Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Keluarga


__ADS_3

"Delon, sarapan. Kamu sudah bangun nak?" suara mama Amel membuyarkan lamunanya. Segera lelaki tampan itu melangkah ke arah pintu.


Delon membuka pintu, terlihat mama Amel berdiri disana. Beliau tersenyum pada putra sulungnya itu.


"Mama," ucapnya sambil tersenyum. Tapi, jelas sekali wajah Delon menampakakan sebuah kesedihan dan kekesalan.


"Kamu baik baik saja?" tanya mama Amel.


"Hem," jawabnya.


"Delon, bisa kita bicara sebentar?" tanya mama Amel. Delon menatap mamanya dan akhirnya Delon menganggukan kepalanya. Mereka segera berjalan ke arah sofa dan duduk di ruang keluarga. Delon duduk di sofa sebelah mama Amel. Keduanya saling berhadapan.


"Ada apa ma?" tanya Delon pada mama Amel.


Mama Amel menghela napas panjang. Harus bercerita dari mana pada Delon? Apa Delon sedih karna mamanya memintanya kesini?


Pikiran Mama Amel melayang jauh, pernah suatu ketika dia melihat Vely membentak Elia. Pernah juga melihat Vely marah dan hampir saja menampar Elia saat Elia susah diam saat ditinggal Mama Amel.


Dan yang terakhir, yang sangat membuat mama Amel geram adalah pesan WA dari Gisel yang bertanya kemana Vely pergi. Dan ternyata setelah diikuti, Vely tidak pergi ke tempat yang dia ucapkan. Pada akhirnya, Mama Amel memilih untuk menenangkan Elia ke mansion orang tuanya.


Jadi, apa sebenarnya Vely melakukan suatu kebohongan lain selama ini? Mama Amel menatap Delon dengan perasaan yang campur aduk. .


Satu satunya orang yang bisa menenangkan Elia hanya Zifana. Lalu Delon mengatakan akan mengakhiri semua? Lalu bagaimana dengan kebaikan mental Elia nantinya? Apa yang harus dia lakukan? Mama Amel tampak bimbang.


"Ma, kata mama mau mengatakan sesuatu? Ayo katakan," ucap Delon sambil tersenyum.


Mama Amel menatap putranya. Dia memegang pundak Delon. Delon sangat mencintai Vely. Lalu, apa akan percaya jika dia mengatakan semua ini? Sesuatu yang sebenarnya sangat mengagetkan dirinya.


"Delon, mama ingin membicarakan tentang Vely," ucap Mama Amel padanya.


Delon menautkan alisnya, dia menatap dengan penasaran wajah mamanya. Apa yang dilakukan Vely? Apa menyakiti keluarganya? Bahkan, Delon sengaja menyembunyikan kebusukan Vely dari mama dan Gisel agar mereka tidak kepikiran apapun. Lalu apa ini?


"Vely? Ada apa dengan dia Ma?" tanya Delon antusias. Mama Amel menghela napas panjang. Sepertinya dia tidak bisa mengatakannya. Dia tak ingin Delon terluka.


"Delon. Mama hanya mau mengatakan. Kalau Vely mungkin belum terbiasa dengan Elia. Bagaimana jika kamu tetap mempertahankan Zifana, atau paling tidak kamu tidak memintanya pergi. Demi Elia," ucap Mama Amel pada akhirnya.


Delon menautkan alisnya, bahkan dia belum sempat memberi tau jika memang dia tidak jadi mengakhiri hubungannya dengan Zifana. Walau Zifana meminta.

__ADS_1


"Hem, aku rasa juga seperti itu. Makanya aku juga tidak jadi meminta Zifana pergi," ucap Delon. Mama Amel tampak bahagia.


"Kamu serius?" tanyanya.


"Hem," jawabnya. Mama Amel berhambur ke pelukan Delon. Dia sangat lega mendengar ini.


"Lalu dimana Zifana? Kemaren Elia rewel. Mama ke apartemen tapi tidak ada disana," ucap mamanya.


"Dia ada di tempat yang baru, nanti aku akan membawa Elia padanya. Mama tenang saja," ucap Delon.


Mama Amel menghela napas panjang dan melepaskan pelukannya.


"Oke, terimakasih sayang," ucapnya.


Delon menganggukkan kepalanya dan menatap mamanya dengan tenang.


"Apa hanya itu yang ingin mama katakan? Delon rasa tidak," ucap Delon.


