
Dengan susah payah Arsen membersihkan tubuhnya sendiri. Membersihkan alakadarnya dengan satu tangan yang masih bisa ia gerakan. Arsen tidak mau di bantu oleh suster yang bertugas membantu keperluannya. Pria itu hanya menginginkan Lisa yang membantu nya. Lagi - lagi keberuntungan belum menyertainya. Lisa menolak dengan tegas.
Arsen hanya menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya. Sangat sulit untuk memakai pakaian nya sendiri tanpa bantuan orang lain. Arsen duduk di atas tempat tidur, menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Rasa perih dan linu di beberapa lukanya kembali ia rasakan. Arsen meringis menahan sakit. Sudah waktunya ia minum obat, namun Lisa belum juga kembali ke kamarnya.
" Dimana Lisa? " gumamanya. Arsen ragu untuk memanggil Lisa dan meminta bantuan. Takut jika hal yang tidak di inginkan terjadi lagi. Apalagi tubuhnya kini hanya tertutupi selembar kain tebal. Tidak bisa menjamin Beo nya akan diam jika berdekatan dengan Lisa.
Arsen meraih obatnya di atas nakas. Perlahan menyiapkan nya sendiri. Setelah meminum obat, Arsen mengolesi luka lebam dan lecetnya dengan sebuah salep, kebagian yang bisa ia jangkau.
Ceklek...
pintu terbuka tapat Arsen telah selesai mengobati lukanya.
" Udah beres mandinya? " melihat penampilan Arsen yang lebih seger. Lisa melangkah mendekat. Namun Arsen menghentikan nya.
" Stop! jangan mendekat. " seru Arsen. Lisa diam ditempat.
" Kenapa? "
Arsen menghembuskan nafasnya kasar. " Kalo aku di deket kamu. Jangan marah dan salahkan aku, dia benar-benar susah di kendalikan. " Arsen jujur terlebih dahulu agar Lisa tidak terkejut dengan ulah nakal Beo nya.
Lisa menghela. " Aku juga sebenernya ragu balik ke kamar kamu. Tapi kamu belum minum obat sama luka kamu belum di pakein salep. " ucap Lisa. Suster yang bertugas sudah pergi karena Arsen telah mengusirnya.
" Aku udah minum obat. Tenang aja. "
" Yasudah.. aku kembali ke kamar. Kalo butuh bantuan panggil aku aja. "
" Hem. " sebenarnya Arsen ingin sekali di temani Lisa. Bosan juga tidak melakukan apapun, tapi dia tidak mau Lisa semakin ingin menjauhinya karena gairahnya yang selalu muncul tiba-tiba saat bersama dengan wanita itu. Dan Lisa tidak menyukainya!
Lisa kembali masuk ke kamar Arsen ketika jam makan malam tiba. Wanita itu membawa nampan yang berisi beberapa menu makanan. Lalu meletakkan nya di atas nakas.
" Sen.. Arsen.. " Lisa mengguncang bahu Arsen, untuk membangunkan nya.
" Arsen.. bangun makan dulu. "
" Ngghh.. " lenguh Arsen.
" Bangun Sen, makan malam dulu. Nanti baru tidur lagi. " Lisa menarik kursi mendekat ke ranjang.
Arsen menggeliat, perlahan membuka matanya yang tertutup.
" Bangun Sen. Ayo makan dulu. " Lisa sudah duduk di kursi, bersiap untuk menyuapi Arsen.
Dengan perlahan Arsen memposisikan duduk, Lisa membantunya untuk bersandar di dipan.
" Jam berapa? " tanya Arsen.
__ADS_1
" Setengah delapan. " Lisa memberikan segelas air putih. " Minum dulu. " Arsen menerima dan meneguknya sedikit, lalu memberikannya lagi pada Lisa.
Pria itu terus saja menatap Lisa yang dengan telaten menyuapinya. Jangan di tanya, Beo nya di bawah sana sudah mulai beraksi. Tapi kali ini tertolong, karena tertutup rapih dan bersembunyi di bawah selimut tebal. Aman, Lisa tidak bisa melihatnya.
" Terimakasih.. " ucap Arsen.
" Untuk? "
" Karena kamu udah mau merawat ku. "
" Bukannya kamu yang maksa. " sarkas Lisa.
Arsen mendengus. " Jadi kamu gak ikhlas merawat aku? "
" Ikhlas lah.. kalo gak, percuma gak dapet pahala! sia - sia dong! " ketus Lisa. Tangannya masih menyuapi Arsen.
" Aku udah kenyang. "
" Sekali lagi. " Arsen menurut. Pria itu menerima satu suapan terakhir. Tidak lupa menghabiskan sisa air minumnya.
" Aku masih berharap kamu kembali pada ku. " ucap Arsen. Lisa yang sedang merapihkan piring bekas makan Arsen terdiam, tapi mulutnya masih terkunci.
