
Delon masuk ke dalam mobilnya, hatinya sesak. Sangat sesak. Melihat Zifana terduduk disana membuat dirinya merasa semakin sedih.
Tapi, sepertinya sudah cukup dia melukai Zifana. Zifana pantas bahagia, walau tidak bersamanya. Delon menyalakan mobilnya. Mungkin ini yang terbaik untuk dirinya dan Zifana. Zifana punya masa depan yang panjang, dengan lelaki tampan, mapan, dan yang lebih baik lagi darinya. Zifana berhak menentukan hidupnya.
Bayangan keindahan semalam membuatnya semakin sesak, senyum indah Zifana meyayat hatinya. Kenapa luka kembali menyayat? Delon mengalihkan pandangan, mengabaikan Zifana yang menangis dibawah guyuran air hujan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di mansion tampak antusias melihat sebuah promosi ZA grup. Gisel dan mama Amel tampak tersenyum bangga. Tapi, seulas senyuman di bibir Gisel menghilang saat ditatapnya wajah seorang yang sangat kental diingatannya.
"Zifana?" lirihnya.
"Ya, namanya Zifana. Dia begitu cantik kan? Dia istri kakakmu, ibu sambung untuk Elia, dia sangat baik," ucap mamanya.
Gisel terdiam, mendengarkan segala celoteh mamanya. Dia memejamkan matanya. Berharap apa yang didengarnya adalah sebuah kenyataan.
"Aku tidak pernah menghianatimu Gie, walau aku ketus dan sombong, aku tidak pernah mau menjadi penghianat. Aku tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Willy, aku juga tak pernah mencoba merebutnya darimu," ucapan Zifana saat itu mengiang jelas dipikirannya.
Gisel hanya diam, berharap memang Zifana telah berubah. Dia dan Zifana menjauh, karna dia pikir Zifana menyukai Willy. Tapi, melihat kenyataan jika Zifana menikah dengan kakaknya membuatnya berpikir ulang, karna yang selalu di dengar dari mamanya, istri baru kakaknya adalah wanita yang baik. Apa dia salah mengira? Hingga pada saatnya suara deringan ponsel terdengar di telinga Gisel.
"Kak Delon?" lirihnya.
"Halo kak, ada apa?" tanya Gisel.
"Gisel, Elia tertabrak," ucap suara di sebrang.
Deg
jantung Gisel tampak berdetak hebat, segera wanita cantik itu menutup ponselnya dan menatap ke arah mamanya.
"Ma, Elia tertabrak," ucapnya.
__ADS_1
Mama Amel tampak terkejut, kedua wanita itu segera berdiri.
"Kamu jangan bercanda nak," ucapnya.
"Kak Delon yang menelepon Ma," ucap Gisel.
Mama Amel pun tampak panik, segera beliau mengambil tasnya dan menuju ke rumah sakit.
Kakek Wilan tampak keluar dari kamarnya saat terjadi kegaduhan, beliau baru saja pulang dari luar negri. Ditatapnya putri dan cucunya berlarian keluar.
Tak berapa lama kemudian, salah satu asisten rumah tangga lewat di hadapannya.
"Bi, Itu kenapa Amel dan gisel berlarian?" tanyanya.
"Anu Tuan, Non Elia kecelakaan," ucapnya panik.
Kakek Wilan tampak memejamkan matanya. Dia tampak hawatir pada keadaan buyutnya.
"Oh iya Tuan, kemaren ada yang mencari Tuan, dan menitipkan ini," ucap pelayan itu sambil menyerahkan sebuah amplop kecil pada Kakek Wilan.
"Wanita cantik itu bilang, jika kakek kenal dengannya, kakek harap menghubungi nomer yang tertera," ucap pelayan itu.
Kakek Wilan menatap amplop itu dan membukanya. Ditatapnya foto sahabat baiknya.
"Herlambang Sinatria," lirihnya.
Kakek .Wilan kini menatap sebuah kartu nama yang bernamakan lengkap Zifana aurora manda Sinatria.
Deg
Jantung kakek Wilan tampak bergetar hebat.
__ADS_1
"ZA? Zifana Aurora?" lirih kakek.
Apa artinya Zifana adalah cucu dari sahabatnya? Pantas saja dia seperti tidak asing ketika melihatnya, wajahnya teduh, dan dia sangat menyukainya dia bersanding dengan Delon.
"Terima kasih Bi," segera kakek mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah rumah sakit Tangis haru masih saja tercipta. Delon yang baru datang menatap ke arah Mbak Asti yang berada di dalam pelukan seorang lelaki yang kemungkinan adalah suaminya. Seorang dokter tampak mengatakan jikalau Elia membutuhkan darah.
"Ambil darah suami saya sekarang juga Dok, selamatkan putri kami," ucap Mbak Asti dalam isak tangisnya. Mereka tampak bersedih
Delon mengepalkan tangannya, bagaimana bisa Asti karyawannya itu selancang itu? Tidak meminta persetujuan darinya.
"Apa maksudmu? Elia putriku, aku yang seharusnya memberikan darahku untuknya," ucap Delon begitu dingin. Delon mendekat dan menatap mbak Asti dan suaminya dengan tajam.
Mbak Asti menatap Delon dengan kesedihan yang mendalam.
"O resus negatif, apa golongan darah anda sama dengan Elia?" tanya Mbak Asti dengan tenang.
Deg
Jantung Delon bergetar hebat, dia terhuyung mundur. Tubuhnya terasa lunglai. Andrean yang baru datang segera memegangi tubuh Delon yang begitu sangat syok.
Mama Amel dan Gisel yang baru datang juga tampak terkejut.
Delon masih menatap dokter dan mbak Asti. Golongan darahnya B+ dan golongan Darah Vely adalah AB. Lalu, siapa Elia jika golongan darahnya tidak sama dengan salah satu diantaranya?
"Sebaiknya saya segera mengambil darah, yang mempunyai golongan darah O resus negatif segera ikut dengan saya," ucap Dokter dan melangkah pergi. Suami mbak Asti segera mengikuti langkah dokter. Sedangkan Delon, andreas, mama Amel dan Gisel tampak saling berpandangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1