Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Tidak bisa menghindar


__ADS_3

" Kamu itu, masih sakit aja mesum! " Lisa menggerutu, hasrrat Arsen begitu besar membuatnya geleng-geleng kepala.


" Ck! gak tahan nih... " keluhnya lagi. Wajahnya di buat semelas mungkin agar Lisa mau menuruti keinginan nya.


" Aku lagi halangan, gak bisa! " jawab Lisa.


" Yahhh... " runtuh sudah harapannya.


" Udah ayo mandi, ntar masuk angin. " Lisa beringsut dari pangkuan Arsen, tidak sengaja menyenggol kaki Arsen yang cidera.


" Awww... sssshhhh... " desisnya menahan sakit.


Lisa terkekeh. " Lagi sakit kok sok jagoan. "


" Yang sakit kan kaki ku. Si Beo sehat walafiat, selalu siap siaga, banyak cara untuk menaklukan mu. Membuatmu mendessah keenakan. Boleh di coba kalo gak percaya mah. " Arsen begitu menantang, siap memamerkan ketangguhan si Beo.


" Ish..! udah mandi dulu. " Lisa ingin segera menyelesaikan tugasnya memandikan Arsen. Takut berlama-lama jika berdekatan dengan pria berotak selangk*angan itu, bisa-bisa ia akan tergoda untuk menggapai nirwana bersama.


" Sabuninnya yang bener dong. Masa di punggung ama perut doang.. Si Beo gak di sabunin? " Arsen kembali menggoda Lisa, membuat wanita itu gugup. Menyentuh punggung dan dada Arsen saja sudah membuatnya keringat dingin. Apalagi menyentuh bagian terlarang milik Arsen.


" Kamu aja! tangan kamu yang satu masih bisa gerak kan? " elak Lisa.


" Kalo ngerjain sesuatu itu gak boleh setengah-setengah.. harus full.. " Arsen tak mau kalah. Pria itu ingin Lisa memandikannya dengan benar.


" Ck! ini akal akalan kamu kan? " Lisa mencebikan bibirnya. " Kamu aja deh.. aku gak mau! pokoknya aku gak mau! " hanya melihat Beo on fire saja membuat Lisa susah payah menelan salivanya.


Arsen semakin genjar menggoda dan membujuk Lisa. Arsen tau betul jika Lisa saat ini tengah tergoda oleh tubuh polosnya, dilihat dari raut wajah Lisa dan kegugupan wanita itu.


" Kamu --- "


" Aku tinggal nih.. kamu mandi sendiri aja! kalo masih maksa aku! " ancam Lisa.


" Iya.. iya.. " pasrahnya.


Seusai memandikan Arsen, Lisa juga membantu pria itu untuk memakai baju. Arsen benar-benar seperti bayi yang baru lahir, tidak bisa melakukan apapun. Entah itu hanya akal bulusnya saja untuk lebih dekat dengan Lisa atau memang lukanya yang menyebabkan tidak bisa bergerak. Hanya Arsen yang tahu. Yang jelas, pria itu sangat menikmati perhatian dari Lisa. Rasanya ingin sakit lebih lama agar di perhatikan oleh wanita yang ia cintai.


" Kamu rebahan dulu. Nanti akau ambilkan buah-buahan.. mau apa? apel atau jeruk? apa mau semuanya? " tanya Lisa sembari membersihkan nakas yang berantakan.


" Kalo bisa semuanya kenapa enggak? " jawabnya ambigu.


" Yaudah ntar aku bawain semuanya. " Lisa masih saja membersihkan sisa makanan di nakas. Posisi tubuh Lisa membungkuk dan membelakangi Arsen. Dengan ****** Lisa menghadap ke wajahnya. Lisa yang menggunakan rok pendek membuat Arsen ketar-ketir.


Arsen yang melihat posisi tubuh Lisa yang begitu intim dan vulgarrr, seketika kejailannya timbul. Arsen dengan berani mengelus bagian milik Lisa.


" Awww! " Lisa terpekik. " Ishh.. dasar mesum! " Lisa menghujani pukulan di bahu Arsen.


