Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
SAH


__ADS_3

" Saya terima nikah dan kawinnya Mikha Zulaika Haidar binti Umar Santoso dengan mas kawin tersebut di bayar tunai. " Junet mengucapkan dengan satu tarikan nafas. Begitu lancar tanpa kendala.


" Bagaimana saksi? Sah? "


Sahhh.. jawaban serempak oleh semua orang yang menghadiri acara sakral itu.


" Alhamdulillah.. "


Junet dan Mikha kini telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Wajah Junet berbinar ketika kata sah terucap. Hatinya berbunga-bunga bisa mendapatkan gadis cantik pujaan hatinya. Sungguh keberuntungan menyertai laki-laki berstatus duda itu.


Mikha mencium punggung tangan Junet, sebagai tanda hormatnya kepada sang imam. Lalu Junet membalasnya dengan mengecup kening istrinya. Setelah itu, keduanya meminta doa restu pada orang tua kedua belah pihak, agar rumah tangganya sakinah, mawaddah, warohmah.


" Istri ku.. " bisik Junet tepat di telinga Mikha. Mereka berdua kembali melanjutkan acara. Berdiri di pelaminan, menyambut ucapan selamat dari para tamu. Suara Junet terdengar begitu menggoda di telinga Mikha. Wanita yang sudah menjadi istri sah seorang Junet tersipu malu. Mikha tersenyum sembari menundukkan kepalanya.


" Istri ku.. di panggil kok diem aja sih.. " Junet kembali menggoda Mikha dengan suara yang terdengar mendayu-dayu.


" Aku malu mas.. " lirih Mikha tanpa menoleh pada suaminya.


Junet tergelak. " Kenapa malu? jangan malu-malu dong, baru di panggil istri ku aja udah malu. Apalagi ntar malem-- " Junet tidak meneruskan ucapannya. " Apalagi ntar malem aku telanjjangi kamu. " lanjutnya di dalam hati. Rasanya sudah tidak sabar menantikan malam tiba.


" Ishh... " Mikha memukul bahu Junet pelan. " Jangan mulai deh.. " meski sudah terbiasa mendengar gombalan serta rayuan Junet yang begitu mesum, Mikha masih saja malu mendengarnya.


Obrolan mereka terhenti ketika sahabatnya naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat.


" Selamat ya bro! akhirnya lu nikah juga ama si Mikha. " Doni memberikan selamat pada kedua mempelai itu.


" Thanks.. " Junet menyambut tangan Doni. Mereka bersalaman ala pria dewasa.


" Ati-ati dia masih kecil, jangan di gempur abis-abisan.. satu ronde cukuplah.." bisik Doni.


Junet tergelak. " Urusan itu mah, gak bisa janji. " pria itu tak bisa janji akan bermain singkat. Yang terpenting dia akan memperlakukan Mikha dengan sangat lembut.


" Bisik bisik apa kalian! " seru Arsen yang sudah ikut bergabung dengan mereka.


Junet dan Doni menoleh ke arah Arsen, lalu tersenyum tengil. " Biasalah... masa elu kagak tau sih! " Doni.


Arsen menggelengkan kepalanya. " Awas saja kalo elu ngasih ide gila ke duda keriput ini! " seru Arsen yang bisa menebak jika Doni tengah mencuci otak Junet. Karena Doni pernah melakukan hal yang sama ketika dirinya menikahi Lisa. Membisikkan sesuatu yang mencengangkan saat mengucapkan selamat di atas pelaminan.

__ADS_1


" Eits.. lu amnesia? gue udah bukan duda lagi! " protes Junet. " Gue udah punya bini! " Junet melirik ke arah Mikha yang sedang mengobrol dengan Lisa dan Bela.


" Lu suudzon mulu ama gue! gue cuma bilang ama dia, jangan tamak pas malem nanti. " ujar Doni.


" Oh.. itu.. bagus dah.. " Arsen setuju dengan Doni.


" Pelan-pelan aja Net. Kalo udah terbiasa baru tuh.. " lanjut Doni.


" Iya.. iya.. gue tau! " jawab Junet. " Kalo udah mahir baru.. hot hot Pop! " seru Junet dengan terkekeh.


" Bikin gaya makin? " Doni ikut meneruskannya. " Elu kok diem aja sih.. terusin dong.. biasanya elu paling semangat! " sembur Doni pada Arsen. Biasanya Arsen yang selalu lebih dulu mengatakan jargon mereka.


" Gak seru lu! " Doni.


" Ulang ulang deh.. " Junet.


