Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Telepon dari apartemen


__ADS_3

Dimalam yang sama, di tempat yang berbeda. Zifana dan Willy saling menatap. Setelah meeting dengan Steve grup tadi, mereka menghabiskan waktu di pasar malam yang menjadi tempat kesukaan Willy sejak kecil. Setelah lama menikmati, kini Zifana dan Willy berada di dalam mobil.


"Jadi bagaimana? Kau menginap di apartemenku atau di rumah lamaku? Atau ikut tinggal bersamaku?" tanya Willy sambil menatap ke arah Zifana yang kini tampak menatap lurus ke depan sana.


Zifana tampak berpikir keras, kenapa bayangan Delon muncul di pelupuk matanya? Rindukah Delon padanya?


"Hais, jangan mimpi Zie. Mana mungkin Delon merindukanmu, Mungkin beberapa waktu ke depan dia malah tak tau kepergianmu. Delon pasti bahagia dengan istri pertamanya, dan tak mungkin mengingatmu," pikiran yang muncul di benak Zifana.


"Zie, kembali saja ke apartemen, Delon dan Elia membutuhkanmu Zie. Dia akan mencarimu, kasian Elia Zie," bisikan lain seakan mengiang di telinga Zifana. Kebimbangan muncul dalam benak wanita cantik itu.


"Aku boleh tinggal di rumah lamamu saja Wil?" tanya Zifana.


"Rumah lamaku tidak semewah apartemen, bahkan tidak sebesar mansionmu. Bahkan juga tempatnya di desa, kau yakin mau tinggal di sana?" tanya Willy.


"Aku tak ada pilihan Wil, kau tau Wil, aku memang sengaja tinggal di tempat yang tidak terjangkau CCTV. Aku takut majikanku mencari jejakku," ucap Zifana.


Wily menautkan alisnya, kenapa Zifana tampak takut sekali pada mantan majikannya? Willy mengarahkan pandangan matanya ke arah Zifana.


"Zie, kamu tidak sedang dalam kasus pencurian barang majikan kan? Kamu tidak sedang bersembunyi kan?" tanya Willy.


Zifana membelalakkan matanya, bagaimana bisa dianggap seperti itu oleh Willy?


"Kau pikir aku pencuri? Dari pada nyuri, aku bisa minta padamu!" sentaknya.


Willy menghela napas panjang dan merasa lega. Hawatir saja jika tiba tiba sahabatnya itu jadi pencuri atau seorang kleptomaniak.


"Ya maap Zie, ku pikir kamu sedang tidak baik baik saja dan melakukan itu semua," ucap Willy sambil menutup mulutnya.


"Jahat banget pikiran kamu Wil," lirih Zifana.


Willy tertawa dan menatap wajah cantik Zifana yang semakin memukau baginya itu.

__ADS_1


"Aku anter ke rumah lamaku seperti apa yang kamu mau, semoga kamu nyaman dan betah. Lalu nanti aku juga akan meninggalkan mobil ini untukmu," ucap Willy.


Zifana menoleh ke arah Willy dan menatap Willy dengan mata yang berkaca.


"Makasih Wil, aku terharu banget kamu baik sama aku. Sekalian ya, kasih aku atm sama isinya juga, takutnya abis tu bahan bakar, kamu tau sendiri saat ini aku lagi terpuruk. BBM juga mahal Wil," ucap Zifana dan kemudian tertawa.


Willy tertawa ngakak melihat kelakuan sahabatnya yang sebenarnya memang kocak sedari dulu itu.


"Serius oe, serius," ucap Willy. Zifana yang semula tertawa kini menatap sahabatnya.


"Capek aku Wil serius mulu. Nyesek hidup aku, ya memang mungkin ini adalah buah dari apa yang aku tanam juga. Aku nyesel pernah hidup jadi orang jahat, sombong dan pada akhirnya menyakiti diriku sendiri. Kalo ditakdirkan aku bisa bangkit, aku gak mau jadi orang jahat lagi Wil, tugas kamu ngingetin aku," ucap Zifana. Dalam hatinya yang paling dalam sebenarnya dia sangat sedih sekali.


Willy menggenggam tangan Zifana, mencoba menghibur sahabat baiknya itu.


"Aku aminin aja Zie, semoga apa maumu diijabah. Pokonya, kamu bisa minta bantuan apapun dan berapapun padaku Zie, tapi inget kembalinya dua kali lipat entar," ucapWilly dan mampu menerbitkan senyuman di bibir Zifana.


"Nunggu aku gajian kan, besok aku kan udah mulai bekerja jadi sekretarismu," ucap Zifana.


"Ya udah ah, jalan. Udah malam juga, gawat nanti kalo semakin dingin, bahaya hanya berdua," ucap Willy. Zifana tertawa. Willy selalu bisa membuatnya bahagia.


Willy menjalankan mobilnya menuju ke rumah lamanya kira kira tiga puluh menit dari tempatnya berada.


Andai kamu mau jadi teman hidupku Zie, tapi aku tidak mau merusak persahabatan baik kita. batin Willy.


"Wil," panggil Zifana.


"Ya,"


"Aku sebenarnya lagi mau nyari seseorang, dan aku bingung nyari dari mana. Aku mau minta bantuan padamu," ucap Zifana sambil menatap ke arah luar.


"Siapa? Lelaki?" tanya Willy.

__ADS_1


"Hem," jawab Zifana.


"Orang yang kamu cintai?" tanya Willy yang tampak penasaran.


"Apaan sih, sahabatnya kakek aku Wil. Berapa kali sih aku bilang jangan ngomongin cinta," kesal Zifana. Hati Willy yang tadinya terusik kini tampak lega.


"Ya,kali," sahut Willy.


"Ini tu sahabat kakek aku, kata kakek ada sesuatu yang dititipkan padanya untuk aku, dan sampai sekarang belum aku ambil," ucap Zifana.


Willy menoleh dan menatap Zifana.


"Oh, gitu. Kita pikir besok lagi Zie, yang penting untuk besok kita persiapan meeting dengan dua perusahaan itu, semoga deal," ucap Willy.


"Amin," ucap Zifana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delon dan Andreas telah menyelesaikan beberapa berkas untuk besok, tak lama dari itu panggilan terdengar dari ponselnya.


Delon menautkan alisnya saat nomer telepon apartemen memanggilnya. Segera Delon mengangkatnya.


"Halo,"


"Halo dengan Tuan Delon, mohon maaf, mau bertanya. Tuan Delon ada di apartemen atau meninggalkan, ya? Pihak keamanan dari kami me. dapati pintunya tidak terkunci, kami mau konfirmasi dulu. Takutnya kami kunci ternyata anda di dalam, soalnya coba kami panggil panggil tidak ada orang," ucap orang di sebrang.


Deg


Delon melirik jam yang menunjukkan pukul 22.00. Apartemen kosong? Tidak dikunci? Dimana Zifana?


"Aku kesana sekarang," ucapnya sambil memutus panggilan. Delon mengepalkan tangannya. Antara emosi dan hawatir tak bisa dijelaskannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa jejaknya ya.. lope sekebun cabe.. wkwkwkw


__ADS_2