
Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...
...ππInstagram Author : Srt_tika92ππ...
Selamat membaca......
πππ
" Dadddyyyyy. " suaranya terdengar sangat riang.
Hap. King memeluk kedua kaki jenjang milik Arsen. Pria itu terkejut dengan bocah yang memanggilnya daddy. " Anak siapa? " tubuhnya tak memberikan respon, hanya diam terpaku membiarkan bocah yang memanggilnya daddy memeluk erat kedua kakinya.
King mendongakkan wajahnya, melihat wajah Arsen yang tengah menatapnya bingung. Wajah yang begitu mirip dengan nya. " Daddy... " lirih King dengan mata yang berkaca-kaca. Terlalu senang bertemu dengan pria yang selam ini ia cari.
Arsen memperhatikan wajah. Hatinya terenyuh saat melihat kedua mata King. Ada perasaan yang tak menentu hinggap di hatinya.
" Kamu masih di rumah? " Adrian bersuara, pagi tadi Arsen sudah berangkat ke kantor tapi saat ini masih terlihat di rumah.
Arsen menoleh, dengan tatapan penuh tanya. Berharap Adrian bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi pada bocah kecil yang memanggilnya daddy. Karena Arsen melihat bocah itu turun dari mobil bersama kedua orang tuanya.
Adrian menepuk bahu Arsen. " Dia putramu. " ujarnya seraya melanjutkan langkah masuk. ke dalam rumah.
" What!! " pekik Arsen terkejut. Keningnya berkerut, kedua alisnya menyatu, tubuhnya menegang.
Anaknya?? Arsen menggelengkan kepala tak percaya. Menyangkal nya! namun wajah itu sangat mirip dengan dirinya. Bagaimana ini??
" Sayang.. putra mu sangat merindukan mu. " Elsa ikut membenarkan ucapan Adrian. Lalu Elsa beralih menatap King. " King bersenang-senang lah bersama daddy. " ujar Elsa menggandeng tangan Benz lalu masuk ke dalam rumah.
" Daddy... " panggil King lagi.
Arsen diam membisu, bingung harus berbuat apa. Terlalu syok dengan keadaan ini. Tiba-tiba ada seorang anak memanggilnya daddy? wajahnya mirip dengan nya, lalu siapa ibunya? seingatnya dia tidak lagi bermain-main dengan wanita. Apa ketika dia mabuk lalu kehilangan kesadaran? hingga bermalam dengan wanita dan membuahkan hasil anak yang ada di depannya saat ini. Tapi selama ia mabuk karena terpuruk, ada Doni yang selalu mengawasinya. Jadi tidak mungkin kan dia menyemburkan benihnya? " Shitt!! " pikirannya kacau.
" Be-berapa umur mu? " tanya Arsen dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
" Umur ku lima tahun daddy.. lima tahun lebih dua bulan... " ujar King yang masih setia memeluk kedua kaki Arsen.
" Lima tahun? " Arsen berpikir kembali. Jika anak ini berumur lima tahun berarti sekitar enam tahun yang lalu benihnya tumbuh. " Tapi siapa wanita itu? "
" Don! " Arsen melotot ke arah Doni. Berharap Doni bisa membantunya. Doni hanya menggelengkan kepalanya.
Apa mungkin dia anaknya dengan Lisa? enam tahun yang lalu dia hanya berhubungan dengan Lisa. Meski sebelum bertemu Lisa dia masih nakal.
Arsen mendessis. " Si-si-siapa nama ibu mu? " bibir Arsen kembali gemeteran.
" Mommy ku? " ulang King dan Arsen mengangguk. " Lea.. mommy ku bernama Lea! ".
Kedua bahu Arsen yang tadinya tegak menjadi lemas seketika. " Lea? siapa lagi dia? " Bahkan Arsen tidak mengingat nama teman kencannya. Arsen mengusap kasar wajahnya. Terlalu banyak wanita yang ia ajak untuk bertukar keringat di atas ranjang dan kini ia sangat menyesalinya.
" Oke! siapa nama mu? " Arsen berusaha tenang.
" My Name is King! " jawab King.
Arsen harus bertanya pada kedua orang tuanya, tentang siapa itu King. Tapi semuanya sia-sia, mereka tidak mau memberitahu siapa ibu dari King.
