
Ke tiga orang itu tampak berjalan ke ara lokasi pemotretan dan suting iklan.
Steve kini berjalan di sebelah kanan Zifana. Sedangkan Willy berada di belakang mereka. Willy menghela napas panjang, dia merasa ada yang tidak beres pada Steve. Dia rasa, sejak bertemu dengan Zifana. Lelaki itu tampak antusias sekali, bahkan sengaja mendekat dekat dengan sahabat baiknya itu.
Willy hanya bisa diam. Mungkin itu jauh lebih baik dari pada harus berpikir yang tidak tidak. Selain pemilik Steve grup yang menyediakan segala yang berkaitan dengan proses syuting. Dia memang juga salah satu aktor dalam proses periklanan tersebut.
Willy tampak menautkan alisnya, tiba tiba saja teks berubah setelah pemeran wanita digantikan oleh Zifana? Apa ini sebuah modus? Willy semakin berpikir yang tidak tidak. Tapi, segera lelaki tampan itu menepis segala pikiran yang merajai hatinya.
Tak berapa lama kemudian, sampailah ke tiga orang penting itu di arena syuting. Beberapa mobil berjajar rapi disana. Zifana tampak takjub dengan mobil mobil mewah yang ada di sana.
"Selamat pagi Tuan Steve, Tuan Willy," sapa seorang sutradara yang akan menemani mereka dalam pemotretan dan syuting ini.
"Pagi Pak," jawab mereka. Pak sutradara mengalihkan pandangannya dan menatap wanita cantik di depannya. Wanita yang menyilaukan mata dan memiliki aura bintang yang begitu tampak.
"Anda yang akan memainkan peran?" tanyanya. Zifana menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Senang bekerja sama dengan anda," ucapnya.
"Senang juga bekerjasama dengan anda Tuan," sahut Zifana dengan tenang.
"Oh ya, Tuan Steve, Tuan Willy sebaiknya kita segera melakukan prosesnya sekarang juga. Menyingkat waktu, karna scedule kita syuting sudah harus selesai sore nanti. Dan besok, harus sudah mulai memasarkannya," ucap pak sutradara.
Pada akhirnya Steve dan Zifana mengangguk dan menyiapkan persiapan. Sedangkan Willy kini berdiri membersamai proses syuting.
Zifana dan Steve kini meletakan sebuah naskah dan kini berjalan ke luar ruangan. Untuk adegan pertama, Steve dan Zifana berada di luar Dealer memperlihatkan kawasan Dealer yang menjadi objek pemasaran iklan mereka.
Zifana kini melakukan adegan demi adegan dengan lihai dan lancar. Sedangkan Steve yang memang sebenarnya tidak memiliki bakat di bidang ini tampak melakukan beberapa kali kesalahan.
Beberapa kali sutradara kagum melihat penampilan Zifana yang sangat sempurna. Sutradara yakin ini akan menjadi sebuah iklan yang menakjubkan. Kenaturalan Zifana dalam konten iklan membuat iklan lebih hidup dan alami.
"Sempurna, kenapa kita tidak bertemu dengan Nona Zifana sebelumnya? Dia sangat berbakat," ucap sang fotografer.
"Benar, dia sangat lihai dan tidak susah memainkan naskah," ucap sang sutradara sambil tersenyum.
__ADS_1
"Perlu kita ajak kerjasama kayaknya bang, setelah ini," ucap fotografer lagi.
"Ide yang bagus," sahutnya.
Setelah melakukan syuting pengenalan Dealer ZA grup, mereka break sejenak. Steve tampak tersenyum bangga atas apa yang dilakukan oleh Zifana.
"Kau sangat berbakat Nona," pujinya.
"Jangan berlebihan Tuan, aku hanya memainkan yang ada pada naskah saja," jawab Zifana sekenannya. Steve tampak sedikit kesal, dia selalu diabaikan wanita di depannya.
Zifana celingukan, mencari keberadaan Willy. Willy entah kemana karna tadi dia keluar ruangan bersama dengan beberapa rekan lainya. Mungkin dia sibuk, pikir Zifana.
Selesai istrirahat, keduanya segera berganti kostum untuk melakukan take berikutnya. Setelah mereka siap, lagi lagi mereka teepukau dengan penampilan yang sangat ayu dengan balutan baju santai.
