Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Perasaan nyaman


__ADS_3

Delon menunduk, sehingga kedua mata sepasang suami istri itu tampak berpandangan mesra.


"Apa semalam tak tidur denganku membuatmu rindu? Tampaknya kau suka sekali mencari kesempatan untuk memelukku seperti ini," ucap Delon dengan suara bariton yang membuat Zifana terkejut.


Zifana tersadar, dia segera membenahi duduknya, segera wanita cantik itu melepaskan tangannya dari leher Delon. Dia turun dari pangkuan Delon dan duduk sendiri di samping Delon. Zifana tampak diam, hatinya dag dig dug tak karuan. Rasanya dia tak sanggup berhadapan dengan makhluk di sampingnya ini.


Delon melirik ke arah istrinya yang tampak diam itu. Dipastikan Zifana merasakan canggung setelah mencoba pergi dari hidup Delon.


"Apa yang anda tanyakan Tuan, aku tidak paham. Sedari dulu aku tidur sendiri. Tanpa keberadaanmu bagiku tidak masalah. Yang patut kau persalahkan atas kejadian ini adalah sekertarismu itu," ucap Zifana sambil mengarahkan pandangan ke arah Andreas.


Andreas tampak membelalakan matanya, dan melirik ke arah Zifana dari kaca spion.


"Kenapa menyalahkan saya Nona? Tuan Muda sudah tau kebiasaan saya, lalu kenapa saya yang harus disalahkan?" tanya Andreas dengan antusias.


Lampu lalu lintas tiba tiba hijau, membuat Andreas mau tak mau menjalankan mobilnya dengan perasaan kesal karna ucapan Zifana.


"Aku rasa kau bisa berpikir dengan jernih, tanpa aku menjelaskan apapun, aku tau kau bisa mengerti apa jawabannya," ucap Zifana denga tegas.


Andreas tampak pias, sedang Zifana mengalihkan pandangannya menantap suasana luar.


Delon tampak tak mau ikut campur dengan pembicaraan Zifana dan Andreas. Dia hanya sibuk memainkan ponselnya.


Mereka menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan. Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Mereka hanya terdiam dalam pikiran masing-masing.


Zifana merasa penasaran dengan kebenaran kejadian tadi, sepertinya pikirannya tidak salah, dia rasa Andreas mencoba untuk mengerjainya. Tatapan sinisnya mengarah pada Andreas yang tampak tenang.


Delon menyalakan musik salah satu band favoritnya. Hingga mereka larut dalam lagu yang mengisahkan Cinta dalam diam itu. Zifana menatap luar jendela hatinya seakan perih mendengar lantunan lagu sendu yang diperdengarkan oleh Delon.


Tak lama dari itu, Andreas menghentikan mobilnya di pinggiran telaga. Zifana semakin yakin jika mema g dia sedanh dikerjai.


"Kenapa berhenti? Ini belum sampai di kantor," protes Zifana saat menyadari mobilnya berhenti.


Andreas tampak diam. Delon juga terdiam dan keluar dari mobilnya. Memang mampir ke telaga ini adalah kebiasaan Delon.


Zifana yang tak trima kini memejamkan matanya sejenak, dia membuka kembali dan menatap Andreas yang masih duduk di kemudi.


"Apa apaan ini? kenapa malah kesini?" sentak Zifana.

__ADS_1


"Maaf Nona, ini kebiasaan Tuan Muda," ucap Andreas.


"Lalu aku harus menurut begitu?" protes Zifana.


"Jangan banyak. protes nona, ikuti saja," jawab Andreas


Zifana tampak kesal, apa sebenarnya tujuan Delon membawanya? Apa yang akan dibicarakan? Kenapa tak segera ke kantor saja? Kesal Zifana kemudian keluar juga mengikuti Delon. Zifana tau Delon tampak mendiamkannya.


Delon menatap ke arah telaga yang indah, menikmati terpaan angin yang berhembus yang menampar nampar wajahnya. Pikiranya sedikit tenang saat ini. Entah kenapa, hatinya bahagia saat berhasil menemukan seorang Zifana manda.


"Kenapa harus kesini?" Zifana yang baru saja datang membuka pertanyaan.


Delon terdiam dan tak menghiraukan ucapan Zifana.


"Tuan, kau punya mulut? Bisa menjawab pertanyaanku?" sentak Zifana. Delon tampak terusik dan memutar tubuhnya menatap Zifana.


"Aku hanya ingin kesini, aku tidak meminta pendapat mu untuk setuju atau tidak," ucap Delon.


Zifana tampak tersenyum sinis dan memandang ke arah Delon, mereka beradu mata. Keduanya saling menatap lekat.


