Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Luka yang menyayat


__ADS_3

Mobil ferrari berwarna merah yang di pakai Zifana terparkir di depan mansion. Delon segera berjalan cepat menuju ke pintu utamanya. Pintu terbuka, dia merasa lega. Berharap Zifana ada di dalam.


"Zie, Zifana? Kamu dimana Zie?"


Suaranya menggema memanggil Zifana.


"Tidak ada Zifana disini De," ucap Andreas.


Andreas yang mendengar suara Delon segera menghampiri Tuan mudannya. Baru saja dia sampai di sini sepuluh menit yang lalu.


Delon terkejut, kenapa Andreas yang disini? Kemana Zifana? Bagaimana bisa mobil yang dikendarai oleh Zifana berada di rumah, tapi tidak ada Zifana?


"Lalu, siapa yang membawa mobil?" tanyanya pada Andreas dengan suara dinginnya. Tatapannya seolah mengintimidasi.


"Aku yang membawanya, seseorang membawa mobil ke ZA tadi," ucap Andreas tampak panik juga.


Delon mengusap kasar wajahnya, hatinya sangat sesak. Sedih. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Diliriknya sebuah STNK dan juga BPKB juga sertifikat Zif bontique atas nama Zifana manda yang dibawa Andreas.


Memang kemarin dia meminta Andreas mengantarnya, dia ingin memberikan dokumen penting itu dan juga sertifikat pada Zifana sebagai hadiah lembaran baru mereka.


"Zifana," lirih Delon.


Tak tau kemana lagi dia harus mencari. Delon menghubungi ponsel Willy, akan tetapi Willy tak tau keberadaan Zifana karna baru saja dia berangkat ke luar kota.

__ADS_1


Delon mengepalkan tangannya memberi pukulan pada dinding. Mengakibatkan luka berdarah di kepalan tangannya. Andreas hanya diam.


Delon menghela nafas panjang, berlari menaiki satu persatu anak tangga, langkahnya pelan, pelan sekali, dadanya sesak menerima kenyataan yang begitu menguras pikiranya. Air matanya benar-benar tak tertahan, jatuh membasahi pipinya.


Andreas menatap punggung Delon yang semakin hilang dari pandangannya.


Delon membuka pintu, melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia menangis dalam sesal, sakit dia rasakan. Setelah tau kenyataan dia dibohongi, setelah tau kenyataan Elia bukan putrinya, kini harus dia menerima kenyataan bahwa kehilangan istri sah nya. Istri yang sabar menghadapinya. Istri yang mampu membuatnya bahagia, istri yang selalu memberikan kenyamanan dalam setiap napasnya.


Bayangan Zifana ada di sudut kamar ini, tapi tidak ada Zifana di ranjangnya, tidak ada yang menyambut dirinya.


"Arghhhhh" Delon memukul dinding meninggalkan darah di sana. Dia menangis dalam tawa. Menangis dalam luka.


Delon berjalan menuju ke lemari pakaian, pakaian Zifana masih tertata rapi di dalamnya. Dia mengusap kasar wajahnya.


Delon berjalan menuju meja rias istrinya, beberapa jam yang lalu Zifana masih duduk disini menyisir rambutnya dan menampakan wajah ayunya.


Delon mendaratkan bokongnya di kursi itu, mengulurkan tanganya mengambil bingkai foto Zifana yang tersenyum. Dia menitihkan Air matanya, mendekap erat bingkai foto tersebut.


"Pergi, aku tidak mau melihat wajahmu di hadapanku! ucapannya sendiri mengiang di otaknya. Memberikan luka.


"Zifana, maafkan aku. Kembalilah, andai kau tau aku baru saja ingin memulai lembaran baru bersamamu. Maafkan aku Zifa," ucapnya di tengah isakan tawa di tengah tangisnya.


Rasanya ingin menghukum dirinya sendiri atas semua kesalahannya. Delon merasa menjadi manusia yang bodoh. Zifana pergi karna dirinya, dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Andai aku tau sebelumnya, aku tidak akan melakukan ini padamu. Kau tau, posisiku sangat sulit sebelum tau kebenaran ini. Aku ingin mengatakan kau satu satunya istriku, tapi disisi lain aku merasa menjadi ayah yang jahat jika menjauhkan Elia dari ibunya. Tapi ternyata kenyataan begitu menyakitkan, aku dan kamu berkorban untuk hal yang seharusnya tidak menjadi kewajiban kita dan itu karna kebodohanku," ucap Delon sambil menatap ke arah Foto Zifana.


Delon terus menangis, menyesal, namun penyesalannya tak pernah bisa mengembalikan Zifana untuk hadir di depannya.


"Kemana kamu pergi Zifa? Kemana kamu membawa luka yang aku ciptakan di setiap napasmu? Aku mencintaimu Zifana, aku mencintaimu. Maafkan aku, kamu dimana? Jangan menghukumku seperti ini Zifana? Kamu boleh memukulku, boleh membun*hku sekalipun. Kembalilah Zifa,"


Delon tertawa menertawakan dirinya sendiri, tetapi dia juga menangis di tengah tawanya sambil mengusap bingkai foto Zifana yang tersenyum seolah mengejeknya. Penyesalan selalu membawa luka, penyesalan juga tidak membawa keadaan seperti semula.


Delon mengambil ponsel di dalam sakunya, mencoba beberapa kali menghubungi nomer Zifana. Namun tetap saja hanya memanggil seperti beberapa panggilan yang lalu. Delon memejamkan matanya, diikuti air mata yang masih setia mengalir menemani kesedihannya.


Delon melirik ke arah ponselnya dilihatnya foto pernikahannya dengan Vely. Delon menghapus semua galeri tentang dirinya dan Vely. Elia? Walau bagaimanapun, gadis kecil itu tak tau apapun.


Delon mengepalkan tangannya Vely dan Steve? Mereka adalah dalang di setiap luka yang diciptakannya untuk Zifana.


Delon meraih ponselnya, tak lagi dia bisa sabar menunggu kabar kehancuran dua iblis itu.


"Kau ambil semua kliennya, hancurkan perusahaannya. Lalu, bawa mereka satu jam dari sekarang kehadapanku!" ucap Delon dengan tatapan dingin yang mengintimidasi. Sepertinya Andreas belum melakukan apapun sehingga dia meminta Marvel Raditia Dika untuk mengurusnya.


"Kalian harus membayar setiap luka yang kalian ciptakan," ucap Delon. Delon melirik kembali foto Zifana yang tersenyum padanya.


"Maafkan aku, my Lovely Wife," lirihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2