Deg


Hati mama Amel kembali gusar, dia tampak terdiam. Delon masih mengamati gerak gerik ibu tercintanya itu. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan.


Ya, dari kemarin dia pulang ke rumah mansion kakeknya karna rindu berat pada kakeknya itu.


Delon dan mama Amel menoleh ke arah Gisel yang kini menuju ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Delon antusias.


"Aku dan mama merasa ada hal yang disembunyikan Kak Vely hingga dia berbohong. Entah apa yang mencoba ditutupi, aku tidak tau. Yang jelas ada yang tidak beres," ucap Gisel.


Kini dia berjalan ke arah kakak dan mamanya berada. Duduk disebelah mamanya. Tangannya bergelayut di lengan mamanya dan menyandarkan dirinya di pundak mamanya dengan manja.


Mama Amel mengusap puncak kepala putrinya, bahagia sekali melihat dua buah hatinya akur. Walau hidup tanpa kasih sayang ayah sejak kecil nyatanya membuat mereka menjadi orang orang yang kuat. Papanya meninggal karna kecelakaan.


Delon menatap ke arah Gisel, biasanya dia sangat pro pada Vely. Lalu, bagaimana bisa dia saat ini berpikir seperti itu. Delon menghela napas panjang. Tadinya mau menyembunyikan semua dari Gisel dab mamanya. Akan tetapi sepertinya tidak perlu ada lagu yang ditutupi.


Semakin cepat Vely pergi, semakin cepat pula hidupnya akan aman.

__ADS_1


"Kalian tau dari mana? Biasanya kau selalu membelanya Sel," tanya Delon. Ingin saja dia memastikan jika kedua wanita tercintanya itu tidak asal bicara. Gisel duduk tegak dan menatap kakaknya.


"Aku tidak pernah membela siapapun. Aku hanya membela yang harus dibela, jika salah tetap akan aku perangi," ucap Gisel sedikit ketus.


Delon tersenyum dan menatap adiknya dengan tenang. Gisel memang dewasa, tapi entah kenapa dia jarang sekali dekat dengan lelaki. Sengaja membatasi atau justru disembunyikan darinya dia tak tau.


"Kau terbaik, semoga lekas mendapatkan jodoh yang baik pula," ucap Delon kemudian berdiri.


"Kau belum menjawab argumen kami. Mau kemana kau?" tanya Gisel.


"Sebaiknya kita sarapan, sebenarnya aku sudah tau apa yang kalian belum ketahui. Akan tetapi waktunya sangat sempit untuk aku menjelaskannya. Lain waktu aku akan memberitau kalian," ucap Delon sambil menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Memangnya apa yang belum kami ketahui?" tanya Gisel, dia berdiri juga dan diikuti mama Amel.


"Yang terpenting kalian jangan mengkhawatirkan aku. Aku akan menceritakannya suatu saat nanti," ucap Delon.


"Papa,"


Suara itu membuat Delon, Mama Amel dan juga Gisel menoleh. Dilihatnya Elia yang sudah wangi dan cantik.


Delon merentangkan tangannya. Gadis kecil itu berlari kecil ke arah papanya.


"Selamat pagi princesnya papa, apa kamu bahagia?" tanya Delon saat Elia sudah berada di pelukannya. Digendongnya balita yang hampir genap lima tahun itu.


"Pagi pa, papa aku lindu papa. Apa boleh Elia ikut papa bekelja," ucap gadis kecil itu. Delon tersenyum dan menatap putri cantiknya.


"Papa sangat sibuk hari ini, lain waktu papa akan mengajakmu," ucap Delon.


Elia yang semula bahagia tampak bersedih. Delon menyadari itu. Dia menatap putrinya itu. Dia tau Elia bosan, hari ini dia libur sekolah. Pasti harinya terasa sepi.


"pagi ini kamu bermain dengan onty Gisel. Jika tidak rewel dan pinter, papa akan membawamu bertemu dengan mama Zifana," ucap Delon.


Elia yang semula sedih, mendengar nama Zifana kini bahagia. Berbeda dengan Elia, ketika mendengar nama Zifana membuat raut wajah Gisel berubah sedih.


"Zifana? Seperti apa wajah orang yang bisa melunakan hati Elia? Zifana yang sama dengan sahabat yang menyakitinya. Atau hanya sekedar nama yang sama?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Aku tambah up hari ini... tapi, jangan lupa like komennyanya tiap bab ya😀😀. Biar aku semangat. lope kalian semua.


__ADS_2