Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Penolakan Doni


__ADS_3

Rencana untuk menikahi Lisa secepat mungkin, ternyata gagal. Doni adik kandung Lisa pagi itu menjemput Lisa dari kediaman keluarga besar Haidar. Remaja yang baru saja beranjak dewasa itu dengan beraninya mengatakan keberatan jika Lisa kembali lagi bersama Arsen, di depan seluruh keluarga Haidar. Tidak rela jika Kakaknya hidup dengan pria yang telah tega menyakiti dan mencampakkan kakaknya. Doni tidak percaya begitu saja dengan Arsen yang mengatakan telah berubah dan akan membahagiakan kakaknya.


Saudara mana yang rela kakaknya di sakiti? hingga menghilang selama enam tahun tanpa jejak. Lisa berusaha meyakinkan adiknya. Namun Doni kekeh dengan pendirian nya.


" Aku bisa menjadi kepala rumah tangga buat kakak. Membantu kakak memenuhi semua kebutuhan kakak dan King. " semangat pemuda itu patut di acungi jempol. Jiwa mudanya yang masih menggebu-gebu membuatnya begitu bersemangat bersedia menjadi tempat sandaran bagi Lisa dan King. Tanpa bantuan dari Arsen. Melindungi dari siapapun yang mencoba menyakiti anggota keluarga nya.


" Dek.. bukan hanya itu.. Tapi King butuh figur seorang ayah. " Lisa mencoba membuatnya mengerti.


" Aku sama sekali gak melarang King untuk menjauh dari ayahnya. Aku gak rela kakak di sakiti pria sialan itu! " seru Doni, percaya diri.


" Don.. "


" Udahlah kak. Aku mau berangkat kerja. " Doni sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Pekerjaan Doni membantu Sandi, asisten serta sekertaris pribadi Bastian. Selain bekerja dengan Bastian, Doni juga sudah mulai merintis usaha kecil-kecilan.


" Inget kak. Jangan mau ketemuan ama pria sialan itu! " Doni mengingatkan Lisa agar tidak bertemu dengan Arsen. Amarah Doni pada Arsen tidaklah sedikit. Jika dulu dia tidak bisa melakukan apa-apa karena masih terlalu kecil dan tidak mempunyai apapun, sekarang dirinya sudah dewasa dan bisa menjaga kakak perempuan nya.


Lisa menghela nafasnya panjang. Memberi pengertian pada Doni butuh tenaga extra. Lisa memaklumi sikap Doni yang sangat posesif terhadap nya. Bukankah pria seusia Doni memiliki keegoisan yang sangat tinggi? biarlah Arsen yang menangani Doni jika memang pria itu serius menjalin hubungan dengan nya.


***


Dua minggu telah berlalu, Arsen sudah pulih dari cideranya. Selama itu pula Arsen tidak bertemu dengan Lisa. Hanya bisa bertemu dengan King yang setiap hari seusai pulang sekolah datang ke rumahnya. Arsen dan Lisa hanya saling berbalas pesan. Berbicara lewat ponsel pun sangat jarang. Karena Lisa tidak enak jika Doni mendengar percakapan mereka.


Sudah seminggu pula Doni memboyong Lisa dan King untuk pindah rumah. Doni menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka. Dari uang yang sejak lama Doni sudah menabungnya. Rumah minimalis yang lumayan bagus. Doni tidak mau lagi menempati rumah pemberian Arsen. Selama ini ia pikir rumah itu adalah pemberian Bastian sebagai iventaris kantor.


" Neng geulis.. kita ketemuan yuk. " Arsen yang saat ini sudah bisa berjalan dengan baik, mengajak Lisa untuk bertemu. Sebelumnya Arsen menemui Doni di kantor Bastian, berusaha membujuk dan meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ia perbuat terhadap Lisa. Namun Doni mengacuhkan nya.


Lisa terkekeh geli mendengar sebutan yang di berikan oleh Arsen. " Bule Jerman lucu juga ngomong Neng geulis. " terdengar sangat aneh dalam pelafalannya.


" Hehe.. habis bingung mau panggil kamu apa. Semuanya kamu gak mau. " ujar Arsen.


" Iya.. iya.. boleh juga neng geulis. " Lisa setuju dengan sebutan sayang itu. Lebih baik di panggil neng geulis daripada yang lainnya, yang sudah Arsen umbar ke banyak wanita.


