
Delon mengehela napas panjang, pertengkaran dengan Zifana di depan sekolah tadi terekam jelas di otaknya. Masihkah Zifana di area sekolah?
"Tunggu apa lagi? Segera kesana," ucap Andreas.
Delon tersenyum singkat, Dia berlari kecil ke arah mobilnya. Segera lelaki tampan itu menancap gas menuju ke sekolah Elia.
Andreas mengusap kasar wajahnya, dia memejamkan matanya. Sebentar kemudian, dia menatap ke arah Delon yang mulai menjauh dari pandangan matanya.
"Semoga kau belum terlambat De," lirih Andreas. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan tidak bisa menjelaskan saat ini pada Delon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon telah sampai di area sekolah Elia, sudah sepi sekali. Zifana sudah tidak ada di tempat yang tadi dia berada.
Delon mengedarkan pandangannya, berharap dia menemukan keberadaan Zifana. Tapi nihil, tak ada apapun.
"Maaf Bu, apa anda melihat istri saya? Tadi dia di sini, sekitar satu jam yang lalu. Bersamaan dengan kecelakaan yang terjadi," ucap Delon sambil menunjukkan sebuah foto pada salah seorang berseragam guru sekolah itu.
"Maaf Pak, saya kurang tau. Mungkin anda bisa bertanya di pos sana, securiti mungkin bisa membantu," ucap guru itu.
Delon mencoba tersenyum dan mengangguk pelan, tapi tidak bisa dipungkiri hatinya berdenyut sakit saat mengingat ucapannya pada Zifana tadi.
__ADS_1
"Pergi, dan jangan menampakkan wajahmu dihadapanku,"
Delon menghela napas panjang. Sesal menghantui otaknya. Beberapa saat lalu dia sempat menanyakan keberadaan Zifana pada orang rumah. Saat ini, dia sudah mendapatkan informasi dari orang rumah bahwa tidak ada Zifana di sana. Di apartemen juga tidak ada, bahkan di mansion barupun juga tak ada keberadaan Zifana.
"Kemana perginya Zifana?" lirih Delon.
Netranya menatap ke arah pos keamanan. Dia berharap mereka mengetahui kemana Zifana pergi.
"Selamat siang," Delon menuju ke arah pintu pos.
"Siang Tuan, ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Security itu pada Delon yang sudah tidak asing lagi dengannya.
"Maaf Tuan, tapi saya baru saja datang. Teman saya yang satunya baru saja pulang," jawabnya.
Delon memejamkan matanya, hatinya merasakan Sesak. Dia menghela napas panjang dan menatap ke arah securiti.
"Kalau saya mau minta bantuan untuk melihat CCTV satu jam yang lalu apa boleh?" tanya Delon. Sifat ketusnya seakan hilang. Securiti tampak berpikir sejenak.
"Maaf Tuan, kamera CCTV sejak kemarin dalam perbaikan Tuan, jadi tidak ada rekaman dari kemarin hingga saat ini," ucap securiti itu dengan tenang.
Deg
__ADS_1
Jantung Delon bergetar hebat, sesak sekali rasanya. Tubuhnya seakan lunglai. Kemana Zifana? Delon memutar langkahnya menuju ke mobil. Dia mendudukan dirinya disana.
"Zifa," lirihnya. Delon memejamkan matanya, mencoba berpikir positif bahwa Zifa akan kembali kepadanya. Mencoba menenangkan jiwanya bahwa Zifa akan kembali dalam pelukannya.
"Ting,"
Satu pesan masuk padanya, dari Andreas. Delon segera membuka pesan vidio yang di kirim oleh Andreas. Berharap Andreas memberikan kabar keberadaan Zifana.
Dada Delon semakin sesak saat mendapati Vidio kejadian di apartemen beberapa jam yang lalu. Veli dan Zifana? Delon mengeratkan tangannya. Delon memejamkan matanya. Sakit dia rasakan. Delon memposisikan dirinya sebagai Zifana.
Cacian Vely pasti membuat Zifana bersedih, cacian Vely pasti membuat Zifana tak berdaya. Cacian Vely pasti membuat Zifana Merasa menjadi seorang perebut lelaki orang. Cacian Vely pasti membuat Zifana sakit. Delon ingat bentakannya pada Zifana dan pasti membuat Zifana semakin sakit. Semakin sesak.
Delon memukul dadanya yang sangat sesak, apa ini yang membuatnya menghindari Elia? Mata Delon berkaca. Rasa bersalah menghantui otaknya. Delon menyalakan mobilnya. Dia memutar arah, dia ingin bertemu Zifana. Kemana wanitanya pergi?
air matanya Delon berada di pelupuk mata, satu kali saja mengerjab dipastikan matanya pipinya akan basah.
Delon mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali menerobos lampu merah, beberapa kali di klakson orang karna ugal ugalan hingga sampailah Delon di depan mansion baru Zifana.
Mobil ferrari berwarna merah yang di pakai Zifana terparkir di depan mansion. Delon segera berjalan cepat menuju ke pintu utamanya. Pintu terbuka, dia merasa lega. Berharap Zifana ada di dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1