Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Jadi ke tempat sahabatmu?


__ADS_3

Jam menunjukan puluk 05.00 pagi, Delon yang semalam mengoreksi beberapa konsep iklan yang akan diajukan kerja sama dengan salah satu agensi yang terkenal di kota itu, ternyata ketiduran di ruang kerja.


Delon menatap dirinya yang masih meringkuk di kursi, selalu seperti ini. Bahkan sejak bersama Vely, waktu bersama saja jarang ada.


Berhubungan saat lelah dan letih dan seperti tak sadar akibat ngantuk berat. Nikmatnya bercinta tak dinikmati dan entah bagaimana semuanya sebenarnya terasa hambar, malam pertama seperti terlewatkan begitu saja, hanya saja dia mendapati noda merah di spray tempatnya berada dengan Vely di pagi harinya. Apa ada yang salah?


Kadang kala, keganjalan yang dia rasakan begitu aneh, tetapi kenapa selalu saja dia tak sanggup menanyakan jika melihat keadaan Vely? Delon mengusap wajahnya dengan kasar.


Dengan Zifana yang masih terhitung hari membuat harinya sedikit hangat. Meski cinta di dalam hatinya untuk Vely dan kebencian sangat kental untuk Zifana, nyatanya keperdulian Zifana yang salah satunya memperdulikan urusan perutnya mampu menggetarkan hatinya.


Delon berdiri, ingin segera mandi dan bersiap. Dia melirik ke kamar mandi. Mana mungkin mandi di sini? Bajunya saja di kamar atas. Segera Pria tampan itu melangkah ke kamarnya yang dihuni oleh Zifana.


Zifana yang baru saja mandi menatap dirinya di depan cermin, kadang masih tak menyangka dia sudah menikah. Menikah dengan orang yang nyatanya sangat membencinya, orang yang hanya akan menikah dengannya selama setahun karna sebuah perjanjian. Bahkan dia istri kedua yang disembunyikan. Matanya berkaca, tak pernah menduga ini takdir hidupnya setelah memutuskan keluar dari mansionya.


Rasanya sesak, rasanya sakit. Dan perasaan nyaman dia rasakan saat dia menceritakan semua keluhnya dan kesahnya setelah shalat. Shalat yang selama ini dia tanggalkan. Saat ini dia berhalangan, dia bingung dengan apa lagi dia bisa melupakan kesedihannya.


Zifana menatap jam dinding, sudah pukul lima lebih. Dimana Delon? Apa masih tertidur? Segera wanita cantik itu bejalan ke arah pintu. Zifana mengulurkan tangannya untuk membuka pintu, akan tetapi dorongan dari luar membuat jidatnya bertabrakan dengan daun pintu.


"Aduh," keluhnya.


Delon yang membuka pintu terkejut, dia segera masuk dan menutup pintu kembali. Netranya menatap Zifana yang tampak memegang kepalanya yang terasa sakit. Delon mengulurkan tangannya mengusap lembut dahi Zifana. Meniupnya dengan tenang dan pelan.


Deg


Jangung Zifana berdetak cepat, netranya menatap Delon yang kini tampak teduh. Wajah sinisnya entah kemana. Dia sangat tenang dan sangat lembut.

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa aku gugup sekali. batin Zifana.


"Kau itu ceroboh sekali," Delon melepaskan tangannya dan menatap tajam ke arah Zifana.


Zifana menghela napas panjang, dan menatap Delon dengan kesal.


"Ceroboh bagaimana? Harusnya kau yang mengetuk pintu sebelum masuk Kak," ucap Zifana sedikit ketus.


"Ini kamarku, masuk dan keluar itu urusanku. Kau tidak bisa mengaturku," sentak Delon kemudian berlalu menuju ke walk in closed.


Zifana memutar langkah dan menatap ke arah Delon yang mencari bajunya.


"Kalau begitu kau putuskan saja dimana aku harus tidur Kak. Tidak disinipun aku tidak papa, aku tau posisiku, kau tinggal katakan dimana aku harus berada!" ucap Zifana.


Hatinya begitu jengkel, hatinya juga begitu sakit hampir seminggu ini. Lalu apa fisiknya juga harus sakit? Dia tak mau menyakiti dirinya sendiri. Jika diam hanya membuatnya sakit hati, maka sesekali dia harus membalas ucapan Delon yang baginya sangat menyakitkan itu.


Zifana malah melangkahkan kakinya keluar kamar saat melihat pergerakan Delon yang mendekat ke arahnya.


Delon mengepalkan tangannya, kenapa ada wanita sombong seperti Zifana? Bagaimana bisa wanita itu ada dikehidupannya? Segera Delon membersihkan dirinya dan harus berangkat pagi pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zifana melangkahkan kakinya ke arah dapur, walau bagaimanapun posisinya bagi Delon, tapi dia tak mau mengabaikan juga tugas seorang istri. Zifana menyiapkan sarapan pagi dengan roti, dia juga menyiapkan segelas susu untuk Delon.


Zifana menyiapkan semuanya di atas meja, saat itu Delon berjalan dari atas sambil mengancingkan lengan bajunya.

__ADS_1


"Kau jadi ke tempat sahabatmu?" tanya Delon yang kini menarik kursi di meja makan.


Zifana menatap sekilas ke arah suaminya yang seolah tak punya dosa itu. Dia hanya diam dengan wajah sebalnya.


"Kau punya mulutkan, tidak bisa menjawab pertanyaanku?" tanyanya.


Zifana duduk tepat di depan Delon, sepertinya jika terus diam bakal menyulut emosi Delon, dan bisa jadi Delon berubah pikiran dan tak mengizinkan. Pada akhirnya Zifana menatap ke arah Delon.


"Bukankan aku tidak membatalkannya? Itu artinya jadi, Tuan," ucapnya.


"Pulang jangan telat, aku sampai kau juga sudah harus dirumah," ucap Delon sambil menyuapkan sarapanya.


"Memang kakak akan kesini lagi?" tanya Zifana.


Delon menghela napas panjang, bahkan dia tak tau kenapa dia mengucapkan itu. Apa dia akan kesini lagi? Entahlah. Delon mengambil ponselnya yang berada di saku jasnya yang dia letakan di sandaran kursi. Ponsel yang semalam tertinggal di nakas kamar Zifana.


Delon Begitu terkejut saat melihat 20 panggilan tak terjawab Dari Vely. Astaga, segera pria tampan itu memanggil balik sambil berdiri dan memakai jas dengan susah payah.


Zifana yang melihat Delon kesusahan memakai jas karna membuat panggilan telepon, kini segera mendekat ke arah Delon dan membantunya.


"Darling, angkatlah," lirih Delon dan terdengar sangat jelas di telinga Zifana.


Deg


Rasa sakit menyelinap dalam benak Zifana, jadi dia menghubungi istri pertamanya?

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2