Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISDT. Kembali ke apartemen


__ADS_3

Delon masih terdiam, pertanyaan dari Gisel kenapa seolah sangat susah untuk dijawabnya? Gisel tersenyum sinis dan menatap ke arah kakaknya.


"Sepertinya benar adanya, kau itu tengah main perasaan. Sebenarnya seperti apa wanita itu? Kenapa kau tampak menyembunyikannya Kak?" tanya Gisel.


"Kau jangan mengikuti kekonyolan Vely, aku akan memberikan pelajaran padanya saat dia datang," ucap Delon sambil terkekeh.


"Aku sedang tidak bergurau kak, aku wanita, dan aku tidak bisa membayangkan sakitnya hati wanita yang diduakan, aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak akan berhianat," ucap Gisel dengan tenang.


Delon memejamkan matanya. Sebenarnya ini juga bukan yang dia kehendaki. Delon tau Gisel sangat bijak dan baik hatinya.


"Maka dari itu aku sengaja menyembunyikan, dia hanya istri simpananku, dia hanya untuk Elia," ucap Delon dengan tenang. Tapi entah kenapa perasaannya tak karuan mengucapkan itu, bahkan wajah sembab Zifana tadi mengiang di pelupuk matanya. Ingin dia kembali ke apartemen, menghapus air mata yang mengalir di pipi Zifana.


Gisel mengusap wajahnya dengan kasar, jadi apa betul yang dikatakan kakak iparnya bahwa Delon berubah? Bahkan saat ini dengan adiknya sendiri pun dia enggan untuk membocorkan identitas istri simpananya. Bahkan juga, Delon tampak sekali sangat hawatir.


"Apa maksud kakak? Jadi kakak benar benar tidak mau memberi tau aku?" tanya Gisel.


Delon menghela napas panjang, kenapa dia merasa Gisel semakin memojokannya. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh Vely padanya? Sepertinya ada hal yang tidak beres dengan istrinya itu. Apa perlu dia menyelidiki semuanya?


"Apa mungkin Vely menceritakan hal yang berbeda terhadap Gisel?" batin Delon.


Delon meraih tas kerjanya kemudian mengambil berkas di dalam tasnya, dia melemparkan berkas kontrak pernikahan yang telah ditandatangani oleh orang yang berinisial Zie.


Gisel membaca kata demi kata yang ada dalam perjanjian itu. Kemudian dia memandang ke arah Delon.


"Apa kau masih mau mengatakan bila aku mempunyai perasaan padanya seperti dugaan Vely? Aku hanya mementingkan Elia, kurasa Vely sudah meracuni pikiranmu dengan pemikiran jeleknya padaku. Percayalah Girl, sebetulnya semua ini atas persetujuan dengan Vely," ucap Delon.

__ADS_1


Gisel menyerahkan kembali surat perjanjian itu pada Delon. Dia menatap mata Delon yang juga sedang menatapnya.


"Kau yakin?" tanya Gisel. Walau sebenarnya dia tau bagaimana kakaknya, dia hanya ingin meyakinkan semuanya.


"Apa aku tampak berbohong?" jawab Delon.


Gisel menyandarkan tubuhnya di dinding dan mengalihkan pandangannya. Siapa yang harus dia pihak disini?


"Jika Vely benar pulang dan mau merawat Elia, maka kakak akan menceraikannya saat itu juga, tanpa menunggu satu tahun perjanjian," ucap Delon.


Gisel terkejut, Gisel yang semula menatap ke arah taman kini menatap ke arah kakaknya.


"Kau serius?" tanya Gisel.


"Ya, sebenarnya semua keputusan ada di tangan Vely, jika dia memutuskan pulang seminggu yang lalu dan tidak memintaku menikah lagi, mungkin saat ini aku belum mendua. Yang harus kau pertanyakan padanya, kenapa dia pulang saat semuanya sudah berubah," ucap Delon sambil menepuk pelan pundak Gisel.


"Dia tak memberi tau apapun tentang kepulangannya padaku. Jika memang dia pulang besok, aku akan menjemputnya sekalian menjemput Elia dan mama yang juga pulang, aku akan menyelesaikan semua ini saat itu juga," ucap Delon kemudian melenggang pergi.


"Lalu kau mau kemana kak?" teriak Gisel dan tak ditanggapi oleh Delon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delon memutuskan untuk kembali ke apartemen, rasanya dadanya sesak. Setelah apa yang terjadi tadi siang dan beberapa jam yang lalu rasanya dia tak bisa melupakan wajah Zifana yang selalu menghantuinya.


Dia mengambil ponselnya dan menelpon Andreas.

__ADS_1


"Halo, ada apa kau menelponku malam malam De?" tanya Andreas di sebrang.


"Apa kau sudah tau hubungan mereka?" tanya Delon.


"Mereka memang Dekat, tetapi hanya sahabat. Akan tetapi Tuan Willyam memang mempunyai perasaan pada Nona muda, Tuan Delon," ucap Andreas.


Delon mematikan ponselnya, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa dia tampak takut jika Zifana semakin dekat dengan Willy? Lalu, kenapa saat ini seakan hatinya dongkol pada Vely? Kenapa malah dia kembali ke apartemen? Apa yang dia lakukan? Delon menggeleng pelan.


Entah bagaimana dia turun dan menuju ke apartemen, walau sebenarnya hati dan pikirannya tak sejalan.


Delon membuka pintu, menapaki anak tangga demi anak tangga dan menuju ke kamarnya. Akan tetapi, netranya menatap ke arah wanita yang terbaring di sofa ruang santai.


Zifana tertidur sambil memeluk sebuah foto, foto yang sangat dia kenal. Tuan Sinatria. Wajah Zifana tampak sembab, segera Delon megangkat tubuh Zifana dan membaringkan di ranjang.


Diselimutinya wanita itu dengan rapat, Delon memandang wanita cantik itu.


"Jika Vely berubah pikiran, mungkin malam ini adalah malam terakhirmu menjadi istri simpananku, berbahagialah jika itu memang kenyataannya, kau bisa bebas bersama dengan lelaki yang mencintaimu," ucap Delon. Perasaannya tak menentu, sesak saat dia mengutarakan itu.


Delon mengusap lembut pipi Zifana, dengan reflek Delon mencium puncak kepala Zifana. Entah, perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Yang jelas dia merasa sesak dan sebenarnya juga tidak menginginkan perpisahan.


"Selamat istirahat," ucap Delon.


Delon berdiri dan meninggalkan kamar itu menuju ke ruang kerja.


Tes

__ADS_1


Air mata yang ditahan Zifana menetes, entah harus senang atau sedih dia tak tau. Yang jelas dia mendengar apa yang diucapkan Delon.


...----------------...


__ADS_2