
Zifana tampak menguatkan hatinya untuk menjalani hari yang begitu panjang ini. Sedari pagi kegiatanya sangat padat.
Dari mengantarkan Elia sekolah, hingga pergi ke sebuah butik ternama. Bahkan, dia juga harus datang ke sebuah salon dan di make up disana.
Kini kebaya berwarna putih yang indah menempel di tubuh Zifana, polesan wajah tipis menghiasi penampilannya. Zifana sangat cantik.
Siang ini Zifana akan melaksanakan ijab qobul pernikahan dengan Delon. Berkas pernikahan sudah diselesaikan oleh Andreas asisten pribadi Delon. Entah bagaimana cara Andreas mempersiapkan, tetapi pada akhirnya siang ini Zifana dan Delon bisa menikah.
Kemana lelaki itu? Bahkan sedari pagi Zifana tak bertemu dengan Delon. Dia hanya meminta beberapa orang berbaju hitam datang kerumah dan memintanya ikut atas perintah tuan Mudanya setelah dia mengantarkan Elia dengan diantar pak supir tadi.
Bahkan Mama Amel juga sudah pergi pagi pagi buta dan entah kemana. Zifana menatap dirinya yang memakai kebaya, ingantanya tertuju pada papanya.
Dia menikah? Lalu, tadi sempat di dengarnya bahwa papanya sudah tidak ada di kediamannya, dan pada akhirnya asisten Delon meminta wali hakim.
Miris sekali hidupnya. Tidak ada yang menemaninya saat ini, dia sendiri pada hari yang seharusnya membahagiakan. Dia sendiri di hari yang sangat penting. Kenapa semua ini terjadi? Sudut mata Zifana berair.
Ucapan Delon semalam mengiang di otaknya. Pernikahan ini memang disembunyikan oleh Delon, Delon tak mau publik tau. Dia hanya istri simpanan.
"Nona, mari kita berangkat," pak supir membuyarkan lamunan Zifana.
Zifana menganggukan kepalanya, pak supir membukakan pintu mobil. Segera Zifana masuk ke dalam mobil. Mereka meluncur ke kantor urusan agama yang letaknya tigapuluh menit dari tempatnya berada.
Tiga puluh menit berlalu, kini mereka sudah sampai di kantor urusan agama. Pak sopir membukakan pintu mobil. Zifana keluar dari mobil, wajahnya tampak gugup, tapi tidak mengurangi sedikitpun kecantikan wajahnya. Walau hatinya hancur dan tertekan, Zifana mencoba untuk tetap tegar.
Di pintu masuk KUA, Zifana disambut oleh lelaki muda dan perempuan cantik. Siapa lagi kalau bukan Andreas dan Viola. Asisten pribadi dan sekertaris Delon.
"Selamat siang, Nona Zifana," Andreas tampak menatap ke arah calon istri ke dua sahabatnya itu.
Pantas saja ingin cepat cepat menikah, Nona muda Sinatria sangat cantik menawan. Delon, kau sangat pandai mengelabuhiku. batin Andreas.
"Mari kita masuk Nona," ucap Viola sambil menyodorkan tangan. Mempersilakan Zifana untuk masuk.
Andreas membimbing Zifana untuk masuk, diikuti oleh Viola. Zifana menekan hatinya untuk kuat, meminta matanya untuk tidak menangis. Dia mengikuti langkah Andreas menuju ke sebuah ruangan.
__ADS_1
Di sebuah ruangan telah duduk dengan rapi seorang lelaki tampan dengan tuxido putih.
Sudah duduk juga penghulu, dua orang laki laki yang kemungkinan adalah saksi, dan disampingnya ada satu orang yang mungkin adalah wali hakim baginya. Dan lagi, satu orang yang pastinya adalah pencatat akta pernikahan.
Semua orang menoleh saat pintu terbuka, semua mata tertuju pada sosok cantik yang baru datang itu kecuali Delon.
"Silahkan duduk, Nona," sambut pak penghulu sambil menyodorkan tangan ke arah samping Delon. Zifana mengangguk, dia berjalan dan duduk di samping Delon. Dia menunduk dan tak melirik sedikitpun ke arah Delon.
Delon juga tak melirik sedikitpun, dia hanya ingin apa yang seharusnya terjadi segera terlaksana agar bisa cepat meninggalkan acara ini.
