
Zifana terdiam, hingga Delon mendesaknya untuk mundur. Zifana terkejut, Delon seakan sedang menyimpan emosi yang entah disebabkan oleh apa.
"Ada hubungan apa kau dengan dia?" tanya Delon lagi. Tangan kanannya mencengkam lengan Zifana, membuat wanita cantik itu memejamkan matanya menahan sakit.
"Kak, lepaskan! Biarkan aku menyiapkan air untukmu mandi," ucapnya.
Delon berdecih, mengabaikan ucapan Zifana. Dia menatap lekat Zifana yang tampak ketakutan. Tangan kirinya merengkuh pinggang Zifana sehingga keduanya sangat dekat dan merapat.
Zifana bisa merasakan detak jantung Delon yang tak beraturan. Delon merasakan hal aneh dihatinya, kenapa perasaannya campur aduk tak karuan?
"Aku tanya sekali lagi, ada hubungan apa kau dengan direktur WL grup?" sentaknya dengan tatapan tajam seperti pisau dan mampu membuat nyali Zifana menciut. Membuat wanita cantik itu semakin takut melihat Delon yang seperti orang kesetanan.
"Dia sahabatku kak,!" sentak Zifana.
"Omong kosong!" sanggah Delon.
Keduanya saling berpandangan, tatapan mereka bertemu dan tak bisa menerjemahkan bagaimana perasaan mereka masing masing.
"Aku tidak bohong, dia sahabatku!" sentak Zifana Lagi.
Delon memegang kedua pipi Zifana dengan tangannya sehingga wanita cantik itu mendongak. Keduanya saling menatap, tak ada jarak sedikitpun.
Cih
__ADS_1
"Kau pikir aku bodoh? Aku bisa melihat betapa kalian sangat mesra. Kau pikir aku bodoh huh?" ucap Delon dengan nada tinggi membuat Zifana tampak semakin ketakutan.
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk menjaga jarak dengan lelaki lain selama menjadi istriku? Jangan mencoba bermain denganku jika kau ingin tetap bisa hidup dengan tenang Nona Zifana," ucap Delon kemudian mendorong tubuh Zifana hingga menabrak dinding.
Zifana terisak, air matanya mengalir. Kenapa dia tak bisa melawan? Kenapa semuanya seakan kelu? Kenapa? Zifana mengusap air matanya, dia merosot ke bawah dan tertunduk.
Delon mendekat dan berlutut di hadapan Zifana, menatap lekat wajaj cantik yang berderai air mata.
"Kau sudah menyulut emosiku dengan bermain api dibelakangku, Nona Zifana!" ucap Delon sambil mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Kau juga sudah menyakitiku dengan tuduhanmu yang tidak bermutu itu kak," lirih Zifana.
Deg
Jantung Delon bergetar hebat, dia mengepalkan tangannya. Masih saja wanita itu menyangkal? Delon semakin kesal.
Dia mengulurkan tangannya dan mengangkat tubuh Zifana ke pangkuannya. Mendekatkan wajahnya ke arah Zifana.
"Kak, lepaskan aku! Jangan menakutiku kak, kita bisa membicarakannya baik baik," ucap Zifana saat Delon mulai mendekatkan bibirnya ke arah Zifana.
"Apa yang ingin kau katakan hem?" tanya Delon. Zifana terdiam.
"Apa?!" sentaknya sehingga Zifana tampak terkejut.
__ADS_1
"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, dia hanya sahabatku. Bukankah semalam kau sudah mengizinkan aku pergi kak? Jika kau tak mengizinkan aku juga tidak akan pergi," lirih Zifana.
Deg
Delon tampak memalingkan wajahnya, dia memejamkan matanya. Apa yang dikatakan Zifana benar adanya. Lalu kenapa dia emosi?
"Jadi kau menyalahlan aku?" tanya Delon tepat disamping telinga Zifana. Hembusan napas Delon terasa sangat dekat membuat jantung Zifana tak karuan.
"Bukan begitu kak,"
Delon berdiri, Zifana kini melingkarkan tangannya di leher Delon jantungnya tak karuan saat Delon membawanya ke atas, menapaki anak tangga demi anak tangga dan menuju ke kamarnya. Delon meletakan Zifana ke ranjang dengan kasar.
Delon dengan kasar menyerang Zifana dengan ci*man dadakan. Zifana hanya bisa diam dan menagis, memberontakpun percuma. Keduanya menikmati ciuman yang semula kasar kini semakin lembut dan menuntut, tak bisa dipungkiri Zifana merasakan kedamaian. Hingga pada akhirnya Delon mendorong Zifana dengan kasar dan meninggalkan kamar yang bersuhu panas itu.
Zifana hanya bisa menatap kepergian Delon, merapikan pakaian yang sudah berantakan kemana mana. Hatinya sakit dan perih. Kenapa seperti sampah yang habis manis sepah dibuang?
Di luar sana, Delon mengangkat ponsel yang bergetar di saku celananya.
"Gisel," lirihnya. Delon menggeser tombol hijau dan meletakan di telinga.
"Ke mansion sekarang juga, aku pulang. Tak ada alasan apapun, aku mau kakak ke sini," ucap Gisel kemudian mematikan ponselnya.
Delon segera menuruni tangga dan keluar dari apartemen, Zifana yang ada di atas hanya bisa menghapus air mata dan menatap punggung Delon yang menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Tuhan kuatkan aku," lirihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...