
Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...
...ππInstagram Author : Srt_tika92ππ...
Selamat membaca......
πππ
" King.. " Arsen mengedipkan satu matanya lalu menyuruh putranya agar mendekat. Saat ini mereka sudah tiba di resort tempat untuk menginap selama liburan dua hari ini.
" Apa dad. " King mendekat.
" Nanti King memilih kamar yang itu ya. " Arsen menunjuk ke sebuah kamar yang telah di persiapkan Arsen. Rencananya kini harus berhasil, jangan sampai gagal lagi. Arsen berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan King.
" Oke dad, apa kamarnya sangat bagus? " King dengan mudah mengiyakan perintah daddy nya, ia pikir kamar tersebut mempunyai fasilitas dan pemandangan bagus yang sengaja daddy nya persiapkan untuk nya.
" Iya sangat bagus. King bisa melihat pemandangan laut lepas di kamar itu. " jelas Arsen. " Tentu sangat bagus buat daddy bisa leluasa melihat kalian. " seringai di wajah Arsen. Kamar yang ia siapkan untuk King mempunyai pintu khusus yang terhubung dengan kamar yang di tempati Arsen.
" Oke dad, terimakasih. " King memberikan kecupan di pipi Arsen sebagai tanda terimakasih.
" Nanti malam jangan sampe gagal. " batinnya berharap malam ini Arsen bisa mendekati Lisa kembali.
***
Seusai pembagian kamar, mereka semua kini berkumpul di halaman. Para wanita kini telah berkumpul di sofa yang sangat nyaman, dengan tenda yang melindungi mereka dari teriknya matahari. Angin sepoi-sepoi membuat mereka betah berlama-lama di luar. Pertemuan mereka serasa reuni dadakan. Membuat pasangan mereka di abaikan.
" Ra, elu mau lahiran sempet sempetnya liburan? gak takut brojol di jalan? " dua minggu lagi Clara di jadwalkan akan melahirkan dengan cara oprasi caesar.
" Hihi.. gue mau puas - puasin liburan sebelum melahirkan. Mesra-mesraan ama mas babas, abis lahiran kan puasa ampe sebulan lebih.. hihi.. "
" Ish.. masih aja ya mesumnya gak ilang ilang! "
" Iya dong.. eehhh... elu gimana? " Clara balik nanya.
" Gimana apanya? "
" Gimana rasanya punya suami brondong? mantep gak? " tanya Clara penasaran dengan sahabat nya yang menikah dengan pria lebih muda.
" Wissss jangan di tanya kalo soal gituan mah.. walo brondong, dia tetep hot. hahaha.. " Bela, perempuan yang berhasil Doni nikahi. Meski hambatan dan rintangan sangat berat, akhirnya Doni berhasil juga membuat hati Bela luluh padanya. " Buktinya noh.. " tunjuk Bela pada putrinya yang sedang asik bermain.
" Iya.. iya.. gak di ragukan lagi. " Clara mengalihkan pandangan nya dari Bela ke Lisa. " Kalo lu Lis, kapan nambah momongan? bikin adek buat King. Udah gede tuh.. udah pantes punya dedek. " Clara seolah melupakan masalah yang membelit sahabatnya itu.
" Ishh.. lu mah.. " cibir Lisa.
__ADS_1
" Gimana mau punya adik? lakinya aja kagak ada! nikah dulu baru bikin. " seru Bela.
" Heh! ngaco lu! lakinya Lisa ya adek gue! " celetuk Clara. Selama ini Clara memang tidak pernah memaksa Lisa untuk menerima kembali adiknya. Tapi melihat King yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya membuat hati Clara bergerak untuk menyatukan mereka kembali.
" Dih.. bukannya udah lama pisah? apalagi gak ada nafkah lahir atau batin. Berarti --- " ucapan Bela terpotong dengan semburan Clara.
" Enak aja! nafkah lahir iya, nafkah batin doang yang gak ada. " seru Clara.
" Maksudnya? " Lisa terkejut dengan ucapan Clara.
" Gak nyadar lu, lu inget gak? oma pernah kasih lu kartu ajaib? " tanya Clara mengingatkan Lisa.
Lisa mengangguk. " Inget. "
" Lu pake gak? " tanya Clara.
" Pake. Buat kebutuhan King ama gue.. tapi kalo buat kebutuhan gue, gue pakenya cuma dikit. Itu pun kalo kepepet duit gaji gue abis. " Lisa mengakui jika ia menggunakan kartu pemberian Wina. Lisa tidak ingin egois dengan menolak pemberian Wina dan membuat kebutuhan King tidak terpenuhi. Lisa selalu memberikan yang terbaik untuk King. Karena King berhak menikmati pemberian keluarga besar Haidar.
Clara menjentikkan jarinya. " Nah itu.. "
" Apa? " tanya Bela dan Lisa bersamaan.
" Yang elu pake selama ini, itu duit si Arsen. Duit penghasilan usahanya di Jerman. Penghasilan beberapa cafe milik Arsen. Jadi... " Clara menaik turunkan alisnya.
