
Zifana melangkah pergi, dia tak mau memikirkan hal itu. Dia harus sadar diri, dia tak boleh menangis. Keberadaannya memang hanya sebuah keterpaksaan.
Sedang Delon masih saja melanjutkan pembicaraannya dengan Vely.
"Dia hanya istri simpananku dan dia hanya untuk Elia," ucap Delon mencoba menenangkan Vely lagi.
"Kau serius?" tanya suara disebrang.
"Ya, jawab Delon.
"Lalu, apa kau akan pulang?" tanya Vely.
Delon menghela napas panjang. Hujan di luar begitu lebat, tak mungkin dia menerjang hujan hanya untuk tidur.
"Aku akan bermalam disini," jawabnya. Vely tampak diam. Mungkin dia kecewa.
"Disini hujan Darling, aku tidak mungkin menghabiskan waktu untuk perjalanan. Lebih baik aku istirahat karna besok banyak sekali meeting dengan klien," ucap Delon.
"Oke kalau itu alasannya, yang jelas aku tidak mau kamu mencampakan aku karnanya," ucap Vely.
"Iya, aku mengerti. Kau tak usah menghawatirkan itu," ucap Delon.
"Kau tau Darling. Sebenarnya aku ingin segera pulang, pengobatan sudah 90 persen. Sebentar lagi, kira-kira satu bulan aku dinyatakan sembuh, aku ingin segera berada di dekatmu. Kita bahagia bersama," ucap Vely.
"Aku selalu menunggumu," ucap Delon.
Percakapan berakhir, Delon membalikan badanya. Saat itu Zifana masuk ke kamar sambil membawa secangkir teh hangat. Delon memandang gerak gerik istrinya itu. Zifana tampak meletakan cangkir di atas nakas. Dia meraih bantal dan berjalan ke arah sofa.
"Kau mau kemana?" tanya Delon yang masih berdiri di dekat jendela.
"Aku tidur di sofa saja Tuan," ucap Zifana.
Ya, dia memutuskan untuk tidur di sofa. Dia belum mengenal Delon, walau sudah sah menjadi istri Delon. Dia juga belum terlalu dekat. Butuh waktu baginya untuk membiasakan dirinya.
Delon tampak menautkan alisnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak tidur di ranjang?" tanya Delon dingin.
"Aku...."
"Tidurlah di ranjang," ucap Delon terdengar santai.
"Tapi Tuan, aku.... "
"Tidur diranjang kataku!" kesal Delon sehingga suaranya terdengar meninggi.
Zifana tampak terdiam, pada akhirnya meletakkan kembali bantalnya di atas ranjang.
Dengan tenang dia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya, menarik selimut menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin.
Delon segera berlalu ke kamar mandi, dia harus membersihkan dirinya yang terasa gerah dan lengket.
Tak lama kemudian, Delon telah selesai mandi. Memakai kaos oblong dan celana pendek. Dia membaringkan tubuhnya di samping Zifana. Dia bisa melihat Zifana yang belum tertidur.
Bahkan Zifana menggeser tubuhnya agar mepet ke tembok. Delon tampak Kesal sekali melihat tingkah istrinya itu.
"Jangan lebay, aku tidak akan memakanmu," ucapnya.
Segera Zifana berdoa dan mencoba memejamkan matanya. Tak lama dari itu, terdengar denguran halus dari Zifana. Delon tersenyum, Dia juga memejamkan matanya. Keduanya terlelap dalam satu ranjang meskipun tak ada adegan apapun dimalam pertama.
...****************...
Suara adzan subuh menggema, Zifana membuka matanya. Melihat jam yang menunjukan pukul 04.00. Lama sekali dia tak melaksanakan ibadah shalat.
Hatinya tergerak untuk melaksanakan shalat. Zifana terkejut saat melihat seorang lelaki tidur disebelahnya.
Ingatanya kembali pada hari kemarin, dia ingat betul bahwa dia sudah menikah. Menjadi istri sah dari lelaki disampingnya.
Zifana menghela napas panjang, menatap ke arah Delon yang tampan. Tampan? Ya, Delon teelihat sangat tampan. Bahkan wajah sadisnya tak tampak sedikitpun.
