Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Rindu Elia


__ADS_3

Pagi hari menyapa, Zifana menatap dirinya di depan kaca, dia sudah melakukan ibadah Shalat Subuh beberapa menit yang lalu, kemudian duduk di meja rias.


Pikiranya melayang jauh, tatapan matanya tertuju pada beberapa teks adegan yang akan dimainkan nanti. Dengan Delon? Tiba tiba hatinya dag dig dug tak karuan.


Mampukah? Zifana mencoba untuk tenang. Zifana menghela napas panjang dan melirik ke meja. Beberapa adegan telah disebutkan dengan detail di berkas itu. Lalu, apa dia bisa? Kenapa dia segugup ini? Berfoto, berakting dengan suaminya sendiri dalam suatu projek yang tidak main main? Menjadi model dari sebuah perusahaan besar yang berlebel ZA grup.


Zifana menghela napas panjang, selain Wilantama dan ZA grup, masih ada berapa banyak perusahaan yang dimiliki suaminya? Zifana menggelengkan kepalanya. Suami? Sejak kapan? Delon hanya suami sementara baginya. Berulang kali Delon mengatakan dirinya hanya untuk Elia. Dirinya hanya istri simpanan. Lalu bagaimana bisa terbesit dalam pikirannya jika Delon adalah suaminya? Sesak menghujam hatinya.


Bahkan saat ini istri Delon sudah kembali. Sebenarnya tak ada lagi alasan untuk mempertahankan rumah tangga. Lalu, jika kenyataan seperti itu. Bagaimana bisa Delon tidak mau menceraikannya? Kenapa Delon malah membakar surat kontrak pranikahnya saat itu? Berubah manis, memanjakan dirinya dengan fasilitas yang mewah seperti ini? Apa mau Delon? Apa ada yang ingin dia raih? Atau benar benar tulus? Haist, mana ada tulus?


Zifana menepuk dadanya yang terasa sesak. Sangat tidak mungkin Delon tulus padanya, ada suatu keinginan dibalik semua ini. Zifana yakin itu, walau saat ini belum bisa untuk menerjemahkan. Zifana hanya bisa mempersiapkan diri, jika suatu saat nanti dia harus kecewa pada satu hal yang menyakitkan hatinya. Kini Elia mengambil ponselnya, dia membuka galeri di ponselnya. Dilihatnya beberapa Foto mungil Elia.


Elia? Dimana gadis kecil itu?


Saat ini dia merindukan Elia. Lama mereka tak berjumpa, apa Elia melupakannya? Bayangan gadis mungil itu menari di otaknya. Ditatanya wajah cantik itu. Wajah cantik gadis kecil itu.


"Sayang, apa kamu tidak rindu mama Zifa?" lirih Zifana.


Zifana memejamkan matanya sejenak, apa boleh dia meminta pada Delon untuk bertemu Elia siang nanti? Zifana kembali membuka matanya dan menggeser lagi galerinya. Menatap foto Elia membuat kerinduan sedikit berkurang. Bibirnya tersenyum hingga satu foto membuatnya menghentikan aktifitasnya menggeser layar.


Foto Delon yang tersenyum, terlihat tampan dan sangat menyilaukan. Senyuman itu sangat meneduhkan. Dia tersenyum pada lelaki lanjut usia yang mempunyai sedikit kemiripan dengannya. Apa kakeknya? Entahlah, dia tidak harus memikirkan itu. Memang diam diam dia mencari informasi tentang Delon bersama istrinya. Tapi tak ada sedikitpun. Yabg ada malah foto bersama lelaki paruh baya yang bernama Anton Wilantama itu.


Dia hanya penasaran dengan madunya. Seperti qpa dia? Hais, entahlah. Tidak penting juga, karna dirinya hanya istri simpanan.


Zifana menghela napas panjang. Apa seperti ini juga saat bersama istrinya? Teduh, dan tampak sangat hangat. Tapi kenapa kalau di dekatnya selalu terlihat marah marah tak karuan, menyebalkan, menyakitkan? Sebegitu bencikah Delon padanya? Entahlah. Hingga pada saatnya satu pesan muncul di ponselnya.


"Wily," lirih Zifa.


Zie, semangat. Segera berangkat. Kita ketemu di kantor pagi pagi.