Mereka akan berfoto di depan mobil yang sedang dipromosikan. Dan juga memperkenalkan dalam mobil dan fasilitas yang ada di mobil ini. Disini Steve dan Zifana terlibat banyak dialog dan interaksi. karna disini adalah bagian inti promosi mobil itu sendiri.
Zifana dan Steve sibuk dalam adegan pengambilan gambar, mereka sangat konsentrasi sehingga tidak melihat jika keduanya tengah di tatap oleh sorot mata Delon dari kejauhan sana. Sorot mata yang entah mengisyaratkan apa.
Delon menghela napas panjang, Zifana sangat cantik, dia sangat lihai dan luwes sekali membawakan perannya. Bahkan, Zifana dan Steve tampak serasi.
Sorot mata Delon sangat sulit untuk diterjemahkan, sebuah hawa yang panas muncul merajai hatinya melihat beberapa adegan disana.
"Tuan Willy, kau memanggilku untuk melakukan syuting bukan? Lalu, masih berapa lama aku harus menunggu dan melihat mereka berkolaborasi?" tanyanya pada Willy dengan suara dinginnya.
Tatapan matanya tetap menatap ke arah sana, dia mengepalkan tangannya menahan sesak di dadanya.
Andreas menatap ke arah bosnya. Dia menyadari ada hal yang tidak beres di hati bosnya. Dia hanya bisa menahan senyumannya.
"Panas bos cuacanya, sepertinya AC harus dibesarkan suhunya," ucap Andreas tepat di samping telinga Delon. Dan membuat Delon mengeratkan rahangnya. Dia diam.
"Iya Tuan, itu take terakhir. Dan selanjutnya Tuan Delon beserta Nona Zie," jawab Willy yang merasa bersalah karna Delon lama menunggu.
Delon menghela napas panjang, ada rasa gugup di hatinya. Beradu acting dengan Zifana? Pandangan matanya tetap ke sana.
__ADS_1
Zifana yang memandang ke arah belakang kini tampak bertemu pandang dengan Delon saat melakukan adegan terakhir. Ada rasa gugup saat melihat pandangan mata Delon itu. Segera dia mengalihkan pandangannya.
"Cut," ucap sutradara mengakhiri adegan tersebut.
Beberapa crew bertepuk tangan riuh sambil mengacungkan jempolnya. Tak menyangka beberapa tema sudah terselesaikan dengan waktu singkat karna kepiawaian dari modelnya.
Sutradara berdiri dan menghampiri Zifana dan Steve.
"Tuan Nona, akhirnya shot ini selesai dan sangat sempurna. Sebaiknya istrirahat sejenak dan bersiap untuk take selanjutnya, saya akan menemui Tuan Delon Dulu," ucapnya.
Zifana dan Steve mengangguk. Pak sutradara segera melangkah dan mendekat ke arah Delon disana.
"Tuan Delon," sapanya sambil mengulurkan tangannya.
"Sudah selesai?" tanya Delon dingin sambil menyambut uluran tangan Delon.
"Sudah Tuan, tinggal shot terakhir. Anda yang berkolabirasi dengan Nona Zie. Biarkan beliau istirahat sejenak dan mengganti costumnya," ucap sutradara sambil menatap Zifana yang kini tampak memisah dari kerumunan dan menuju ke ruang make up bersama dengan Steve.
Delon terdiam, dia memejamkan bola matanya. Pikiranya melayang jauh saat memikirkan teks iklan yang dibuat oleh Andreas dan di ACC oleh WL dan Steve grup itu.
Tema yang dibuat Andreas adalah konten sebuah lamaran pernikahan yang memberikan mobil pada kekasih hatinya. Delon menghela napas panjang. Akan seperti apa nanti?
Tangannya terkepal, rahangnya mengeras sambil melirik ke arah Andreas. Dia seperti dikerjain oleh asistenya itu. Dia baru saja membuka teks itu sejam yang lalu. Terbayang percakapan beberapa hari yang lalu.
"Ndre, bisa kau bacakan teks syuting? Aku belum sempat membacanya," ucap Delon saat berkutat dengan pekerjaannya.
"Tenang, tidak baca tak masalah. Aku yakin kau bisa dan kau tidak perlu belajar, buka saja sebelum berackting. Aku jamin kau mampu dan sudah lihai," jawabnya.
Delon membuka matanya dan bertemu pandang dengan Andreas yang tersenyum seolah mengejek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andreas minta diapakan? wkwkwkwk.
__ADS_1