Istri Simpanan Sang Casanova

Istri Simpanan Sang Casanova
Tak kenal maka tak sayang


__ADS_3

" Mikha! " Junet berdiri di depan pintu kamar mandi, mengetuk pintu yang tak kunjung di buka. Pria itu tak sabaran untuk menunggu lebih lama lagi. Sudah hampir setengah jam Mikha berada di dalam sana. " Mikha kamu ngapain? lama amat. " seru Junet.


" I-iya bentar lagi. " di dalam sana, rupanya Mikha tengah mengatasi kegugupan nya. Berdekatan dengan Junet membuat Mikha gemetar, apalagi suaminya itu tak malu mengumbar dada bidangnya yang kekar.


Ceklek.. pintu kamar mandi pun terbuka.


" Lama amat? kamu gak papa kan? " tanya Junet khawatir.


" Hehe.. " Mikha hanya menyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya. " Gak kenapa napa kok. "


" Oh.. aku kira kenapa. " Junet.


" Yaudah ayo tidur mas, udah malem. " Mikha beringsut ke ranjang, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


" Loh.. kok malah tidur. " Junet terkesiap, tak rela malam pengantin di lewatkan begitu saja tanpa adanya dessahan dan teriakan menghiasi kamar pengantin mereka.


Mikha hanya diam, memejamkan matanya. seluruh tubuhnya tertutupi oleh selimut. Berharap Junet menunda untuk melakukan malam pertama mereka. Sepertinya Mikha masih takut.


Junet naik ke atas ranjang, merangkak, mendekati tubuh istrinya. Lalu menyingkap selimut yang menutupi wajah istrinya. " Sayang.. ayolah, ini malam pertama kita. " Pria yang masih menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya itu mengecupi wajah Mikha. " Uuhh.. tega sekali. " gerutu Junet. Mikha masih tidak mau membuka matanya. Junet tau, jika istrinya hanya pura-pura tertidur.


Junet merebahkan tubuhnya di samping Mikha. Memeluknya dari belakang, mengecupi puncak kepala Mikha. " Apa kamu takut? padahal itu enak loh.. " rayu Junet.


" Jangan takut, aku gak akan nyakitin kamu. Lihatlah.. aku suami mu.. gak mungkin nyakitin kamu. Lupakan masalalu mu. " bujuk Junet. Takut jika Mikha masih trauma.


Di dalam selimut, Mikha mengigit bibir bawahnya. " Apa aku dosa kalo mengabaikan suami ku? " batin Mikha mencoba untuk tetap tenang. " Semoga aku bisa! "


" Mikha sayang, cantik.. istri ku yang paling cantik.. ayo kita bermain.. " Junet terus saja berceloteh untuk merayu Mikha. " Tak kenal maka tak sayang.. " ujarnya seraya menempelkan sesuatu di bawah sana yang sudah berdiri tegak menantang. " Tuh.. udah ngajak kenalan. "


Mikha mendeliki merasakan nya. " Apa itu? " serunya karena terkejut.


Junet tergelak. "Itu yang bakal buat kamu ketagihan. " jawab Junet. Pria itu tak menyiakan kesempatan. Segera Junet meninndih tubuh istrinya.


" Mas! " tegur Mikha.


" Gak usah takut! aku gak bakal gigit kamu kok. " ujar Junet sebelum membenamkan ciuman mautnya. Benar saja, lama kelamaan Mikha menikmati ciuman dari suaminya. Sungguh memabukkan!


Ciuman yang lembut mulai terasa menuntut. " Mas! " Mikha merengek ketika ciuman itu terlepas. Bibirnya terasa kebas.


" Hehe.. sorry. Abis aku gemes. " ucapnya. " Pelan-pelan deh.. " Junet melanjutkan lagi serangannya. Namun janjinya untuk melakukan dengan pelan-pelan hanyalah bualan semata, nyatanya Junet tak bisa mengontrol diri. Mencium bibir Mikha begitu rakus.


