
"Aku kesana sekarang," ucapnya sambil memutus panggilan. Delon mengepalkan tangannya. Antara emosi dan hawatir tak bisa dijelaskannya.
"Ada apa?" Andreas tampak bertanya pada sahabatnya yang sedang kesal itu.
"Apartemen tidak terkunci, wanita itu tidak ada disana. Aku harus memastikan sendiri bahwa dia memang benar benar tidak ada," ucap Delon kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku.
Andreas berdiri, dia menganggukan kepalanya. Sebagai asisten yang baik, Andreas selalu ada disamping bosnya itu.
"Wanita itu punya nama," ucap Andreas sambil memasukan kedua tangannya di dalam saku celana. Delon mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak mau perlu menyebut namanya," ucap Delon. Andreas terkekeh.
"Tak perlu menyebut, tapi menyimpan dalam hati," ucap Andreas sambil tersenyum. Delon menatap ke arah Andreas dengan tatapan tak suka.
"Ada Elia dalam hatiku," ucap Delon. Andreas semakin terkekeh. Kenapa bukan Vely? Apa Delon sedang baik baik saja?
"Dalam hati Elia ada Zifana," ucapnya.
Delon menggelengkan kepalanya dan menatap Andreas dengan tajam. Dia melenggang pergi, tak mau dirinya semakin marah di malam ini karna kelakuan konyol asistennya itu. Andreas mengikuti langkah Delon.
Keduanya berjalan dan keluar dari ruang kerja, Mama Amel yang saat itu sedang mengambil minum mengetahui Delon dan Andreas yang berjalan keluar.
Segera Mama Amel mengikuti langkah kedua orang itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Mama Amel pada Delon dan Andreas.
Keduanya berhenti dan menoleh ke arah mama Amel yang kini berdiri di belakang mereka.
Delon dan Andreas tampak terdiam dan menatap mama Amel dengan diam.
"Mau kemana? Delon, Vely baru saja pulang, Elia juga sedikit rewel. Lalu kamu mau pergi? Mau kemana kamu?" tanya Mama Amel lagi.
"Aku mau ke apartemen," ucap Delon.
Mama Amel menautkan alisnya, senyum indah terbit di bibirnya. Entah kenapa dia bahagia mendapat jawaban dari Delon. Sebenarnya dia tadi ingin meminta putranya menjemput Zifana.
"Kau mau menjemput Zifana?" tanya Mama Amel. Entah kenapa, Mama Amel mempunyai ketertarikan tersendiri pada Zifana. Sehari bersama wanita itu membuatnya seperti terhipnotis. Saat ini, tanpa Zifana, mansion terasa sepi.
"Aku masih waras ma, ada Vely di rumah, itu artinya aku tidak akan membawa wanita manapun ke rumah. Apartemen tidak terkunci, aku hawatir ada barang yang hilang dari sana. Makanya aku mau mengecek semuanya," ucap Delon.
"Memangnya Zifana kemana?" tanya mama Amel lagi.
"Ma, sejak pagi aku tidak kesana, dan sekarang mama tanya padaku keberadaan wanita itu? Aku tidak tau ma," ucapnya.
Mama Amel menghela napas panjang, dan menatap ke arah Delon dan Andreas.
"Segera ke sana, mama takut ada apa apa dengan Zifana," ucap Mama amel tampak hawatir.
Delon menautkan alisnya, tumben sekali mamanya menghawatirkan orang lain. Biasanya hanya Vely yang selalu mengusik hati mamanya.
Delon dan Andreas berjalan keluar, mengabaikan semua ucapan mama Amel yang tampak hawatir itu.
Di atas sana, Vely berdiri dan menatap kepergian Delon. Menatap ke arah mama Amel yang tampak hawatir. Tangannya terkepal kuat, baru satu jam di rumah dia sudah terabaikan. Lalu, bagaimana dengan esok, lusa dan hari kedepannya?
Mama Amel yang melihat Vely diatas sana kini memejamkan matanya. Apa Vely mendengar ucapannya?
"Vely," panggilnya pada Vely yang hampir saja melangkah.