"Apa yang kau lihat? Jangan menatapku seperti itu, kau bisa jatuh cinta padaku," ucap Delon yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Zifana terpenjak kaget, segera wanita itu berlalu tanpa menanggapi ucapan Delon. Delon tampak bahagia bisa menggoda wanita itu, dia kembali meringkuk dan memejamkan matanya lagi.
Zifana yang baru saja selesai mandi meraih sebuah mekena yang berada di walk in closed. Dia hemparkan sajadah, dia memakai mekena dan mulai beribadah.
Delon menautkan alisnya melihat zifana melakukan itu. Apa dia waras? Bagaimana bisa wanita jahat sepertinya melakukan ibadah? Segera Delon bangun, dia akan melakukan meeting bersama dengan beberapa klien nanti.
Setelah melakukan shalat subuh, Zifana berdiri. Dia melihat Delon tadi masuk ke kamar mandi. Sebagai istri yang baik, seharusnya dia menyiapkan keperluan Delon. Segera dia menyiapkan baju, celana, jas dasi di atas ranjang. Hatinya tergelitik, bukankah dia hanya istri simpanan? Hanya untuk Elia? Berpahala kah jika dia memperhatikan Delon? Entahlah. Mau dipakai atau tidak terserah dia.
Zifana turun dan menuju ke dapur, dia memasak beberapa makanan dan menyiapkan di meja makan.
Diwaktu itu tampak Delon menuruni anak tangga dengan membawa tas yang dia siapkan, Delon meletakan tas dan jas itu di sofa, kemudian memakai dasi.
Delon tampak kesusahan, segera Zifana mendekat, bukan hal sulit bagi Zifana memasang dasi, terkadang dia juga membantu kliennya memakai dasi saat mencoba setelan di butik.
Delon hanya diam, saat Zifana dengan cekatan membantunya. Delon terus saja menatap wajah cantik itu. Zifana juga tampak masabodo, mau disangka gimana. Yang jelas niatnya membantu.
"Selesai, aku sudah menyiapkan makanan, mungkin kau mau makan, tidak maupun tidak papa," ucapnya.
Delon memandangnya sinis.
"Kau mau pamer atau menawari?" tanyanya. Zifana Diam. Jika menjawab sudah pasti akan ada perdebatan.
"Kalau mau makan aku temani," ucapnya. Merasa Zifana malas meladeninya, Delon duduk dan mengambil beberapa makanan.
Semula biasa, tetapi dia rasa masakan Zifana tidak terlalu buruk. Delon makan dengan tenang. Hanya dentingan sendok yang terdengar. Sampai pada akhirnya Delon membuka percakapan.
"Ini untukmu," Delon menyerahkan kartu tanpa batas untuk zifana.
"Seperti perjanjian semula, kita hanya menikah kontrak. Akan ada masanya kita bercerai, aku tekankan lagi, aku punya istri dan aku sangat mencintainya. Kau hanya pembantuku untuk Elia, selebihnya kau tak perlu repot repot, biasanya mbak nur akan kesini siang. Kau tak perlu masak untukku," ucap Delon. Sebenarnya semalam dia tau Zifana mendengar percakapannya dengan Vely, melihat Zifana bersedih membuat hatinya juga tak tenang.
Zifana diam, dia terluka, tapi mencoba untuk tidak menangis.
"Jangan GR, bukankah aku tadi hanya bilang aku sudah masak. Kalau kamu mau boleh, aku tidak memasaknya untukmu. Lagi pula aku juga tidak mengharap kau jadi suami sesungguhnya, aku tidak mengharap kehadiranmu. Kau saja yang datang tak diundang dan malah menciumku, kau harus membayar dua kali lipat untuk itu," ucap Zifana kemudian mengambil kartu itu dan melangkah pergi.
Delon mengepalkan tangannya, bagaimana bisa wanita itu membalikan apa yang dia katakan?
__ADS_1
Zifana berlari ke balkon, dia mengusap air matanya. Walau bagaimanapun dia harus bertahan demi Elia. Hanya satu tahun, dan dia harus bisa menjelaskan pada Elia pelan pelan. Zifana menghela napas dalam dalam, menekan hatinya agar tidak lemah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...