Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Telaga


__ADS_3

"Ingat, sekarang kau adalah milikku. Aku bebas melakukan apa yang aku inginkan,!" seru Delon lagi. Zifana memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.


"Tapi aku tidak bisa hidup sebagai orang ke tiga di antara kau dan istrimu, sebaiknya kita berpisah," ucap Zifana yang kini menatap jauh ke sana.


Delon tampak diam, ucapan Zifana mengingatkan penghianatan yang dilakukan oleh Vely. Bukankah Vely telah menceraikannya sejak tiga tahun lalu? Tiga tahun pula menjadi lelaki bodoh yang dibutakan oleh cinta yang nyatanya berbalas dengan sebuah penghianatan. Membuat hatinya saat ini begitu sakit. Delon mengepalkan tangannya, wajah Vely mengiang diotaknya. Tapi, dia tak mau Zifa tau tentang ini. Yang terpenting baginya, Zifa ada disampingnya. Menjadi patnernya.


"Bukankah sedari awal kau tau itu, lalu kenapa tidak mempermasalahkannya sedari awal?" tanya Delon lebih santai.


Netranya memandang ke arah sana. Telaga yang indah, tempatnya menenangkan diri.


Lima tahun merasa menjadi suami dari Vely, ditempat ini dia meluapkan kesedihan, meluapkan kekesalan yang sebenarnya dia rasakan sejak dulu. Rumah tangga yang baginya hambar, tanpa kebahagiaan. Dan ternyata karna ada penghianatan.


"Memang sedari awal aku tau itu, tapi saat itu kau bilang istrimu di luar negri. Bukankah saat ini dia kembali? Lagi pula saat itu aku hanya memikirkan Elia, Jangan menyakiti istrimu atas keberadaanku. Karna sesungguhnya, tak ada satupun istri yang rela suaminya mendua. Aku cukup tau posisisku," ucap Zifana.


Deg


Hati Delon tampak bergetar, ucapan Zifana baginya sangat dalam. Kenapa begitu bodoh dia? Harusnya dia menyelidiki Vely dari dulu, jika benar Vely menyayanginya, tak akan mungkin dia meminta dirinya menikah lagi.


"Mungkin memang dia ada diantara kita, tapi itu adalah urusanku. Kau tidak perlu hawatir tentang itu. Yang perlu kau lakukan kau tetap harus berada di sampingku, sebagai istriku, sebagai mama Elia. Meskipun status kita tak ada satupun orang yang tau," ucap Delon sambil menatap ke arah Zifana.


Zifana tampak terdiam, dan menatap ke arah Delon dengan tenang.


"Lagi pula saat ini kau dan aku terlibat dalam satu proyek bersama, itu artinya tak akan ada masalah yang terjadi diluaran sana," ucap Delon lagi.


Zifana memalingkan wajahnya, dia hanya bisa menghela napas panjang. Bagaimana bisa Delon berkata demikian? Kenapa dia seenteng itu mengatakan ini?


"Tapi aku,,," Zifana hendak mengatakan sesuatu. Akan tetapi Delon seolah tak memberinya ruang. Delon mengarahkan telunjuknya ke arah mulut Zifana sehingga wanita cantik itu tak bisa berkata sedikitpun.


"Aku tidak butuh banyak protes darimu, lakukan apa yang aku minta!" sentak Delon.


"Kau meminta aku melakukan sesuatu, tapi dua permintaanku saja kau tak mampu memenuhinya! Mana adil," sentak Zifana juga.


Delon menghela napas panjang, dia menatap ke arah Zifana dengan sorot mata tenang. Mungkin Zifana begini karna sikapnya yang terlalu kasar dan egois. Jika dirinya bisa bersabar sedikit, mungkin Zifana bisa sedikit betah didekatnya.


"Jangankan dua, lima saja akan aku berikan. Tapi tidak untuk menceraikanmu. Dengar baik baik Nona Zifana, kau istriku. Dan selamanya akan seperti itu, jangan menawar lagi," ucap Delon sambil menarik tangan kanan Zifana. Menggenggap erat telapak tangan yang halus itu.

__ADS_1


Zifana tampak terkejut, setelah marah marah tak karuan, kini Delon bisa setenang ini?


"Kita mau kemana Tuan?" tanya Zifana.


Delon berhenti dan menatap Zifana dengan sorot mata yang tenang.


