
"Aku akan mengakhiri semua dengannya, karna aku rasa keberadaanmu sudah lebih dari cukup untukku dan Elia," ucap Delon lagi. Delon ingin memastikan, apa saat itu pendengarannya salah? Atau pendengaran Gisel yang salah?
Vely menatap ke arah Delon dengan tatapan yang lembut.
"Kau kenapa baby? Kenapa kau seperti terkejut? Bukankah ini adalah impian kita, hidup bahagia bertiga, aku rasa kita sudah tidak perlu keberadaanya. Elia akan hidup denganku dan denganmu. Bukankah ini yang kau mau saat kau mengungkap semua isi hatimu pada Gisel?" tanya Delon dengan lembut.
Deg
Vely seakan murka, dongkol. Bagaimana ini terjadi? Gisel sudah pulang? Sejak kapan? Walau bagaimana kedongkolan Vely dalam hati, tetapi wanita itu mencoba untuk tenang dan tak memperlihatkan di depan Delon.
"Apa yang dikatakan Gisel?" tanya Vely tampak tenang.
"Dia hanya tak mau melihatmu bersedih, dan akupun menyetujui apa yang dia mau. Bukankah dengan melepas wanita itu akan membuatmu bahagia?" tanya Delon.
Vely mengepalkan erat tangannya. Kenapa pertanyaan Delon seperti jebakan? Apa yang harus dia katakan?
"Aku bahagia," sahutnya. Delon tersenyum, etah senyuman yang bagaimana. Dia mengusap rambut Vely dan menatap wanita itu dengan tenang.
"Kita tunggu Elia di sana, aku tidak sabar melihat putri kecil kita berada dalam gendonganmu. Dalam belaian kasih sayangmu, menjadi putri kecil yang bahagia dengan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya," ucap Delon sambil berlalu dan menuju ke arah kursi. Netranya melirik Vely yang masih terdiam. Dia tau betul, gerak gerik dari Vely yang terasa sangat aneh.
"Sayangnya Elia tidak berarti apapun bagiku, dan semakin ke sini aku semakin ingin menghancurkanmu lebih cepat Tuan Delon," lirih Vely sambil mengepalkan tangannya, menatap Delon yang berjalan menjauh darinya. Dada Vely bergemuruh, kenapa dari dulu menghancurkan Delon tak semudah yang dia pikir.
Mungkin dia berhasil menipunya, lalu apa dia juga bisa menghancurkannya? Vely menggelengkan kepalanya. Rasanya dia ingin menceritakan semua keluh dan kesahnya pada Steve. Dengan langkah tenang Vely mengikuti langkah Delon yang kini sudah duduk di sebuah bangku.
Vely duduk di samping Delon, sepertinya Delon mencurigainya dan dia sadar itu. Vely merebahkan tubuhnya, meletakan kepalanya di pangkuan Delon. Sepertinya dia harus berbaik baik hati agar Delon menghilangkan semua pikiran jeleknya.
__ADS_1
"Aku merindukan Elia, bahkan sangat merindukannya. Akan tetapi besok aku ada kontrol beb, dokter bilang karna aku habis perjalanan aku harus mengecek kondisiku untuk besok," ucap Vely.
"Aku akan mengantarmu," jawab Delon.
"Aku takut merepotkanmu," ucap Vely sambil mengusap pipi Delon.
"Tapi aku tidak merasa direpotkan," jawab Delon.
"Tapi aku bisa minta antar sopir," ucap Vely.
Delon diam, sejak dulu Vely selalu menolak jika dia ingin mengantar. Bahkan dia bangga Vely seperti wanita mandiri yang seolah tak mau merepotkannya. Tapi saat ini, kenapa tanggapannya berbeda, penolakan Vely bukan di anggap karna Vely mandiri. Malah dia merasa Vely sengaja melakukan itu, saat ini yang dia inginkan adalah seperti pasangan lain yang bahagia bersama dengan anak dan istrinya.
Bahkan, Demi kemauan Vely dia dianggap tak mau menampakan istrinya ke publik. Namanya sedikit jelek karna itu pun dia abai.
"Apa kau yakin tak mau aku antar?" tanya Delon seakan kecewa.
Delon menganggukan kepalanya. Vely merasa lega, sebisa mungkin dia tak mau publik tau tentang dirinya. Dia tak mau identitasnya sebagai model terkuak. Dia tak mau juga pernikahan Delon dan dirinya yang sudah berstatus bercerai itu dikuak wartawan nantinya, mengingat publik di negara seberang sudah tau pernikahannya dengan Steve.
"Papa,"
suara yang terdengar menggemaskan terdengar di telinganya. Delon menoleh. Sedang Vely bangun dari pangkuan Delon. Keduanya menatap ke arah balita yang hampir saja genap lima tahun berdiri di depan pintu.
Mama Amel berdiri berdampingan dengan Andreas di sana.
Segera Vely dan Delon berdiri dan merentangkan tangannya. Gadis kecil itu berlari dan berhambur dalam pelukan papanya. Menyampaikan rindu karna hampir lima hari tak bertemu. Menyampaikan sejuta rasa kangen dalam hatinya.
__ADS_1
Vely hanya menghela napas panjang, sial sekali gadia kecil itu tak meliriknya sama sekali.
"Papa, Elia lindu papa dan mama," ucapnya sambil melepaskan pelukan.
Delon tersenyum dan berjongkok menatap putrinya.
"Mama juga sangat merindukanmu," jawab Delon. Vely tampak sedikit berbinar saat dirinya merasa tidak diacuhkan.
"Sayang, sini, mama juga sangat merindukanmu," ucap Vely sambil berjongkok di samping Elia.
Elia menoleh, dia merapat ke arah Delon dan melingkarkan tangannya di leher Delon dengan manja.
"Tante siapa?" tanya Elia.
Deg
Delon dan Vely saling berpandangan, rasa perih muncul dalam benak Delon. Dia baru saja seperti diingatkan bahwa selama ini vely tak pernah mengasuh putrinya, bahkan sampai sebesar ini putrinya tak mengenal. Bukankah ini menyakitkan? Seharusnya Vely menjaga putrinya entah seberapa waktu dia luangkan, walau dia sakit? Seharusnya tidak menjauh seperti yang telah dia lakukan selama ini. Lalu, kenapa Delon selama ini tak sadar dan malah mendukung?
Sekarang, saat Elia tak mengenal ibunya, siapa yang akan dipersalahkan?
"Tante? Sayang, ini mama," ucap Vely terdengar menyedihkan.
"Ini mamanya Elia," ucapnya lagi.
Elia terdiam dan mengeratkan pelukannya pada Delon.
__ADS_1
"Mama Elia, mama Zifana,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...