Arsen berdecak kesal. Bagaimana dia semangat? membayangkan sepupunya di terkam oleh Junet, rasanya tidak rela. Arsen tahu Betul, jika Junet sama seperti dirinya yang sangat liar di ranjang. " Kasian si Mikha! "


" Hot hot Pop.. " Junet.


" Bikin gaya makin mantapssss! " seru Doni merampungkan kalimat itu. Mereka berdua tergelak.


Junet dan Doni seketika terdiam, melihat sekitar. Benar saja, Doni dan Junet menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang mendengar kegaduhan mereka.


***


Siangnya, kediaman keluarga Umar sudah sepi. Tamu undangan yang datang di acara ijab qobul telah pulang, hanya kerabat dekat yang masih ada di sana. Acara sakral memang di langsungkan di rumah saat pagi hari. Sedangkan nanti malam acara perayaan pesta pernikahan Junet dan Mikha akan di langsungkan di hotel bintang lima.


" Sayang, udah selesai kan? kita pulang yuk. " Bastian mengajak Clara segera pulang.


" Bentar dulu napa! masih asik ngobrol nih. " Clara menolak untuk pulang. " Lima belas menit lagi yak? "


" Iya. " mana mungkin Bastian menolak keinginan istri tercintanya. " Arlet mana? " Bastian menanyakan keberadaan putrinya. Karena hanya Benzema dan Kenzo yang terlihat di sekitar.


" Di kamar onty Karin. Di temani suster sama Langit. " jawab Clara.


" Bukannya Pak Ardi udah pulang? "

__ADS_1


" Iya. Langit mau nginep lagi di rumah. Papanya mau ke luar kota. "


" Oh.. " sudah biasa Langit menginap di rumah mereka, ketika tuan Ardiansyah Malhotra mempunyai pekerjaan di luar kota ataupun di luar negeri. Bastian dan Clara sama sekali tidak keberatan.


" Mas, aku ke sana dulu ya.. cuma bentar, abis itu kita pulang. " ucap Clara yang ingin bergabung dengan Lisa dan Bela di kamar Mikha.


" Oke! " Bastian.


Junet begitu malas ketika datang ke kamar Mikha yang di penuhi para wanita. Niat hati ingin sedikit bermain-main dengan Mikha, namun rasanya keberuntungan belum menyertainya. Padahal dia sudah merencanakan waktu sebaik mungkin agar tidak terbuang sia-sia, menyempatkan waktu yang cukup lengang sebelum nanti malam. " Gagal deh.. " gumamnya.


Tepukan di bahu membuat Junet terjingkat kaget. " Apa? " tanya Junet ketika melihat siapa yang menghampiri nya.


" Ngapain elu di sini? " tanya Arsen yang mendapati Junet di balkon.


" Ck! " decaknya kesal. " Bini elu ama pasukannya bikin kesel! " ucap Junet.


Arsen tergelak mendengarnya. " Yaelah.. masih ada waktu panjang kali! tapi inget, jangan main kasar. Takut si Mikha trauma lagi. " ujar Arsen memperingati sahabatnya.


" Iya gue tau itu. " Junet.


" Emm.. makasih ya, elu udah nerima Mikha apa adanya. " ucap Arsen tulus.


" Gak usah makasih! justru gua yang beruntung dapetin Mikha. " Junet sama sekali gak mempermasalahkan mengenai hal yang telah hilang dari Mikha.


" Ya.. ya.. ya.. " ucap Arsen malas. " Gue percaya ama elu. Buat Mikha bahagia. Dan yang pasti jangan nyesel di kemudian hari, terus ngungkit masalalu Mikha. " Arsen.


" Di bilang, gue gak bakal nyesel. Bawel banget si lu! " Junet merasa jengah, Arsen berulang kali mengatakan hal itu. Sudah jelas-jelas dia tulus menerima Mikha apa adanya. Masih saja membahas hal itu.


" Gak usah nyolot! gue kan cuma bilang, takut elu masih pengin dapetin peraw*an! " Arsen ingat betul keinginan Junet. Mendapatkan gadis bersegel, karena selama ini Junet belum pernah merasakan nya.


Junet terkesiap. " Gak lagi! "


" Gue pegang kata-kata elu! " Arsen.


Junet mengangguk. " Lagian, gue yakin si Mikha masih seret! kejadiannya kan udah lama, segede mana sih punya bocah SMA! bocah masih dalam pertumbuhan! gedean juga punya gue. hehe.."


" Bangssaatttt!!! " geram Arsen yang mendengar celotehan absurd Junet.

__ADS_1


- TBC -


__ADS_2