"Tak bisakah memanggilku dengan panggilan yang lebih enak di dengar? Aku punya nama," ucap Delon sambil menatap Zifana yang kini tampak tenang juga.


"Kita mau kemana Tuan Delon?" tanya Zifana sambil memutar bola matanya dengan malas. Delon tampak mengusap kasar wajahnya.


"Bukan begitu," protesnya.


"Lalu apa?" sentak Zifana. Delon memejamkan matanya, sebenarnya kesabarannya teruji. Akan tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.


Zifana mengernyitkan dahinya. Apa Delon baik baik saja? Tumben sekali tidak membentak bentak lagi


"Kakak?" tanya Zifana.


Delon terdiam, dia terus menggenggam tangan Zifana dan berjalan menuju ke arah mobil. Zifana yang sebenarnya gugup mengikuti langkah Delon dan memikirkan satu panggilan yang tepat untuk memanggil suaminya.


Andreas yang bersandar di pintu mobil tampak tersenyum saat melihat Delon dan Zifana tampak mesra dan berjalan ke arahnya.


Andreas memberikan kunci mobil pada Delon. Wah, sangat membahagiakan saat Delon senang hatinya. Pasti dia akan melakukan hal diluar dugaan. Andreas tersenyum senyum sendiri.


"Aku berterimakasih Delon, tau saja aku sangat lelah," ucap Andreas.


Delon menghela napas panjang dan menatap ke arah asisten pribadinya itu.


"Aku memang akan mengendarai mobil sendiri, tapi kau juga tidak diperbolehkan untuk di belakang," ucap Delon kemudian membuka pintu dan meminta Zifana untuk masuk.


Zifana menurut saja, dia menatap ke arah Andreas yang tampak pias. Tapi dia tak mau terlibat dalam percakapan dua orang itu.


"Apa maksudmu?" tanya Andreas tak mengerti.


"Apa kurang jelas? Aku bilang aku mau menyetir sendiri, itu artinya kau harus pulang sendiri," ucap Delon dengan tenang.

__ADS_1


"Apa?" kejut Andreas.


Delon terkekeh pelan dan menatap Andreas dengan senyuman mengejeknya.


"Itu hukuman yang pantas untuk orang yang jail sepertimu. Aku tau, kau sengajakan melakukan hal tadi?" ucap Delon kemudian berjalan ke arah Kemudi.


Andreas membelalakan matanya, apa? Dia harus ditinggalkan? Tega sekali bosnya itu, gerutu Andreas.


"****," umpatnya. Kalo tau gini dia tak akan melakukan hal tadi. Dia pikir akan mendapatkan honor karna membuat mereka akur. Tapi kenapa malah diginggalkan?


Delon melajukan mobilnya dengan tenang, sedangkan Zifana menatap ke arah sepion yang memperlihatkan Andreas yang tampak kesal.


"Kak, apa tidak kasian? Disini jauh dari jalan raya, kasian kan kalau Andreas harus ditinggal," ucap Zifana dengan tenang.


Deg


Jantung Delon tampak bergetar hebat, dia bahkan sangat gugup karna panggilan yang dilontarkan oleh Zifana. Bagaimana bisa dia bahagia seperti ini? Bahkan, semalam kehilangan Zifana membuat dirinya prustasi.


"Biar saja, sesekali dia harus dihukum karna ulahnya yang berbahaya seperti itu, anggap saja itu hukuman karna membuatmu ketakutan tadi," ucap Delon.


Zifana terkejut dan menatap ke arah Delon. Tak menyangka saja Delon semanis ini kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Steve tampak duduk di kursi putarnya dan memijit pelipisnya. Hatinya yang sempat kacau kini legalah sudah. Walau bukan Vely, setidaknya ada Zie yang menggantikan. Sehingga dia tidak jadi terdenda dengan uang yang banyak dari Wilantama grup.


"Sayang, bahaimana?" Vely yang baru saja masuk tampak hawatir dan mendekat ke arah suaminya.


"Semuanya bisa teratasi," ucap Steve. Vely merasa lega dan menatap suaminya.


"Siapa yang menggantikan aku?" tanya Vely.


"Nona Zie," ucap Steve dengan memijat pelipisnya.


Deg

__ADS_1


Vely memejamkan matanya, Zie? Kenapa dia tampak tak suka dan tak terima?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2