
Sebelum membaca, budayakan Follow dulu. Terus jangan lupa tekan like. komen lebih afdal.. biar penulis semangat nulisnya...
...ππInstagram Author : Srt_tika92ππ...
Selamat membaca......
πππ
Lisa tengah menyiapkan makan malam. Setengah jam Lisa berkutat di dapur. Tidak banyak menu makanan yang ia sediakan, cukup untuk dirinya dan putranya. Doni, adik Lisa kebetulan sore tadi pergi ke luar kota.
Terdengar suara ketukan pintu, pertanda ada yang bertamu. Lisa menghentikan kegiatan menata piring di atas meja, lalu meminta tolong pada King. " King.. " panggil Lisa. " Tolong bukain pintu, ada tamu. " seru Lisa agar King mendengarnya.
" Ya mom. " saut King.
Lisa yang telah selesai menyajikan menu makan malam di atsa meja dengan segera menyusul King. Melihat siapa yang bertamu malam-malam.
" Siapa sayang? " tanya Lisa sembari mendekat.
Kedua matanya membulat sempurna, tubuhnya mematung saat melihat siap yang bertamu. Pria yang ia hindari ada di hadapan nya sekarang. Membawa sebuket bunga di tangannya. Tak lupa menebar senyuman mautnya. Membuat Lisa merasa geram sekaligus muak melihat wajah yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Tidak mau menyambut apalagi mempersilahkan masuk pada pria yang ia benci. Lisa buru-buru kembali masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintunya.
" Lisa.. " panggil Arsen yang terkejut karena Lisa pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Tidak sesuai harapan pria itu. Yang menginginkan sambutan hangat.
Arsen mengejar Lisa. Mengetuk-ngetuk pintu kamar Lisa berharap akan di buka. " Lisa.. buka pintunya..ini aku.. kamu gak lupa kan? ini suami kamu. " ucap Arsen tanpa mengingat bahwa dulu ia pernah melukai wanita itu.
" Daddy.. mommy tidak akan membuka pintunya. Sudah ku bilang kan, mommy tidak mau bertemu dengan daddy. " ucap King yang berdiri di belakang Arsen.
Arsen mendesis. " Maafkan aku Lisa.. kita bicara sebentar.. buka Lisa.. " bujuk Arsen.
Di dalam kamar, Lisa menangis. Kembali teringat dengan luka yang telah di berikan pria itu. Karena pria itu hidup nya yang sudah susah semakin kacau.
Seketika bayangan terlintas, bagaimana dirinya melalui masa kehamilan tanpa di dampingi suami, melahirkan tanpa suami di sisinya. Jika saja Arsen tidak menyakiti dan menduakannya, mungkin rasanya tak sesakit ini. Dan akan membiarkan Arsen tetap di sisinya, mendampinginya.
Lisa memandangi jari manisnya, cincin yang di berikan Arsen masih melingkar disana. Perlahan Lisa melepaskan cincin itu. Tidak mau Arsen salah paham jika masih melihat cincin pemberiannya masih melekat di jarinya. Entah lupa atau apa, Lisa memang tidak pernah melepaskan cincin itu.
__ADS_1
Suara Arsen masih terdengar meminta untuk di bukakan pintu. Namun Lisa memilih berbaring, menutup tubuhnya dengan selimut. Lisa benar-benar tidak mau bertemu Arsen, belum siap.
" Rasanya masih sakit.. " lirih Lisa dengan air mata yang mengalir.
" Daddy.. sudahlah, mommy tidak akan membuka pintu nya. " ucap King pada Arsen.
Arsen menoleh. " Apa semarah itu? mommy pada daddy? " tanya Arsen pada King.
" Iya. Mommy bilang, daddy lebih memilih berteman dengan yang lain dan membohongi mommy. " jawab King.
Arsen teringat kembali akan kesalahannya. Harusnya dia jujur dari awal, tidak menutupi apapun yang malah membuatnya kehilangan Lisa. Seperti nya dia harus berjuang mendapatkan maaf dari Lisa. Ia pikir, menaklukkan Lisa sangat mudah, hanya mengatakan maaf lalu sedikit merayunya. Dan kembali seperti semula. Nyatanya... tidak segampang itu.
" Dad, lebih baik kita makan malam. King sangat lapar. " King menarik Arsen menuju meja makan yang sudah tersaji makanan.
" Daddy gak ***** makan. " ucap Arsen sembari melirik pintu kamar Lisa yang masih tertutup.
" Daddy aneh, bukannya kemarin daddy sangat senang tidak bertemu dengan mommy, tapi kenapa sekarang ingin sekali bertemu dengan mommy? " King sudah duduk di kursi meja makan. King melihat tingkat aneh Arsen.
