
Delon sudah mondar mandir kesana kesini seperti setrikaan. Andreas melempar buku yang dia baca sejak tadi ke meja. Netranya memandang Delom yang tampak emosi.
"Duduk dulu Delon, sini minum," ucap Andreas. Andreas sengaja mengikuti bosnya itu hanya untuk mencari celah waktu berbicara sebentar, dan dari siang sampai sekarangpun belum ada celah.
Meeting dengan beberapa klien sudah dari siang memenuhi waktu. Dan besok masih ada lagi meeting dengan perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka.
Suasana hati Delon juga tidak kunjung membaik, hanya diam walau mendengar ucapannya. Padahal Andreas ingin mengatakan dan memastikan sesuatu pada bosnya itu.
Genap setengah jam Delon sudah berada di apartemen itu. Dongkol dihatinya semakin menjadi saat mendapati Zifana masih belum juga datang di apartemen. Diluaran sana hujan lebat, pak Hari tidak bisa dihubungi, orang mansion bilang juga Zifana tak ada kesana.
Entahlah, pikiran Delon campur aduk. Kesal, emosi hawatir semua memunihi otaknya. Bayangan Zifana yang ketakutan semalam karna petir mengiang di ingatannya. Sedangkan saat ini sekali dua kali petir juga ada dan membuatnya tak tenang.
"Kemana wanita itu sedari pagi?" kesalnya lagi.
"Delon, beri aku waktu bicara. Sambil menunggu, Aku ingin membicarakan tentang Zif bontique dan cabang perusahaannya. Aku juga ingin bertanya tentang Vely," ucap Andreas.
Delon menatap sahabatnya itu, mendengar zif bontique yang entah apa hubungannya dengan dia. Kata Zifana Zife bontique telah terjual, lalu kenapa Andreas ingin membahasnya?
Delon duduk di sofa tepat di depan Andreas, mungkin ada baiknya mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Andreas.
"Apa yang akan kau katakan?" tanya Delon. Andreas menatap bosnya dan memberikan beberapa berkas di atas meja.
Delon memandang beberapa berkas yang ada di sana, Delon mengulurkan tangannya untuk mengambil berkas itu. Delon membuka lembaran lembaran berkas itu, akan tetapi suara pintu terbuka membuat Delon dan Andreas menoleh.
Dilihatnya Zifana yang basah kuyup berada di depan pintu. Delon yang terkejut kini meletakan kembali berkas itu, dia berdiri dan menatap Zifana. Andreas yang menatap dua orang itu kini hanya menghela napas panjang. Sepertinya memang bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Delon. Dia kembali mengambil berkas itu dan menyimpannya.
Membiarkan Delon dan Zifana berdua mungkin lebih baik. Dia tau posisinya, berada diantara pengantin baru sangat tidak mudah. Apalagi saat ini sepertinya ada yang tidak beres dengan istri pertama bosnya. Mungkin ada baiknya jika Delon tak tau dulu, Andreas berpikir harus memastikan semuanya benar dan ada bukti yang akurat.
Zifana yang terkejut mendapati Delon dan Andreas berada di apartemen kini hanya diam mematung. Apa yang akan terjadi padanya nanti? Zifana sudah menduga hal yang tidak tidak. Apa dia akan di hukum? Entahlah.
__ADS_1
"Darimana saja kau?" tanya Delon dengan dingin.
"Aku...." Zifana tampak menghentikan ucapanya.
Menyadari suasana yang butuh prifasi Andreaspun menyela.
"Sebaiknya aku pergi," ucap Andreas. Delon dan Zifana tampak berpandangan. Mereka menatap ke arah Andreas.
"Diluar masih hujan Ndre, apa tidak sebaiknya disini dulu?"
"Pulanglah Ndre,"
ucap Zifana dan Delon bersamaan, mereka bertiga tampak saling memandang. Delon semakin tampak emosi, emosi tadi melihat Zifana dengan orang lain. Dan sekarang malah Andreas diminta untuk tetap tinggal? Apa itu pekerjaan Zifana, merayu lelaki dengan segala rayuanya?
Zifana mengerjabkan matanya saat melihat wajah Delon yang tampak marah. Apa dia salah bicara?