"Mama," kejut Vely. Segera wanit itu memutar langkah. Dia menuruni anak tangga dan menuju ke tempat dimana mama Amel berdiri.
Mama Amel tersenyum dan memeluk Vely yang kini ada di hadapannya.
"Sayang, apa kabar? Mama sangat mengkhawatirkan mu. Mama harap kamu sudah sehat, melihat keadaanmu yang seperti ini mama bahagia, kamu cantik, kamu sehat, mama rasa pengobatan berhasil, dan mama sangat bahagia Nak," ucap Mama Amel.
Mama Amel yang memang belum tau rencana kepulangan Vely tampak terkejut. Tapi, dia juga bahagia.
"Terimakasih Ma," ucap Mama Amel.
"Kamu merindukan Elia? Elia sudah tidur, kamu bisa menyusul jika mau," ucap Mama amel sambil melepaskan pelukan kepada anak menantumya itu .
Vely hanya tersenyum. Akan tetapu, dia tampak bersedih.
"Kenapa Nak? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Mama Amel.
"Aku hanya merasa sedih ma, aku merasa jadi ibu yang gagal untuk Elia. Menantu yang gagal untuk mama, dan istri yang gagal untuk Mas Delon," ucap Vely. Mama Amel menatap menantunya dan menggeleng pelan.
__ADS_1
"Kenapa merasa seperti itu? Itu tidak benar Vely," ucap Mama Amel.
"Tapi mama lihat sendiri, Elia saja tak mau bersama denganku. Bahkan Mas Delon mengabaikan aku dan meninggalkan aku disaat aku pulang, dia lebih mementingkan hal lain. Bukankah aku gagal Ma?" tanya Vely.
Mama Amel menghela napas panjang, dia mencoba berada di posisi Vely. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.
"Vely, kamu tidak perlu hawatir. Delon hanya ke apartemen. Dia hanya akan mengecek apartemen, karna apartemen tidak terkunci," ucap Mama Amel.
"Bukankah disana ada wanita itu ma?" tanyanya.
"Bagi Delon, wanita yang ada di mansion yang istimewa baginya," ucap Mama Amel.
Vely tersenyum dan menatap ke arah mama Amel.
"Vely, semua butuh proses. Mama yakin kamu bisa dekat dengan Elia, bisa menjadi istri yang baik untuk Delon dan juga menantu yang baik untuk mama, meskipun..." Mama Amel menghentikan ucapannya dan Vely menatap ke arah mertuanya itu.
"Meskipun apa Ma?" tanya Vely.
Mama Amel mengusap pipi Vely pelan.
"Tak usah dipikirkan, istirahatlah. Mama dengar dari Delon tadi, kamu akan ada kontrol besok pagi. Mama harap kamu semakin sembuh, dan semakin sehat, mama ke atas dulu," ucap Mama Amel kemudian berjalan ke arah anak tangga.
Vely menatap kepergian Mama Amel. Dia merasa semua orang berubah, sebenarnya apa bagusnya istri simpanan Delon? Apa baiknya? Vely merasa pusing, disini dia seakan kalah dengan bayangan istri kedua Delon. Sedangkan tadi di depan Steve suaminya, dirinya seolah disingkirkan oleh pesona Zie, sekertaris dari WL Grup.
"****," umpat Vely kemudian melangkah pergi.
Gisel menyandarkan dirinya di dinding, sejak tadi dia di balkon. Dia melihat semua yang terjadi. Hampir saja menghampiri sang mama untuk melepas rindu, akan tetapi sepertinya besok saja lebih baik. Biar mamanya istirahat. Gisel menghela napas panjang dan menautkan alisnya. Terkejut saja melihat Vely mengumpat seperti itu.
"Kau dalam pantauanku, kakak ipar," ucap Gisel lirih.
Gisel mengambil ponselnya dan menerima satu pesan yang belum dibacanya. Gisel membuka satu File yang berisi tentang data seorang wanita cantik penghuni apartemen milik kakaknya.
"Zifana Aurora Manda," lirihnya.
