Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Kepulangan Lisa.


__ADS_3

Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...


...🌈🌈Instagram Author : Srt_tika92🌈🌈...


Selamat membaca......


🍁🍁🍁


Dini hari, Lisa sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Lisa tidak memberitahu kedatangan nya pada Clara, karena tidak mau merepotkan sahabat nya itu. Jika Clara tahu, pasti dia akan menyiapkan segala keperluan Lisa, bahkan akan membiarkan Lisa pulang dengan Jet pribadinya. Tentu membiayai seorang pilot tidaklah murah. Lisa tidak mau berhutang budi terlalu banyak. Atau memanfaatkan kebaikan sahabatnya. Maka dari itu, Lisa memilih diam dan akan memberitahu jika ia sudah berada di Indonesia.


Lisa memilih salah satu hotel untuk mengistirahatkan diri. Esok hari ia akan mencari tahu keberadaan adiknya, Doni. Di perjalanan menuju hotel, entah kenapa jantung nya berdegup kencang. Satu nama di benaknya sukses membuat hatinya gundah. Ada rasa rindu dan benci sekaligus. Lisa menghembuskan nafasnya, seraya menetralkan rasa tak menentu dalam hati. " Gue bisa. " ucapnya menyemangati diri sendiri.


Taxi yang ia tumpangi berhenti di pelataran Hotel. Dengan di bantu oleh supir taxi, Lisa membawa beberapa koper besar. " Terimakasih pak. " ucap Lisa, lalu membayar ongkos taxinya.


Pagi harinya, Lisa menghubungi Clara. Memberitahu jika dirinya sudah berada di Indonesia. Sebelum menerima ajakan Clara untuk bertemu, Lisa terlebih dahulu meminta alamat tempat tinggal adiknya, selama kepergian Lisa. Doni bekerja dengan Bastian.


Setelah mendapat alamat Doni, Lisa bergegas menemui adiknya. Kedatangan Lisa cukup mengejutkan Doni. Pasalnya selama 6 tahun, Lisa menghilang tanpa kabar.


" Kakak.. " ucapannya dengan mata sendu karena haru bertemu lagi dengan Lisa. Doni dan Lisa berpelukan melepas rindu. " Kakak kemana aja selama ini? " tanya Doni sembari mengurai pelukan.


Lisa tersenyum. " Nanti kakak ceritain. " jawab Lisa yang sebenarnya belum siap menceritakan kisah hidupnya yang begitu pilu.


" Kamu nambah gede aja. " Lisa mencubit lengan Doni yang terlihat kekar, tidak seperti dulu yang masih kurus kerempeng. " Gimana kabar mu? "


" Aku baik kak. " Doni menyeret dua koper besar milik Lisa. Membawanya masuk ke dalam rumah. Rumah yang dulu Arsen sediakan khusus untuk Doni. Tentu tanpa sepengetahuan Lisa.


" Ini kamar kakak. Kamarnya cuma dua. " Lisa memperhatikan seluruh sudut ruangan. Dia merasa bersyukur, Doni tinggal di tempat yang sangat layak.


" Terimakasih ya dek. " Lisa.


" Yaudah pasti kakak capek, Doni tinggal kerja dulu ya. Di kulkas ada bahan makanan. Maaf Doni gak tau kalo kakak dateng, jadi gak nyiapin makanan. " ujar Doni.


" Gak papa dek. " Lisa mengelus bahu Doni. " Udah gih.. berangkat kerja, ntar telat loh. "


Setelah kepergian Doni, Lisa merebahkan dirinya terlebih dahulu. Berada di dalam pesawat selama belasan jam membuatnya sangat lelah. " King.. tunggu mommy.. Mommy merindukan mu. " lirih Lisa sebelum masuk ke dalam alam mimpi.


***


Sore harinya, Lisa pergi untuk menemui Clara. Mereka bertemu di sebuah cafe yang dekat dengan rumah Clara.


" Ra! " teriak Lisa saat melihat wanita berperut buncit memasuki cafe.


" Lisaaaa... " teriak Clara yang sangat merindukan sahabatnya itu. Clara melangkah lebar namun dengan penuh kehati-hatian. Mereka berdua saling berpelunkan.

__ADS_1


" Gue kangen banget ama elu! " Clara.


" Sama Ra, gue juga kangen ama lu. " pelukan mereka terurai. Lisa mengelus perut buncit Clara. " Udah berapa bulan Ra? tokcer bener nih si kualitas premium. " Lisa terkekeh.


" Iya dong, mas babas ku gitu loh! " Clara ikut terkekeh geli, sembari mengelus perutnya. " Delapan bulan, jalan sembilan. Bentar lagi brojol. "


" Moga semua lancar ya Ra. gue ikut seneng lu bahagia. " Lisa.


" Makasih Lis. "


Lisa mengangguk lalu mempersilahkan Clara duduk, Lisa membantu mengeser kursi yang akan di duduki Clara. " Udah agak susah ya. "


" Iya Lis, mau ngapa-ngapain udah kerasa ngeganjel. Serba salah.. hehe.. " Clara.


