Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Terbakar


__ADS_3

"Silahkan duduk, Tuan Delon," ucap andreas lagi saat Delon tak mendengarkan apa yang dia ucapkan dan malah menatap Zifana. Apa apaan ini? Jadi yang dimaksud sahabat oleh Zifana adalah Meneger WL Grup? Tunggu, apa yang kemaren di restoran juga Lelaki ini? Kenapa saat itu dia pergi dan tak memperhatikan? Delon tampak dongkol.


Willy tampak mengerutkan keningnya, dia mendapati tatapan tak biasa yang ditunjukan oleh Delon pada sahabatnya.


"Selamat Datang Tuan Delon, tak menyangka anda sendiri yang hadir. Suatu kehormatan bagi saya karna anda mau datang sendiri," ucap Willy menyambut. Tentu saja dengan senyuman yang indah. Mencoba melupakan tatapan Delon pada Zifana yang tak biasa. Keduanya berangkulan sejenak.


"Sama sama, kebetulan tadi baru saja bertemu dengan klien juga. Sekalian aku ingin bertemu dengan manager WL grup sendiri, ya supaya kita tampak dekat," ucap Delon dengan santai. Netranya melirik tak suka ke arah Zifana yang tampak menundukkan kepalanya.


Wily melepaskan rangkulan kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Silahkan duduk, Tuan Delon, Tuan Andreas," Willy mempersilahkan. Kedua orang terhormat itu duduk, Zifana duduk tepat dihadapan Delon. Sedang Willy tepat berada di hadapan Andreas.


"Apa dia sekretarismu?" tanya Delon sambil menatap ke arah Zifana. Merasa dia sedang ditanyakan Zifana mendongak.


"Oh, perkenalkan. Dia Nona Zifana Aurora Manda, sahabat terbaik saya, kebetulan sekretaris saya sedang sakit. Jadi saya memintanya untuk menemami saya," jawab Wily sambil melirik Zifana.


Zifana tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Zifana," ucapnya memperkenalkan diri. Delon tampak melirik wajah Zifana dan tampak berbeda. Lagi lagi Willy melihat itu. Seperti ada yang salah, ketika dia melihat Zifana tampak gugup.


"Em, Zie. Apa kita berpindah posisi? Kurasa kau sedang tidak baik baik saja," ucap Willy.


Mendengar itu Delon semakin dingin, Andreas hanya memalingkan wajahnya. Kenapa bosnya seperti itu? Dia tersenyum sinis.


Sedang Zifana tampak bingung, apa yang harus dia lakukan?


"Apa benar benar kau tidak baik baik saja berhadapan denganku Nona?" tanya Delon tampak tenang.

__ADS_1


Willy menatap lelaki itu dan menatap sahabatnya. Zifana hanya terdiam.


"Saya,,,,"


"Jika anda tak nyaman bisa tukar posisi," ucap Delon sambil menunjuk kursi. Zifana menggeleng pelan.


"Kalau tidak berpindah sebaiknya kita segera membicarakan urusan kita, aku masih ada beberapa pertemuan lain," ucap Delon sambil melirik jam tangannya.


Willy kembali duduk, pada akhirnya mereka mulai membicarakan beberapa konsep kerja sama yang mempromosikan sebuah hotel baru dan beberapa properti yang membutuhkan seorang model.


"Jadi perusahaan kami akan mempromosikan perusahaan anda Tuan, dan kami akan meminta jasa model papan atas dari negara kita yang sedang naik daun di negara sebrang. Seminggu lagi dia akan berkunjung ke sini, dan itu sangat kebetulan sekali bebarengan dengan projek yang kita buat," ucap Willy setelah Zifana menyampaikan materinya.


Saat ini bukan mendengar penjelasan Willy, justru Delon masih menatap ke arah Zifana. Melihat bibir Zifana yang bergerak ke atas bawah membuatnya mengingat malam itu. Malam dimana dengan manis dan lembut dia memag*t bibit merah muda itu.


Andreas menatap Zifana dan Delon bergantian, sedangkan Willy tampak menghela napas jengkel. Dia ingin segera meeting berakhir, sedikit menyesal memperkenalkan Zifana dengan dua orang di depannya ini.


"Jadi kita adakan pertemuan lagi dengan Steve grup minggu depan?" tanya Delon pada akhirnya.


"Benar sekali, Steve grup yang akan membantu kita mempersiapkan model terbaik. Ada beberapa model terbaik dalam katalognya, sayangnya dari mereka belum update datanya minggu ini," ucap Willy.


"Oke, senang bekerja sama dengan anda," ucap Delon.


Saat ini meneger restoran datang dengan membawakan beberapa makanan terbaik di restauran itu.


"Silahkan Tuan Delon, Tuan Willy, Tuan Andreas dan Nona," ucapnya.


Delon mengangguk, Wlly dan Andreas juga sama. Mereka tampak menikmati makanan. Zifana masih menunggu antrian mengambil sampai pada akhirnya Willy mengambilkan sebuah menu ke piring Zifana.

__ADS_1


"Makanlah Zie," ucapnya dengan tenang.


Hati Delon tampak terbakar, dia mengepalkan tangannya yang ada di bawah. Andreas tau itu, dia tampak tersenyum sendiri. Kenapa dengan Delon? Apa dia cemburu?


Zifana tersenyum dan menatap sahabatnya.


"Terimakasih Will," ucapnya dan terdengar di telinga Delon dan semakin membuat Delon semakin dingin.


"Apa benar hubungan kalian hanya sahabat?" tanya Delon yang semakin tak nyaman dengan pemandangan di depannya.


"Sampai sejauh ini memang sahabat, tapi kedepanya tidak tau. Bukankah jodoh di tangan Tuhan, Tuan Delon? Siapa sangka jika suatu saat nanti hubungan kami malah menjadi lebih dekat lagi," ucap Willy seolah menekankan pada Delon jika Zifana adalah miliknya.


Delon tersenyum sinis. Zifana tampak tegang, ingin rasanya dia menghilang agar tidak menghadapi situasi yang pelik seperti ini. Dia geram pada Willy, tapi bukankah Willy tak tau apapun? Entahlah.


"Bukankah sudah tidak ada yang dibicarakan lagi? Bagaimana kalau kita pamit sekarang Pak Wily?" tanya Zifana.


Willy tampak mengangguk dan berpamitan, mereka berdua melangkah pergi. Hanya ada Andreas dan Delon di ruangan itu. Keduanya saling berpandangan.


"Cari tau ada hubungan apa wanita itu dan Manager WL grup itu sebenarnya," ucap Delon.


"Kau juga segera kirim uang untuk Vely," ucap Delon.


"Delon, aku akan melakukanmya. Tapi aku ingin bicara sesuatu tentang Vely," ucap Andreas.


"Jangan mengatakan apapun saat ini jika kau masih ingin bekerja denganku," sentaknya kemudian melenggang pergi.


"****," umpat Andreas.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2