Deg
Jantungnya berdetak tak karuan. Gisel memejamkan matanya. Beberapa kali mengucapkan nama yang tak asing baginya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku kesana sekarang," ucapnya sambil memutus panggilan. Delon mengepalkan tangannya. Antara emosi dan hawatir tak bisa dijelaskannya.
"Ada apa?" Andreas tampak bertanya pada sahabatnya yang sedang kesal itu.
"Apartemen tidak terkunci, wanita itu tidak ada disana. Aku harus memastikan sendiri bahwa dia memang benar benar tidak ada," ucap Delon kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku.
Andreas berdiri, dia menganggukan kepalanya. Sebagai asisten yang baik, Andreas selalu ada disamping bosnya itu.
"Wanita itu punya nama," ucap Andreas sambil memasukan kedua tangannya di dalam saku celana. Delon mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak mau perlu menyebut namanya," ucap Delon. Andreas terkekeh.
"Tak perlu menyebut, tapi menyimpan dalam hati," ucap Andreas sambil tersenyum. Delon menatap ke arah Andreas dengan tatapan tak suka.
"Ada Elia dalam hatiku," ucap Delon. Andreas semakin terkekeh. Kenapa bukan Vely? Apa Delon sedang baik baik saja?
"Dalam hati Elia ada Zifana," ucapnya.
Delon menggelengkan kepalanya dan menatap Andreas dengan tajam. Dia melenggang pergi, tak mau dirinya semakin marah di malam ini karna kelakuan konyol asistennya itu. Andreas mengikuti langkah Delon.
Keduanya berjalan dan keluar dari ruang kerja, Mama Amel yang saat itu sedang mengambil minum mengetahui Delon dan Andreas yang berjalan keluar.
Segera Mama Amel mengikuti langkah kedua orang itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Mama Amel pada Delon dan Andreas.
Keduanya berhenti dan menoleh ke arah mama Amel yang kini berdiri di belakang mereka.
Delon dan Andreas tampak terdiam dan menatap mama Amel dengan diam.
"Mau kemana? Delon, Vely baru saja pulang, Elia juga sedikit rewel. Lalu kamu mau pergi? Mau kemana kamu?" tanya Mama Amel lagi.
"Aku mau ke apartemen," ucap Delon.
Mama Amel menautkan alisnya, senyum indah terbit di bibirnya. Entah kenapa dia bahagia mendapat jawaban dari Delon. Sebenarnya dia tadi ingin meminta putranya menjemput Zifana.
__ADS_1
"Kau mau menjemput Zifana?" tanya Mama Amel. Entah kenapa, Mama Amel mempunyai ketertarikan tersendiri pada Zifana. Sehari bersama wanita itu membuatnya seperti terhipnotis. Saat ini, tanpa Zifana, mansion terasa sepi.
"Aku masih waras ma, ada Vely di rumah, itu artinya aku tidak akan membawa wanita manapun ke rumah. Apartemen tidak terkunci, aku hawatir ada barang yang hilang dari sana. Makanya aku mau mengecek semuanya," ucap Delon.
"Memangnya Zifana kemana?" tanya mama Amel lagi.
"Ma, sejak pagi aku tidak kesana, dan sekarang mama tanya padaku keberadaan wanita itu? Aku tidak tau ma," ucapnya.
Mama Amel menghela napas panjang, dan menatap ke arah Delon dan Andreas.
"Segera ke sana, mama takut ada apa apa dengan Zifana," ucap Mama amel tampak hawatir.
Delon menautkan alisnya, tumben sekali mamanya menghawatirkan orang lain. Biasanya hanya Vely yang selalu mengusik hati mamanya.
Delon dan Andreas berjalan keluar, mengabaikan semua ucapan mama Amel yang tampak hawatir itu.
Di atas sana, Vely berdiri dan menatap kepergian Delon. Menatap ke arah mama Amel yang tampak hawatir. Tangannya terkepal kuat, baru satu jam di rumah dia sudah terabaikan. Lalu, bagaimana dengan esok, lusa dan hari kedepannya?
Mama Amel yang melihat Vely diatas sana kini memejamkan matanya. Apa Vely mendengar ucapannya?
"Vely," panggilnya pada Vely yang hampir saja melangkah.
