
"Jangan berkata apapun, datang sekarang dan jelaskan. Atau kau mau aku melacak keberadaanmu dan menjemput paksa?" Wili menutup ponselnya.
Zifana melirik jam yang menunjukkan pukul 08.00. Dia harus menemui Willy. Salah satu sahabat baiknya itu. Mungkin saja nantinya dia bisa mencari informasi pekerjaan.
Lagi pula jangan sampai Willy melacak keberadaannya, bisa bahaya kalau sampai Delon mendapatinya kehadiran tamu lelaki di apartemen.
Lalu, apa tidak bahaya jika bertemu dengan Willy diluar? Ah, entahlah. Willy hanya sahabatnya. Bukankah yang tidak boleh dekat adalah lelaki sepesial?
Zifana tampak memoles wajahnya dan menatap ke arah cermin. Menggerai rambutnya yang panjang dan lurus.
"Oke, sebaiknya aku pergi. Lagi pula aku sudah izin juga," ucap Zifana sambil memakai tas di pundaknya.
Zifana membuka pintu dan bersamaan dengan mbak Nur sampai di depan pintu.
"Mbak Nur," sapa Zifana.
"Pagi Nona, saya mau membersihkan apartemen dan membantu Nona. Tuan Delon yang meminta," ucap Mbak Nur.
"Terimakasih mbak, tapi saya mau pergi. Jadi tidak bisa membantu," ucap Zifana.
"Tidak papa Nona, ini sudah jadi kewajiban saya," ucap mbak Nur.
"Kalau begitu terimakasih ya," ucap Zifana.
"Sama Sama Nona,"
"Oh iya mbak, biasanya Elia dan Nyonya.... " Zifana menghela napas panjang. Miris sekali tak tau nama mertuanya.
"Nyonya Amel," sahut mbak Nur. Zifana tersenyum dan menatap Mbak Nur.
"Iya Elia dan Nyonya Amel apa biasanya lama acaranya?" tanyanya.
"Biasanya tiga hari Nona," jawabnya. Zifana mengangguk. Rasanya sudah kangen saja pada Elia.
"Kalau gitu terimakasih mbak, saya pergi dulu," ucap Zifana kemudian melangkah pergi.
Tak berapa lama kemudian, Zifana sampai di parkiran apartemen, disana sudah ada pak Hari yang sejak kemarin mengantarnya. Pak hari membungkuk dan tersenyum.
__ADS_1
"Pagi Nona. Silahkan masuk," ucapnya menyambut Zifana. Zifana mengangguk pelan.
"Pak, antar saya ke kafe Melati ya," ucapnya pada pak Hari yang siap melajukan mobilnya.
"Siap Nona," jawabnya dan mulai melajukan mobil mewah keluaran terbaru itu.
Zifana menikmati perjalanan hingga tigapuluh menit kemudian sampailah Dia di kafe Melati. Kafe yang begitu nyaman dan sangat indah.
Segera Zifana keluar dari mobil dan masuk ke dalam Kafe. Zifana mengedarkan pandangannya, mencari sosok pria yang tadi mengancamnya, yang benar saja, lelaki tampan kini ada di pojokan ruangan melambaikan tangan padanya.
Wiliam ada disana, segera Zifana melangkah dan mendekat ke arah sahabat baiknya itu.
"Zifana," Wili berdiri menyambut kedatangan wanita cantik ini.
"Silakan duduk," Wili mempersilakan. Zifana duduk dan tersenyum.
"Apa maksudmu menghilang selama dua hari ini? Bahkan mansionmu sudah terjual, butik dan beberapa perusahaan juga sudah pindah tangan. Lalu kenapa kau tidak mengabari ku sama sekali?" tanya Wili panjang lebar.
Zifana menghela napas panjang, rasanya dia seperti diinterogasi oleh sahabatnya itu.
Dengan tenang Willy menyentuh kedua pipi Zifana, menghadapkan wajah Zifana ke arahnya, menatap Zifana dengan tatapan teduh.
"Kau tau Zie, aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku takut terjadi apa apa padamu. Kau dalam bahaya karna mempunyai masalah dengan Marvel Raditia Dika yang belum terselesaikan, bahkan sahabatnya pasti juga mengingaimu," ucap Willy.
Zifana memegang tangan Wily dan tersenyum, dia tau Willy sangat mengkhawatirkan dirinya. Selain sahabat, Willy adalah saudara baginya, meski ada perasaan lain yang dirasakan Willy untuknya.
"Kau tenang saja Wil, bukankah kau tau aku jagoan? Lagi pula aku sudah selesai dengan mereka, Nada bahkan akan membantuku untuk bicara dengan suaminya. Kau tenang saja," ucap Zifana.
"Zie, bisakah kau serius?" tanya Willy.
Zifana yang semula tersenyum tampak menatap Wily dia ingin melupakan semua kesedihannya. Lalu malah Willy memintanya untuk serius?
"Ceritakan padaku Zie, apa yang terjadi?" tanyanya.
Zifana menggelengkan kepalanya, dia tak ingin berbagi kesedihan. Dia tak ingin sahabatnya terlibat dengan urusannya.
"Aku tidak papa Wil, aku bekerja selama dua hari ini Wil. Semua yang aku punya sudah tiada, aku harus mencari uang," ucap Zifana.
__ADS_1
"Kau bisa bekerja denganku Zie," ucap Willy.
"Tapi aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, aku tidak mau bergantung padamu Wil," jawabnya. Wily menghela napas panjang.
"Oke, kalau itu baik menurutmu, tapi jangan ilang ilangan lagi, dan jangan sungkan meminta bantuan padaku jika kau butuh," ucap Willy sambil melepaskan pipi Zifana.
"Siap bos," jawabnya sambil tersenyum.
"Temani aku makan," Willy meminta.
"Beres," sahut Zifana. Keduanya bercerita, tertawa bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon yang barua saja selesai meeting di kafe melati dengan beberapa klien tampak menghela napas lega.
Setelah makan tadi mereka sudah meninggalkan tempat. Hanya tinggal Delon dan Andreas saja disana.
"Bagaimana malam pertama," tanya Andreas.
Delon menatap sahabatnya dengan geram, pertanyaan Andreas membuatnya ingat wajah Zifana, bahkan ingat juga manis bibir Zifana yang menggiurkan.
"Nikmat?" tanya Andreas sambil terkekeh. Delon melempar kotak tisue dan ditangkap oleh Andreas.
"Delon, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," ucap Andreas. Delon menatap ke arah asisten serta sahabatnya yang tampak serius itu.
"Apa?" tanya Delon.
"Tentang Vel...
Hahahha
suara tawa bahagia seseorang di sana membuat Delon dan Andreas menoleh. Tawa renyah seorang wanita membuatnya mengepalkan tangannya. Delon berdiri, Andreas tampak membelalakkan matanya. Dia melihat Zifana tampak dekat dengan seseorang, bahkan terlihat sangat bahagia. Berbeda dengan raut wajah Delon yang saat ini tampak emosi tingkat dewa melihat kebersamaan mereka.
"Jangan katakan apapun, aku tak mau mendengar apapun. Sebaiknya kita pulang," ucap Delon kemudian melangkah pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1