Arsen menghela. " King, kenapa gak bilang daddy, kalo nama mommy King itu Lisa, bukan Lea? " jika saja King mengatakan dari awal, mungkin semuanya akan lebih mudah.
" Lisa atau Lea, dua duanya memang nama mommy ku. " King sudah mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauknya. Tangan Arsen terulur untuk membantu King mengambilkan nya.
" Kenapa? tampan kan? " Arsen terlalu percaya diri, meski di depan anaknya.
King menggeleng. " Terlihat seperti Mr. Bean.. hahaha.. lucu sekali.. hahaha.. " King tertawa setelah makanannya tertelan. Rambut Arsen benar-benar seperti Mr. Bean, terlihat lepek, mungkin karena terlalu banyak menggunakan pomade.
" Ish.. " kesalnya. Arsen berdiri dari duduknya, mencari sebuah cermin untuk melihat penampilan nya. Saat pergi, dia rasa penampilan nya cukup baik dan menarik, lalu kenapa King mencela penampilan nya?
" Ya ampun... " Arsen terkejut saat menyadarinya. Tidak ada yang berubah, rambutnya masih sama seperti semula. " Pantes, orang rumah tadi ngliatin gue.. " saat Arsen keluar dari kamar, para pekerja di rumah yang tak sengaja berpapasan memperlihatkan tatapan aneh, tapi tidak berani menegurnya. Ternyata penampilan Arsen begitu...
Arsen membilas rambutnya di wastafel, meminta King untuk mengambilkan shampoo dan handuk kecil. Antusias bertemu Lisa membuatnya hilang akal, terlalu bersemangat.
King dan Arsen kini sedang duduk di sofa, menonton televisi. Arsen tak hentinya mengelus kepala putranya dengan sayang, mengecupnya berkali-kali. Rasa sayang pada King menjadi bertambah besar saat tahu jika King adalah putranya dengan Lisa.
" King ngantuk. " sudah jam sembilan malam, biasanya King sudah tidur dari jam delapan.
__ADS_1
" Ayo, daddy temani. "
Pintu kamar Lisa tidak juga terbuka. Lisa tertidur di dalam sana. Akhirnya King tidur di kamar Doni. Karena hanya ada dua kamar di rumah itu. Arsen menemani King tidur, hingga dirinya pun ikut tertidur.
***
Tengah malam Lisa terbangun. Perutnya terasa lapar, karena tadi ia melewatkan makan malamnya.
" King.. " Lisa teringat dengan putranya. Lisa cepat cepat bangun, mencuci muka terlebih dahulu agar penglihatan nya segar kembali.
" Ck! " Lisa berdecak sebal ketika membuka pintu kamar Doni. Pria itu masih disini. Tidur bersama King di kamar adiknya. Lisa menutup pintu kamar dengan pelan agar tidak membangunkan salah satu dari mereka.
Lisa menuju dapur, rasa lapar membuatnya harus mengisi perut dengan segera. Lisa mengambil beberapa lembar roti tawar, lalu di olesi dengan selai. Makanan yang mudah dan cepat untuk saat ini.
Lisa terkejut sepasang lengan kokoh melingkar di perutnya.
" Sayang.. maafkan aku. " ucap Arsen sembari mengecup kepala Lisa.
" Lepas Sen! " Lisa mencoba melepaskan pelukan Arsen. Namun Arsen semakin erat memeluknya.
" Maafkan aku.. tolong maafkan aku. " Arsen memohon agar Lisa bisa memaafkan nya.
Lisa hanya diam. Arsen memeluknya dengan erat. rasa hangat menjalur ke seluruh tubuhnya. Pelukan Arsen mengingatkan rasa itu kembali. Hingga... Lisa tiba-tiba merasakan sesuatu menusuk di belakang sana. Dengan cepat Lisa berbalik lalu...
Plak.
Satu tamparan dari Lisa mendarat di pipi Arsen.
" Dasar mesum! "
Arsen terkejut. Lalu menyadari apa yang membuat Lisa marah. " Maaf sayang.. itu bukan kemauan ku.. dia sendiri yang bangun tanpa aku suruh. "
Lisa tidak peduli, dengan cepat ia masuk ke kamar dan menguncinya. " Dasar otak selang*kangan! "
Arsen mendesis, pintu kamar Lisa tertutup lagi. " Ck! Beo lakunut! " Arsen memandangi pusakanya. Tidak habis pikir, si Beo akan beraksi karena memeluk tubuh Lisa, tanpa ia suruh. Maklum saja, Beo nya sudah lama berpuasa. Atau karena tubuh Lisa yang semakin aduhai? Arsen mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
" Gagal.. "
- TBC -