
Di sebuah pusat kota. Gisel, mama Amel dan kakek tampak bermain bersama Elia. Mereka sangat bahagia.
Sedangkan Delon dan Andreas yang baru saja selesai bermain dengan Elia tampak duduk di bawah pohon yang rindang. Mereka menunggu sambil memikmati hidangan di cafe itu.
Andreas tampak menghela napas melihat ke arah Delon yang tampak sedikit gelisah.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
Delon mengalihkan pandangannya, dia memikirkan Zifana. Apa yang dilakukan wanita itu? Dia baru saja melihat pesan singkat yang dikirimkan kontak yang bernama Beautiful Wife tiga jam yang lalu.
Kak, aku pergi bersama Willy. Ada hal yang harus aku urus. Assalamualaikum.
Delon mencoba tenang, tapi dia tampaknya tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Pasalnya ponsel Zifana tidak aktif saat dia membalasnya. Bahkan sampai sekarang tidak bisa dihubungi. Apa yang dilakukannya bersama Willy?
"Kau memikirkan istrimu?" tanya Andreas.
Hati Delon berdesir mendengar ucapan Andreas, sejujurnya mungkin benar hatinya telah terpaut dengan Zifana. Namun entah mengapa mulutnya sulit untuk mengakui nya. Delon memandang Asistennya itu.
"Benarkan?" tanya Andreas. Delon terdiam.
" Kau itu benar-benar seperti pengecut De, saat dekat kau mengabaikannya. Saat jauh kau merindukannya. Aku rasa apa yang kau ucapkan saat syuting tadi adalah isi hatimu yang sesungguhnya," ucap Andreas sambil memandang beberapa Vidio dari editor dan akan dipasarkan satu jam lagi.
Mendengar ucapan Asisten pribadinya itu membuat darahnya mendidih, Delon melemparkan bantal sofa pada Andreas. Andreas tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan atasanya.
__ADS_1
"De, aku cukup lama mengenalmu. Aku tau isi hatimu. Mengaku saja, tapi aku rasa kau harus segera menyatakan perasaanmu. Sebentar lagi Zifana terkenal. Kau bisa kalah saing jika klienmu menyukainya," goda Andreas.
Delon melirik asisten nya .
"Sudahlah dika jangan menggodaku, sudah berapa kali aku bilang padamu, aku tidak tertarik membicarakan gadis itu," bentak Delon, Andreas terkejut, senyum tipis terbit dari mulutnya.
Dia yakin Delon sedang cemburu karna Zifana bersama Willy, jikalau bos nya itu tidak cemburu, tidak akan mungkin uring-uringan seperti ini.
"Pergilah, mood jadi jelek karnamu, aku tidak bisa konsentrasi," sentak Delon. Andreas tertawa dan berdiri.
"Baik tuan. Aku sarankan lebih baik anda pulang, temui istri anda tuan, mood anda jelek mungkin karna anda benar-benar merindukan nya," ucapnya
"Andreas...!!!!!!!!?!" teriak Delon dengan kesal.
Delon membuka ponselnya, mendapati foto dirinya dan Zifana. Foto tadi siang, Zifana begitu mempesona dengan senyuman nya, juga dengan dirinya yang terlihat tampan berkarisma.
Hari ini adalah tepat satu bulan pernikahannya dengan Zifana. Wanita yang dulu sombong dan angkuh. Wanita galak yang mengibarkan bendera perang padannya, kini berubah menjadi wanita yang lembut dan begitu tenang. Wajah yang terlihat semakin baginya itu benar-benar membuatnya gila. Delon tersenyum.
"Apa iya aku jatuh cinta kepadamu nona Sombong?" tanyanya sambil membelai wajah Zifana di foto itu.
Delon melihat jam yang melingkar ditanganya, menunjukkan pukul 20.00.
"Apa Zifana belum pulang?" Delon mencoba lagi menghubungi istrinya. Nihil, tidak bisa. Entah mengapa hatinya gelisah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zifana yang baru saja selesai shalat isya di masjid dekat dekat danau tampak tenang. Dirinya yang tadi sedih sudah sedikit lebih baik.
Hari sudah malam, iapun memutuskan untuk segera pulang. Sebenarnya Willy tadi tidak benar benar pulang, tapi Zifana mengetahui dab meminta lelaki itu untuk pulang. Tiba tiba dia teringat Delon.
"Kak, apa kamu tidak sedikitpun merindukan ku?" lirihnya. Zifana menepuk dadanya yang terasa sesak. Segera dia berjalan ke arah ojek yang ada di pertigaan. Memang tidak ada taksi, apalagi ponselnya juga lobet tidak bisa untuk memesan taksi online.
"Pak antar ke alamat ini ya," ucap Zifana pada tukang ojek di paling ujung. Tukang ojek mengangguk dan memberikan helm pada Zifana kemudian menancap gas motornya.
Di tengah sepinya jalanan, Zifana merasakan tak nyaman, dia meminta tukang ojek untuk menambah kecepatan nya. Tapi, justru tukang ojek itu membawanya ke arah yang lain.
"Pak ini mau kemana?" tanyanya terdengar begitu ketakutan.
"Jalannya disana ditutup karna dibangun Nona, kita cari jalan lain," jawabnya dan sedikit lega.
Dalam hati dia berdoa, berharap dia akan baik baik saja. Tapi, beberapa saat berlalu, bukan keluar dari kawasan itu, dia merasa malah semakin masuk di kawasan hutan. Zifana semakin gelisah.
"Pak, kenapa tak sampai sampai di jalan raya?" sentak Zifana. Orang itu diam dan malah mempercepat laju motornya. Zifana sadar, dia dalam bahaya. Apa yang harus dia lakukan?
"YaTuhan tolong hambamu," lirihnya. Air matanya begitu saja mengalir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1