
Zifana telah menyelesaikan sarapan paginya. Dirinya semakin dag dig dug tak karuan menunggu kedatangan Delon yang nanti akan menjemputnya.
Zifana tampak diam dengan pikiran yang bermacam macam yang berkecamuk.
"Nona Zifa, ini teh untuk anda. Saya rasa anda begitu tegang, biar anda sedikit rileks?" Mbak Asti yang melihat Zifana tampak melamun kini memberikan secangkir teh hangat pada majikannya itu.
Zifana tersenyum dan mengangguk pelan.
"Terimakasih Mbak," ucap Zifana.
Mbak Asti menggangguk dan hampir saja pergi.
"Mbak, bisa duduk disini. Kita ngobrol ngobrol," ucap Zifana.
Mbak Asti yang kebetulan sudah menyelesaikan pekerjaannya kini menganggukan kepala. Dia duduk di lantai di depan Zifana.
"Mbak, kenapa di bawah. Duduklah di atas," ucap Zifana. Mbak asti tampak tersenyum.
"Baik Nona," ucapnya pelan.
Zifana menghela napas panjang, dari tadi permintaannya selalu saja menekan Mbak Asti. Tapi Mbak Asti yang baik itu selalu menurutinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona Zifa? Katakan saja, dengan senang hati saya akan membantu," ucap Mbak Asti pada bosnya itu.
"Aku hanya ingin mengobrol saja, kita serumah. Tidak enak jika tidak saling mengenal," ucap Zifana dan diangguki oleh Mbak Asti.
"Apa Mbak Asti sebelumnya sudah bekerja bersama Tuan Delon di mansion utama?" tanya Zifana pada wanita yang kurang lebih berumur tiga tahun diatasnya itu. Zifana yang merasa tidak asing pada Asti mengira jika Mbak Asti adalah asisiten yang bekerja di mansion utama milik Delon sehingga mereka pernah bertemu.
Mbak Asti tampak tersenyum dan menggeleng. Zifana tampak menautkan alisnya. Kalau tidak bekerja disana, lalu dimana dia bertemu dengan Mbak Asti? Kenapa mata Mbak Asti tak asing baginya? Apa hanya pikirannya saja?
"Saya baru saja bekerja di mansion Nona. Sebelumnya saya bekerja di kantor sebagai pegawai Biasa. Saya melihat Tuan Andreas kemaren sibuk mencari orang dan mengadakan tes. Karena saya butuh uang tambahan, saya mencoba mendaftar," ucap Mbak Asti.
"Setelah melakukan beberapa tes dan beberapa rentetan persyaratan yang lainya pada akhirnya oleh Tuan Andreas saya yang dipekerjakan di mansion ini untuk menjadi asisten pribadi Nona muda juga," ucap Mbak Asti lagi.
Zifana membelalakkan matanya, apa? Jadi hanya untuk menemani dia Delon sampai meminta Andreas mencari orang? Mbak Asti baginya bukan wanita sembarang. Pantas saja dia tidak seperti ART pada umumnya. Ternyata dia adalah Asisten pribadinya. Kenapa Zifana baru menyadari itu? Memang jika dilihat Mbak Asti orang yang berpendidikan. Bahkan pakaiannya saja tampak rapi, Lalu dimana dia bertemu dengan Mbak Asti?
"Oh, jadi mbak Asti bekerja di kantor juga? Mbak Asti tidak keberatan menjadi Asisten saya?" tanya Zifana Antusias.
"Saya bangga. Bahkan tidak menyangka bos saya sebaik Nona Zifa," ucap Mbak Asti.
__ADS_1
"Baik, anggap saja saya bos tapi juga teman Mbak Asti. Karna saya sebenarnya juga karyawan Tuan Delon," ucap Zifana.
Mbak Asti tampak menautkan alisnya dan menatap Zifana dengan tenang.
"Karyawan? Bukankah Nona istri dari Tuan Delon?" tanya Mbak Asti. Andreas mengatakan bahwa dia akan menjadi asisten istri Tuan Delon akan tetapi memintanya juga untuk merahasiakan identitas istrinya itu.
Zifana memejamkan matanya. Dia tersenyum singkat.
"Lupakan, anggap saja saya tidak pernah mengatakan apapapun," ucap Zifana. Mbak Asti tersenyum dan mengangguk.
Tak lama dari itu, terdengar deruan mobil berhenti di bawah sana. Mbak Asti dan Zifana tampak berpandangan.