"Baik, karna semua sudah berkumpul, mari kita laksanakan pernikahan ini," ucap pak penghulu.
Dengan suara berat dan lantang pak penghulu dan Delon mengucap ijab qobul pernikahan.
Kata Sah keluar dari para saksi disana. Zifana menghela napas panjang, kini dia hanya bisa memejamkan matanya. Hatinya terasa sesak dan hancur. Kini dia sudah sah menjadi seorang istri sah, bahkan istri kedua dari orang yang tidak dikenalnya. Tak ada lagi mimpi yang saat ini dia harapkan, satu tahun dia harus mengubur semua impiannya.
"Tuan Delon, silahkan mencium kening istrinya,"
Delon melirik ke arah Andreas yang memegang kamera berniat mengabadikan momen ini. Delon tampak geram, tapi marah rasanya tidak mungkin di depan banyak orang.
Pada akhirnya Delon menatap ke arah istri keduanya itu. Zifana yang menunduk mengarahkan wajahnya ke arah Delon.
Dengan perlahan Delon memegang dahi Zifana, menyingkap kerudung yang menghalanginya. Zifana terus menunduk hingga Delon tak bisa menatap matanya, tak leluasa juga memandang wajah Zifana. Dengan keraguan Delon mengecup kening Zifana dengan lembut dan lama.
Deg
Jantung Zifana berdesir ngilu, dia memejamkan matanya. Perasaan aneh merayap di hatinya. Begitu hangat, tapi juga terasa sesak. Air mata Zifana tak bisa ditahan. Bayangan papa mama seolah berada di pelupuk matanya.
Keduanya terdiam dalam posisi yang intim ini, Delon menatap wajah Zifana yang cantik dan memejamkan matanya karna air mata itu. Dia diam dan terpaku, ini bukan kepalsuan. Zifana benar benar menangis. Hatinya sedikit bergetar.
Setelah beberapa saat, Delon mengakiri kegiatan itu. Zifana membuka matanya, meraih tangan Delon dan mencium telapak tangan Delon dengan lwmbut.
Deg
__ADS_1
Delon tertegun dengan perlakuan Zifana, Desiran aneh merayap dalam benaknya.
"Oke, karna sudah selesai pengambilan gambarnya, silahkan pak penghulu kami serahkan waktu dan tempatnya pada anda kembali," ucap Andreas.
Pak penghulu mengangguk dan memberi nasehat pernikahan. Beliau juga memberikan buku nikah. Zifana dan Delon hanya terdiam dan mendengar apa yang dikatakan oleh pak penghulu.
Setelah semuanya selesai, satu persatu orang meninggalkan ruangan itu. Hanya ada Delon dan Zifana yang tertinggal disana.
Mereka terdiam, hingga pada akhirnya Delon menatap ke arah istri keduanya itu.
"Aku harus pergi ke kantor kembali, tiga hari ke depan Elia dan Mama ada acara keluarga di Singapura. Sudah sepulang sekolah tadi mereka berangkat, jadi hari ini kau menginap di apartemen saja. Ingat kau hanya istri simpanan dan kau dibutuhkan hanya karna Elia. Mansion keluarga Milantama hanya untuk istri pertama, jadi kau harus tau diri," ucap Delon.
"Oh iya, ini tasmu ada di mobil. Mungkin kau membutuhkannya," ucap Delon lagi kemudian meninggalkan ruangan.
Zifana meneteskan air mata yang sedari tadi dia tahan. Dia wanita dan dia juga punya hati. Di hari pernikahannya dia sendiri, tanpa papa, mama, kakak, bahkan tanpa Elia. Dia ditinggal suaminya. Zifana memukul dadanya yang terasa sesak. Takdir macam apa ini?
Zifana mencoba menenangkan hatinya dan mengusap air matanya. Sepertinya pulang lebih enak, dia bisa tidur dan mengistirahatkan badannya.
Segera dia berjalan keluar dengan paperbag ditangannya yang berisi beberapa berkas penting dan buku nikah.
"Selamat siang Nona, mari saya antarkan ke apartemen," ucap pak supir.
Zifana menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam mobil.
"Nona, ini tas anda," pak sopir menyerahkan paper bag pada Zifana. Zifana mengulurkan tangannya dan menerima paperbag itu.
"Terimakasih pak,"
ucapnya. Pak supir segera melajukan mobilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, komen, hadiah... mana.. wkwkwk
__ADS_1