Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
My Future husband


__ADS_3

Kedua gadis remaja yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama berjalan beriringan untuk menuju kelas mereka masing-masing.


" Sora, jangan lupa minggu depan kita harus ikut mengantar kakak Benz ke Bandara. " ucap gadis berkuncir dua, di hiasi jepitan rambut berbentuk bunga untuk mempercantik penampilannya.


" Apa kak Benz jadi melanjutkan pendidikannya ke Meksiko? " Sora bertanya balik, gadis itu tak kalah cantik dengan hiasan bandana di kepalanya, bandana berlogo LV. Semua yang menempel di tubuhnya berasal dari merk terkenal dunia.


Arletta mengangguk. " Iya, papi ku tetap mengirim kak Benz ke Meksiko setelah wisuda, meski mami melarangnya. Kata papi, ini untuk kebaikan kak Benz. " ucap Arletta.


" Iya juga. " Sora.


" Lalu kak K ( Key) gimana? apa dia masih di pesantren? " Arletta menanyakan tentang King, kakak dari Sora. Semenjak remaja, King tidak menyukai nama pemberian dari grandpa nya. Menurut King itu sangat menggelikan. Dan King lebih suka di panggil dengan sebutan K (Key) saja.


" Ushh... dia kabur lagi dari pesantren. " Sora mendengus kesal mengingat kakaknya itu berulang kali kabur dari pesantren. " Kak K merengek minta pindah ke Jerman, tapi Mommy dan daddy ku belum menyetujui nya. "


Arletta mengangguk mengerti. King memang tidak suka berada di pesantren. Karena bagi King sudah cukup selama dua tahun berada di pesantren. King ingin merasakan kebebasan dengan dunia luar, tanpa adanya peraturan yang ketat.


" Arlet.. coba liat. " Sora menunjuk ke arah laki-laki tertampan di sekolahnya. " Kak Ronald keren banget.."


" Ck! " Arletta bedecak. " Kak Langit yang paling keren dan tampan. " ucap Arletta dengan senyum yang menghiasi wajahnya. " My future husband.. "


" Dih.. kamu masih suka sama kak Langit? " Sora tak percaya, dari dulu pria idaman saudaranya itu tidak pernah berubah. Cintanya hanya untuk Langit dan Langit. Tidak ada pria lain selain Langit.


Arletta mengangguk. " Selalu dan selamanya.. hehe.. "


" Dasar bucin! " Sora.


" Biarin wleeekkkk.. " Arletta menjulurkan lidahnya.


Bel masuk berbunyi. Arletta dan Sora berpisah, mereka masuk ke kelas masing-masing. Arletta duduk di kelas VIII dan Sora di kelas VII.


Di kediaman Haidar tengah terjadi keributan. King berulah lagi, kabur dari pesantren tempatnya menuntut ilmu.

__ADS_1


" Dad, K gak mau balik lagi ke pesantren! " seru King yang memberontak perintah daddynya.


" Satu tahun lagi King! bertahanlah! " ucap Arsen yang tengah duduk tenang. " Jangan kabur-kaburan lagi. Jogja-jakarta cukup jauh! sangat berbahaya. " Arsen tidak menyangka King senekat itu. Pergi meninggalkan pesantren yang ada di Jogja dan kembali ke Jakarta sendiri. Biasanya King akan kabur dari pesantren ke rumah Dona ( adiknya Lisa)namun kali ini King nekad pergi sendiri ke Jakarta.


" No dad! King mau pergi ke Jerman! titik! " sifat keras kepala King menuruni dirinya. Arsen memijat keningnya. Bukan tanpa alasan Arsen memasukkan putranya ke pesantren. Selain amanat dari alm. oma Wina, Arsen juga sangat takut jika King mewarisi kebejatan nya. Tiga tahun usia Soraya, oma Wina telah berpulang.


" King sayang.. " Lisa menghampiri putranya. " Nurut sama daddy, tinggal satu tahun lagi. Oke? " Lisa membujuk putranya.


" No mom! " King tetap menolak. " Aku sangat bosan di sana. K gak kuat lagi. "


" King! " bentak Arsen.