"Tuan Delon sepertinya sudah datang, sebaiknya Nona segera keluar. Saya akan mengantar Nona," ucap Mbak Asti. Zifana menganggukan kepalanya.
"Saya akan mengikuti kemana Nona pergi besok, karna hari ini Tuan Delon sendiri yang akan menemani Nona," ucap Mbak Asti lagi.
Zifana memejamkan matanya, Delon sebegitunya. Kenapa orang itu? Teka teki yang ada diotaknya tentang mbak Asti belum terjawab. Kini malah dihadapkan dengan kenyataan yang sangat mencengangkan.
Zifana dan Mbak Asti keluar dari mansion. Tampak Delon di bawah sana. Kedua wanita itu meneuruni anak tangga menuju parkiran.
Jantung Zifana berdetak hebat, Delon tampak bersandar di pintu mobil, tangannya beraedekap di depan. Wajah tampannya menyilaukan mata. Bahkan, saat ini Delon memandangnya dengan tenang. Membuatnya semakin dag dig dug tak karuan.
"Selamat pagi Tuan Delon," ucap Mbak Asti menyapa.
Delon mengangguk, netranya tertuju pada satu objek yang menyilaukan matanya sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Zifana manda?
"Sebaiknya kau cepat masuk. Aku sudah tidak ada banyak waktu." Delon berkata pada Zifana. Zifana segera masuk.
"Dan kau Asti, hari ini kau ke kantor, bukankah Andreas sudah memberitaumu?" tanya Delon.
"Iya Tuan," ucap Mbak Asti.
"Bagus," ucap Delon kemudian masuk ke dalam mobil dan menancap gas mobilnya.
Mbak Asti menatap kepergian Zifana dan Delon. Dia menghela napas panjang. Astika Rahma, wanita 26 tahun. Bekerja di Wilantama grup 3 bulan yang lalu. Wanita yang lima tahun lalu tidak bisa membayar biaya rumahsakit. Dan pada saat itu Vely datang memberikan bantuan. Dia pikir tulus, ternyata malah mengatasnamakan hutang dan membawa putrinya pergi.
Mbak Asti yang ingin sekali bertemu anaknya mencari beberapa informasi dan menemukan bahwa anaknya dibawa ke mansion mewah keluarga milantama. Dari situ dia mendaftarkan diri bekerja disana. Berharap bisa bertemu dengan putrinya. Dia juga tak menyiakan saat ada lowongan sebagai Asisten pribadi dirumah Delon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Delon melajukan mobilnya dengan tenang, tak ada percakapan diantara dia dan Zifana. Rasanya masih saja kesal pada istrinya yang perhatian pada Willy. Kesal pada Zifana yang mengabaikan panggilan darinya.
"Aku... " ucap keduanya bersamaan.
Citt
Saat itu seekor kucing melintas. Delon mengarahkan setiran ke pinggir dan mendadak mengerem. Mobil berhenti, Zifana tampak terkejut dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sedetik kemudian, dia membuka matanya, begitu terkejut saat dirinya terjatuh berada di pangkuan Delon. Keduanya saling menatap, bahkan wangi parfum Delon tercium di hidungnya.
Delon terdiam, menikmati pemandangan wajah cantik dari istrinya itu.
"Maaf," ucap Zifana kemudian bangun dari pangkuan Delon.
"Makanya pake seat belt, apa tidak bisa menjaga diri? Atau memang kebiasaanmu seperti ini? Mencari perhatian dari orang lain, dan tentunya mereka semua adalah lelaki," ketus Delon.
Deg
Zifana hanya diam, tidak bermaksud menjawab ucapan Delon. Apa orang disebelahnya mempunyai kepribadian ganda? Kadang manis, kadang baik, kadang ketus.
"Mana ponselmu," ucap Delon.
Zifana menautkan alisnya, untuk apa ponselnya?
"Untuk apa?" tanyanya.
"Sini aku bilang," ucap Delon ketus.
Zifana mengambil ponselnya yang memang dia silent tadi, dia terkejut saat melihat beberapa panggilan dari nomor baru. Dipastikan itu panggilan saat dia mengobrol dengan mbak Asti tadi.
Delon merebut ponsel Zifana dan memberikan nama pada nomor baru di log paggilan.
Setelah memberi nama dia kembali menyerahkan pada Zifana. Zifana membelalakkan matanya saat melihat nama di kontaknya.
"My Lovely husband"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Narsisnya Delon. wkwkwkkw
__ADS_1