" Nikmatin aja Ra, itu lah indahnya masa-masa kehamilan. " Lisa kini sudah duduk bersebrangan dengan Clara.


" Ya tetep nikmatin lah.. itu mah harus! udah wajib. " seru Clara dengan pemikirannya sendiri.


" Heh? " Lisa.


" Hihi... meski udah kerasa ngeganjel.. kegiatan iya iya bersama mas babas masih lancar kok, kaya jalan tol! " ucap Clara tergelak. Clara tetaplah Clara. Wanita yang mempunyai tingkat kemesuman level paling tinggi.


" Ish..! " desis Lisa. " Benz sama Kenz di tinggal di rumah? "


" Gue kangen ama King. Kapan bisa ketemu? " Lisa ingin cepat - cepat bertemu dengan King. Tidak mungkin Lisa mendatangi rumah keluarga Haidar. Takut bertemu dengan pria yang ia hindari.


Sedangkan Clara tidak ingin membahas masalah Arsen saat ini, mengingat Lisa baru saja tiba. Mungkin lain waktu Clara perlahan akan membujuk Lisa agar mau bertemu dengan Arsen dan menyelesaikan masalah mereka.


" Tenang, nanti papa akan antar King ke tempat lu. " jawaban Clara membuat Lisa lega.


" Makasih ya Ra. " Lisa menggenggam tangan Clara. Obrolan mereka terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka.


" Lis, bentar lagi mas Babas sama saudara nya mau ke sini. " ucap Clara setelah membaca pesan di ponselnya.


" Sodara? siapa? "


" Itu loh.. kemaren mas Babas nyariin kerja buat elu. Di tempat sodaranya ada buka lowongan. " terang Clara. Lisa hanya manggut-manggut mengerti. " Di divisi keuangan. Elu bisa kan? "


" Itu emang jurusan gue. " saut Lisa. " Maksih banyak ya Ra. Elu bener-bener sahabat gue yang baling top! "


" Dih.. lebay! "


" Hehe.. " Lisa terkekeh.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong.. sekarang elu makin bohai Lis, " Clara memperhatikan tubuh Lisa yang semakin terlihat sempurna.


" Ngaco lu! kaya model gitu? gak lah... "


" Gak kaya model! model mah rata semua! elu depan belakang nonjol. Serius! " seru Clara. " Eh.. tunggu dulu.. bukan bra nya doang kan yang gede busanya? " Clara menarik krah beju Lisa untuk melihat dari dalam.


" Ish.. lu tu ya! sahabat luknut! ngapain buka buka baju gue di depan umum. Malu tau! "


" Hehe.. abisnya gue penasaran. " cengir Clara tanpa ada rasa salah sedikit pun.


" Ra! inget Ra! lu udah mau punya anak tiga, masih aja begitu. Betah gitu ya.. mas Babas tahan ama lu yang absurd begitu. " gerutu Lisa.


" Idih.. jangan salah.. mas Babas ku klepek-klepek walo cuma liat wudel gue. hihihi.. "


" Ya ampun Clara! "


Tawa kedua wanita yang tak lagi muda itu menjadi pusat perhatian para pengunjung lainnya. Apalagi Clara yang masih terkenal di jagad hiburan, meski tak lagi seaktif dulu. Menjadi daya tarik pengunjung untuk selalu memperhatikan mereka.


" Ehem.. " deheman seseorang membuat Lisa dan Clara berhenti tertawa.


" Mas! " pekik Clara yang melihat suaminya sudah ada di sana. " Sini mas duduk. "


Bastian duduk di samping Clara. " Kok sendirian mas, katanya mau dateng sama calon bos nya Lisa? "


" Lagi ke toilet bentar. " jawab Bastian. Kedua matanya teralih pada teman istrinya. " Apa kabar Lisa? "


" Baik mas.. " jawab Lisa.


" Eh.. itu dia. " seru Clara saat melihat calon atasan Lisa. " Sini.. " teriaknya.


Pria itu mendekat, tersenyum lebar dan ramah. " Bang.. kenalin ini Lisa, temen aku yang kemaren aku ceritain. " Clara memperkenalkan Lisa.


" Aksa. " ucap pria itu yang memiliki nama lengkap Aksa Wijaya. Tidak lupa mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lisa. Serta di bubuhi senyuman manisnya.


" Lisa. " Lisa menyambut uluran tangan dari Aksa.


" Cantik. " Aksa mengagumi kecantikan Lisa, yang terlihat natural. Cantik tanpa di buat - buat oleh make up yang tebal.


" Ehemm.. " Lisa berdehem. Menyadarkan pria yang masih memgegnggam tangannya dalam sebuah jabatan tangan perkenalan.


" Eh.. Sorry. "


***

__ADS_1


Siapa yang masih inget sama Aksa hayooo.. cung?


__ADS_2