" Ishh.. gak! " Lisa kekeh pada pendirian nya. Yang menganggap hubungan nya dan Arsen telah berakhir.
Di lain tempat, namun tak jauh dari para wanita berkumpul. Arsen, Junet dan Doni tengah asik berbincang mengenai kesenangan.
Sedangkan Bastian dan Aksa membahas pekerjaan. Kedua pria itu begitu membosankan. Tidak cocok bergabung dengan ketiga pria somplak itu.
" Elu masih inget July? mantan elu yang itu. " ucap Doni pada Junet.
" Yang mana? " Junet lupa dengan mantan kekasihnya yang bernama July.
" Yang elu putusin pas banget waktu wisuda. "
" Ohh.. itu. " Junet pun ingat dengan July yang ia putuskan tanpa sebab. Karena Junet berpaling pada Tasyi, mantan istrinya saat ini.
" Kemaren gue ketemu, terus nanyain elu. Kayanya dia mau pedekate tuh.. pas tau elu udah pisah sama si Tasyi. "
" Ishh.. jangan mau! kayak Dora gitu. Cari yang lain. yang lebih cantik dari si Tasyi. Biar dia nyesel udah ninggalin elu! " celetuk Arsen. Padahal wanita yang bernama July itu memiliki wajah yang lumayan cantik. Hanya saja model rambutnya yang memiliki poni depan.
Junet dan Doni saling melirik. " Emang yang paling cantik siapa? " tanya Junet.
__ADS_1
" Ck! pakek nanya! Lisa lah.. " jawabnya mantap. Kedua matanya terus saja lurus ke depan memandangi Lisa yang sedang asik tertawa.
" Yaudah, Lisa buat gue. " canda Junet.
Arsen melotot. Lalu menendang kaki Junet. " Enak aja! mau mati lu! "
" Aww.. sakti beg*k! " Junet mengaduh kesakitan. " Santai bro.. lagian gue udah punya cemceman baru. Ini lebih ranum dan cantik. " matanya berbinar saat mengatakan itu. Di sebrang sana, Junet bisa melihat Mikha yang sedang membantu Elsa dan Elisa menyiapkan makan siang.
Arsen melirik curiga. " Siapa? "
" Kepo! "
" Awas aja lu deketin sepupu gue! gak rela gue! si Mikha polos gitu dapetin laki kaya elu! duda lagi! cih... " sembur Arsen. " Mending lu ama si July aja deh.. " akhirnya Arsen memilih Junet bersama July, daripada menumbalkan sepupunya yang polos pada Duda genit seperti Junet.
" Jodoh gue kenapa elu yang ngatur! "
***
Sore hari, Arsen sudah menunggu Lisa di dalam kamar. Arsen akan menemui Lisa untuk meminta kesempatan kedua. Arsen berjalan mondar mandir di depan pintu penghubung. Menantikan Lisa masuk ke dalam kamarnya.
Terdengar suara pintu kamar sebelah terbuka. Menandakan jika Lisa telah masuk ke dalam kamar. Arsen segera masuk lewat pintu penghubung. Membuat Lisa terkejut.
" Ngapain! " sarkasnya. Tidak habis pikir kamarnya dan kamar Arsen mempunyai pintu penghubung. Pantas saja King memaksa untuk menempati kamar ini.
" Sayang.. kita perlu bicara. " Arsen berjalan mendekat. Lisa mundur, tidak mau berdekatan dengan Arsen.
" Please... beri aku kesempatan untuk jelasin semuanya ke kamu. " Arsen memohon.
" Gak ada yang perlu di jelasin! " seru Lisa. Lalu berbalik berniat untuk pergi dari kamar itu, menghindari Arsen.
" Tunggu. " Arsen menarik lengan Lisa. Mencegahnya agar tidak pergi sebelum dia mengatakan yang ingin ia jelaskan dari awal sampai akhir. Lisa memberontak dari genggaman Arsen, membuat tubuhnya limbung.
" Aww... " Lisa terpeleset, tubuhnya terjatuh. Arsen yang belum siap menopang tubuh Lisa pun ikut terjatuh meninndih tubuh Lisa.
Deg.. deg.. deg.. deg... jantung keduanya berpacu dengan cepat. Wajah mereka begitu dekat. Hembusan nafas mereka saling menerpa kulit wajah. Darah mereka berdesir hebat. Kedua mata Lisa membeliak saat merasakan benda keras menusuk perutnya.
" Dass--- " umpatan Lisa tenggelam karena Arsen dengan cepat membungkam dengan bibirnya. Tentu saja kesempatan itu tidak akan di sia-siakan oleh Arsen. Berada di posisi intim seperti ini, jiwa kelelakian Arsen bangkit. Layaknya singa yang sedang kelaparan, Arsen mencium bibir Lisa begitu lembut namun rakus, tidak membiarkan lepas darinya.
Brakk...
" Mommy..... O o... Upsstt... Sorry! "
" Shitt! "
__ADS_1