
Pagi Ini Zifana membuka matanya dengan perlahan, mengumpulkan kesadarannya dari mimpi indahnya, tubuhnya sudah terasa bugar kembali.
Segera wanita cantik itu beranjak dari ranjangnya dan membersihkan dirinya. Dia juga melaksanakan shalat subuh, baru saja dia melakukan mandi wajib setelah beberapa hari kedatangan tamu.
Setelah menyelesaikan ritual paginya di kamar, kini segera Zifana menyiapkan sarapan paginya. Tak lama kemudian, wanita cantik yang telah selesai sarapan itu segera bersiap untuk berangkat ke kantor.
Hari ini hari pertama dia bekerja, banyak sekali jadwal meeting yang telah di share Willy padanya semalam. Dan dia harus mempersiapkan berkasnya pagi ini.
Meeting bersama Steve grup dan juga Wilantama grup.
Deg
Zifana menghentikan aktivitasnya, Kenapa dia merasa gugup? Bukankah dia sudah mengagatakan pada Willy tidak mau meeting jika yang datang adalah Delon sendiri? Lalu apa yang dihawatirkan lagi? Bukankah Willy juga sudah menyetujui?
Zifana menghela napas dalam dalam, dia mencoba untuk menguatkan hatinya. Mencoba untuk tetap tenang. Dia yakin semuanya akan baik baik saja.
"Zifana, ayo kamu bisa," ucap wanita cantik itu kemudian mengambil tas dan juga kunci mobil yang sudah dipersiapkan di atas kursi.
Kini Zifana melangkah dengan tenang menuju ke arah parkiran rumah. Dia masuk ke dalam mobil, kemudian mengemudikan mobil mewah milik Willy menuju ke WL grup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon dan juga Andreas kini telah menyelesaikan sarapan. Salah satu pelayan datang untuk membuatkan makanan dan juga membersihkan apartemen.
Dani dan juga Andreas sudah menyelesaikan beberapa berkas yang dibutuhkan untuk meeting bersama WL grup dan juga Steve grup.
Saat ini, Delon tampak diam. Mungkin hatinya masih merasakan sakit dan kecewa yang mendalam sehingga wajahnya pun tampak dingin.
"Apa kau yakin ikut meeting dengan keadaanmu yang seperti ini?" tanya Andreas pada bosnya yang tampak murung itu.
"Ya," jawabnya.
"Oke, semoga suasana hatimu membaik setelah ini," ucap Andreas dan diangguki oleh Delon.
Delon berdiri dan segera melangkah keluar. Andreas mengikuti langkah Delon, keduanya menuju parkiran dan segera melajukan mobil menuju ke arah WL grup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pagi hari di mansion Delon, Gisel yang sudah rapi kini menatap dirinya di cermin. Dia masih saja terkejut mendapati kenyataan bahwa wanita yang dinikahi kakaknya adalah Zifana manda.
"Zifana aurora? Zifana manda?" lirihnya.
Ingatannya tertuju pada satu kejadian yang dialaminya dulu.
Saat itu, Gisel menapaki anak tangga sebuah universitas ternama. Kabar mengejutkan jika kakak iparnya yang melahirkan membuatnya tak melihat jalanan. Gisel yang menunduk tak sengaja menabrak seseorang, keduanya saling berpandangan.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Gisel sambil mengatupkan kedua tangannya memandang wanita cantik yang berusia sama dengan usianya.
Wanita cantik dengan gaya elegannya, wanita cantik yang terkenal angkuh, sombong dan jauh dari kata baik.
"Maaf katamu?" tanya Wanita itu dengan tatapan angkuh yang membuat Gisel terdiam.
"Iya, maaf. Aku tidak sengaja," ucap Gisel lagi. Wanita itu tak diam saja.
"Maafmu tak merubah apapun! kau sengaja kan?" sentaknya sambil mendorong Gisel. Gisel yang di dorong terhuyung mundur. Gisel menatap wanita itu dengan tatapan tajam, sebenarnya mereka bersahabat. Suatu kesalah pahaman membuat keduanya terpecah belah.
Gisel tampak tak trima dan membalas dorongan dari wanita itu. Terjadi keributan dan membuat mereka menjadi bahan tontonan.