Delon hanya diam, tapi dia tampak emosi. Entah kenapa hatinya tak trima mendapat protes dari Zifana yang membahas sebuah hak. Zifana memandang Delon dan tersenyum Sinis.


"Tuan, kau bilang kita harus bicara kan? Aku mohon bicarakan sekarang juga, aku tidak ada banyak waktu," ucap Zifana.


Dia tak lagi bisa menahan kegundahan hatinya. Delon menatap wajah cantik yang kini berhadapan dengannya. Wajah cantik dari manusia yang semalam membuatnya emosi dan marah. Wajah wanita yang mencoba kabur dari hidupnya.


Delon terdiam, tapi dadanya terasa geram. Sok sibuk sekali wanita ini.


"Jika yang ingin kau bicarakan diluar pekerjaan. Maka aku juga berhak bicara sebagai istrimu. Asal kau tau Tuan Delon, aku tidak menuntut apapun dari pernikahan ini. Tapi aku mohon, lepaskan aku," ucap Zifana dengan tenang.


Deg


Delon tersentak kaget. Berani sekali wanita di depannya mengaturnya.


"Trimakasih, trimakasih telah memberikan pernikahan dan menyelamatkan aku. Trimakasih telah memberi aku waktu untuk bersama Elia. Aku minta ceraikan aku saja, hiduplah dengan bahagia bersama wanita yang kamu cintai," ucap Zifana sambil tersenyum.


Tapi nyatanya rasa sakit menggerogoti hatinya saat ini. Zifana memejamkan matanya. Sedih atau harus bahagia? yang jelas dia tidak tau apa yang dirasakannya. Dia ingin masalahnya segera selesai.

__ADS_1


Delon memejamkan matanya. Hatinya sakit mendengar ucapan Zifana. Kenapa dia tak trima, kenapa hatinya enggan untuk melepaskan wanita di depannya. Kenapa rasanya dunia runtuh menimpanya? Tidak bisa begitu, dia harus tetap mempertahankan Zifana.


Zifana memutar langkahnya dan menjauh dari Delon, Delon mengepalkan tangannya. Dadanya terasa Panas dan sesak dengan ucapan Zifana.


"Kau tetap akan menjadi milikku Nona. Jangan harap kau bisa pergi semudah itu, kau milikku dan selamanya akan seperti itu," ucap Delon tegas.


Deg


Zifana menghentikan langkahnya, dia terdiam kemudian memutar langkahnya menatap ke arah Delon yang kini ada dibelakangnya.


Delon melangkah mendekat ke arah Zifana. Ditatapnya wajah cantik istrinya.


"Mana bisa seperti itu? Aku punya hak untuk bahagia, aku bilang ceraikan aku," ucap Zifana.


Delon yang merasa geram malah spontan menarik Zifana dalam dekapannya, mencari kenyamanan yang semalam tak dia rasakan. Yang benar saja, dirinya yang tadi emosi merasakan kenyamanan yang luar biasa. Zifana terkejut ketika Delon melakukan hal ini padanya dia pikir akan ditampar oleh suaminha itu. Tak dipungkiri, Dia juga merasakan kenyamanan yang sama.


"Tuan, lepaskan aku!" pinta Zifana dengan memberontak. Hatinya sesak.


"Jangan memberontak, diam lah!" tegas Delon.


Delon lebih mengeratkan dekapannya. Semilir angin kesana kemari menerpa keduanya. Delon merasakan desiran lembut yang menguasai hatinya.


"Tuan, jangan seperti ini. Aku mohon!"


"Aku bilang diam Nona Zifana," bentak Delon.


Zifana tersentak kaget dan mematung, air mata Zifana meleleh tanpa diminta, membasahi wajah cantik yang kini ada di dalam dekapan Delon.


Dia merasakan hangat dan nyaman di sana, ia juga bisa mendengar dan merasakan dan detak jantung Delon yang tak beraturan. Zifana memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatan, ia tak kuat lagi merasakan gejolak jiwanya dia takut akan terluka untuk yang ke dua kalinya. Zifana mendorong tubuh Delon.


Delon beringsut mundur, mereka saling berhadapan. Delon dapat melihat dengan jelas air mata yang membasahi wajah cantik Zifana.


"Jangan memperlihatkan air mata yang tak berguna itu dihadapanku," ucap Delon dengan sorot mata tajam.


"Ingat, sekarang kau adalah milikku. Aku bebas melakukan apa yang aku inginkan,!" seru Delon lagi. Zifana memejamkan matanya menahan sesak di dadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2