
"Bisakah kau membantuku untuk presentasi jasa yang bisa aku layani? Aku tau kau bisa Zie, bantu aku mendapatkan kepercayaan perusahaan besar itu," pinta Willy dengan memohon.
Kadang kala memang dirinya minder, meskipun sebenarnya dia juga sangat ahli. Bahkan kemampuan Willy sudah tidak diragukan lagi.
Zifana hanya diam, bahkan dia tak lagi mempunyai kebebasan. Bukankah seharusnya dia izin dulu pada suaminya?
"Zie, aku bergantung padamu untuk ini. Aku akan membatalkan jika kau tidak mau membantuku," ucap Willy prustasi.
Zifana membelalakan matanya. Dia terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Wily.
"Wil, apa apaan kamu. Jangan begitu dong, katamu perusahaan itu sangat besar. Kau bisa mendapatkan untung yang berlimpah jika berhasil menjalin kerjasama, ayolah semangat," ucap Zifana menasehati sahabat baiknya itu.
"Zie, aku butuh teman yang bisa meyakinkan. Lalu, bagaimana bisa aku berhasil, jika aku saja tidak yakin. Sudahlah, kau saja yang pandai persentase tidak mau juga membantuku, aku batalkan saja," ucap Wily.
Zifana memghela napas panjang. Dia menggelengkan kepalanya. Sahabatnya itu memang sangat menyebalkan.
"Tunggu sebentar, nanti aku kabari kamu bisa tidaknya," ucap Zifana.
"Siap," ucap Willy yang terdengar semringah di sebrang sana.
Zifana menutup ponselnya, dia yang semula mau tidur kini tak jadi tidur. Segera wanita cantik itu turun untuk mencari keberadaannya Delon yang sejak tadi tak kunjung tampak batang hidungnya.
Di atas nakas, ponsel Delon yang tadi tertinggal tampak beberapa kali berdering dan menampakan nama Darling.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon sedang berada di dapur, sejak tadi siang dia tak napsu makan karna melihat Zifana yang begitu bahagia tersenyum bersama dengan orang yang diapun tak tau siapa.
Melihat pakaiannya yang bersetelan elegan membuat dirinya yakin bahwa itu bukan orang biasa. Pantas saja banyak orang yang dekat, bukankah Zifana memang mantan ouner zif bontique yang cukup terkenal juga? Mantan? Ya, karna Delon sendiri tak tau pindah tangan kemana perusahaan yang dulu dimiliki oleh istrinya itu.
Saat ini, Delon merasa lapar. Sedangkan tak ada apapun si dapur. Mungkin mbak Nur tak memasak apapun sebelum pulang karna tak ada siapapun di apartemen. Bukankah Zifana juga baru pulang? Kesal sekali mengingat itu. Pulang malam, kehujanan. Pasti diantar lelaki itu, ada hubungan apa mereka berdua?
Mencoba melupakan itu, kini Delon mengambil nasi, sepertinya membuat nasi goreng sangat enak. Walau seorang CEO, Delon tak pernah malu bisa memasak. Bahkan, Vely selalu dia layani karna kasihan melihat istrinya yang sakit sakitan.
__ADS_1
Deg
Hatinya berdenyut, mengingat Vely membuatnya ingat bahwa sedari kemarin malam belum juga dia menelpon karna banyak kesibukan.
Nanti saja menghubunginya. Pikir Delon.
Delon hampir saja menggeprek bawah putih, akan tetapi sebuah tangan mengambil alih ulekan. Delon terkejut dan menoleh, menatap sosok cantik di sampingnya. Sosok cantik tanpa mak up yang kini menggerai rambutnya yang basah. Sosok cantik dengan setelan piama panjang. Terkesima? Pastinya.
Keduanya saling memandang, Delon melepaskan tangannya dari ulekan dan menatap ke arah Zifana yang tampaknya juga terkejut karna tangan mereka bersentuhan tadi.
"Maaf aku lancang, Kak. Aku hanya ingin membantumu, kau mau nasi goreng?" tanya Zifana yang berhasil menemukan keberadaan Delon setelah berputar mencari.
Delon terdiam, dan melirik Zifana sejenak.
"Kau pikir apa? Harusnya kau tau tanpa bertanya," kesalnya.
"Ya sudah, tunggulah. Aku akan membuatkan untukmu," ucap Zifana.