" Jadi gimana? kamu mau gak ketemuan? Kangen nih. " Arsen memohon. Rindu berat pada wanita nya. " Aku udah sehat, bisa jalan normal lagi. udah bisa ngapa ngapain kamu.. " selorohnya. Berharap Lisa akan memenuhinya, jika tidak mau ya.. tidak masalah.. yang penting sudah berusaha.


" Ish.. gak mau ah kalo ketemu mau aneh-aneh.. " tolak Lisa. " Lagian aku masih kerja. Kerjaan banyak, gak bisa di tinggal gitu aja. " jawab Lisa. Lisa kini telah kembali bekerja di divisi keuangan. Bukan sebagai sekretaris Aksa lagi.


" Udah aku bilang, gak usah kerja segala. Aku sanggup memenuhi kebutuhan kamu semua. " berulang kali Arsen meminta agar Lisa mengundurkan diri dari pekerjaan nya.


" Iya.. tapi aku gak mau memenuhi kebutuhan kamu. " perkataan Wina membuat Lisa mengerti jika dia harus menjaga jarak terlebih dahulu pada Arsen. Tidak boleh melakukan hal di luar batas sebelum mereka menikah resmi kembali. Jika Arsen memenuhi kebutuhan nya sebelum menikah, tentu saja pria itu akan menuntut balas untuk memenuhi kebutuhan yang sudah di pastikan tidak jauh - jauh dari urusan ranjang.


Arsen terkekeh. " Kamu makin pinter ya.. " Lisa ternyata tidak lagi mempan dengan bujuk rayuan. Sekarang lebih waspada. Sebenarnya Arsen pun tulus memenuhinya kebutuhan Lisa tanpa pamrih. Namun jika berdekatan dengan Lisa entah kenapa tidak bisa mengontrol diri, selalu berpikir liar.


" Jadi gimana nih? pulang kerja aku jemput kamu ya.. terus kita jalan. " Arsen.


" Boleh sih.. tapi King gimana? ntar nyariin aku. " Lisa masih memikirkan putranya. Takut jika King mencari keberadaan nya.


" Tenang, ada mamah yang siap siaga menjaga cucunya. "


" gak enak aku. Takut ngrepotin mama. Kita malah enak enakan jalan. " Lisa.


" Mama pasti ngerti kok. Gak bakal marah. " Arsen yakin jika Elsa dengan senang hati menjaga King. Mamahnya itu memiliki hati yang baik serta perilaku lemah lembut.

__ADS_1


" Nanti aku jemput kamu ya. " Arsen.


" Ya deh.. "


" Bye.. neng geulis.. sampai ketemu nanti sore. " Arsen tak sabar bertemu Lisa. Rasnya ingin cepat cepat waktu bergulir, merubah siang menjadi sore.


" Bye.. " Lisa.


Setelah memutuskan panggilan telepon itu. Arsen kembali di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Jika sedang bekerja, Arsen terlihat sangat serius. Tidak ada yang percaya jika atasannya itu mempunyai sifat konyol. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu wujud asli dari seorang Arsenino Haidar.


Dua jam berkutat dengan pekerjaan nya. Arsen meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Arsen melepas kacamata nya saat menyudahi pekerjaannya. Berniat untuk istirahat makan siang.


Arsen keluar dari ruangannya. Di sambut Doni yang akan ikut menemaninya makan siang di luar. Saat keluar dari lift, Arsen di kejutkan dengan keberadaan temannya, Junet.


" Ngapain elu di sini? udah gak ada kerjaan! " seru Arsen. Junet berkeliaran di perusahaan nya, seperti seorang pengangguran yang bisa membuang buang waktu sesuka hati.


" Hehe.. yaelah.. maen doang gak boleh apa? " cengir Junet sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Main kok tiap hari. " Doni ikut bersuara. " Bos, semenjak bos gak ke kantor. Si Junet ini seliweran kayak setrikaan di perusahaan elu. " adu Doni.


Arsen menyipitkan kedua matanya. Curiga dengan temannya itu. " Ngapain lu? " sarkas Arsen yang melihat gelagat keanehan dari Junet.


Junet melotot ke arah Doni, pertanda tak suka jika Doni melaporkan kedatangan nya di perusahaan ini.


" Biasa... itu.. " Junet ragu mengatakan nya.


" Dia lagi pedekate ama Mikha bos. " bisik Doni di telinga Arsen.