King mendengus kesal. " Oke, kalo mommy dan daddy gak ngijinin King ke Jerman, King akan berangkat sendiri! " ancam King.


" Ck! gak usah banyak gaya, mana bisa kamu berangkat ke sana sendiri. " ucap Arsen meremehkan King.


" Bisa! K minta bantuan sama Onti Clara dan Uncle Basbas! "


Tidak mau berdebat lagi, Arsen memilih pergi. Dia akan memikirkan kembali permintaan King. Berdebat dengan King pagi-pagi membuatnya terlambat datang ke kantor. King sungguh menjadi pembangkang. Arsen menghela nafas. " Apa seperti ini rasanya? menghadapi putra ku yang keras kepala. " gumam Arsen yang teringat jika dulu, ia sering sekali menentang perintah kedua orang tuanya.


***


Bel berbunyi, menandakan telah usai pelajaran hari ini. Seperti biasa, Sora akan menunggu Arletta terlebih dahulu sebelum mereka pulang bersama. Di luar sekolah, sudah ada supir yang akan mengantar mereka berdua. Namun kali ini, mobil untuk menjemputnya tengah di kerumuni banyak siswi.


" Pasti ada kak Kenzo. " ucap Sora yang sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut. Para siswi akan mengerumuni pria tampan itu. Setiap Kenzo ikut dengan mobil yang menjemputnya, Kenzo selalu saja menjadi pusat perhatian para siswi.


" Iya, pasti ada kakak. " kata Arletta. " Kenapa gak di dalem aja sih, gak usah keluar. Sok pamer! " gerutu Arletta.


" Sok tampan! sok keren! " Sora ikut berkomentar.


Wajah Arletta seketika berbinar saat netranya menangkap sosok pria idamannya. " Kak Langit.. " lirih Arletta. Gadis itu berlari menerobos kerumunan.

__ADS_1


" Dih.. dia lagi si Bucin! " Sora.


"Pergi! pergi! pergi! " seru Arletta mengusir segerombolan gadis remaja.


" Huhuuuuu.. " sorak semuanya.


" Kakak kenapa keluar! nunggunya di dalem aja. " Arletta segera membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Langit untuk masuk. Tidak rela sekali para gadis mengajak Langit berkenalan dan bertukar nomor ponsel.


Langit tersenyum melihat tingkah gadis beranjak dewasa itu. Mengelus kepala Arletta dengan lembut. " Kamu capek? " tanya Langit yang melihat dahi Arletta di penuhi keringat. Langit pun menyeka keringat itu dengan telapak tangannya. Perhatian Langit selalu saja membuat Arletta berbunga-bunga.


" Heh! gak usah sok romantis! masih bocil dia, ntar baper! " seru Kenzo yang sudah masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi dekat supir.


" Kenapa aku di tinggalin! huh.. mentang-mentang ada kak Langit, aku di cuekin. " Sora.


" Hehe.. sorry. " cengir Arletta.


Suara ketukan di jendela mobil terdengar, Sora yang duduk di dekat jendela mobil segera membuka pintu. " Kak Benz! "


" Arlet! pindah ke mobil kakak! " seru Benzema dengan wajah datarnya.


Arletta mencebikkan bibirnya. " Kak Benz kenapa kesini? kak Kenzo kan udah jemput Arlet. " tidak rela jika waktu kebersamaan nya dengan Langit terganggu. Lagi lagi Benzema datang mengacaukan nya.


" Arlet! "


" Iya.. iya.. Arlet turun! "


" Kak, biarkan Arlet pulang bersama ku. " ujar Kenzo.


" Gak usah, Arlet ada les piano. Kakak akan mengantarnya. " jawab Benzema.


Langit memandang kepergian Arletta dengan sendu. Sebelum Arletta masuk ke dalam mobil Benzema, dia berbalik lalu tersenyum pada Langit. Langit pun membalas senyuman Arletta. Mobil yang membawa Arletta telah pergi. Langit segera menutup kaca jendela mobil.

__ADS_1


- TBC -


__ADS_2