
Vely tersenyum tipis dan merasa puas, Steve keluar dari tempat persembunyian. Keduanya berjalan ke arah pintu lain. Mereka tampak bahagia memandang beberapa sertifikat aset yang telah diambilnya dari brangkas Delon di rumahnya.
"Apa kita bisa pergi sekarang juga?" tanya Steve pada Vely.
Vely tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"No, aku masih ingin menyaksikan kesedihan Delon. Aku ingin melihat dia hancur perlahan, baru kita pergi dengan tenang," ucap Vely.
Steve menganggukkan kepalanya dan tersenyum sinis. Baru saja dia dan Willy dari ZA grup mendapatkan honor dari pekerjaan mereka. Rasanya dia sudah muak melihat Delon berjaya. Ingin cepat cepat dia melihat lelaki itu menderita. Lantas, apa yang akan dilakukan Vely untuk itu? Entahlah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meeting dengan beberapa klien telah usai. Kini Delon menatap ke arah jam yang menunjukkan pukul 11.00.
Delon yang merasa tak tenang tampak mondar mandir di ruangannya. Kenapa Zifana tidak kunjung datang? Kemana wanita itu? Berulang kali menelpon tak mendapatkan jawaban. Sebenarnya dia ingin mengajak istri cantiknya untuk bertemu dengan Elia. Menjemput Elia di sekolah, siang ini. Dia juga ingin memberikan hadiah pada Zifana.
Supir yang dimintanya menjemput Zifana ternyata masih ada kesibukan. Sedangkan supir yang lain belum kembali. Pada Akhirnya, Delon meminta Zifana untuk mengendarai mobil sendiri. Dan Zifana juga mengiyakan, satu jam yang lalu.
Delon menghela napas panjang. Kesal sekali pada wanita itu. Kemana perginya? Kenapa wanita itu pandai sekali mengobrak abrik hatinya?
Deringan ponsel membuat Delon terkejut, segera lelaki itu mengambil ponselnya dan menatap ke arah layar yang menampakan nama Asti disana.
Segera Delon mengangkat telepon itu, karna memang saat ini Asti bersama dengan Elia. Menunggu di sekolah.
"Halo, papa," ucap suara di sebrang.
"Halo, putri papa yang cantik," sambut Delon mencoba untuk tersenyum.
"Elia sudah siap belsama onty Asti. Kenapa papa belum datang, kata papa mau bawa mama Zie datang," ucap gadis kecil itu.
Delon menghela napas panjang, sudah beberapa kali dia memberikan janji pada Elia, lalu apa iya dia harus kembali lagi mengecewakan anaknya? Sepertinya dia harus segera menemui putrinya untuk mengajaknya ke apartemen.
"Papa akan kesana sekarang, tunggu papa bersama Aunty Asty," ucap Delon dan menutup ponselnya.
Delon meraih kunci mobilnya yang berada di atas meja kerja. Dia berdiri dan hampir saja melangkah pergi.
"Kau mau kemana De?" tanya Andreas yang baru saja sampai di ruangannya. Andreas tampak ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Aku ke sekolah Elia," ucap Delon.
"Baiklah, nitip salam untuk ponakanku yang cantik itu," ucap Andreas dengan tenang, sepertinya dia mengatakannya nanti saja. Kini dia hanya bisa melihat Delon yang pergi menjauh darinya itu.
Setelah sampai di parkiran, Delon segera pergi dan menancap gas mobilnya. Dia ingin segera sampai di sekolah Elia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Elia tertawa lepas bersama dengan Mbak Asti, bermain kesana kemari dengan bahagia.
"Onty, lain kali boleh Elia dutemani onty lagi?" tanya gadis cantik itu dengan tenang.
Mbak Asti tampak tersenyum dan menganggukan kepalanya. Bahagia sekali rasanya, bisa memeluk anak kandungnya. Anak kandung yang selama ini menghilang dari rengkuhannya.
"Seneng ya bisa main?" tanya Mbak Asti.
"Iya, aku seneng maen sama onty. Tapi aku juga seneng main sama mama zie," ucap Elia.
Asti tampak tersenyum. Dimana Vely? Kenapa putrinya tak pernah menyebutkan namanya?