" Aku akan selalu menunggu sampai kapan pun. Satu tahun, dua tahun, lima tahun bahkan sepuluh tahun lagi aku akan tetap menunggu mu. "
" Minum obat. " Lisa tidak menanggapi ucapan Arsen. Wanita itu memilih menghindar dan memberikan obat pada Arsen.
Arsen menggeleng. " Gak. Aku malah kedinginan. " jawabnya jujur.
" Kamu meriang Sen. Badan kamu panas gini. " Lisa mengecek suhu tubuh Arsen dengan menyentuh keningnya.
" Iya meriang... merindukan kasih sayang.. " ucapnya dalam hati. Mana berani Arsen mengatakan hal konyol itu di saat seperti ini. Bisa bisa semburan makian akan menghujani nya.
" Kamu dari tadi belum pakai baju? " Lisa baru sadar, Arsen masih menggunakan bathrobe. " Bentar, aku cari minyak kayu*putih dulu. " Lisa kembali ke kamar untuk mencari minyak angin untuk menghangatkan tubuh Arsen.
" Pakai baju dulu. " Lisa mengambil pakaian tidur milik Arsen.
Lisa ragu untuk membantu Arsen memakai bajunya. Dia yakin, Arsen tidak mengenakan apapun di dalam sana. Lisa belum siap melihat sesuatu yang telah lama ia lupakan. Tapi melihat Arsen menggigil membuatnya tak tega.
" Gak usah ganti gak papa. " Arsen tahu Lisa enggan melakukan nya. " Aku pakai selimut aja. "
" Yang kamu pake juga basah. Lembab, ntar malah makin parah sakitnya. "
" Mau gimana lagi, aku gak bisa pake sendiri. " terdengar sedikit ada paksaan, namun dengan kalimat yang sangat lembut.
" Pake boxer sendiri gak bisa ya? " tawar Lisa. Arsen menggeleng.
__ADS_1
Lisa mengembangkan kedua pipinya. Tidak ada pilihan lain selain dirinya yang membantu Arsen.
" Tapi jangan kaget ya. " ujar Arsen ketika Lisa sudah mendekat dan akan memulai membantunya.
Lisa mengerutkan keningnya. " Kaget apa? "
Arsen hanya mengedikkan kedua bahunya, tidak perlu menjawab, Lisa akan tau sendiri.
Dengan hati yang berdebar Lisa mulai membuka bathrobe yang melekat di tubuh Arsen. Sebelumnya sudah membantu menurunkan kaki Arsen.
" Ck! " decaknya sebal, ketika melihat benda di bawah sana sudah menegak menantang bak menara Eiffel. Sedangkan Arsen hanya menyengir tanpa rasa malu sedikit pun.
" Kamu gak kangen ama dia? " tanya Arsen membuat jantung Lisa berdebar. Sedari tadi mulutnya ia tahan agar tidak mengeluarkan kalimat yang membuat Lisa marah. Namun jiwa Casanova yang pandai membual membuatnya tak tahan membungkam mulutnya.
" Jangan mulai deh! " kesal Lisa. Wanita itu fokus memakaikan boxer, ingin cepat menyelesaikan nya. Sangat tidak nyaman dalam posisi seperti ini. Lisa wanita muda dan sangat normal, melihat milik Arsen membuatnya susah payah menahan gairahnya yang sudah lama ia pendam.
Arsen membantu dengan satu tangannya, agar Lisa tidak terlalu susah. " Akhirnya. " terdengar helaan panjang. Lisa merasa lega.
Arsen terkekeh. " Kamu tergoda kan? "
Lisa mendelik. " Gak tuh! " jawabanya sebiasa mungkin, berusaha menutupi kegugupan nya.
" Olesin minyak dulu biar anget. "
Arsen memejamkan matanya saat Lisa menyentuh dada bidangnya, mengolesi nya dengan minyak angin untuk menghangatkan tubuhnya.
" Udah.. tinggal pake baju. "
" Lisa... " suara Arsen terdengar parau. Kabut gairah menyelimuti nya. Menatap wajah Lisa yang begitu dekat dengannya.
Lisa menghentikan kegiatannya saat tangan Arsen menarik pinggangnya, masuk dalam dekapannya.
" Sen! "
" Sebentar aja Lisa.. aku kangen sama kamu. " lirihnya.
Lisa ingin sekali mendorong pria itu agar menjauh dari tubuhnya. Tapi tak tega mengingat Arsen masih dalam keadaan terluka.
Arsen perlahan mendekatkan wajahnya. Menyatukan bibir mereka, mencari kemanisan madu yang sudah lama tidak mereka rasakan. Lisa diam, membiarkan Arsen memainkan bibirnya. Namun gigitan kecil membuat Lisa ikut membalas permainan Arsen.
" Jangan melewati batas! " Lisa menyudahi ciuman itu saat akal sehatnya kembali. Arsen mendengus kesal karena kegiatan nya terhenti sebelum waktunya.
" Please.... " Arsen memohon.
.
__ADS_1
- TBC -
Apa yang terjadi selanjutnya guys???