Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Tertangkap


__ADS_3

"kejar dia," ucap salah satu dari mereka.


Mereka mengejar langkah Zifana, Zifana terus berlari hingga tibalah Zifana di sebuah gubuk di tengah hutan. Zifana sudah tidak bisa berjalan, karna kini beberapa orang tampak mengelilinginya.


"Kau mau kemana? Kau tidak bisa menghindar Nona cantik. Pantas saja bos tergila padamu. Kau sangat menggiurkan," ucapnya sambil menatap Zifana dengan tatapan menjijikan.


Zifana memejamkan matanya, apa benar Delon? Benar benar pengecut. Dia sangat membenci Delon, jika memang ini adalah ulahnya.


Orang itu menarik Zifana. Zifana meronta, air matanya terus mengalir. Keduanya mendorong Zifana hingga Zifana terlentang, dia mencoba duduk.


"Jangan sakiti aku," lirihnya mencoba untuk duduk. Dia beringsut mundur.


Zifana pasrah, dua orang itu terus mendekat. Zifana memejamkan matanya, berharap ada pertolongan untuknya.


"Ya Tuhan, tolong aku," lirihnya lagi.


Dua orang laki-laki itu tertawa dan tersenyum meremehkannya. Tatapan menjijikan seakan menelanjangi tubuhnya.


Zifana beringsut mundur dan menggelengkan kepalanya. Zifana takut bersentuhan dengan dua manusia menjijikan di depannya.


"Pergi," sentak Zifana.


"Jangan harap Nona," ucapnya sambil tertawa. Orang itu menyentuh lengan halus Zifana. Zifana menatapnya dengan kesal.


"Lepaskan," Zifana menepis tangan orang itu sehingga membuat orang itu tersenyum dan semakin mendekat.


"Rupanya nyalimu besar juga, Nona," ucapnya sambil menatap Zifana. Zifana semakin merasakan panik, takut, air matanya begitu saja lolos.

__ADS_1


"Kau mau apakan? Kau bisa dibunuh Bos apabila memainkannya," sentak salah satunya.


Orang itu mendekat, dan membopong tubuh Zifana. Dia Menyekap mulut Zifana kemudian membawa Zifana pergi. Tak suka saja tindakan berlebihan yang dilakukan temannya.


Zifana meronta, wajahya merah menahan gejolak hal yang berkecamuk di hatinya. Siapa sebenarnya bos mereka? Orang itu terus berjalan membawa Zifana masuk di sebuah bangunan, kemudian meninggalkan Zifana di dalam sana.


"Lepaskan aku!!" sentaknya. Dia menggedor gedor pintu.


Zifana mengedarkan pandangan, di pojok sana. Seorang Lelaki tampak membelakangi Zifana. Berdiri dan menatap sebuah lilin yang memberikan cahaya yang temaram.


"Siapa kau?" sentaknya.


Lelaki bertopeng itu menoleh, mengarahkan wajahnya ke arah Zifana.


"Semalat malam, Nona," ucapnya terdengar menjijikan.


Dia maju dan mendorong Zifana hingga terlentang di ranjang. Zifana menangis histeris, badanya terasa sakit. Siapa lelaki ini? Kenapa postur tubuhnya tidak asing?


"Tolong lepaskan aku," pinta Zifana sambil beringsut mundur.


Lelaki bertopeng itu membuang bajunya entah kemana sehingga memampakan tubuh kekar yang membuat Zifana takut. Dia tersenyum sinis dan memandang Zifana penuh hasrat. Jelas sekali sorot mata dibalik topeng itu.


"Kau kira aku akan melepasmu begitu saja? Mendapatkan kesempatan ini sangat sulit. Dan aku tidak akan melepasmu," ucapnya dengan senyum jahatnya. Zifana menggelengkan kepalannya.


Dengan tubuh yang mulai kehilangan kontrol, lelaki itu menuju ke arah tempat tidur. Zifana mundur dan menatap lelaki itu dengan waspada.


"Tolong biarkan aku pergi," pintanya sambil mengatupkan ke dua tangannya.

__ADS_1


"Jangan harap Nona, kita bersenang senang malam ini," ucapnya dengan suara serak.


Dia maju dan membuat Zifana mentok di ranjang. Dia mengusap pelan pipi mulus Zifana. Membuat Zifana semakin takut.


"Kau harus menjadi milikku malam ini, setelah kau mengabaikan aku selama ini," ucapnya sambil membuka resleting celananya.


Zifana menggelengkan kepalanya. Siapa Dia? Kenapa dia tak bisa mengingat? Lelaki itu hampir saja menerkam tubuh Zifana.


Zifana menggelengkan kepalanya. Sakit, sesak semua menjadi satu. Dia mengayunkan kakinya sehingga lelaki itu merasakan sakit di perutnya.


"Kau," leleki itu semakin marah dan bergair*h, aksi Zifana seakan membuatnya semakin menggebu. Dengan lihai dia memegang kedua tangan Zifana dia menarik kasar baju Zifana hingga menampakan pundak m*lus Zifana.


"Lepaskan aku!" sentaknya lagi.


Lelaki itu menerbitkan senyuman saat dia benar-benar ada di atas t*buh Zifana dan menc*um leher Zifana. Lelaki itu menatap ke arah Zifana yang menampakkan wajah tegangnya dan masih saja mencoba untuk memberontak.


"Lepaskan!" sentaknya.


Saat ini malah wajah lelaki itu bergerak maju, mendekat ke arah wajah Zifana dan mengunci ke dua tangan Zifana dengan tangan kanannya, tangan kirinya mengusap pipi mulus Zifana yang basah karena air mata, turun ke leher, turun lagi membuka kancing baju atas milik Zifana.


Zifana semakin panik saat melihat gairah yang tampak dari sorot mata laki-laki yang kini mulai merayapkan tangannya itu. Zifana memejamkan matanya mencoba mengumpulkan kekuatan dari tubuhnya yang merespon sentuhan itu.


"Lepaskan!!"


Zifana mencoba berteriak, saat lelaki itu melepas pakaian Zifana dengan kasar, meninggalkan pakaian dalam yang tipis. Mata lelaki itu seakan membulat sempurna saat melihat gunung kembar di balik pakaian dalam yang masih tertutup itu. Tangis Zifana pecah, dia mencoba mumukul dan menendang punggung lelaki itu dengan lututnya. Namun lelaki itu seperti batu yang tak bergerak sama sekali.


"Kau begitu indah, Baby. Kita nikmati malam ini, ucapnya sambil mendekatkan bibirnya ke arah, bibir Zifana.

__ADS_1


Brak...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2