Arsen menangkap lengan Lisa, menghentikan pukulan yang tak membuatnya merasa sakit. Arsen menatap tajam Lisa. " Kamu bohong kan? gak lagi halangan. " niat hati menjahili Lisa, Arsen malah mengetahui kebohongan Lisa.

__ADS_1


Glek


" Emmm... itu.. anu... " Lisa gugup menjawab pertanyaan Arsen. Lisa memang sedang tidak mendapatkan tamu bulanan. Lisa hanya ingin menghindari Arsen.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu kamar Arsen. Lisa bernafas lega, bisa menghindar dari Arsen. Ternyata Aksa yang datang ingin melihat keadaan Arsen.


" Bagaimana? apa udah agak mendingan? " tanya Aksa.


Arsen mengangguk. " Udah. Apalagi di rawat oleh istri ku. " ucap Arsen, ingin menunjukkan bahwa Lisa adalah wanitanya, istrinya, tidak ada yang berhak selain dirinya.


Aksa tersenyum tipis mendengar jawaban Arsen yang terdengar ketus padanya. " Syukurlah.. mudah -mudahan cepat membaik. "


" Iya terimakasih. " Arsen.


Aksa mengangguk, lalu menoleh ke arah Lisa. " Nanti malam jadi kan? makan malam bersama ku? "


Lisa di buat gugup dengan pertanyaan Aksa. " Emm... iya... "


Arsen melotot ke arah Lisa. Kesal karena Lisa menyetujui ajakan dari Aksa.


" Yasudah.. aku kembali ke kamar. " pamitnya. " Arsen semoga lekas sembuh. "


Arsen hanya diam. Lisa tak enak hati pada Arsen. Bukan maksud apa-apa, dirinya terlanjur berjanji pada Aksa akan makan malam bersama. Sebelum hubungan Arsen dan Lisa membaik.


Arsen masih diam. Tidak menghiraukan panggilan dari Lisa.


" Maaf.. aku terlanjur udah janji. Jadi gak enak kalo di batalin. Dia atasan ku Sen. " jelas Lisa agar Arsen mengerti akan posisinya.


" Ck! cuma atasan aja kamu takut, gak enak lah..! aku suami mu, tapi kamu mengabaikan ku. " kesal Arsen. Lisa lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya, suaminya.


" Iya maaf.. ntar aku batalin aja. Udahlah gak usah ngambek. Gitu doang juga. " Lisa.


" Ck! " decak Arsen. Tubuhnya berbalik memunggungi Lisa. Pria itu dalam mode marah.


" Ish! kayak bocah aja! ngambekan! " Lisa mengguncangkan bahu Arsen, mencoba membujuknya agar tidak marah lagi. " Udah deh jangan ngambek.. ntar aku kasih yang kamu mau. " bujuk Lisa seperti membujuk King yang sedang marah. Mengiming-imingkan sesuatu agar tak lagi cemberut. Tapi Lisa melupakan jika yang sedang ia bujuk bukanlah King, putranya. Melainkan pria dewasa dengan otak yang di penuhi hal keliaran.


Arsen menyerinagi. Lalu berbalik. " Beneran? apapun kamu kasih? "


Glek.. Lisa baru menyadari ucapannya yang keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa berfikir terlebih dahulu.


Arsen menarik Lisa, hingga wanita itu terduduk di tepi ranjang. Arsen dengan cepat memepet tubuh Lisa. Menerjang bibir Lisa yang sangat menggodanya. Arsen tak memberikan kesempatan pada Lisa untuk menolaknya.


Sebelah tangan Arsen yang tidak cidera sudah terampil kesana kemari. Memberikan kenikmatan pada Lisa. Posisi seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi Arsen. Kakinya terasa perih dan linu.


" Di atas. " ujar Arsen. Lisa yang sudah terbuai akan sentuhan Arsen menurut begitu saja. Tidak di pungkiri, Lisa sangat merindukan sentuhan yang membuat jiwanya melayang-layang. Hanya menggunakan satu tangan pun, Arsen bisa melucuti pakaian Lisa. Betapa hebatnya pria itu jika mengenai lucut-melucuti pakaian seorang wanita.