Tidak sampai di situ, ciuman Junet mulai turun. Menyessap leher istrinya hingga memerah. Mikha merasakan sensasi yang berbeda, sentuhan Junet membuatnya mulai mendessah. Kenikmatan terus berlanjut tatkala tangan kekar itu sangat terampil melucuti pakaian Mikha.


Mikha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sangat malu. " Jangan di liatin gitu napa mas! " kata Mikha yang melihat Junet tak berkedip menatap dua bukitnya.


Wajah Junet berbinar mendapati pemandangan itu. Kedua bulatan yang menantang. Ukurannya sangat pas, tidak berlebihan. " Gak usah malu. " Junet tersenyum. " Yummy.. " serunya kegirangan. Melahap keduanya begitu rakus. Mikha terkesiap tak menyangka suaminya akan melakukan hal itu. Namun, kenikmatan yang menjalar membuat Mikha memejamkan matanya. Jemarinya pun sudah mencengkram rambut suaminya.


" Mas.. " desaahan Mikha mendayu-dayu di telinga Junet.


Junet semakin menggila, lupa diri. Membuat Mikha menggelinjang tak karuan. " Tuh kan masih sempit! " ucapnya ketika lidahnya menari-nari di inti Mikha.


" Kita mulai sayang.. " perlahan Junet membuka handuk yang masih melekat di pinggangnya. Mikha memperhatikan itu. Kedua matanya sukses membelalak, nyaris keluar dari tempatnya. Tubuh Mikha kembali gemetaran.


Junet tergelak, tau jika Istrinya terkejut melihat pusaka andalannya. " Gak usah takut. Ini akan sangat nikmat. " ucapnya seraya membenamkan wajahnya di leher Mikha.

__ADS_1


Bibirnya bekerja di atas sana, mengalihkan perhatian Mikha. Sedangkan di bawah sana, pusakanya mulai mencari jalan menuju nirwana.


" Aww! " pekik Mikha yang merasakan sesuatu akan menerobos miliknya.


" Sssttt.. " Junet mengecupi wajah Mikha. " Tenang sayang.. gak akan sakit kok. "


Mikha mengangguk setuju. Junet bersusah payah menerobos. " Ya ampun, lama pensiun jadi gak kreatif nyari jalan sendiri. " batinnya memprotes keahlian pusakanya yang biasanya pandai sekali menerobos jalan menuju surga dunia.


" Awww! sakit mas! " Mikha memukul bahu Junet. Kuku-kuku cantiknya menancap sempurna di kulit Junet. Mikha sampai menitikan air mata. " Katanya gak sakit.. hiks.. hiks.. "


" Maaf.. sayang.. apa sakit banget? " Junet mengelus wajah Mikha, menghapus air matanya.


Mikha mengangguk. " Sakit. "


Junet terdiam, belum memulai pergerakan. " Kok aneh. "


" Maaf.. maaf.. aku terlalu kasar.. Kita lanjut nanti aja ya. " sebenarnya tidak rela menyudahi sesuatu yang belum tuntas. Tapi Junet tidak tega melihat Mikha yang kesakitan karena ulahnya.


Saat Junet ingin mencabut miliknya, pria itu di kejutkan dengan darah segar yang mengalir di bawah sana. " Sayang kamu --" pria itu tidak melanjutkan ucapannya dan langsung menubruk istrinya, memeluknya dengan erat. Memberikan ribuan kecupan di wajah istrinya.


Saking bahagia, Junet melupakan jika di terlalu erat merengkuh tubuh Mikha. Membuat Mikha sesak untuk bernafas.


" Mas! " Mikha mendorong tubuh Junet agar menjauh.


" Maaf sayang, aku terlalu seneng. " Junet mengendurkan pelukanya.


" Yaudah sana, Sakit mas, perih.. cabut aja. Besok lagi. " ujar Mikha.


