
Delon dan Steve saling berjabat tangan dan berangkulan sejenak. Bayangan masa lalu melintas. Delon tampak mengepalkan tangannya dan melepaskan pelukan itu.
"Steve, senang bertemu denganmu, sobat," ucap Delon sambil menekan kata sobat kemudian melenggang pergi. Andreas yang semula menatap Stev juga mengikuti langkah bosnya.
"Steve, CEO Steve grup?" batin Andreas.
Steve tampak dongkol, hatinya bergemuruh marah dan emosi. Kenapa harus Delon? Sekian banyak perusahaan terkenal dan maju, kenapa harus Delon? Kenapa harus musuh bebuyutannya yang menjadi kliennya?
Lalu, apa yang harus dia lakukan? Vely pergi, itu artinya dia herus kehilangan kontrak kerja, nama baik dan denda. Tapi jika Vely tetap disini maka asetnya akan hilang begitu saja.
Steve tampak berpikir keras, hingga dia masih berdiri dalam pemikirannya, padahal orang orang disekitarnya sudah duduk.
Semua mata memandang ke arahnya, Delon tersenyum sinis. Delon yakin Steve masih terbengong dan tak percaya dengan kenyataan ini. Dan dipastikan dia tak terima dengan Kenyataan bahwa dia ada dibawah kendali Delon.
"Tuan Steve, apa anda sedang memikirkan sesuatu?" tanya Delon sambil menyandarkan dirinya ke kursi putar.
Deg
Steve tersadar dari lamunan dan menatap ke arah delon dan beberapa petinggi perusahaan.
"Maaf Tuan," ucapnya kemudian dia duduk. Matanya tertunduk ke bawah. Tangannya terkepal kuat dibawah meja.
Delon tersenyum sinis kemudian membuka meeting pagi ini. Delon panjang lebar membahas kerja sama. willy tampak mengangguk dan setuju dengan segala yang menjadi penjelasan Delon. Begitu juga dengan petinggi perusahaan dan staf lainya.
Akan tetapi, berbeda dengan Steve yang tampak panik dengan semua pembahasan.
"Oke, ada yang ditanyakan?" tanya Delon. Tampaknya penjelasan yang dia ajukan sudah diterima.
Tak ada sahutan apapun, tak ada pertanyaan apapun dari konsep yang Delon jabarkan.
"Jika tidak ada yang ditanyakan, maka saya yang akan bertanya," ucap Delon sambil menatap satu persatu orang di depannya.
Arzenio Delon wilantama, semakin dia mendapat masalah semakin dia menyimpan emosi dan akan menyebabkan dirinya semakin kritis dalam mempertanyakan sesuatu sebagai sebuah pelampiasan. Masalah hidupnya dengan dua wanita membuatnya saat ini tampak semakin dingin.
Semua orang menatap ke arahnya, suasana sangat tegang saat Delon membuka beberapa berkas yang tertera di depannya.
Banyak pertanyaan yang ditujukan pada bagian bagian tertentu dengan permasalahan yang pada akhirnya bisa diatasi. dan yang terakhir adalah bagian pemasaran.
Delon menatap WL grup sebagai bagian pemasaran yang bekerja sama dengan Steve grup yang menyediakan segala aspek pelaksanaan pemasaran.
"Bagian pemasaran," ucap Delon.
Willy mengangkat tangannya.
"Jadi bagaimana? Apa semuanya sudah sesuai dengan kesepakatan dan konsep yang kita setujui?" tanya Delon sambil menatap ke arah Willy.
__ADS_1
"Ya, untuk semuanya sudah terjadwal dengan rapi. Dan untuk pelaksanaan yang ditujukan kepada Steve grup, juga sudah kami bicarakan. Untuk semuanya bisa kita mulai besok. Begitu juga dengan pemotretan yang sudah dibicarakan, bahkan untuk model juga sudah.... " ucap Willy. ucapannya menggangtung ketika melihat kursi milik Clara kosong.
Delon yang menganggukan kepalanya kini menatap tajam ke arah Willy. Steve semakin tersudut di keadaan ini. Apa hang harus dia katakan?
Delon menyedekapkan tanganya di depan dada. kemudian bersandar di kursi.
"Kenapa? Kau terkejut tak ada modelnya?" tanya Delon. Willy tampak diam.
"Bahkan aku sedari tadi terkejut juga. Bukankah tadi kau menginformasikan jika modelnya sudah stay di tempat. Lalu, dimana dia?" tanya Delon sambil meneguk air putih. Tatapan matanya mengarah pada Willy dengan tatapan yang mengintimidasi.
Willy menatap ke arah Steve dengan panik, dia mendekat ke arah Steve.
"Tuan, dimana Nona klara?" tanyanya.
"Maaf Tuan, Klara tidak enak badan, sepertinya dia pulang," jawabnya tampak panik.
"Bagaimana bisa? Kita sudah membicarakan tadi," ucap Willy dengan nada yang sedikit ketus.
"Ini darurat, saya tidak mau juga seperti ini Tuan," ucap Steve.