Sedang Andreas menghela napas panjang, akan ada perangkah nanti? Sepertinya dia harus segera pergi.
Hanya Delon dan Zifana yang tersisa di ruangan itu. Keduanya saling memandang dan saling menatap. Zifana yang tersadar kini menatap Delon dan mendekat ke arahnya.
"Kakak kesini?" tanya Zifana sambil mengambil tangan Delon dan menciumnya. Delon berdesir, rasanya tadi sangat emosi. Tapi mendapatkan perlakuan manis membuat emosinya hilang entah kemana.
Tangan dingin Zifana yang memang basah kuyup dia rasakan. Ingin rasanya menghangatkan Zifana. Delon mengalihkan pandangannya, Dia menepis tangan Zifana tak mau pikiran liar mendatanginya.
Akan tetapi tindakan Delon malah membuat Zifana tampak sedih. Tak perduli dengan perasaan Zifana, Delon malah menatap tajam ke arah istrinya itu.
"Apa kau tak suka aku kesini?" tanya Delon. Zifana menghela napas panjang, bukan itu maksudnya. Kenapa selalu salah bicara dengan lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu?
"Bukan begitu, aku tidak enak saja kau menungguku, lain kali bilang, jadi aku tidak keluar apartemen," ucap Zifana. Sebenarnya dia sudah pulang karna bertemu dengan Willy hanya sebentar, dan baru saja keluar ke depan sana. Hujan lebat turun mendadak saat dia yang buru buru pulang, sedangkan dia tak membawa payung. Alhasil dia nekat untuk pulang.
__ADS_1
"Aku berhak untuk keluar masuk sesukaku, harusnya kau yang bilang jika masih diluar, apa hobymu keluyuran seperti ini? Sejak pagi tak pulang pulang," tanya Delon tampak kesal. Zifana hanya diam karna dia tak ingin memperpanjang masalah dan ingin segera mandi. Badanya sudah lengket semua karna basah.
"Apa mau makan malam? Aku akan membuatkan tetapi aku mandi dulu sebentar," ucap Zifana.
"Aku tidak lapar," sahutnya.
Zifana menghela napas panjang, apa tidak tau dirinya basah dan sangat tak nyaman? Kenapa seakan sengaja mengulur waktunya?
"Apa yang kau bawa?" tanya Delon.
Entah apa yang dibawa Zifana, kantong plastik di tangan Zifana yang berada di belakang tubuh Zifana memang membuat Delon penasaran sejak tadi. Dia yakin itu adalah barang aneh, kenapa disembunyikan? Apa sesuatu dari lelaki yang bertemu dengannya tadi?
"Bukan apa apa," ucap Zifana yang tampak gusar.
Merasa semakin penasaran Delon maju, Zifana yang seakan tak mau memperlihatkan kini mundur.
"Apa sih kak, ini bukan apa apa," kekeh Zifana.
Delon memejamkan matanya, panggilan Zifana membuatnya tak trima. Kak? Memangnya dia kakaknya? Delon yang semakin geram menarik tangan Zifana dan membuat wanita itu terpelanting.
Delon meraih pinggang Zifana. Zifana yang terkejut memejamkan matanya. Tangannya yang membawa kantong plastik melingkar di leher Delon.
Zifana membuka matanya dan sangat terkejut dengan posisi intim ini.
Delon membelalakan matanya melihat jelas barang apa yang dibawa Zifana. Karna barang itu ada di depan nya. Posisi tangan Zifa yang melingkar di lehernya membuat dia bisa membaca dengan jelas kantong plastil indomart yang tembus pandang itu memperlihatkan tulisan "Charm, safe night nyenyak sampai pagi"
Zifana hanya diam, baru saja dia keluar karna tamu bulanan datang. Dia malu dan mencoba menyembunyikan tapi malah Delon memaksa.
"Kak, bisa lepaskan aku. Lihatlah, sudah tembus kemana mana karna terkena air hujan," ucap Zifana menahan malu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, komen dan hadiah yuk... maafkan othor ya up 1. klo sabtu minggu Insya Allah diganti banyakin... wkwkwk