" Tapi mas-- "


" Awalnya emang sakit, tapi lama-lama jadi enak. Aku jamin deh.. " bujuknya lagi.


" Boong! tadi kami bilangnya gitu, tapi tetep aja sakit. "


Junet mengecup bibir Mikha sekilas. " Sepuluh menit deh.. kalo masih sakit, ntar aku berhenti. Tapi kalo kamu keenakan kita lanjut ya? "


" Iya. "


Dengan senang hati Junet mulai menggerakan pinggulnya. Mikha mulai terbuai dengan kenikmatan itu. Dessahan dan erang*an meramaikan kamar yang sepi dan temaram.


" Terimakasih sayang.. aku yang pertama buat kamu. " ucap Junet setelah mendapatkan pelepasan pertamanya.


" Maksudnya? "


" Aku yang pertama, bukan pria banjingan itu! "


" Kok bisa? " Mikha belum mengerti apa yang di katakan suaminya.


" Gak usah di pikirin. Mending kita lanjut lagi. " Junet meninndih kembali tubuh Mikha yang masih polos.


" Mas! aku capek. " keluh Mikha.


" Bentar doang! "

__ADS_1


***


" Ngapain lu senyum-senyum sendiri! dasar sinting! " seru Arsen. Saat ini Arsen dan Junet tengah sarapan bersama di restoran yang tersedia di hotel tempat mereka menginap.


" Elu ngapain masih di sini? bukannya pulang! "


" Suka-suka lah. " jawab Arsen. Semalam dirinya dan Lisa memutuskan untuk menginap di hotel tersebut.


" Elu sinting beneran ya! dari tadi mesem-mesem mulu. "


" Gue lagi seneng bro! dapet durian runtuh! " Junet.


" Alaah lebay! " Arsen.


" Gue dapetin pera*wan! " seru Junet. Membuat Arsen menghentikan pergerakan tangannya yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya.


" Serius? " tanya Arsen. Junet mengangguk cepat


" Ahhh.. tau gitu gue gak bakalan ngasih Mikha ke elu! " sembur Arsen yang menyesali keputusannya.


" Sialan lu! "


" Berarti -- "


" Dia belum ahli kaya kita dulu jaman SMA. Beg*ok banget sih.. " gumam Junet. " Eh..tapi ada untung nya juga.. gue jadi yang pertama.. gila gue seneng banget! " ucapnya kegirangan.


" Ck! nyesel gue.. " Arsen.


" Gitu amat ama gue lu! cinta gue tulus.. dapetin ori keberuntungan buat gue.. "


" Ya.. ya.. ya.. awas aja elu bikin Mikha nangis, nyakitin dia.. gue orang pertama yang bakal misahin kalian kalo elu bikin kecewa."


" Tenang bro.. gak bakal. Gue janji. "


" Gue pegang janji elu. " Arsen


" Yaudah gue balik ke kamar dulu. Kasian.. bini gue belum sarapan. " Junet berlalu begitu saja meninggalkan Arsen.


Di dalam kamar. Junet masuk bersamaan Mikha yang keluar dari kamar mandi.


" Udah mandinya? "


Mikha mengangguk malu. Kegiatan panas mereka semalam membuat pipi wanita itu memanas.


" Sarapan dulu nih. " Junet meletakkan sarapan yang tadi ia pesan ke atas meja.


Mikha yang memang lapar, langsung melahapnya. Wajahnya masih tertunduk. Sangat malu jika bertatapan dengan suaminya. Junet tersenyum-senyum melihat tingkah istrinya yang malu-malu.


" Udah selesai? " tanya Junet ketika melihat Mikha selesai menenggak segelas air.


Lagi-lagi Mikha hanya mengangguk tanpa bersuara. Junet pun mendekat, lalu berbisik. " Main lagi yuk? "


- TBC -

__ADS_1


__ADS_2