengatakan jika mereka memang belum di karuniai anak karena Tuhan belum menghendaki. Julia menutupi kekurangan nya itu.
Arsen dan Doni kembali membawa Langit. Karena tidak percaya pada Julia. Mereka akan menyerahkan Langit secara langsung pada Ardiansyah, menunggu pria itu pulang terlebih dahulu.
" Elu bawa dia dulu ya! " ucap Arsen saat mereka berjalan menuju mobil.
" Hemmm.. " jawabnya. Sebenarnya Doni merasa terganggu dengan kehadiran Langit, karena perhatian Bela padanya menjadi berkurang. Bela lebih memperhatikan anaknya dan juga Langit. Mengacuhkan dirinya, tidur sendiri tanpa mendapatkan pelukan atau hal lainnya.
Langit sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil. Anak itu terlihat murung. Sedari tadi hanya diam saja. Entah apa yang di pikiran bocah itu.
" Atur jadwal buat ketemu ama si Malhotra itu. " ucap Arsen.
" Iya Bos. "
" Lindungi Langit dari si wanita itu. Kayaknya dia mencurigakan! " ujar Arsen.
" Siap bos. Tapi gaji gue jangan di potong yak! " Doni mencoba bernegosiasi. " Kasian bini gue... "
" Iya! " jawab Arsen. " Tapi inget beneran atur jadwal gue ketemu ama si bapaknya Langit! secepatnya! biar cepet kelar ni urusan! "
" Beres Bos. "
" Berapa lama dia di sana? " tanya Arsen.
" Kata asisten nya sih dua mingguan? ada syuting film... "
" Lama amat! bukannya dia Produser? bukan sutradara kan? " Arsen sangat tau pekerjaan mengenai dunia perfilman. Kenapa seorang produser mengikuti jalannya proses syuting? bukannya tinggal duduk manis menerima hasilnya? buang-buang waktu! pikir pria itu.
" Biasa bos, seneng-seneng dikitlah ama artisnya.. kan lumayan. "
" Ck! dasar tukang celup! " Arsen mengomentari perilaku buruk pria lain, yang suka bermain dengan wanita. Tidak sadar siapa dulu dirinya. Tidak jauh berbeda!
" Heh? " Doni terkejut. " Bukannya bos dulu juga begitu? bahkan lebih liar! "
Skakmat! Arsen terkesiap. Baru menyadarinya.
" Itukan dulu... sekarang enggak lagi! udah tobat gue.." Arsen.
" Oohhh.. " Doni mengangguk anggukan kepalanya. " Berarti mantan tukang celup ya Bos! "
Arsen menatap tajam Doni. " Mau gue pecat lu! "
" Yaelah.. baper banget sih bos.. santai aja bro santai.. " Doni mulai ketakutan. Takut jika di pecat, apalagi gajinya akan terpotong untuk kesekian kalinya.
Arsen mengacuhkan Doni, masuk ke dalam mobil lebih dulu, menyusul Langit yang sudah ada di dalam.
" Dasar si Arsen! Ngatain orang gak sadar diri! amnesia apa gimana tuh orang! " gerutu Doni dalam hati.
- TBC -
Hallo semua.. apa kabar kalian.. semoga baik-baik aja ya..
Maaf Author baru up. Lagi sibuk di dunia nyata. Tolong di maklumi ya..
Terima kasih buat dukungan kalian.. *yang udah sempetin pencet likenya, kasih hadiahnya.. votenya juga.. Author bukan apa-apa tanpa kalian...
__ADS_1
gitu aja yaaa.. samapai jumpa lagi di episode selanjutnya.. bye.. bye*..