Nasi goreng adalah satu satunya makanan yang resepnya dia kuasai dari salah satu temannya. Resep istimewa dan tak lagi diragukan karna itu salah satu makanan favorit Zifana. Dengan memasakan, mana tau nanti ketika izin untuk membantu Wily besok di izinkan.
"Kau mengusirku?" ketus Delon.
Zifana yang malas berdebat tak menjawab, ditariknya ulekan dan mulai memulai aksinya. Delon hanya memandang Zifana yang dengan cekatan memasak nasi.
Bahkan Vely tak pernah memperhatikan urusan perutnya. Senyum entah bagaimana tersungging di bibir Delon, netranya terus mengamati wajah cantik yang sedang sibuk memasak itu.
Bau harum nasi goreng sangat menyengat, Zifana mengambil piring dan hendak memindahkan nasi goreng.
"Au," kagetnya saat lengan kirinya terkena wajan yang panas. Delon yang terkejut segera mendekat dan mematikan kompor.
Zifana tampak mengibas lengannya dengan tangan kanan. Delon meraih salep di kotak obat dipojokan. Dia berdiri dan meraih tangan Zifana. Meniupnya, kemudian mengoleskan salep. Zifana tampak diam, bisa juga lelaki dingin itu bersikap manis padanya. Netranya tak henti menatap Delon yang sibuk mengobati lukanya itu.
"Terimakasih Kak," ucap Zifana saat Delon selesai mengobatinya.
__ADS_1
"Lain kali hati hati," ucapnya dingin. Zifana diam.
"Duduklah, biar aku yang memindah," ucap Delon lagi.
"Tapi," sanggah Zifana.
"Aku bilang duduk!" sentaknya.
Zifana mengangguk, kesal jika selalu dibentak. Tapi ya sudahlah, memang dia sangat menyebalkan. Bagaimana lagi? Udah bagus dia mau membantunya mengobati.
Di dudu setelah mencuci tangannya, sedangkan Delon memindahkan nasi goreng di piring. Memberikan satu piring di hadapan Zifana dan satu piring lagi di hadapannya.
"Makanlah," ucapnya. Tanpa menunggu lagi, Delon yang memang kelaparan menyantap nasi goreng buatan istrinya. Matanya membelalak sempurna, bibirnya tersenyum, entah kenapa dia suka dengan cita rasa masakan Zifana yang mampu memanjakan lidahnya.
"Karna kau berhasil membuat napsu makanku kembali, kau boleh meminta dua permintaan yang akan aku kabulkan," ucap Delon yang sudah menyelesaikan makannya, sambil menatap istrinya yang tampak diam saja dari tadi.
Mendengar itu, Zifana langsung mendongak dan tersenyum. Bahagia? Pasti, dia ingin membantu Willy dan pastinya diizinkan keluar besok.
"Benarkah kak?" tanya Zifana.
"Katakan saja, sebelum aku berubah pikiran!" ketus Delon.
"Izinkan aku menolong sahabatku besok untuk presentasi, sekretarisnya mendadak tidak masuk karna sakit," ucap Zifana.
Delon berdiri dan menatap ke arah Zifana dengan diam.
"Setelah seharian keluar kau mau keluar lagi?" tanyanya sinis. Zifana menatap ke arah Delon.
"Aku tidak seharian keluar kak, aku hanya satu jam. Baru aku keluar lagi sore tadi membeli pembalut," sanggahnya tampak bersungguh sungguh. Tapi wajahnya merona saat dia sadar menyebut benda yang membuatnya dan Delon tadi sempat berdebat. Delon terdiam setelah mendengar penjelasan Zifana, dia bisa menanyakan kebenarannya dari pak Hari. Delon menghela napas panjang.
"Berangkatlah, mumpung Elia juga masih sehari lagi baru pulang. Satu permintaan lagi masih berlaku dilain hari. Sekarang tidurlah," ucap Delon sambil melangkahkan kakinya ke ruang kerja. Besok ada pertemuan dengan salah satu agensi periklanan. Dia ingin memasarkan produk terbarunya, dan dia akan meneliti konsep yang tadi dirancang oleh Andreas.
Zifana tersenyum, apa karna masakannya dia mujur seperti ini? Zifana tampak bahagia dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, komen hadiah yuk..