Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Satu Permintaan yang belum kau kabulkan


__ADS_3

Delon dan Andreas telah sampai di depan apartemen. Diparkirnya mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam itu. Segera Delon keluar dan berjalan ke arah pintu utama.


Tampak beberapa petugas keamanan di depan pintu menyambutnya.


"Selamat Malam Tuan Delon," sapanya.


"Malam, apa sampai sekarang tak ada penghuni di apartemenku?" tanyanya tanya basa basi.


"Saya rasa seperti itu, Tuan," ucap Meneger keamanan itu dengan yakin.


"****," umpat Delon kemudian berlalu. Petugas keamanan tampak menunduk dan hampir saja melangkah.


"Aku akan menguncinya, tetaplah di tempatmu," ucap Andreas kemudian melangkah pergi mengikuti langkah Delon yang tampak terburu.


Delon dan Andreas tampak tergesa berjalan ke arah lift. Andreas mendapati Delon yang panik dari raut wajahnya yang merah padam, akan tapi lelaki itu tak mau mengkui apa yang dirasakannya sedari tadi. Andreas cukup tau ekspresi wajah Delon. Bukan setahun atau dua tahun mereka bersama. Cukup mudah bagi Andreas mengetahui perasaan yang bagaimana yang dirasakan bosnya.


Mereka masuk dan menekan lantai nomer 34. Tak berselang lama, sampailah kedua orang tampan itu di unit apartemen milik Delon. Ditatapnya hendel pintu yang memang terlihat tidak dikunci.


Dengan pelan Delon membuka pintu. Entah, saat ini perasaannya tak menentu, tapi dia berharap tak terjadi sesuatu dengan Zifana. Dia berharap wanita itu baik baik saja.


Delon melangkah masuk, tatapan matanya tertuju pada meja makan. Zifana selalu saja memperhatikan urusan perut, dia selalu menyiapkan makanan yang lezat untuknya. Lezat? Ya, bagi Delon masakan Zifana sangat lezat. Akan tetapi tak pernah sekalipun memuji di depan wanita itu. Tapi, kenapa saat ini meja makan tampak kosong?


Jantung Delon berdetak tak karuan, Delon membuka pintu kamar santai. Beberapa kali Delon melihat Zifana melakukan ibadah shalat disana, tak sepengetahuan Zifana dia selalu melakukan hal serupa saat Zifana telah pergi dari ruangan itu. Kini Delon hanya berharap wanita cantik itu sudah selesai halangan dan shalat disana, akan tetapi tak ada apapun di ruangan itu, membuat hati Delon semakin sesak.


Delon menghela napas panjang, dia memutar langkah menuju ke ruang televisi. Berharap wanita cantik itu tertidur di sofa. Tapi tak ada siapapun. Lagi lagi Delon merasa kecewa.


Delon memejamkan matanya.


"Apa dia dikamar?" tanyanya lirih.


Bahkan untuk berucap menyebut namanya Delon tak mampu. Nama Zifana baginya sangat indah, terucap nama Zifana dimulutnya mampu menggetarkan hati dan jiwanya.


Dengan lari kecil Delon menapaki anak tangga demi anak tangga.


"Nona Zifa kau dimana?"


Suaranya menggema memanggil nama Zifa. Andreas yang mendengar menatap ke arah Delon. Dipastikan Delon tengah merasa sesak. Dimana Nona Zifana? Pertanyaan yang mengiang di otak Andreas yang kini berada di balkon kamar.


Delon menghela nafas panjang, menaiki satu persatu anak tangga dengan langkahnya yang semakin pelan, pelan sekali, dadanya sesak. Dimana wanita itu? Kenapa Delon seakan tak mampu menerima kenyataan jika memang wanita itu meninggalkan apartemen?


Dengan pelan Delon membuka pintu kamar, melangkah masuk ke dalam kamarnya. Kosong, membuat hati Delon semakin sesak.


Bayangan Zifana ada disudut kamar ini. Tapi menghilang sebentar kemudian. Tidak ada Zifana di ranjangnya, tidak ada yang menyambut dirinya seperti biasanya. Kemana wanita itu?


Delon berjalan menuju ke lemari pakaian, pakaian Zifana masih tertawa rapi di dalamnya. Dia mengusap kasar wajahnya. Pagi tadi dia masih merasakan sentuhan lembut tangan istrinya, masakan lezat dari istrinya.


Delon berjalan menuju meja rias istrinya, beberapa jam yang lalu Zifana masih duduk disini sambil menyisir rambutnya.

__ADS_1


Delon mendaratkan bokongnya di kursi itu, mengulurkan tanganya mengambil bingkai foto Papa Zifana. Bahkan, tak ada foto pernikahan yang dia abadikan, bukankah banyak foto pernikahan yang diambil Andreas? lalu kenapa tak membingkainya satu saja? Delon mengumpat kesal. Entah pada siapa dirinya kesal.