" Aww sshh.. sakit bangssattt! "


" Gak.. gak.. gak.. gue gak mau elu deket deket ama si Mikha. " Arsen menggelengkan kepalanya beberapa kali, pertanda tak setuju. " Jauh.. jauh.


elu sama si Mikha. Elu terlalu bangssatt buat sepupu gue. "


" Cih... bodo! gue gak bakal nyerah.. udah kepincut gue ama si Mikha. " Junet tak lagi menyembunyikan maksud dan tujuannya.


" Gue bilang gak boleh ya gak boleh! " seru Arsen.


" Dih.. kalo Mikha mau ama gue.. elu mau apa? " Junet tak pantang menyerah. " Mending elu urus dulu dehh.. hubungan elu ama si Lisa. Gak udah ngurusin gue! " Junet tertawa mengejek mengenai hubungan Arsen dan Lisa yang belum juga kembali bersatu.


" Sialan lu! awas aja elu ngapa ngapain si Mikha. abis lu ama gue! " ancam. Arsen.


" Udahlah.. gak usah esmosi.. mending kita makan di luar yuk.. laper nih.. " ajak Junet yang tidak ada takut-takutnya dengan Arsen yang sedang menunjukkan kemarahannya.


" Ck! " decaknya kesal.


***


Sore hari Arsen sudah berada di pelataran perusahaan milik Aksa. Bersiap untuk menjemput pujaan hatinya.


Arsen membunyikan klakson dan menurunkan kaca mobil sedikit, ketika Lisa terlihat keluar dari pintu besar yang terbuat dari kaca. Tidak lupa Arsen menampilkan senyum termanisnya agar Lisa selalu terpesona padanya.

__ADS_1


" Hai neng geulis.. " Arsen menyapa Lisa. Menaikan turunkan kedua alisnya seraya menggoda.


Arsen ini suka sekali membuat kedua pipi Lisa memerah karena gombalannya. " Gombal! " Lisa membuka pintu lalu duduk di sebelah Arsen.


" Gak gombal kok! Beneran kamu itu cantik. Cantik banget kalo lagi senyum kaya gitu. " Arsen tak hentinya mengumbar kepandaian nya dalam merayu wanita.


Lisa tersenyum malu, menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat.


" Lebih cantik lagi kalo kamu mendesaah di pelukan ku." Arsen terkekeh.


Lisa memukul bahu Arsen. " Ikh.. mesum! " kedua insan itu seolah lupa jika mereka bukan lagi anak abege yang lagi kasmaran. Lupa kalau sudah ada King di antara mereka. Lupa jika mereka sudah menjadi orang tua bagi King.


Arsen tergelak. " Justru yang berbau mesum itu menyenangkan. Iya gak?... iya kan? " Arsen kembali menggodanya.


" Udah ah.. buruan jalan! mau kemana kita? " Lisa.


" Kamu maunya kemana? hotel apa vila? " seringai nya.


" Ck! mulai deh.. " Lisa mengerucut kan bibirnya.


" Iya.. iya.. jangan ngambek dong. Cium juga nih.. " gemas sekali melihat Lisa yang cemberut.


Cup.


Arsen mengecup sekilas bibir Lisa.


" Arsen! bahaya! " seru Lisa memperingati.


" Iya maaf.. " Arsen.


Arsen membawa Lisa ke sebuah cafe. Tempat yang aman untuk mereka berdua agar tidak melakukan hal di luar batas. Di tempat keramaian itu, si Beo milik Arsen tidak bisa bertingkah.


Arsen terkejut ketika Lisa menarik lengannya dan mengajaknya bersembunyi di kolong meja. Meja yang ia tempati kebetulan berada di paling pojok. Sangat aman untuk bersembunyi.


" Ada apa? " tanya Arsen.


" Ada Doni ( adiknya) " jawab Lisa. Melihat Doni memasuki cafe itu bersama temanya. Lisa bergegas sembunyi.


" Ya ampun Lisa.. aku kira ada apa! "


" Kita pergi yuk, lewat pintu itu. " Lisa menunjuk pintu yang dekat dengan posisi mereka.


" Biar aku yang ngomong. Gak usah takut gitu. " Arsen.


Lisa menggeleng. " Belum waktu nya. Yakinin Doni itu mesti perlahan. Emosinya masih labil. "


" Yaudah deh terserah kamu. "


Arsen pun menuruti permintaan Lisa. Mereka bergegas keluar dari cafe itu. Menghindari Doni, adiknya Lisa.


Arsen bertekad akan melakukan cara agar bisa meluluhkan hati Doni. Menerima nya sebagai pendamping Lisa.

__ADS_1


- TBC -


__ADS_2