"Zie, udahlah Zie,! Gie, hentikan! " ucap seorang lelaki yang sangat dia kenali sambil menatap kedua wanita itu bergantian.
Gisel dan wanita itu menghentikan aksinya, keduanya saling berpandangan. Kini tatapan Gisel mengarah pada sosok Willy dan juga Zifana yang tampak akrab itu.
"Kau sengajakan? Gie, kau boleh benci sama Aku. kau boleh aja bertindak sesuka hati. Asal kau tau, apa yang kau tuduhkan padaku itu tidak benar,! Cukup sekali aja aku bilang, dan aku tak akan mengulangnya lagi," ucap wanita itu kemudian melangkah pergi.
Lamunan Gisel buyar saat alarm pukul 06.00 terdengar di ponselnya. Gisel menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa wanita itu Zie?" lirih Gisel. Tangannya terulur mengambil bingkai foto yang ada di laci. Bingkai foto yang memperlihatkan dirinya dan kedua sahabat baiknya di tahun pertama kuliah.
Gisel memejamkan matanya, mengingat kejadian itu baginya sangat Menyakitkan, sehingga dia memilih pergi, melanjutkan S1 dan S2 di negara X sampai lulus saat ini.
"Aunty, selamat pagi," pintu kamar Gisel terbuka dan memperlihatkan wajah cantik mama dan juga wajah keponakannya yang begitu imut.
"Pagi keponakan sayang. Pagi juga mama cantik," ucap Gisel sambil berdiri dan mencium pipi mama dan juga keponakan tercinta.
"Mama apa kabar? Mama Baik?" tanyanya sambil memeluk mamanya, menyalurkan kerinduan yang mendalam.
__ADS_1
"Kenapa pulang tidak berkabar dulu? Mama baru tau kamu pulang pagi ini, semalam kenapa tidak menemui mama?" tanya Mama Amel sambil melepaskan pelukan anak gadisnya.
"Gisel tau mama capek. Makanya Gisel nunggu momen yang pas aja," ucap Gisel sambil tersenyum.
"Sekarang sarapan yuk, mama juga mau ke kamar Vely sebentar," ucap Mama Amel sambil menatap ke arah putrinya.
"Ma,"
"Ya,"
"Sebenarnya ada yang ingin Gisel tanyakan pada mama," ucap Gisel. Akan tetapi keberadaan Elia mungkin tak membuatnya nyaman sehingga menatap mamanya lagi.
"Lain waktu, soalnya sekarang aku mau main dulu sama keponakan aku yang cantik ini," lanjut Gisel sambil mencium pipi imut Elia.
"Oke, kita keluar sekarang dan kita sarapan bersama Kaka Vely juga," ucap Mama Amel dan diangguki
oleh Gisel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mama Amel, Gisel, dan juga Elia bersama sama turun ke lantai bawah. Ternyata Vely sudah tidak ada di kamarnya. Menantunya itu sudah turun lima menit yang lalu.
Kini, ketiga wanita cantik berbeda generasi itu berjalan menuruni anak tangga. Mereka turun dan melihat Vely yang sudah rapi dan begitu segar.
Mama Amel menautkan alisnya melihat ke arah Vely yang memoles wajahnya dengan riasan sedikit tebal itu.
"Pagi mama, pagi Gisel, dan pagi putri mama," ucap Vely sambil berdiri menyambut tiga wanita itu.
Gisel menatap kakak iparnya sambil tersenyum, dia mengamati Vely yang begitu sumringah.
"Apa kabar kakak?" tanya Gisel sambil memeluk Vely sejenak.
"Kabar baik Gisel," ucap Vely.
Gisel tersenyum Kemudian duduk disamping Vely. Kini Vely mendekat ke arah Elia dan mengusap lembut wajah mulus gadis kecil itu.
"Duduk samping mama sini," ucap Vely. Tapi Elia tampak menggenggam erat lengan Mama Amel dan menatap ke arah Mama Amel.
__ADS_1
"Oma, Elia duduk disamping oma ya," ucap gadis kecil itu tampak ketakutan. Mama Amel menghela napas panjang. Padahal tadi dia sudah memberi pengertian pada Elia bahwa vely adalah mamanya. Tapi kenapa Elia malah seperti ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...