"Kau dimana Zifa?" lirihnya lagi. Hingga satu percakapan terakhir dengan Zifana terekam jelas dalam otaknya.


"Kau diapartemen saja, ada mama. Aku rasa Elia tidak rewel, aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan bantuanmu," ucap Delon saat itu.


Zifana tampak tersenyum, mereka makan bersama. Hingga saatnya tiba Delon pamit untuk pergi.


"Aku harus berangkat, mungkin untuk beberapa hari aku tidak bisa mengunjungimu," ucap Delon.


Zifana tersenyum dan menatap ke arah suaminya, keduanya saling berpandangan. Entah perasaan apa yang ada dalam benak keduanya. Terasa sangat sesak dan sangat menusuk ulu hatinya.


"Hem, hati hati kak. Aku minta maaf jika aku sering membuatmu kesal," ucap Zifana sambil mencium telapak tangan Delon.


Delon memejamkan matanya, entah kenapa hatinya merasa hangat dengan perlakuan Zifana. Zifana berdiri, Delon meraih pinggang ramping Zifana dan mencium puncak kepala istrinya.


Zifana saat itu memejamkan matanya, berada dalam pelukan Delon terasa sangat nyaman.


"Kak, berangkatlah. Jangan merindukan aku," ucap Zifana sambil terkekeh. Delon menautkan alisnya, dia terkekeh juga. Wajah dingin dan galak entah kemana.


"Kau pikir kau siapa? Bahkan tak bertemu denganmu selamanyapun tak ada masalah bagiku," ucapnya kemudian melenggang pergi.


Delon berdiri dan mengepalkan tangannya. Dia tampak menyadari sesuatu.


"Apa Zifana pergi?"


Delon menggelengkan kepalanya, rasa marah, rasa kesal, rasa sesak semua bercampur menjadi satu. Delon berlari ke balkon. Tak ada Zifana.


"****, dasar wanita mata duitan. Setelah mendapatkan kartu tanpa batas kau pergi!!!," teriaknya.


"Kupikir kau benar benar berubah, ternyata kau sama sama saja!" ucapnya lantang. Dadanya sesak. Dadanya bergemuruh.


"Kau dimana Zifana!"


****, Dor


Umpat Delon sambil melemparkan bingkai foto secara bersamaan. Delon mengusap kasar wajahnya. Dia merasakan sakit hati, merasakan hancur. Kenapa? Apa karna cinta itu mulai tumbuh? Entahlah.


Delon menenangkan dirinya dan menjatuhkan dirinya di ranjang. Tangannya terulur dan tak sengaja menyentuh sesuatu di atas nakas.


Segera lelaki tampan itu duduk, dilihatnya acses card, kartu tanpa batas disana.


Deg hatinya semakin sakit, saat mengetahui ternyata kartu itu disana. Delon mengusap kasar wajahnya.


Rasanya ingin menghukum dirinya sendiri karna kepergian Zifana. Delon merasa menjadi manusia yang bodoh, apa Zifana pergi karna dirinya? Delon tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Namun, egonya seakan tak mengakui semuanya.


"Pergi saja jika itu maumu!" Teriak Delon saat kata kata Zifana mengiang kembali di pikirannya.

__ADS_1


Delon mengusap kasar wajahnya dan membuat satu pukulan ke dinding. Darah segar mengalir. saat itu netranya mendapati satu kertas di atas nakas juga.


Segera tangan Delon yang berlumuran darah mengambil kertas itu. Dibukanya perlahan dengan perasaan yang hancur.


Tuan Delon yang terhormat,


Maaf mungkin tak pernah bisa menghapus kesalahanku, seorang istri yang meninggalkan apartemen tanpa seizinmu.


Tapi, aku berharap maaf itu ada untukku. Walau kebencianmu lebih banyak dari maafmu.


Terimakasih atas kebaikan yang belum sempat aku balas. Terimakasih atas kebersamaan singkat yang berisi tangis, sedih, bahagia yang bersamaan dan mampu membuat aku merasa sempurna. Bersamamu pernah menjadikan aku sebagai seorang ibu, bersamamu pernah menjadikan aku sebagai seorang istri.


Mungkin, aku tak bisa membayar semua kebaikanmu. Dan yang aku butuhkan hanya kata maaf.


Kurasa, kebersamaan singkat kita membekas dalam dada. Aku tak sanggup untuk terus berada disampingmu hanya untuk menjadi orang ke tiga dalam rumah tanggamu. Bahagialah bersama istrimu, bersama Elia.


Bukankah kau pernah bilang akan mengabulkan dua permintaanku saat itu? Kau baru mengabulkannya satu. Saat ini, aku minta padamu biarkan aku pergi untuk selamanya.


Zifana


Delon terduduk di ranjang, hatinya hancur, sudut matanya basah.


"Zifana," lirihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zifana Manda




Arzenio Delon




Velya



Ellia



Steve

__ADS_1



Visual menurut imajinasi author ya. wkwkwkkw


__ADS_2