"Dimana dia? Sebentar saja bertemu," ucap Willy terdengar emosi.
"Sepertinya dia pulang," ucap Steve.
Delon yang tampak menunggu kini menghela napas panjang.
"Bagaimana Tuan Willy dan Tuan Steve, katanya sudah dibicarakan. Lalu, apa masih kurang pembicaraannya?" ucap Delon.
Willy menghela napas panjang dan menatap ke arah Delon.
"Maaf Tuan, kami minta waktu untuk diskusi sebentar," ucap Willy. Delon tampak menghela napas kasar.
"Dua minggu bagiku waktu yang cukup untuk mempersiapkan semuanya, seharusnya kalian bisa, kenapa mendadak seperti ini? Bagaimana agensi besar, sangat tidak memuaskan pelayanannya?" ucap Delon lagi. Willy dan Steve saling berpandangan.
"Baik, lima belas menit untuk kalian. Dan segera bawa ke sini patner pemotretan saya, tak bisa mempertemukan kami maka kita hentikan kerjasama ini," ucap Delon dengan tegas.
Willy dan Steve keluar dari ruangan dan kini menuju ruangan Willy.
Willy yang tampak murka menatap ke arah Steve dengan geram.
"Bagaimana bisa klara pergi? Lalu harus bagaimana? Bukankah kau tau kosekwensinya jika kita gagal?" tanya Willy sambil mengusap kasar wajahnya.
"Maaf Tuan, tapi ini darurat dan saya tidak bisa menggunakan klara. Aku sudah berusaha menghubungi model lain, tapi untuk saat ini dan besok mereka full," ucap Steve. Willy menggebrak meja.
Keduanya menghela napas kasar, memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Ide konyol memenuhi otak Steve dan Willy, keduanya saling berpandangan.
" Nona Zie," ucap keduanya bersamaan.
Saat itu, Zifana tengah keluar dari toilet. Kedua pria tampan itu tampak memoleh ke arah wanita cantik dengan paras ayu mempesona itu.
"Ada apa? Kenapa memanggil namaku?" tanya Zifana yang tampak terkejut. Wily menghela napas panjang. Mungkin ini tidak masuk akal, karna sejak awal Zifana menolak berhubungan dengan Wilantama grup, akan tetapi mencoba meminta bantuan supaya dua perusahaan selamat.
"Zie, bantu kami," ucap Willy sambil memegang kedua pundak Zifana. Steve tampak tak suka dengan pemandangan ini, akan tetapi dia tidak punya pilihan lain.
"Ada apa?" tanya Zifana tak kalah panik.
"Zie Klara pergi, kita bisa hancur jika tidak bisa membawa model ke hadapan Tuan Delon saat ini, Bantu kami zie. Selamatkanlah perusahaan kami," ucap Willy.
Deg
Zifana tampak menutup mulutnya, apa yang harus dia lakukan? Dia cukup tau kosekwensi yang akan didapat dua perusahaan itu. Lalu dimana klara? Zifana masih tak bisa menjawab.
"Zie aku tau kau tidak mau berurusan dengan mereka, tapi aku mohon kali ini saja," ucap Willy dengan memohon. Zifana tampak bingung, Dia juga tampak lemas. Bukankah harus berpasangan dengan Delon?
"Tuan Willy, Tuan Steve, dua menit anda tidak keluar, maka Tuan Delon akan pergi," ucap suara dari depan pintu.
Zifana, Steve dan juga Willy kini tampak memejamkan matanya. Mereka sangat panik.
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa menunggu lebih lama, saya harus pamit," ucap Delon yang kini membuka pintu ruangan.
Netranya menatap ke arah sosok cantik yang kini mengusik pandangannya. Zifana tampak terkejut, tapi tak bisa dipungkiri dia sangat bahagia melihat wajah tampan itu.
"Dia Nona Zie, model yang akan berkolabkrasi dengan anda," ucap Steve.
Deg
Jantung Delon berdetak hebat, marah, sedih, senang, semua bercampur menjadi satu, jadi Zifana kabur untuk mendapatkan pekerjaan ini? Delon mengepalkan tangannya tak trima. Akan tetapi sebuah ide konyol muncul dalam benaknya sehingga menekan emosinya.
Netranya masih menatap wajah cantik yang tampak syok itu. Walau dia tak percaya Zifana melakukan pemotretan dan menjadi model. Akan tetapi, Ini adalah hal yang sangat menguntungkan untuknya.
"Zifana? Oke, aku bisa bersama dengannya dengan dalih pekerjaan. Elia juga bisa bahagia, dengan ini juga aku bisa membuat Vely sakit hati. Sepertinya jalanku untuk menyingkirkan Vely sedang dimudahkan. Nona Zifana, selain partner dalam pemasaran. Kau adalah patner dalam membalas dan menyingkirkan Vely," batin Delon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga bab untuk kalian hari ini. Aku mau like komen, hadiah yang banyak. klo enggak aku g janji besok up. wkwkwkkw.
Othornya sedih g tembus like 200 padahal yang baca seribu lebih loh 😭.
__ADS_1