__ADS_1


Zifana tersenyum dan membalas pesan itu. Tak lama dari itu, deringan ponsel Zifana berbunyi. Zifana pikir itu dari Wily. Segera wanita cantik itu menggeser tombol tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo Wil, aku sudah baca pesan kamu kok. Oke, nanti aku langsung ke ruangan kamu. Ada apa kamu telfon? Kamu mau aku bawakan sarapan roti kesukaan kamu ya?" ucap Zifana. Willy susah sekali sarapan pagi. Tapi, sejak kuliah Willy selalu mau sarapan jika Zifana yang memintanya.


Astaga, ngomong masa itu menjadikan Zifana ingat satu sahabat yang sepertinya salah paham dengan kedekatannya dan Willy.


"Oh, jadi begini kelakuan Nona Zifana aurora Manda?" ucap suara disebrang dan membuat Zifana terkejut.


"Segera bersiap, aku akan menjemputmu!" ucap suara itu kemudian menutup ponselnya tanpa mendengar jawaban Zifana.


Zifana terkejut dan buyar sudah isi kepalanya saat mendengar suara yang sangat familiar itu. Zifana melihat log panggilan. Nomer baru, suara Delon? Zifana memejamkan matanya. Dipastikan Delon akan marah marah nanti. Entahlah, marah memang sudah menjadi kebiasaan Delon.


Zifana berdiri dan menghela napas panjang.


"Zie, kamu harus profesional. Kamu bisa Zie. Kamu bisa, jangan mengecewakan Willy. Dia banyak membantumu selama ini," lirih Zifana pada dirinya sendiri.


Zifana memoles wajahnya dengan riasan tipis, segera dia merapikan setelan baju kerjanya. Diliriknya tas yang berada di atas meja. Zifana mengambil tasnya kemudian melangkahkan kakinya ke luar kamar. Dia harus semangat.


"Selamat pagi Nyonya muda," sambut Asti. Asisten rumah tangga yang ditugaskan Delon untuk menemani Zifana di mansion besar itu.


"Pagi mbak," jawab Zifana.


"Silahkan dinikmati Nyonya," ucap Bi Rasti sambil membalikan piring di atas meja.


Zifana tersenyum dan duduk. Dia menatap ke arah Bi asti yang antusias itu.


"Panggil aku Zifa saja mbak. Nyonya kedengarannya sangat tidak enak," ucap Zifana.


"Maaf Nyonya, tapi saya tidak berani," jawab wanita yang mungkin beberapa tahun lebih Tua dari Zifana.

__ADS_1


Zifana terkekeh pelan, dan menatap asistennya itu.


"Biasakan saja Mbak, aku bukan Tuan Delon. Anggap aja aku adikmu," ucap Zifana.


"Nama mbak?" tanya Zifana.


"Asti Nyonya," jawabnya.


"Oke mbk asti, mulai sekarang panggil aku Zifana saja," ucapnya.


"Tapi..."


"Tapi tak ada penolakan, sepertinya umur kita tidak beda terlalu jauh," ucap Zifana sambil melirik ke arah wanita yang entah kenapa mirip dengan orang yang dikenalnya. Tapi entah siapa dia juga lupa.


"Baik Zi-fa," jawabnya terbata.


Zifana tersenyum dan segera mengambil sarapan.


"Wah nikmat sekali masakan mbak kayaknya," ucap Zifana tampak bahagia saat melihat beberapa makanan terhidang tapi di atas meja. Makanan pagi yang sangat istimewa baginya.


Mbak asti tampak tersenyum kemudian melangkah pergi sesaat setelah berbicang dengan Zifana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delon yang kini mematikan ponselnya mengumpat kesal. Dia memasukan ponselnya di saku celananya. Dia juga mengusap kasar wajahnya. Kenapa dia tak suka Zifana perhatian dengan orang lain? Kenapa hatinya terasa sesak? Bukankah mereka hanya menikah setingan? Lalu kenapa dia tidak rela?


Delon mengepalkan tangannya. Apa yang terjadi pada hatinya? Kenapa sesakit ini? Pengkhianatan Vely telah melukainya. Lalu, apa dia harus terluka lagi? Terluka bagaimana? Bukankah tak ada cinta untuk Zifana? Ingatannya tertuju pada Zifana yang saat itu meminta perpisahan. Hati Delon semakin sesak.


"Jangan harap aku melepaskanmu Nona Zifa. Mau tidak mau kau harus tetap berdiri dibelakangku, tanpa cinta sekalipun. Keberadaanmu adalah kebahagiaan Elia. Dan aku tidak akan pernah membiarkan Elia bersedih," lirihnya sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Delon, sarapan. Kamu sudah bangun nak?" suara mama Amel membuyarkan lamunanya. Segera lelaki tampan itu melangkah ke arah pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2