__ADS_1


Bagian atas tubuh Lisa yang sudah polos menjadi sasaran empuk bagi Arsen. Pria itu melahaapnya dengan sangat rakus, seperti bayi yang kelaparan. Arsen tak mau melepaskan nya.


Lisa mendessah, jemarinya mencengkram kepala Arsen. Arsen pemain yang handal, sangat tau apa yang di inginkan wanitanya.


Tangan Arsen turun ke bawah sana. Memberikan sentuhan yang luar biasa nikmatnya. " Sen. " Lisa mendessah.


" Hemm.. " gumamnya, mulut itu tak mau lepas dari mainannya. Hingga beberapa menit kemudian...


" Aku gak tahan lagi. " Arsen buru-buru membuka penghalang di bawahnya. Lalu menyingkirkan penghalang milik Lisa.


" Ck. " decak Lisa. " Kamu bisa buka sendiri, tadi bilangnya gak bisa ngapa-ngapain. " gerutu Lisa. Masih ingat saat dirinya menyuruh Arsen agar menggunakan pakaian nya sendiri. Tapi Arsen berkilah tidak bisa menggerakan tangannya.


" Ini mah urgent! harus bisa, takut gagal. "cengir Arsen. Tangannya sibuk menuntun penyatuan mereka.


" Uhhh... sempit banget. " desaahnya ketika melesakan Beo nya ke dalam sangkar. Rasanya nikmat berkali-kali lipat. Sekian tahun merana akhirnya Beo kebanggaan nya bisa merasakan kembali nikmat nya surga dunia. " Kayak masih perrawan.. kamu beneran kan yang melahirkan King? " pertanyaan konyol keluar dari mulut pria yang tak hentinya memejamkan matanya, menikmati kegiatan intimm itu.


" Ikh.. ngaco! ya bener lah.. aku melahirkan secara Caesar... "


" Oh.. pantes.. masih sama.. " ucapnya.


" Kalo masih sama kenapa dulu nuduh aku selingkuh sama Bastian! " seru Lisa. Jika miliknya masih terasa sama, lalu kenapa dulu Arsen tak berfikir logis. Menuduhnya bermain dengan pria lain.


" Aku pikir milik Bastian seperti buncis. Jadi -- " belum sempat menyelesaikan kalimat nya. Lisa kembali memukul bahu Arsen.


" Ish... kalo Clara denger bisa abis kamu! " seru Lisa. Bisa di pastikan Clara akan merobek mulut yang berani menghina milik Bastian.


" Hehe.. maaf.. maaf.. aku khilaf.. aku cemburu buta waktu itu. Akal sehatku hilang begitu aja. " Arsen meminta maaf sembari mencium kening Lisa.


" Udahlah jangan bahas itu lagi! " seru Arsen yang tak mau kenikmatan nya terganggu.


Arsen sangat mengebu-gebu, melupakan jika dirinya sedang tidak baik-baik aja. " Awwww.... aduh... sshhhhh... " Arsen meringis kesakitan. tangannya yang cidera terbentur.


" Arrgghhhh... " teriaknya kembali, ketika kakinya banyak bergerak sehingga menimbulkan rasa sakit.


Lisa terkekeh. " Tuh kan lagi sakit. " Lisa turun dari pangkuan Arsen, melepaskan penyatuan mereka.


Ingin sekali Arsen berteriak ' Jangan! ' namun kondisi nya benar-benar buruk.


" Kita ke rumah sakit yuk.. cek kondisi tangan sama kaki kamu. Takut kenapa-napa.. " ucap Lisa sembari memakai kembali pakaiannya.


" Tapi... " Arsen tak rela mengakhiri kegiatan yang mengenakan itu.


" Sen! masih banyak waktu. Sekarang yang penting itu kesehatan kamu. "


Arsen menghela nafasnya panjang. hassratnya ingin segera di puaskan, namun kondisinya tidak menguntungkan. " Sial! "


- TBC -

__ADS_1


__ADS_2