"Mama," kejut Vely. Segera wanit itu memutar langkah. Dia menuruni anak tangga dan menuju ke tempat dimana mama Amel berdiri.
Mama Amel tersenyum dan memeluk Vely yang kini ada di hadapannya.
"Sayang, apa kabar? Mama sangat mengkhawatirkan mu. Mama harap kamu sudah sehat, melihat keadaanmu yang seperti ini mama bahagia, kamu cantik, kamu sehat, mama rasa pengobatan berhasil, dan mama sangat bahagia Nak," ucap Mama Amel.
Mama Amel yang memang belum tau rencana kepulangan Vely tampak terkejut. Tapi, dia juga bahagia.
"Terimakasih Ma," ucap Mama Amel.
"Kamu merindukan Elia? Elia sudah tidur, kamu bisa menyusul jika mau," ucap Mama amel sambil melepaskan pelukan kepada anak menantumya itu .
Vely hanya tersenyum. Akan tetapu, dia tampak bersedih.
"Kenapa Nak? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Mama Amel.
"Aku hanya merasa sedih ma, aku merasa jadi ibu yang gagal untuk Elia. Menantu yang gagal untuk mama, dan istri yang gagal untuk Mas Delon," ucap Vely. Mama Amel menatap menantunya dan menggeleng pelan.
"Kenapa merasa seperti itu? Itu tidak benar Vely," ucap Mama Amel.
"Tapi mama lihat sendiri, Elia saja tak mau bersama denganku. Bahkan Mas Delon mengabaikan aku dan meninggalkan aku disaat aku pulang, dia lebih mementingkan hal lain. Bukankah aku gagal Ma?" tanya Vely.
Mama Amel menghela napas panjang, dia mencoba berada di posisi Vely. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama.
"Vely, kamu tidak perlu hawatir. Delon hanya ke apartemen. Dia hanya akan mengecek apartemen, karna apartemen tidak terkunci," ucap Mama Amel.
"Bukankah disana ada wanita itu ma?" tanyanya.
"Bagi Delon, wanita yang ada di mansion yang istimewa baginya," ucap Mama Amel.
Vely tersenyum dan menatap ke arah mama Amel.
"Vely, semua butuh proses. Mama yakin kamu bisa dekat dengan Elia, bisa menjadi istri yang baik untuk Delon dan juga menantu yang baik untuk mama, meskipun..." Mama Amel menghentikan ucapannya dan Vely menatap ke arah mertuanya itu.
"Meskipun apa Ma?" tanya Vely.
Mama Amel mengusap pipi Vely pelan.
"Tak usah dipikirkan, istirahatlah. Mama dengar dari Delon tadi, kamu akan ada kontrol besok pagi. Mama harap kamu semakin sembuh, dan semakin sehat, mama ke atas dulu," ucap Mama Amel kemudian berjalan ke arah anak tangga.
Vely menatap kepergian Mama Amel. Dia merasa semua orang berubah, sebenarnya apa bagusnya istri simpanan Delon? Apa baiknya? Vely merasa pusing, disini dia seakan kalah dengan bayangan istri kedua Delon. Sedangkan tadi di depan Steve suaminya, dirinya seolah disingkirkan oleh pesona Zie, sekertaris dari WL Grup.
"****," umpat Vely kemudian melangkah pergi.
Gisel menyandarkan dirinya di dinding, sejak tadi dia di balkon. Dia melihat semua yang terjadi. Hampir saja menghampiri sang mama untuk melepas rindu, akan tetapi sepertinya besok saja lebih baik. Biar mamanya istirahat. Gisel menghela napas panjang dan menautkan alisnya. Terkejut saja melihat Vely mengumpat seperti itu.
"Kau dalam pantauanku, kakak ipar," ucap Gisel lirih.
Gisel mengambil ponselnya dan menerima satu pesan yang belum dibacanya. Gisel membuka satu File yang berisi tentang data seorang wanita cantik penghuni apartemen milik kakaknya.
"Zifana Aurora Manda," lirihnya.
Deg
__ADS_1
Jantungnya berdetak tak karuan. Gisel memejamkan matanya. Beberapa kali mengucapkan nama yang tak asing baginya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...