" Yang penting kamu udah ketemu sama anak mu, manfaatkan waktu mu bersamanya.. lihat, dia sangat mirip dengan mu." hanya jawaban itu yang ia dapatkan.
Arsen masih saja mengamati wajah King yang beberapa menit lalu tertidur. Arsen terpaksa membatalkan semua meeting penting dengan para investor hari ini. Dia menemani King yang tidak mau di tinggalnya.
" Tapi mukanya mirip banget ama gue? " ucapannya membenarkan jika King adalah anaknya.
" Lea? " Arsen mengingat-ingat teman kencannya yang bernama Lea. " Lea.. Lea.. Leandra? Alea? atau... Argghhh!! sial! gue gak inget! "
Satu jam di gunakan Arsen untuk memandangi wajah King, berusaha mengingatnya. Tapi otaknya semakin buntu, karena tidak bisa mengingat apapun tentang ibu dari King yang bernama Lea.
Arsen mendesis, Bukannya dia tidak menerima kehadiran putranya. Tapi bagaimana jika istrinya kembali dan melihat kenyataan bahwa dia sudah mempunyai anak dari wanita lain? Ini akan semakin memperburuk keadaan.
" Arrrggghhh! " jeritnya dalam hati. " Lisa.. maafin.. gue.. " Arsen masih berharap menemukan Lisa dan kembali padanya.
__ADS_1
***
Mendengar King telah pulang ke Indonesia, Clara menghubungi sahabat nya, Lisa. Clara ingin membujuk Lisa untuk segera pulang ke Indonesia. Beralasan ingin di temani Lisa saat melahirkan anak ke tiganya.
" Sorry Ra, kerjaan gue banyak di sini. Gak bisa di tinggalin. " ucap Lisa.
" Yaelah Lis. Ntar gue minta ijin ke Mr. Edward buat ngasih cuti ke elu. Kalo gak, lu pindah kerja aja di sini. Ntar mas Babas bisa urus semua. " bujuk Clara agar Lisa mau kembali.
" Ra.. gue pikir-pikir dulu deh. " Lisa.
" Lis, tenang aja. Gue gak bakal bujukin elu buat balikan lagi ama adek gue. Gue gak bakal maksa elu. " ujar Clara yang mengetahui alasan Lisa enggan pulang ke Indonesia. " Urusan pribadi elu, gue gak bakal ikut campur. " Clara.
" Bukan begitu Ra.. " Lisa tak enak pada Clara. Karena masih membenci Arsen, adik dari sahabat nya. Meski mulutnya tidak berucap. Clara bisa menebak isi hatinya.
" Lis, please.. kalo elu kekeh gak pengin pulang berarti elu emang masih ada rasa ama adek gue. Makanya elu takut kan ketemu adek gue lagi? "
Lisa menghela nafasnya panjang.
" Lisa.. Gue emang berharap elu balikan lagi ama adek gue. Tapi kalo lu gak mau, itu hak lu. Sekali lagi gue ama keluarga besar gak bakal maksa elu buat balikan lagi. "
" Ra.. " Lisa masih ragu untuk mengiyakan permintaan Clara.
" Elu gak kepengin liat anak gue yang ke tiga? bahkan elu gak dateng di acara pernikahan Bela. elu makin jauh Lis dari kita. Kita kengen ama elu. "
Clara tak menyerah, masih saja berceloteh membujuk Lisa. Meski suara Lisa tak terdengar di sebrang sana, hanya deru nafas Lisa yang sesekali mendesah kasar. " Gimana Lis, kalo elu setuju. Gue langsung bilang nih ama mas babas buat nyari kerjaan buat elu. Elu gak mungkin kan mau kerja di perusahaan bokap gue.. "
" Gue pikir-pikir dulu ya Ra.. "
" Yaudah gue tunggu jawaban lu besok. Sekarang gue mau bilang ama mas babas buat nyariin lu kerjaan. " seru Clara bersemangat.
" Ra! gue belum mutusin, elu main nyuruh mas babas nyariin gue kerja. " seru Lisa.
" Ah.. gue yakin elu mau balik ke sini. Udah dulu ya.. bye! " Clara memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1