
" Gak ada namanya suami melecehkan istrinya! suka gak suka kamu masih sah istri aku. Selama ini aku menafkahi mu walau tanpa sadar. " kemarahan membuat Arsen berani bersuara. " Seorang istri harus melayani suami dengan baik. "
" Oke, aku memang salah. Bukannya aku sudah meminta maaf? Beribu-ribu kata maaf telah aku ucapkan. Lalu harus dengan cara apalagi agar kamu memaafkan ku? "
" Gak cukup selama enam tahun aku menderita karena dirimu? kamu menyembunyikan King dari ku selama itu. Bukankah itu cukup menjadi hukuman ku sebagai seorang ayah? melewati masa- masa pertumbuhan King. Gak cukup hukuman selama 6 tahun ini aku berpuasa? padahal kamu tau sendiri, gimana aku, hasrat lelaki ku terlalu tinggi. Sangat tersiksa untuk mengendalikan nya. "
" Aku salah karena gak berhasil menemukan keberadaan mu selama ini. Tapi itu semua karena mu, kamu meminta keluarga ku menyembunyikan mu. " Arsen menghela nafasnya panjang. Luapan emosinya membuat berani mengatakan seluruh isi hatinya.
" Maaf.. maafkan aku.. gak seharusnya aku ngomong kaya gitu.. " Arsen meminta maaf atas ucapannya. Takut jika Lisa salah paham kembali. " Kamu lebih menderita di banding aku. Dan itu semua karena ku. "
Lisa terdiam, mencerna semua perkataan Arsen. Hatinya sedikit goyah akan kebenciannya pada pria itu. " Apa aku masih istrinya? " Lisa masih bimbang dengan hubungannya dengan Arsen.
" Aku siapkan air mandinya dulu. " tidak mau memperpanjang perdebatan nya. Lisa memilih mengakhiri perbincangan itu. Ia akan memikirkan kembali ucapan Arsen. Sepertinya konsultasi pada seorang ahlinya harus Lisa lakukan.
__ADS_1
Lisa membantu Arsen berjalan ke kamar mandi. Mendudukkan Arsen di kursi yang sudah ia siapkan. Kursi yang nyaman di gunakan untuk Arsen ketika membersihkan diri.
Lisa membuka satu persatu piyama tidur yang Arsen kenakan. Kali ini jantung nya berpacu lebih cepat. Apalagi Arsen menyapanya dengan tatapan tak biasa.
Lisa menghentikan kegiatannya. " Kayanya aku minta bantuan aja sama pelayan di resort ini. " ucapnya. Tak sanggup jika harus berduaan dengan Arsen. Melihat tubuh tellanjang Arsen.
Arsen mencekal lengan Lisa yang hendak keluar. Menariknya agar lebih dekat. " Jangan menghindar. "
" Aku.. aku.. " Lisa gugup.
" Aku mencintaimu.. " ucapnya. Lalu membenamkan bibirnya di bibir Lisa. Melummatnya dengan lembut. Tidak ada nafssu di ciuman yang Arsen berikan. Lisa hanya diam, membiarkan Arsen bermain.
Lisa melepaskan ciuman itu. " Kenapa kamu nangis? " tanya Lisa yang melihat kedua mata Arsen mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Arsen menyatukan kening mereka. " Maafkan aku.. maafkan aku.. aku sungguh menyesal.. tolong jangan tinggalkan aku.. " air mata yang keluar dari mata Arsen membuktikan bahwa apa yang di ucapkan pria itu benar-benar tulus dari hati.
" Sen.. " Lisa tidak menyangka seorang Arsen akan mengeluarkan air matanya.
" Aku mencintaimu.. " Arsen kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini Lisa membalasnya. Keduanya berciumaan untuk melepaskan rindu. Tanpa ada pakssaan. Hati Arsen berbunga-bunga mendapatkan balasan dari Lisa.
Ciuman mereka terlepas saat keduanya kehabisan nafas.
" Mau lanjut apa gimana nih? si Beo udah siap tempur. " tanya Arsen penuh harap.
Lisa mendelik, kemudian memukul bahu Arsen. " Kamu ini! " kedua pipi Lisa sudah memerah. Bisa bisanya Arsen masih menggodanya. Baru saja suasana mengharukan, Arsen kembali bertingkah!
" Mau ya? " Arsen menarik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
- TBC -