"Ya, mama Zie. Kata bu gulu, kalo aku belhenti menangis. Mama Zie akan menemani aku. Jadi, aku tak menangis lagi supaya aku punya mama," ucap Elia.
Mbak Asti merasakan sesak di dadanya.
"Selain mama Zie, siapa lagi yang Elia sayangi?" tanya Mbak Asti.
"Oma, onty Gisel, kakek buyut," ucap gadis kecil itu.
Deg
Mbak Asti menghela napas panjang, jadi selama ini Vely tak memberi kasih sayang pada putrinya? Rasa lega menghampiri Mbak Asti. Ingin sekali dia bercerita tentang ini pada Zifana. Agar wanita yang juga berstatus sebagai istri bosnya itu mengatakan pada bosnya. Tapi kenapa wanita cantik itu sulit untuk ditemui saat ini?
Untuk mengambil kembali Elia tidak sulit, karna pada kenyataannya Elia berada di tangan orang yang baik. Mungkin bila mengatakan kebenaran, semuanya akan bisa terselesaikan. Vely? Dia berharap wanita itu tidak ada diantara putrinya.
"Kalau begitu kita main lagi ya, sambil menunggu papa," ucap Mbak Asti.
Elia mengangguk pelan dan kembali bermain dengan bahagia.
__ADS_1
Di sebrang sana, Zifana yang keluar dari mobil menatap ke arah Elia dan mbak Asti. Yang menjadikan dirinya kuat bertahan di dekat Delon adalah ketika Elia menangis dan memintanya untuk tetap tinggal. Menemui Elia adalah obat mujarab untuk menepis keinginannya untuk pergi.
Tapi, saat ini, tanpa dirinya pun, Elia tampak bahagia. Ibunya sudah pulang, dan mungkin tak akan ada lagi air mata yang akan diteteskan oleh gadis kecil itu. Hati Zifana terasa sesak, apa artinya dia tak punya tempat lagi di keluarga Delon?
"Wanita macam apa kau itu, mau menjadi istri simpanan. Tak sadarkah kau, dengan kelakuanmu itu, kau itu menyakiti hati istri pertamanya, dimana nalurimu sebagai wanita? Kenapa kau itu tidak pernah berpikir Nona Zie yang terhormat?" ucapan Vely mengiang di otaknya membuatnya semakin sesak.
Zifana menggelengkan kepalanya. Dia tak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain. Zifana hampir saja naik tapi, Elia mengetahui ada Zifana disana.
"Mama Zie," teriak Elia.
Zifana seolah tak peduli, dia benar benar harus pergi dari keadaan ini. Zifana kembali naik ke mobil.
Elia tak bisa membiarkan mamanya pergi kembali, dia berlari. Sedangkan di sebrang sana sebuah mobil melaju kencang dari arah yang berlawanan.
Brakkk
Tubuh Elia terlempar saat sebuah mobil menghantamnya. Mobil itu segera menancap gas saat mendapati tengah menabrak.
"Elia," teriak Zifana dan Mbak Asti bersamaan. Zifana membelalakan matanya. Saat melihat darah segar keluar dari kepala Elia. Segera wanita cantik itu keluar dan berlari ke arah Elia yang masih sempat membuka matanya. Tangisnya pecah, diraihnya kepala Elia dalam pangkuannya.
Mbak Asti yang terkejut segera berlari mendekat, suasana haru ketika dirinya harus melihat kejadian ini.
"Ma-ma, on-ty, jangan me-na-ngis E-li-a ba-ik ba-ik sa-ja,"ucap gadis itu dan hilang kesadarannya.
"Elia, bangun Nak," Teriak Zifana dan mbak Asti. Zifana meletakkan tubuh lemas Elia, mengamati wajah gadis yang celaka karna kecerobohan. Mbak Asti tampak menangis dan meraih Elia dalam dekapannya.
Zifana berdiri, dia ingin mencari bantuan.
"Pergi, dan jangan menampakkan wajahmu dihadapanku!" ucap suara seseorang yang jelas di telinganya. Ditatapnya wajah tampan seorang yang sebenarnya sangat dia rindukan.
Deg
Hati Zifana terasa sakit, ucapan Delon bagai belati yang menancap sempurna di hatinya. Dipastikan Delon melihat dirinya yang mencoba menghindari Elia sehingga Elia mengalami hal ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1