
Zifana menatap ke arah apartemen luas tempatnya beberapa hari ini tidur, apartemen luas yang memberikan ketenangan, kesedihan dan kebahagiaan.
Tak ada foto pernikahan, tak ada apapun sesuatu yang dia bawa dari sini. Bahkan dia tak punya kenangan apapun dari Delon. Bahkan Delon tak berinisiatif untuk membingkai foto pernikahan mereka. Hais, bukankah memang pernikahan mereka hanya sebuah kepahitan? Sebuah keterpaksaan?
Zifana menghela napas panjang, dia mengusap air matanya. Sudah bulat tekatnya untuk pergi. Tidak mau dia menjadi orang ketiga di rumah tangga orang lain. Dia yakin Elia bahagia diantara papa dan mamanya nanti. Delon marah? Itu urusan belakangan, lagi pula keberadaannya sudah tak ada artinya setelah kedatangan istri pertama.
Zifana melangkah, dirinya sudah memesan taksi yang menunggunya di depan sana.
"Kemana Nona?" tanya supir taksi itu saat dirinya masuk ke dalam.
"Ke jalan gading ya pak, nanti berhenti dulu membeli bunga yang tak jauh dari sana," jawabnya dan diangguki oleh pak supir.
Jalan gading adalah sebuah pemakaman, dimana ibu, kakek dan neneknya dimakamkan. Mungkin dengan berziarah dan mendoakan keluarga dia bisa lebih tenang.
Zifana mencoba menghubungi Willy, akan tetapi sepertinya Willy sibuk karna tak mengangkat panggilan darinya.
Hubungi aku bila sudah tidak sibuk Wil. Tulis Zifana pada pesan wa yang dikirimnya pada Willy.
Tak berapa lama kemudian, sampailah Zifana di pemakaman itu. Pak supir menunggu di sebrang jalan.
Zifana melangkahkan kakinya menuju ke arah makam itu. Dia tersenyum saat melihat nama nisan yang menampilkan nama, Ida, Vani dan juga Herlambang Pratama itu.
Tiga makam berjejer rapi, Zifana memberikan bunga di masing masing makam. Dia menghela napas panjang. Membenahi kerudung yang kini berada di kepalanya.
Tetesan air mata mengalir di pelupuk mata Zifana. Zifana memandang makam orang tua yang yang mengorbankan nyawa untuk melahirkannya ke dunia, juga nenek dan kakeknya yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Zifana bertubi-tubi melafadkan doa, mengirimkan doa untuk orang tua dan kakek neneknya itu.
"Terimakasih telah mengandungku, melahirkan ku ke dunia ini, Mama. Terima kasih atas cinta kasihnya, Ma, kakek dan nenek," ucap Zifana.
"Kakek, nenek dan mama pasti tau, bagaimana sulitnya hidup Zie saat ini. Tak punya apapun, tak punya siapapun, bahkan Papa dan kak Gino tega pada Zie. Doakan Zie kuat ma, kek, Nek," ucap Zifana.
"Jika ini adalah hukuman dari kejahatan masalalu, dengan ikhlas aku menjalaninya," ucap Zifana.
Air matanya mengalir deras, dia mengusapnya. Membayangkan hidupnya yang seperti ini sangat menyedihkan. Tapi, Zifana mencoba ikhlas. Dia harus bangkit.
"Kakek, dulu kakek meminta Zie mencari sahabat kakek tanpa sepengetahuan papa dan kak Gino. Saat ini mereka sudah tak ada bersama Zie, Zie mohon izin untuk mulai mencarinya. Zie akan berusaha menjalankan apa yang kakek minta, mengambil apa yang kakek titipkan disana," ucap Zifana.
"Doakan Zie," ucap Zifana.
Setelah lama memanjatkan doa, kini Zifana mengakhirinya. Deringan ponsel terdengar dan ada nama Willy di sana. Segera Zifana menerima panggilan dari Willy.
"Aku ingin kita bertemu Wil, aku butuh bantuanmu," ucap Zifana.
"Oke, datang ke cafe Rose, aku disini," ucap Willy.
"Oke, aku kesana Will," ucap Zifana.
Zifana segera berjalan ke arah mobil taksi yang menunggunya. Setelah mencuci tangan dan kakinya di depan makam, Zifana masuk ke dalam tamsi.
"Mbak, lama sekali. Tadi sudah mau saya tinggal lo, harusnya saya bisa mendapatkan dua atau tiga penumpang," keluh supir taksi itu.
__ADS_1
Zifana menghela napas panjang, membuka tas miliknya yang hanya menyisakan beberapa lembar uang seratus ribuan. Memang sejak dulu dia jarang sekali membawa uang kes, dan kini semua ATM dan kartu kredit telah terblokir. Itu adalah uang terakhirnya.
Zifana menyerahkan uang itu pada pak sopir yang merasa dirugikan karna menunggunya itu dari pada harus berdebat. Mungkin jika itu dirinya yang dulu, dia akan berdebat. Tapi saat ini dirinya tak mau lagi menjadi wanita sombong dan angkuh. Karna sekarang dia yakin, apapun yang dilakukan suatu saat akan memetiknya. Yang ditanam, pasti akan dituai.
"Ini untuk bapak, tapi antarkan aku ke Kafe Rose ya pak," ucap Zifana.
Sopir itu tampak tersenyum, setidaknya dia tidak rugi banyak.
"Baik Nona,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah rumah yang megah, seorang lanjut usia tengah menerima kabar bahwa cucu perempuanya pulang dan semalam sempat sedikit ricuh dengan kakaknya.
"Jadi apa kau sudah tau ada masalah apa?" tanya kakek itu.
"Jadi istri Tuan Muda sepertinya mengatakan hal yang berbeda dengan Tuan Muda dan Nona Muda, Tuan. Jadi mereka tampak sedikit ribut," ucap orang di sebrang.
"Kau pantau terus apa yang terjadi, jangan lupa melaporkan padaku," ucap kakek itu kemudian menutup ponselnya.
Lelaki tua itu mengamati ponselnya, menatap wajah seorang wanita yang menjadi cucu menantunya itu.
"Karna kau, aku terpaksa berpisah mansion dengan putri dan cucu-cucuku, aku tau kau hanya menginginkan harta," ucapnya. Ya, lelaki ini adalah Kakek Wilan. Sebenarnya sejak awal kakek tak menyetujui hubungan Vely dan Delon. Hingga dirinya memutuskan pindah mansion untuk menghindari keributan.
Kakek Wilan menatap foto di dinding, fotonya bersama sahabat baiknya yang meninggal 7 tahun yang lalu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...