Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Kesal


__ADS_3

Arsen terkekeh mendengar teriak Lisa. Sudah bisa ia tebak, Lisa telah melihat hasil karyanya semalam. Arsen benar-benar hilang akal tadi malam. Melihat Lisa berada di dekatnya, di sampingnya, satu ranjang dengan nya, membuat Arsen tak tahan untuk memendam sisi liarnya. Untung saja kaki dan tangan Arsen masih cidera, jika tidak, bukan hanya dadanya saja yang jadi santapan pria berotak selangka*ngan itu.


Lisa dengan hati yang marah menatap tajam pada Arsen. Memberikan sarapan pagi yang telah ia pesan. " Makan sendiri. " ketusnya. Ingin sekali menggampar wajah Arsen karena melakukan tindakan ca*bul padanya, jika saja Arsen tidak sedang sakit.


" Tengkyuu... apa tidur mu nyenyak? " pertanyaan yang begitu menggoda. Senyum tipis terukir di bibir Arsen.


" Lagi sakit masih aja mesum! " kesal Lisa tanpa menjawab pertanyaan Arsen.


" Aku cuma menerima hidangan yang tersedia. Mubazir kalo di anggurin. " ucap Arsen sembari terkekeh. Tangannya yang tidak sakit mencoba untuk menyuapi sarapan yang Lisa sediakan.


" Itu namanya pelecehan! bisa aku laporin ke polisi. Bakal masuk penjara kamu! " semburnya.


" Laporin aja. Lagian kamu masih istri aku. Mana mungkin polisi nangkep suami yang minta enak enak sama istrinya sendiri. " Arsen pintar sekali berkilah.


Lisa memutar bola matanya malas. Menanggapi Arsen tidak ada hentinya. Lebih baik ia segera berangkat bekerja. Atasanya pasti sudah menunggu.


" Aku berangkat. Siang nanti ada pelayan yang akan mengantarkan makan siang mu. " ujar Lisa sebelum pergi meninggalkan Arsen. Tidak lupa Lisa menyiapkan kebutuhan Arsen di atas nakas. Seperti air minum, remot televisi, dan sebagainya agar Arsen mudah mengambilnya.


" Aku pergi. " pamit Lisa.


" Lisa.... bagaimana bisa ukuran nya bertambah dua kali lipat? " pertanyaan Arsen berhasil menghentikan langkah Lisa. Lisa menoleh dengan tatapan tajam. Kesal sekali dengan pertanyaan vulgarr dari Arsen.


Arsen terkekeh melihat wajah Lisa yang menunjukkan kemarahan, begitu menggemaskan bagi Arsen. " Tapi aku tambah suka. Bertambah empuk! "


Lisa mendelik lalu melemparkan botol minum yang ada di genggamannya. " Dasar otak selangkah*angan! "


Arsen dengan cepat menghindarinya, agar botol itu tidak mengenai kepala. Lukanya bisa bertambah di bagian kepalanya. Arsen terbahak bahak, senang sekali menggoda wanita itu. Sedangkan Lisa menghentakkan satu kakinya ke lantai, pertanda kesal dengan kelakuan Arsen. Kemudian berlalu pergi. Kepalanya terasa ingin meledak jika berdekatan dengan Arsen.

__ADS_1


***


" Apa saya telat pak? " Lisa berlari kecil menghampiri Aksa yang telah menunggunya di dalam mobil.


Aksa menggeleng. " Belum. " jawabnya dengan senyum yang terlihat sangat manis.


Lisa duduk di samping Aksa yang mulai mengemudi mobilnya. Menuju perusahaan milik Mr. Lucas.


" Lisa.. bagaimana keadaan Arsen? semalem saya mau menjenguk nya di kamar. Tapi.. sepertinya dia sudah tidur. " tanya Aksa mengenai keadaan Arsen. Semalam seusai mandi, Aksa bergegas ke kamar Arsen. Tapi Arsen terlihat tidur nyenyak, jadi Aksa memilih kembali ke kamarnya.


" Udah agak mendingan. Tinggal pemulihan saja. Besok jadwalnya ke rumah sakit untuk kontrol. "


Aksa mengangguk. " Apa kalian berniat untuk kembali? " Aksa harus memastikan hubungan mereka terlebih dahulu sebelum dirinya mengutarakan niatnya untuk mendekati Lisa. " Maaf jika saya bertanya hal yang pribadi. "


Lisa menggeleng. " Tidak apa pak. " Lisa tersenyum ke arah Aksa.


Jujur, Lisa tak tahu harus menjawab apa. Lisa lebih memilih untuk menghindari. " Saya belum bisa menjawab. Lebih baik jangan membahas masalah ini. Saya --- " belum selesai mengatakan. Aksa lebih dulu menangkasnya.


" Oke saya mengerti. Maaf... "


Keduanya kembali terdiam. Tidak ada yang berniat dari keduanya untuk memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


***


Sore hari Lisa dan Aksa kembali ke resort. Mereka berdua saling tertawa. Hingga suara mereka terdengar oleh Arsen.


" Tadi lucu sekali, aku gak pernah nyangka asisten Mr. Lucas memiliki bakat humor yang terpendam. " ucap Aksa dengan bahasa yang santai. Tidak seperti sebelumnya, masih menggunakan bahasa formal jika berbicara dengan Lisa. Mungkin karena mereka sudah begitu dekat.

__ADS_1


" Iya.. beneran.. dia bisa ikut kontes stand up comedy. " Lisa kembali terbahak mengingat kelucuan asisten Mr. Lucas. " Kok bisa ya? Mr. Lucas mempekerjakan dia. " heran, kenapa seorang Mr. Lucas yang begitu selektif dalam pekerjaan mempunyai karyawan seperti itu.


" Itu lah rahasianya, Mr. Lucas terlihat awet muda. Karena selalu terhibur oleh asistennya. "


" Iya.. iya.. bener juga... "


Tawa keduanya berhenti ketika mendengar suara pecahan gelas. Aksa melirik ke kamar Arsen dimana suara itu berasal.


" Aku ke kamar dulu. Nanti malam kita makan malam bersama. " Aksa.


" Sip. " Lisa mengancungkan jempolnya pertanda setuju.


Di kamar, Arsen sengaja memecahkan gelas. Mendengar tawa Lisa dan Aksa membuat dadanya terasa sesak.


" Kamu kenapa? " Lisa menyembulkan dirinya di pintu kamar Arsen. Lisa melihat pecahan gelas berserakan di lantai.


Arsen memalingkan wajahnya, kesal dengan Lisa yang asik bersenda gurau dengan pria lain.


" Aku gerah mau mandi! " ucap Arsen dengan nada perintah tidak ingin ada penolakan.


" Mandi sendiri! "


" Gak bisa Lisa! " Arsen.


" Gak mau! " tolak Lisa.


" Harus mau! " Arsen tak kalah nyolot.

__ADS_1


" Kamu mesum! aku gak mau kamu melecehkan aku lagi. " seru Lisa.


__ADS_2