Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Tidak bertemu


__ADS_3

"Sebaiknya kita segera berangkat," pinta kakek. Mereka segera keluar dan menuju mobil masing masing.


Mereka menuju ke pusat kota, membahagiakan Elia. Menikmati malam minggu dengan tenang.


Setelah kepergian mereka, tak berapa lama kemudian sebuah mobil berhenti disebuah mansion mewah itu.


Zifana yang kini menatap sebuah papan informasi alamat, tampak mencocokan alamat yang tertera dengan alamat yang ada di berkas yang dia bawa.


"Bagaimana Zie?" tanya Willy sambil mengamati wajah Zifana yang tampak gelisah.


"Ini benar alamatnya Wil, aku masuk dulu ya," ucap Zifana. Hatinya bahagia sudah menemukan alamat yang dia cari. Berharap sekali bahwa memang ini adalah rumah sahabat kakeknya.


"Aku temani," ucap Willy dan diangguki oleh Zifana.


Kedua orang itu tampak keluar dari mobil, mereka segera menapaki anak tangga demi anak tangga menuju ke pintu utama. Zifana tampak takjub dengan pemandangan yang ada disini. Ini mengingatkannya pada kehidupan masa lalu, bergelimah dengan harta. Tapi, saat itu dia tidak setenang ini. Sangat sombong dan arogan.


Zifana telah sampai di depan pintu, dia mengulurkan tangannya untuk menekan bel, tak berapa lama kemudian munculah salah satu pelayan dari balik pintu.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Assalamualaikum. Selamat sore, saya mau bertemu dengan Kakek Wilan. Apa benar ini kediaman beliau?" tanya Zifana.


"Waalaikumslam, benar sekali Nona, tapi beliau sedang keluar untuk makan malam nanti beserta keluarga. Apa ada pesan yang mungkin nanti bisa saya sampaikan?" tanya pelayan itu dengan ramah.


Zifana tampak lesu, dia menatap jam yang melingkar di tangannya. Ini masih menunjukan pukul 16.00. Jika tujuan mereka makan malam, sudah pasti akan lama jika menunggu. Lalu, apa yang harus dia lakukan?


Zifana tampak menghela napas dalam dalam kemudian mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah Foto kakeknya dan juga kartu namanya.


Willy hanya menatap wajah Zifana yang tampak kecewa itu. Sebenarnya ingin memeluk wanita itu untuk menguatkan. Tapi, dia rasa Zifana sangat menjaga jarak. Dan entah itu karena apa.

__ADS_1


"Kalau begitu saya titip ini Mbak. Sampaikan pada kakek Wilan, jika beliau mengenal lelaki yang ada di dalam foto, maka dengan sangat saya minta tolong untuk menghubungi saya. Jika tidak, maka bisa membuangnya," ucap Zifana.


Pelayan itu mengambil barang yang diberikan oleh Zifana, mengamati sejenak kemudian tersenyum tipis.


"Baik Nona, saya akan sampaikan nanti," ucapnya dengan ramah.


"Kalau begitu terimakasih Mbak. Saya pamit Mbak, assalamualaikum," ucap Zifana.


"Sama sama, waalaikumslam," jawab pelayan itu.


Willy dan Zifana memutar arah dan menuju ke arah mobil. Zifana memejamkan matanya. Kecewa pasti, tapi dia mencoba untuk tenang.


"Lalu kita harus kemana Zie?" tanya Willy pada Zifana.


"Kau antar aku ke danau, mau?" tanya Zifana.


"Oke, satu jam saja lalu aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?" tanya Willy.


"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri," ucap Willy.


"Tapi aku butuh waktu sendiri, bisakah kau mengerti?" tanya Zifana yang sedikit memaksa.


"Aku takut terjadi apa apa padamu, sepertinya kau sedang tidak baik baik saja," ucap Willy tak mau kalah.


"Wil, tolong mengertilah. Aku tau kau baik, tapi aku mohon kali ini saja kau mengerti. Aku butuh sendiri, apa dari sini saja aku sendiri?" tanya Zifana.


Willy tampak mengepalkan tangannya. Rasanya tak bisa dia melihat Zifana seperti ini. Tapi menuruti apa kata Zifana sepertinya jauh lebih baik.


"Oke, aku akan mengantarmu," ucap Wily.

__ADS_1


Willy menancap gas mobilnya menuju ke danau yang tak jauh dari tempatnya berada.


"Pergilah Wil, terimakasih telah mengantarku," ucap Zifana.


Willy menganggukan kepalanya dan menancap gas mobilnya.


Zifana menerawang jauh, memandang hamparan danau yang indah. Hatinya sesak, hatinya patah. Hatinya sedih, bahagia, menangis. Air matanya mengalir. Mengingat mama, kakek dan neneknya yang telah tiada. Mengingat papa dan kakak yang jahat padanya, mengingat Delon yang hanya menikah kontrak dengannya. Tapi, senyumnya mengembang saat mengingat Elia.


"Mama merindukanmu," lirihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vely dan Steve telah menyelesaikan ritual ranjang dengan lama. Kini keduanya sudah selesai membersihkan diri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00.


"Proyek dengan Wilantama sudah berakhir. Tinggal menunggu honor. Willy yang bertugas memasarkan, tim editor sudah menyelesaikan tugasnya. Jadi, kau bisa mengambil sertifikat perusahaan yang diberikan Delon, dan pergi secepatnya. Bagaimana?" tanya Steve.


"Ya, aku akan melakukannya. Lagi pula aku sudah muak hidup diantara mereka. Yang jelas dalam satu minggu kedepan. Aku pastikan akan menghancurkan Delon," ucap Vely.


"Aku setuju," ucapnya.


Tak lama dari itu, ponsel Steve berdering. Satu pesan wa masuk dalam ponselnya.


target sedang sendiri, dia dari danau. Mungkin akan segera pulang bos.


Steve tersenyum sinis dan menatap ke arah Vely.


"Aku harus pergi, ada urusan sebentar," ucapnya sambil mengecup singkat puncak kepala Vely.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2