Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Gelisah 2


__ADS_3

Zifana kini tampak menenangkan dirinya, perlahan dia melepaskan hig hilsnya. Sepertinya lompat dari motor adalah jalan yang tepat. Jalanan yang sedikit rusak membuat laju motor sedikit pelan. Zifana dengan pelan melompat.


"au...." lirih Zifana yang berhasil turun. Dia berlarian menjauh. Seorang preman yang menyamar jadi tukang ojel itu menyadari jika Zifana turun, kini menghentikan motornya.


"Woy, mau kemana kau?" teriaknya. Lelaki itu tampak menghubungi kawannya. Ya, markasnya tak jauh dari tempat ini.


Zifana terus berlari, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Mungkin sedikit keseleo. Tapi itu tidak penting. Yang penting dia bisa kabur.


Zifana menghela napas panjang dan menyandarkan dirinya di sebuah pohon yang besar. Dia sudah jauh dari orang itu.


"Selamat malam nona cantik," suara itu mengejutkan Zifana.


Seorang kini berada di belakang pohon yang dia sandari membuat dirinya takut. Zifana memutar tubuhnya dan menatap orang itu. Jantungnya berdetak hebat. Kini dia tak tau apa yang harus dilakukan. Bayangan Delon memenuhi otaknya.


"Kak, tolong aku," lirihnya.


"Wahhh ada bidadari cantik," ucap lelaki itu.


Zifana terdiam, namun orang itu menarik tangan Zifana.


"Lepaskan!!" sentaknya.


"Ikutlah denganku, bosku menunggumu. Namun, sebelum bertemu dengannya, kita bersenang senang tidak masalah," ucapnya.


Air mata Zifana begitu saja lolos. Bos? Siapa bos lelaki jahat ini? Apa Delon? Apa dendam lama karna dia menyakiti Nada masih ada di hati Delon? Zifana mengusap air matanya. Hatinya sakit. Setega ini Delon padanya?


"lihatlah, bidadari ini cantik sekali," ucap lelaki yang baru datang dan membuat Zifana semakin takut.


Mereka mengamati Zifana dari atas sampai bawah.


"Apa yang kalian inginkan?" sentaknya.


ha ha ha tawa mereka menggelegar, Zifana berjalan mundur menjauh dari dua orang yang berdiri dan terus saja maju.

__ADS_1


"Yang kami inginkan, kau ikut dengan kami. Menyerahlah, maka kami tidak akan menyakitimu," ucapnya.


Zifana terdiam, dia terus saja mundur memberikan mereka penawaran agar mereka tak menyakitinya. Namun naas, sebuah batu membuatnya tergelincir dan jatuh terduduk. Kakinya terkilir dan semakin sakit.


"Au..."


Preman itu terus mendekat, Zifana terus saja memundurkan tubuhnya. Salah satu dari mereka berjongkok, telunjuknya membelai pipi mulus Zifana


Zifana menepis tangan itu.


"Ayolah Nona, kita bersenang-senang." Orang itu memegang tengkuk Zifana, air matanya terus saja mengalir.


"Delon kau pengecut!" lirihnya.


Zifana pasrah apapun yang akan terjadi padanya, mau berlari tidak bisa, mau teriak percuma, mereka berada ditengah hutan.


Tangan Zifana merayap mengambil sebuah ranting pohon di sampingnya. Dia memukul punggung orang di depannya. Orang itu merasakan kesakitan.


Saat itu Zifana berdiri dan berjalan dengan kaki pincang nya, preman itu menyadari Zifana berlari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delon yang hampir saja pulang kini tak sengaja melihat Willy yang ada di cafe yang sama itu. Delon menautkan alisnya, sampai sekarang Zifana tak bisa dihubungi. Dan Willy ada di sini. Lalu dimana Zifana?


"Ada apa De," tanya mamanya yang menatap Delon yang menggandeng Elia. Kakek dan Gisel juga menatapnya.


"Kalian pulanglah dulu, aku nanti langsung membawa Elia ke mansion baru," ucapnya. Pada akhirnya mereka mengangguk dan melangkah pergi.


Delon menghampiri Willy yang kini berada di dekat pintu.


"Tuan Willy, kau sendirian saja? Mana sekertarismu," ucap Delon basa basi. Langsung bertanya pastinya akan menimbulkan suatu kecurigaan.


Willy berdiri dan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Saya sendirian, tadi sore memang kami bersama. Tapi Nona Zie meminta waktu sendiri di danau. Makanya saya meninggalkannya," ucap Willy. Willy yang memang tau ponsel Zifana lowbat tidak terlalu menghawatirkan. Danau memang tempat yang nyaman bagi Zifana saat sedih.


Delon mengepalkan tangannya, rasa khawatir menjelajahi hatinya.


"Selamat menikmati, saya permisi," ucapnya kemudian pergi sambil menggendong putrinya.


Willy mengangguk kemudian menikmati makanannya.


"Sayang, kau pulang bersama Om Andre ya. Papa mau menjemput mama Zie," ucap Delon. Elia mengganggukan kepalanya.


"Ndre, kau ajak Elia ke mansion baru. Ada Asti disana, pastikan Elia tidak rewel," ucap Delon dengan tergesa saat tiba di mobilnya. Ya, tadi sore dia meminta Asti ke mansion, memastikan ada Zifana atau tidak. Dan Asti mengatakan bahwa Zifana belum ada pulang.


Andreas yang memang membawa mobil sendiri keluar dari mobilnya.


"Kau mau kemana?" tanya Andreas.


"Sepertinya Zifana dalam bahaya, kau susul aku ke sekitar Danau jika sudah memastikan Elia tidak Rewel," ucapnya.


"Baik Bos," jawabnya.


"Elia, kau bersama om ya," ucap Andre. Gadis kecil itu mengangguk. Delon yang mengatakan akan menjemput Zifana membuatnya jadi gadis penurut.


Elia berpindah ke gendongan Andreas.


"Kau hati hati," ucap Andreas. Delon menganggukkan kepalanya dan segera pergi.


Andreas menghubungi orangnya untuk mengikuti Delon pergi. Sedang dirinya dan Elia menuju mansion baru.


Delon menancap gas mobilnya menuju ke arah danau, yang hanya menempuh perjalanan satu jam dari tempatnya berada, entah mengapa hatinya gelisah. Dia sangat hawatir pada Zifana.


"Zie, semoga kau baik baik saja," lirihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Banyakin like, komen, vote jika mau tambah lagi... wkwkkwkw. Senin berkah.


__ADS_2